
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sang mentari telah hampir berada di tengah - tengah. Panas teriknya begitu terasa pada bagian tubuh insan yang ada di luaran sana. Apalagi bagi mereka yang tanpa menggunakan penutup kepala, begitu sangat terasa perubahan suhu panasnya.
Wajar saja jika hal itu terjadi, karena waktu pun kini sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi menjelang siang.
Mobil mewah dengan warna putih itu melewati jalanan ibu kota yang cukup ramai lancar. Setelah di waktu yang sangat pagi berada di kediaman suami keponakannya, akhirnya sepasang suami istri paru baya itu sudah berada dalam perjalanan pulang menuju kediamannya.
" Bagaimana ma keadaan Diandra? ". Tanya Herdi di tengah - tengah kegiatan menyetir nya.
" Mama juga kurang tahu pa, tapi kata Kendi, kondisi Diandra sudah membaik, memang Diandra sempat mengalami gagar otak ringan dan sempat kekurangan darah, tapi itu semua sudah berhasil di atasi, rumah sakit Al sudah mengandalkan dokter terbaik dan memberikan pelayanan terbaiknya di sana, sehingga kondisi Dia cepat membaik ".
" Dan mama juga sudah menyuruh Rania untuk menjenguk Diandra di sana ". Jelas Devina.
Herdi hanya diam setelah mendengar penuturan dari istrinya. Entah mengapa dalam kejadian celakanya Diandra, seolah seperti ada seseorang yang ingin memanfaatkan kondisi Diandra. Otaknya terus berpikir untuk menemukan jawaban, hingga.... Herdi pun benar mencurigainya.
" Sepertinya kamu memang sengaja memanfaatkan kondisi putrimu sendiri David untuk merusak pesta pernikahan keponakan ku, jika kondisi Diandra sudah membaik, lalu kenapa kamu malah menyuruh Al untuk menolong nya, iya benar, kamu memang sengaja ingin merusak semuanya, dasar manusia licik ". Batin Herdi.
Ya, begitulah Herdi, meski sudah sangat lama dirinya menjalin hubungan sebagai saudara ipar dengan David, namun, tak membuat Herdi begitu sangat akrab dengan adik iparnya itu, bukan tanpa sebab dirinya seperti itu, menurutnya David adalah orang yang ketika berbicara memang nampak biasa namun dibalik kalimatnya menyimpan rasa ketidaksukaan, benar - benar bermuka dua.
Dan setelah itu tak ada lagi obrolan diantara sepasang suami istri itu selain hanya pembicaraan mengenai kondisi Diandra, hingga perjalanan mereka sampai ke rumah tujuannya.
*****
Wanita paru baya dengan wajahnya yang masih cantik itu sangat diperlakukan baik bak seorang ratu oleh kedua cucu kembarnya. Dengan perasaan bahagianya Devina sang oma menerima dengan senang hati setiap perhatian dari kedua cucunya.
Seperti sekarang ini, Aganta dengan saudara kembarnya Damian sedang menyuapi oma kesayangan mereka, dengan bimbingan sang mommy, kedua anak kembar itu secara bergantian menyuapi sang oma.
" Enat tan uma mamam na? ". Seru Damian setelah berhasil menyuapkan sesendok bubur ayam pada omanya.
" Huum ". Dehem Devina dengan mengangguk, maklum tak menyahut, karena Devina masih mengunyah buburnya.
Dan tak lama dari itupun, Aganta mencoba mengambil tisu untuk mengelap sudut bibir omanya, padahal Devina tak sedang blepotan, ternyata kedua anak kembar itu benar - benar memanjakan oma mereka.
" Mamam yan banak ya uma, bial cepat cebuh ( sembuh) ". Seru Aganta di sela - sela kegiatan mengelap bibir omanya.
Adinda dengan Al tersenyum melihat bagaimana kedua anaknya begitu memperhatikan omanya, apalagi Adinda, ibu muda itu tak menyangka jika kedua putra kembarnya bisa sangat tahu bagaimana cara merawat seseorang, padahal tadi dirinya hanya mengajarkan mereka bagaimana cara menyuapi orang sakit dengan benar.
Begitupun dengan Enriko sang opa, pria paru baya itu menatap bangga pada kedua cucunya yang begitu sangat perhatian pada istrinya.
" Aganta Damian? ". Panggil Enriko.
" Iya upa ". Sahut keduanya kompak.
