Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Berusaha Melupakan


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Deru suara mobil yang tak asing dalam pendengaran nampak nyata. Mobil mewah itu telah mendarat tepat di tempatnya.


Dilancarkannya langkah - langkah mungil, anggun, nan kokoh yang turun dari mobil mewah itu.


Setelah cukup puas menggunakan sang waktu menikmati beraneka macam kegiatan bermain, akhirnya dua pemeran utama itu pun mulai berbondong - bondong menuju rumahnya.


Si kecil Damian dan juga Aganta nampak berseri - seri di buatnya, mereka melangkah dengan perasaan senangnya, dengan sang mommy dan juga daddy yang turut andil dalam kesenangan mereka.


Kedua tangan mungil itu nampak menggenggam erat tentengan yang berisi cemilannya, mungkin untuk mereka makan nanti saat menonton kartun favorit mereka.


" Selamat datang tuan, nyonya, tuan muda Aganta, dan tuan muda Damian ". Sambut Ivan yang berjaga di depan rumah sang tuan.


" Selamat datang ".


" Celamat datan om pan pan ". Sahut si kecil Aganta dan Damian.


Al mengedarkan pandangannya pada sebuah mobil yang sangat ia tahu siapa pemiliknya, di mana mobil itu sedang terparkir bersisian dengan mobilnya.


" Ivan, papa dan mama ada di sini? ". Tanya Al.


" Iya tuan, tuan dan nyonya besar ada di dalam ". Sahut Ivan.


" Tumben, kenapa mama dan papa tidak memberitahu ku jika ingin datang ke sini? ". Gumam Al.


" Om pan pan, Anta puna kidel doy, buat om pan - pan mamam ". Seru Damian tiba - tiba dengan memberikan dua buah kinder joy dari kedua tangan mungilnya pada sang bodyguard kepercayaan.


" Wah, terima kasih tuan muda, pasti ini rasanya enak ". Sahut Ivan dengan menerima pemberian kinder joy dari uluran kedua tangan sang tuan muda.


" Huum, ini meman enat, di mamam ya om pan pan ". Seru Aganta lagi.


" Pasti tuan muda, akan saya makan sampai habis hehe... ". Sahut Ivan dengan senyumannya.


Merasa tak ingin kalah dari sang kembaran, nampaknya membuat si kecil Damian nekat melakukan hal yang sama.


" Om pan pan, Mian duda puna mamam yan enat cetali, nih mamam na buat om pan pan ". Seru si kecil Damian dengan memberikan sebuah snack potato dengan rasa original, nampaknya bocah kecil itu ingin mengalahkan pemberian makanan dari saudara kembarnya.


" Ya ampun tuan muda, ini terlalu banyak tuan muda, anda tidak perlu memberikan snack seperti ini, dua buah kinder joy dari tuan muda Aganta itu sudah cukup tuan ". Sahut Ivan yang merasa tak enak hati.


" Dak pa pa om pan pan, Mian cenan bica beli ni, lebih becal, dak cepelti puna na Anta ( tidak apa - apa om Ivan, Damian senang bisa memberi ini, lebih besar, tidak seperti punyanya Aganta) ". Sahut Damian dengan melirik si Aganta, nampaknya bocah kecil itu sengaja menyindir sang kembaran.


Sedang yang di sindir masa bodoh, Aganta tetap bersikap santai dengan tak mempedulikan sindiran kembarannya, pun beda halnya dengan sang daddy dan mommy, dua orang tua itu sangat paham betul bagaimana sifat kedua putranya yang memang saling bertolak belakang.


" Ayo anak - anak daddy, kita masuk, opa dan oma sudah ada di dalam loh ". Ajak Al.


Dengan melangkah bersama keluarga kecil itu menuju ruangan tengah, dan ternyata benar, dua sosok paru baya tengah duduk berisian menanti kedatangan mereka.


" Cammicum, upa uma ". Sapa kedua pemeran utama kembar itu dengan begitu antusianya, mereka melangkah cepat menuju opa dan juga oma.


" Waalaikumsalam cucu - cucuku ". Sahut Enriko dan Devina, lalu mereka memeluk kedua cucu kembar mereka.

__ADS_1


" Kalian baru dari luar sayang, habis bermain ya? ". Tebak Devina.


" Iya uma, tita habish mamam cama main ". Sahut Damian.


Al dan sang istri pun menyalami kedua orang tuanya, sebelum akhirnya mereka duduk bersama, Devina sang mama mertua kini sudah berpindah posisi duduk diantara menantu dan juga kedua cucunya.


" Cucu oma, apa saja yang di lakukan di luar tadi? ". Tanya Devina.


" Emm... tita mamam, main mandi bula cama beli ni uma ". Sahut si kecil Damian dengan menunjuk beberapa snack dan kinder joy miliknya.


