
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Setelah menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit mewahnya, akhirnya sepasang suami istri itupun telah sampai di rumahnya.
Dengan penuh rasa perhatian, Al merangkul tubuh sang istri tercintanya itu dengan penuh kehati - hatian, namun selain itu, nampaknya ada sesuatu yang lain yang telah di tenteng di salah satu tangannya.
" Mas, sini biar Adinda yang bawa makanan anak - anak ". Seru Adinda di sela - sela langkahnya.
" Tidak usah sayang, biar mas saja yang membawanya ". Sahut Al lembut.
Dan mereka pun terus melangkah menuju ruang santai di mana kedua anak kembarnya dan juga mama dan papanya berada.
" Assalamualaikum, kami datang ". Seru Al dan juga Adinda pada semua orang yang ada di sana.
" Waalaikumsalam ".
" Cammicum calam daddy mommy ". Sahut si kecil Aganta dan juga Damian.
" Wah daddy, Mian mau Mian mau, kidel doy na daddy yeay ( wah daddy, Damian mau Damian mau, kinder joy nya daddy yeay ) ". Pinta Damian kegirangan setelah melihat puluhan kinder joy yang di bawa oleh daddy nya, bahkan bocah kecil itu sampai berlari mendekati daddy nya.
" Hati - hati anak mommy ". Peringat Adinda, ia khawatir jika putranya Damian sampai terjatuh karena lari - lari.
" Daddy Mian mau daddy, Mian mau kidel doy na ". Seru Damian lagi, bahkan bocah kecil itu sampai menjinjitkan kedua kaki mungilnya agar kedua tangan mungilnya dapat meraih tentengan kinder joy yang di pegang cukup tinggi oleh sang daddy.
" Iya boy iya, ayo duduk dulu sayang, akan daddy berikan kinder joy nya, ayo Damian duduk dulu ". Suruh Al pada akhirnya.
" Daddy, Anta duda mau ". Seru si kecil Aganta juga, namun masih dalam posisi duduk di samping oma nya.
" Iya anak - anak daddy, kalian akan dapat kinder joy nya, kinder joy nya akan daddy sama rata sayang ". Sahut Al dengan terus melangkah menuju sofa.
" Bagaimana nak, apa kata dokter menurut hasil pemeriksaan nya? ". Tanya Devina setelah menantunya itu duduk.
" Alhamdulillah, ma, semuanya berkembang dengan baik, adik bayinya sangat sehat ". Sahut Adinda dengan senyumannya.
" Alhamdulillah, mama bahagia dengarnya nak, cucu oma, sehat - sehat selalu ya nak di dalam perut mommy ". Sahut Devina dengan mengelus perut menantunya.
Setelah mendapatkan kinder joy nya masing - masing yang sudah Al bagi rata, nampak tak ada celotehan lagi dari kedua bocah kembar itu.
Aganta dan Damian begitu menikmati salah satu cemilan favorit nya, bahkan kedua bocah kembar itu sampai tak ingat akan menawarkan pada orang - orang di sekitarnya.
" Wah, cucu - cucu opa begitu menikmati makan kinder joy nya ya, sampai - sampai lupa menawarkannya pada opa ". Sindir Enriko, sebenarnya ia hanya berniat menjahili kedua cucu nya saja.
Sontak Aganta dan Damian pun langsung menghentikan makannya, kedua bocah kecil itu saling menatap satu sama lain, iya benar, mereka lupa menawarkan nya pada opanya, padahal mommy mereka selalu mengajarkan untuk saling berbagi.
" Hi hi hi hi hi hi, maap upa, upa mau ni, kidel doy? ". Tawar Damian dengan tawa menahan malunya.
" Iya, upa mau kidel doy na Anta, ini talo upa mau ". Tawar Aganta juga dengan memperlihatkan dua buah kinder joy di kedua tangan mungilnya.
" Tidak tidak sayangnya opa, makanlah nak, opa hanya bercanda pada kalian hehehe... ". Seru Enriko dengan senyuman jahilnya.
" Huh, upa dak cellu ". Protes Damian yang tak suka dengan tingkah jahil sang opa.
" Papa, papa ini kurang kerjaan ya, bisa - bisanya mengerjai cucu - cucuku ". Kali ini Devina yang bersungut - sungut.
" Hehehehe habisnya mereka lucu ma ". Sahutnya cengengesan.