" Kalau misalnya opa yang sakit sama seperti oma, apa Aganta sama Damian juga akan merawat opa? ". Tanyanya, rupa Enriko sengaja ingin memancing kedua cucunya.
__ADS_1
" Iya upa, tita mau lawat upa, cama peulti tita lawat uma ". Sahut Damiankesal bersungguh - sungguh.
Enriko pun hanya tersenyum mendengar jawaban dari cucu kembarnya, padahal dirinya hanya bercanda melontarkan pertanyaan itu, namun cucunya malah menanggapinya dengan serius, sungguh kedua cucunya itu memanglah berhati tulus.
" Sayang, lihatlah, anak - anak kita sangat pintar ya, mereka tahu cara merawat mama dengan baik tanpa kita suruh ". Bisik Al tersenyum.
" Iya, Adinda sangat bangga pada anak - anak kita, dulu Adinda sempat khawatir, jika Damian sudah besar nanti, anak itu akan sering usil sama mama dan juga papa, eh ternyata, semakin anak itu besar, jadi berkurang sifat keusilannya dan malah sangat sayang pada opa dan omanya ". Sahut Adinda dengan memandangi kedua anaknya.
" Itu semua karena didikanmu sayang, kamu mendidik anak - anak kita dengan sangat baik sejak mereka berada dalam kandunganmu, terima kasih istriku, beruntungnya aku bisa menjadikan mu ibu dari anak - anakku ". Sahut Al dengan senyuman bangganya.
" Ya, mas memang sudah berhasil, berhasil menjadikan Adinda mommy dari anak - anak kita, mas sudah berhasil membuat Aku Mengandung Anak Majikanku ".
" Hihihihi... bercanda mas, jangan dimasukkan ke hati ". Candanya.
Al yang awalnya tersenyum, mendadak senyuman itu luntur dari wajah tampannya. Mungkin bagi sang istri Adinda, sahutan nya itu adalah sebuah candaan belaka, namun bagi Al, itu adalah sebuah tamparan keras untuk dirinya, karena hal itu mengingatkan nya akan perbuatan bejatnya, perbuatan bejat seorang majikan pada pembantunya sendiri.
Al merasa miris dibuatnya, sesak di dadanya kini kembali bergemuruh, namun dengan cepat pula Al berusaha menetralkan semuanya, dirinya tak ingin jika di hari yang bahagia ini kembali hilang, padahal keluarganya baru saja melewati malam badai akibat dari ulahnya sendiri.
" Dah, mamam na uma dah habish ". Seru Damian senang.
" Uma uma, minum dulu ya uma, bial uma tenan ( kenyang) ". Seru Aganta dengan menyodorkan segelas air minum pada omanya.
" Terima kasih ya cucu - cucu oma, kalian memang kedua cucuku yang paling hebaaat sekali ". Puji Devina senyuman bangganya.
Devina pun meminum air minum itu, ia meminumnya hingga tandas tak tersisa.
Senyuman kebahagiaan terus berkembang di kedua sudut bibir Adinda dan juga Al, pasangan suami istri itu tak henti - hentinya menatap kagum pada kedua putranya, masih kecil saja sudah sangat penuh rasa perhatian seperti itu, apalagi jika kedua anaknya sudah besar, pasti mereka akan menjadi kebanggaan semua keluarganya.
" Kenapa kamu senyum - senyum begitu Al, ada yang lucu?, tapi tak apa jika kamu tersenyum sekarang putraku, karena mulai besok kamu akan merengek memohon - mohon pada mamamu ini ". Ujar Devina tiba - tiba, entah apa maksudnya.
" Maksud mama apa?, kenapa Al harus merengek - rengek? ". Sahut Al yang tak paham maksud dari perkataan mamanya.
" Mulai besok, selama dua minggu ke depan, Adinda sama cucu - cucu mama harus tinggal di rumah utama ". Jelasnya.
Deg....
" Apa?, apa maksud mama? ". Sentak Al yang begitu sangat terkejut.
Begitupun dengan Adinda, wanita hamil itu sangat terkejut dan juga bingung dalam waktu yang bersamaan. Apa maksud dari mama mertuanya mengatakan seperti itu?.
" Ma, mama jangan bercanda ma, rumah istri dan anak - anakku di sini ma, bukan di rumah utama, tidak, tidak bisa, mereka tidak boleh tinggal di sana, Al bisa kesepian jika tanpa mereka ma ". Tolak Al.