" Aganta sama juga sayang? ". Lanjut Devina lagi.


" Iya uma cama ". Sahut Aganta yang diserai dengan anggukan.


" Al ". Panggil Devina lagi.


" Iya ma ". Sahutnya.


" Halaman rumah mu kan luas nak, kenapa kamu tidak menyediakan area bermain saja untuk anak - anakmu, anakmu sudah mau tiga loh Al, lebih baik kamu buat area bermain saja di halaman belakang, daripada kamu pergi ke mall, lebih aman sayang ". Devina mencoba memberikan saran untuk putranya.


" Iya ma, ide mama bagus, Al akan segera merealisasikan nya ". Sahut Al mantap.


" Uma uma, dadi Anta cama Mian mau dibuat tan mandi bula? ". Sahut Damian tiba - tiba.


" Iya sayang, cucu - cucu oma ini akan dibuatkan area bermain sama daddy nanti lengkap dengan area mandi bolanya, jadi cucu - cucu oma tidak perlu lagi pergi ke mall untuk bermain ". Sahut nya.


" Ahilna tita mau puna tempat main cedili ya Mian ". Kali ini Aganta lah yang berseru.


" Asyik asyik asyik... ". Ucap keduanya kegirangan.


" Alhamdulillah baik ma, sejauh ini tidak ada masalah yang serius pada kandungan Adinda ". Sahut Adinda lembut.


" Alhamdulillah, mama lega dengarnya sayang, dan ingat, kalau kamu butuh sesuatu langsung katakan pada suamimu itu, tidak perlu takut - takut, atau kalau kamu ingin mama yang melakukannya katakan saja ya sayang ". Suruh Devina.


" Iya ma pasti ". Sahutnya dengan senyumannya.


*****


Sejuknya malam terasa menyelimuti setiap atap bangunan di kota itu, tiupan angin lembutnya terasa menjadi lebih dingin kala terus menerpa.


Diandra pun menutup jendela kamarnya, tubuhnya mulai terasa menggigil kala angin malam itu terus masuk dan menerpa tubuhnya.


" Huh... sudah lumayan hangat, tumben sekali ya anginnya terasa dingin, oh tidak bukan dingin, tapi akunya yang terlalu lama membuka jendela ". Gumamnya dengan menutup jendela kamar yang dibukanya.


Diedarkan nya pandangannya pada penunjuk waktu yang terpasang di dinding kamarnya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


" Ya ampun, pantas saja aku sampai kedinginan, ternyata ini sudah pukul sepuluh malam, huh... Diandra... Diandra... gara - gara nonton tik tok, sampai lupa dengan waktu ". Gumamnya dengan menepuk jidatnya sendiri.


Wanita berparas cantik itu pun menuju kamar mandi untuk gosok gigi dan juga membersihkan wajah, lengan serta kakinya sebelum akhirnya ia menuju ranjang kasur tempat di mana ia meraih mimpi.


" Sudah selesai ". Kemudian Diandra pun hendak menuju pintu kamarnya untuk ia kunci.


Namun belum sempat langkahnya sampai sudah terdengar.... kriett... yang menandakan seseorang telah membuka pintu itu dari luar.

__ADS_1


" Papa ". Sahut Diandra.


" Ada apa pa? ".


" Kamu belum tidur nak, baguslah, ada yang ingin papa bicarakan dengan mu Diandra ". Sahut David.


" Ingin membicarakan apa pa, sepertinya serius sekali? ". Sahutnya.


" Ya ayo duduk dulu, biar kamu mengerti pokok persoalannya ". Sahut David, lalu pria paru baya itupun duduk di salah satu sofa yang ada di sana.


" Papa ingin membicarakan apa? ". Tanya Diandra lagi.


Di pandangnya wajah putrinya itu, wajah putrinya cantik, tidak ada yang kurang sedikitpun dari putrinya, lalu mengapa Al sampai bersedia menikahi perempuan lain?, meski sebagai bentuk pertanggungjawaban nya, tapi tetap saja tidak harus dengan cara menikahinya kan?, masih ada cara lain untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya, apalagi kesalahan itu terjadi karena ketidaksengajaan.


" Pa, sebenarnya papa ingin membicarakan apa sih, Diandra dari tadi nunggu loh ". Tanyanya lagi.


" Nak, jawab pertanyaan papa dengan jujur, apa kamu masih mencintai Al? ". Tanya David pada akhirnya.


Diandra cukup terkejut dengan pertanyaan papanya, bagaimana bisa papanya menanyakan hal seperti ini?.


" Pa, kenapa papa menanyakan ini?, memangnya ini penting, apakah Diandra mencintai Al atau tidak, itu sudah tidak ada gunanya lagi pa? ". Sahut Diandra.