*****
Malaysia
Mengurus sang buah hati dan juga suaminya sudah menjadi rutinitas bagi Sintia semenjak dua bulan yang lalu.
__ADS_1
Di tambah lagi adanya ibu mertua yang begitu sangat menyayanginya membuat Sintia menjadi lebih betah meski harus tinggal berjauhan dengan keluarga nya yang ada di Indonesia.
Sintia masih di dalam kamarnya, ia begitu sibuk merapikan baju - baju yang ada di lemarinya akibat dari ulah suaminya Kelvin.
" Kelvin Kelvin, kamu ini kebiasaan ya, kalau mengambil baju main langsung di tarik saja, kan berantakan jadinya ". Keluh Sintia di sela - sela kegiatannya.
Dan benar saja, tidak lama dari itu nampak terdengar seperti ada orang yang akan masuk ke kamarnya.
Ceklek..... dan ternyata benar dialah orangnya.
" Sayang, aku datang ". Seru Kelvin tiba - tiba sebelum akhirnya mendekati Sintia.
" Loh sayang, kenapa cepat sekali pulangnya, ini kan masih belum masuk waktu dzuhur? ". Tanya Sintia yang merasa heran dengan kedatangan suaminya.
" Karena aku merindukanmu sayang ". Sahut Kelvin dan ia pun langsung memeluk istrinya.
Saat mendapat pelukan dari suaminya, entah mengapa Sintia merasakan ada aroma yang sama sekali sangat tidak ia suka.
Sintia merasa muak dengan aroma parfume Kelvin yang membuat perutnya serasa seperti diaduk - aduk.
" Hoekk... hoekk... lepas Kelvin hoekk... ". Mual Sintia dengan berusaha lepas dari pelukan suaminya.
" Sayang, kamu kenapa, kamu sakit? ". Tanya Kelvin khawatir.
" Kamu ganti parfume ya Kelvin, baunya tidak enak ". Sahut Sintia dengan menutup hidungnya.
" Tidak sayang, aku tidak ganti parfume, dari dulu aku tetap pakai parfume ini ". Sahut Kelvin jujur.
" Tapi kenapa baunya tidak enak, tidak seperti biasanya ". Sahut Sintia lagi.
" Benarkah? ". Sahutnya bingung.
Kelvin pun mencoba mengendus - ngenduskan hidungnya agar bisa menemukan jika benarkah parfume nya bau?.
" Enak saja hidungku bau, aku ini sangat menjaga kebersihan, termasuk kebersihan hidungku ". Sahut Sintia tak terima.
" Tapi ini buktinya, bajuku masih wangi parfume yang sama, aku tunjukkan lagi ya ". Sahut Kelvin dengan memeluk tubuh Sintia lagi.
" Ih Kelvin hoekk... hoekk... lepas bau hoekk... ". Tolak Sintia lagi dengan berusaha lepas dari cengkraman Kelvin.
Dan Sintia pun berhasil meloloskan diri dari suaminya yang menurutnya bau itu.
" Sayang kamu mau kemana? ". Sentaknya.
" Aku mau ke putraku, lama - lama aku bisa mabuk kalau terus sama kamu ". Sahut Sintia dengan cepat berlalu.
Sedangkan di halaman belakang, Kenzie nampak senang karena sedang memberi makan ikan - ikannya di kolam.
Dengan di bantu oleh sang nenek, bocah kecil itupun nampaknya lupa dengan waktu bermainnya, Kenzie lebih suka melempar banyak makanan ikan pada ikan - ikannya.
" Ayo mamam ladi, ayo mamam itan itan na ( ayo makan lagi, ayo makan ikan - ikannya) ". Seru Kenzie semangat.
" Mana ladi nek, mamam itan na, ni dah habish mamam itan na nek? ( mana lagi nek, makanan ikannya, ini sudah habis makanan ikannya nek?) ". Pinta Kenzie lagi pada sang nenek.
Bu Mariam pun menyerahkan satu bungkus lagi makanan ikannya.
" Ibu, Kenzie ". Panggil Sintia tiba - tiba.
" Mama, mama teunapa?, mama habish lali - lali? ". Tanya Kenzie.
" Tidak sayang, mama tidak habis lari, hanya saja mama jalannya sedikit cepat ". Sahutnya.
Tak ingin kalimatnya di dengar oleh sang cucu, bu Mariam pun memilih untuk mendekati menantunya.
__ADS_1
" Sintia, kamu kenapa nak? ". Bisik bu Mariam.