" Tidak bisa, pokoknya mulai nanti malam, menantu dan cucu - cucu mama ini, harus tinggal di rumah utama, ini hukuman dari mama untukmu Al, ini hukuman dari mama atas kebodohanmu ". Jelas Devina.
" Kebodohan, kebodohan apa ma? ".Sahutnya lagi, rupanya Al masih tak menyadari perbuatan, atau Al memang benar tak paham apa maksud dari ucapan mamanya.
" Kebodohan karena kamu sudah meningalkan menantu mama sendirian di pelaminan, heh rasakan itu ". Sahut Devina lagi dengan melengos.
__ADS_1
" Ma, Al kan tadi sudah menjelaskan kenapa Al pergi ma, ayolah ma, mama jangan yang aneh - aneh ". Seru Al lagi, bahkan pria itu mulai merengek bak seorang anak yang ingin dibelikan permen.
" Yang seperti ini nih kebodohanmu, aduuh... mama benar - benar heran sama kamu Al - Al, maksud mama yang mengatakan kamu bodoh itu, karena kamu terlalu takut untuk membantah ucapan si manusia gila itu, si David, kalau sudah tahu dia sengaja memperalat mu apalagi merusak pesta pernikahanmu, seharusnya kamu langsung hajar dia bukan malah sok - sokan tak enak hati, heh... dasar payah ". Sahut Devina panjang lebar, Devina sudah sangat kesal dengan putranya.
Al langsung terdiam. Apa yang dikatakan oleh sang mama memanglah benar, bukankah dirinya mampu membantah semua itu, lalu mengapa dirinya terlambat melakukannya?, dan lebih parahnya lagi dirinya sudah mempertaruhkan malam pentingnya sendiri, benar - benar sungguh miris.
" Kamu diam kan, heh... memang dasar payah kamu ". Ejek Devina lagi.
Enriko yang melihat ulah istrinya hanya bisa menggeleng, bukan Devina namanya jika tak memberi pelajaran pada putranya yang bersalah, jika sudah seperti ini akan sulit diluruskan.
" Ya sudah, kalau begitu, kamu setuju jika mama benar membawa Adinda dan kedua cucu mama ini ". Lanjutnya lagi.
" Ayolah ma, kenapa mama berubah seperti paman Herdi begini, aduuh... iya iya, Al tahu jika Al memang salah, tapi ya jangan membalas kesalahan Al dengan membawa istri dan anak - anak dong ma, mama sengaja ingin memisahkan Al dengan mereka kan, aduh mama ". Serunya dengan rengekan kesal.
" Ya salah kamu sendiri, suruh siapa meninggalkan istrimu sendirian?, kamu itu memang harus diberi pelajaran biar tidak mengentengkan ". Lanjutnya mencebik.
" Ya tapi bukan seperti ini juga lah ma, mama ingin memisahkan Al dengan anak - anak selama dua minggu?, yang benar saja, itu terlalu lama ma ". Sahutnya yang masih tak terima.
" Sayang, jika mama menyuruhmu untuk tinggal di rumah utama, jangan mau ya sayang, kan kamu tahu sendiri kalau aku tak sanggup kalau harus berjauhan denganmu dan anak - anak sayang, jadi jangan mau ya meski mama yang meminta ". Bujuk Al pada sang istri.
Adinda hanya diam, dirinya tak tahu harus menjawab apa, meski sebenarnya dirinya juga tak ingin pergi dari sisi suaminya, tapi, bagaimana cara dirinya untuk menolak?.
" Tuh kan Al, istrimu tak menjawab, itu artinya Adinda setuju kalau mama ajak tinggal di rumah utama ". Ejek nya lagi pada sang putra.
" Mama apa sih ma, tak menjawab bukan berarti iya ". Sahut Al yang masih tak terima.
" Sayang, kamu jangan pergi ya sayang, jangan turuti permintaan mama ". Pintanya merajuk, bahkan raut wajahnya pun nampak terlihat sedih.
" Sayang, jangan mau ya? ".
" Hahahaha... hahahaha...hahahaha... aduh Al - Al, kamu ini lucu sekali, rasakan itu, itu hukuman untuk kamu hahahaha... ".
" Senangnya mama bisa mengerjaimu Al hahahaha.... ".
" Mama.... ". Pekik Al
" Itu sama sekali tak lucu ma ". Geramnya.
" Hahahaha.... ". Namun Devina sang mama, masih terus menertawakan putranya, sepertinya mengerjai putranya hari ini benar - benar menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan shock berat yang dialaminya.
Bersambung...........
Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca ya.
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1