" Justru itu papa bertanya padamu Diandra, jawab dengan jujur nak, apa kamu masih mencintai Al? ". Tanya David lagi.


Mungkin Diandra memang harus menjawabnya dengan jujur kali ini, daripada papanya bertanya-tanya terus.


" Jika memang Diandra tidak mencintai Al, tidak mungkin jika selama di Kanada, Diandra sampai menolak lamaran dari banyak pria pa, tapi apalah gunanya perasaan cinta ini, Al bukanlah jodoh Diandra, dan lagi pula, Diandra sudah ikhlas menerima semua keadaan ini pa, Diandra akan berusaha melupakan Al ". Sahutnya.


" Kalau begitu, kamu harus memperjuangkan nya nak, Al itu menikahi istrinya karena merasa bersalah, bukan karena cinta, itu artinya Al masih mencintaimu ". Sahut David, entah apa yang ada dipikirannya.


" Pa, papa ini kalau bicara jangan yang aneh - aneh deh pa, Al itu sudah menikah, memang Al dulu tidak mencintai istrinya, tapi itu dulu sebelum dia menikahi istrinya, dan sekarang...Al sudah sangat mencintai istrinya pa, dan perlu papa tahu, Diandra tidak ingin menjadi wanita rendahan dengan mengganggu kehidupan rumah tangga orang ". Sentak Diandra, ia benar - benar tak habis pikir dengan papanya.


" Cinta?, Al cinta pada istrinya?, cinta dari mananya?, Al itu menikahi istrinya karena rasa bersalahnya Diandra dan tidak lebih dari itu ". Sahut David, rupanya dia masih keukeh dengan keyakinannya.


Diandra tersenyum miris melihat kepercayaan papanya, apa yang terjadi pada papanya?, mengapa papanya sampai memiliki pemikiran sedangkal ini?.


" Istri Al adalah Adinda pa, Adinda Zilvanya Kanzu, keponakan dari om Hermawan Aditama Kanzu, Al sangat mencintai istrinya pa, bahkan istrinya saat ini tengah mengandung anak ketiganya, kalau papa masih bersikeras ingin Diandra memperjuangkan Al yang sudah jelas - jelas sudah tidak mencintai Diandra lagi, maka jangan salahkan Al dan juga om Herdi, kalau sampai perusahaan kita di bantai ". Sahut Diandra, karena hanya dengan cara inilah agar papanya bisa bungkam.


Dan benar saja, mendadak David jadi terdiam, dan tak dapat menyahut lagi. David memanglah orang yang begitu sayang pada keluarganya, termasuk istri dan juga anak - anaknya, apalagi jika itu menyangkut kebahagiaan mereka, maka cara apapun akan David lakukan untuk mendapatkan nya, namun sayang, dari hal itu pulalah ia menjadi gelap mata sehingga mengabaikan kebenaran yang sebenarnya.


Di genggamnya kedua tangan papanya, Diandra tahu, jika sebenarnya papanya ini sama sekali tidak memiliki niatan jahat.


" Pa, Diandra tahu, papa sangat menyayangi Diandra, dan papa akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Diandra, tapi pernahkah papa berpikir, jika apa yang papa lakukan itu adalah salah, dan sama sekali tidak akan membuat Diandra bahagia?... pa, Diandra sudah ikhlas pa, memang benar, jika cinta Diandra untuk Al masih ada, tetapi cinta, tidak selamanya harus memiliki. Pa, semenjak Diandra tahu jika di hati Al sudah ada wanita lain, semenjak itulah Diandra sudah ikhlas dan berusaha untuk melupakan nya pa, jadi Diandra mohon sama papa, jangan ada lagi niatan untuk Al agar mau kembali pada Diandra, karena tidak mungkin ". Sahut Diandra dengan segala kebenaran hatinya.


David pun menghela nafasnya, hatinya menjadi melemah, dan rasa emosi pun mereda. Seharusnya dirinya sadar, bagaimana sejak awal putrinya menerima semua keadaan ini, lalu mengapa dirinya masih bertingkah?.


" Maafkan papa nak, papa sudah egois, kenapa papa tidak menyadari, kalau papa memiliki seorang putri yang berhati sangat mulia... heh... kamu sudah pernah menolong Al dari maut tanpa mempedulikan nyawamu sendiri nak, dan kamu pun dengan ikhlas menerima jika Al tidak bersamamu lagi, maafkan papa nak, andai dulu jika papa saja yang pergi ke Kanada, pasti tidak akan seperti ini jadinya ". Sahut David dengan segala penyesalan nya.


Bersambung..........


Hai - hai kakak - kakak, Author update lagi, semangat membaca.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2