" Kelvin bu, dia pakai parfume yang baunya aneh, Sintia tidak suka bu sama baunya, jadi ingin mual kalau mencium nya ". Sahutnya.
" Apanya yang aneh, kan anakku dari dulu selalu pakai parfume yang itu, tapi kenapa baru sekarang menantuku bilang bau, aneh ". Batin bu Mariam.
*****
Malam Hari.
Ternyata sang waktu begitu cepat berlalu, tanpa terasa kini sudah malam hari. Sangat terasa cepat, padahal baru tadi siang kedua putra kembarnya masih begitu asyik bermain dan kini mereka menghabiskan malam bersama dengan opa dan juga oma kesayangannya.
" Ayo sayang tidur, ini sudah pukul sepuluh malam, tidak baik kalau wanita hamil tidur sampai larut malam ". Seru Al mengingatkan setelah ia sampai di dalam kamarnya.
" Aganta sama Damian bagaimana mas? ". Sahutnya bertanya.
" Anak - anak sudah tidur sayang, tenanglah, mereka di peluk sama opa juga omanya ". Sahut Al.
" Aduh sayang, kenapa yang kamu tanyakan hanya anak - anak sih , kenapa bukan aku yang sudah hampir seminggu ini belum dapat jatah malam, kan aku jadi kekurangan gizi sayang, kalau saja bukan karena kondisimu yang sering lelah, sudah pasti aku akan menerkam mu malam ini juga sayang, kalau anak kita sudah lahir, tidak akan aku beri kendor kamu sayang, aku pastikan itu ". Batin Al.
" Mas ayo, kok malah mematung ". Ujar Adinda.
" Eh, iya sayang ". Sahut Al kaget.
Al pun menaiki ranjang kasurnya, dengan memeluk tubuh sang istri tercintanya, akhirnya pria pemilik bola mata biru keabu - abuan itu dapat menutup matanya.
*****
G. Group.
Waktu kini sudah menunjukkan pukul delapan pagi yang menandakan jika sudah satu jam waktu bekerja telah berjalan.
Dengan penuh rasa semangat dan jiwa kompetitor yang tinggi, semua karyawan di perusahaan G. Group itu berlomba - lomba untuk memberikan kinerja terbaiknya demi sebuah perusahaan yang lebih maju.
Sesuai dengan janji yang sudah disepakati, pagi hari ini tuan David datang untuk menemui Al.
Dan benar saja suasana di ruangan kantor khusus Al, terasa lebih dingin dari sebelumnya, bagaimana tidak, dua sosok pria namun beda generasi ini yang pernah sangat dekat kini telah bertemu kembali setelah sekian lama.
" Bagaimana tuan David, anda masih ingin melanjutkan kerjasama dengan perusahaan saya? ". Tanya Al santai.
" Berdasarkan perbincangan kita tadi saya setuju dengan syarat yang sudah anda tentukan tuan Al, dan saya rasa syarat itu sama sekali merugikan perusahaan kita ". Sahut David.
" Baiklah ". Sahut Al.
" Oh iya tuan Al, anda bekerja sama dengan perusahaan berlian milik tuan Herdi, bagaimana apakah cukup menguntungkan tuan? ". Tanya David tiba - tiba, entah mengapa ia menanyakan hal itu.
" Kalau anda ingin bekerjasama dengan perusahaan berlian milik tuan Herdi, kenapa anda tidak menanyakan nya langsung pada tuan Herdi? ". Tanya balik Al.
" Oh itu, ya bukan apa - apa tuan, hanya saja saya merasa kurang enak hati jika harus bekerjasama dengan saudara ipar sendiri, saya lebih suka bekerja sama dengan orang lain daripada harus bekerjasama dengan anggota keluarga sendiri ". Sahut David.
Al cukup tersentak dengan jawaban dari David.
" Saudara ipar, maksudnya? ". Batin Al bingung.
Begitupun dengan Andrew yang sedari tadi menyimak obrolan kedua tuan di depannya juga terkejut, bahkan ia lebih terkejut dari pada Al.
" Saudara ipar, tapi saudara iparnya yang mana?..., astaga jangan - jangan tuan Herdi... astaga kalau itu memang benar, ternyata memang benar apa kata orang, dunia ini hanya seluas daun kelor ". Batin Andrew yang sudah berhasil menebak.
Bersambung..........
Buat kakak - kakak, terima kasih atas dukungannya selama ini ya, tetap semangat membaca.
ππππππππππ
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