
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sinar mentari pagi telah menembus dinding kaca bening itu semenjak beberapa waktu yang lalu. Si mungil Alexa sang putri dari tuan Alexander, nampak tenang dalam gendongan sang oma tercintanya.
Senyuman menggemaskan itu sudah nampak terlihat lagi dari wajah mungil dan menggemaskan nya. Bahkan tangan mungilnya itu berusaha meraih dan meraup wajah cantik oma nya.
" Ma ma ma ". Seru Alexa berceloteh memanggil oma nya.
" Hemm... cucu oma Alexa sayang, ternyata sudah bisa memanggil oma ya? ". Sahut Devina senang, ia tak menyangka jika cucu perempuannya akan secepat ini mulai bisa memanggilnya oma.
Adinda yang sedari tadi duduk di sofa kamarnya tersenyum senang. Mommy muda itu sangat bahagia karena putri mungilnya sudah bisa memanggil oma nya.
Selain hanya bisa memanggil mommy, daddy, dan juga celotehan - celotehan yang tak mudah dipahami oleh orang dewasa, akhirnya putrinya itu menambah satu kosa kata lagi yang sepertinya sudah bisa dipahami oleh semua orang.
Adinda sangat senang, karena setelah tiga hari putrinya Alexa sakit, dan bahkan hampir tak terdengar berceloteh kecuali hanya rengekan - rengekan karena merasa tak nyaman pada tubuhnya, akhirnya Adinda bisa mendengar lagi celotehan itu, bahkan satu kata baru telah berhasil putrinya itu ucap yaitu mengucap panggilan oma, sungguh Adinda sangat bahagia dengan perkembangan putrinya.
" Ma, apa mama tidak lelah berdiri ma, lebih baik mama duduk saja ma ". Seru Adinda yang memberikan saran pada mama mertuanya.
" Baiklah sayang, mama akan duduk ". Sahut Devina, dan wanita paru baya itupun mulai duduk di samping menantunya.
Tak ada Al dan kedua cucu kembarnya saat ini di kamar itu. Daddy dengan kedua anak kembarnya itu masih sibuk ingin menyiapkan sarapan bersama untuk si mungil Alexa.
" Ma ma ma ". Seru Alexa berceloteh lagi, nampaknya bayi gembul itu masih ingin mengajak omanya berbicara.
" Iya sayangnya oma, Alexa sudah pintar ya sudah bisa memanggil oma ". Sahut Devina senang, bahkan dengan menjawil lembut pipi gembul cucunya itu.
" Ma ma ma ". Seru Alexa lagi, sepertinya setelah mulai bisa memanggil oma nya, bayi gembul itu malah terus memanggilnya.
" Iya sayangnya oma, cucu oma yang paling cantik oma di sini sayang ". Sahut Devina lagi dengan tersenyum, entah ia harus menyahut bagaimana lagi pada cucunya.
" Ma ma ma ma ". Seru si mungil Alexa lagi, entahlah, nampaknya bayi gembul itu sangat bersemangat untuk memanggil oma nya.
" Iya sayangnya oma ". Sahut Devina lagi, nampaknya wanita paru baya itu sudah mulai lelah menyahut.
" Ma ma ma ". Seru Alexa lagi.
" Iya sayang ". Sahut Devina, dan suaranya pun sudah mulai terdengar lirih.
" Ma ma ma ". Seru Alexa lagi.
" Ma ma ma ". Serunya lagi.
Sudah tak ada lagi sahutan dari Devina, wanita paru baya itu sudah cukup lelah menyahuti celotehan cucunya terus menerus.
" Aduuuh, sayangnya oma, kenapa kamu malah jadi cerewet seperti ini, setelah bisa memanggil oma, kamunya terus - terusan memanggil oma, tidak daddy nya, tidak si kembar, tidak kamu sayang, memang paling bisa membuat oma jengkel ". Batin Devina tak habis pikir.
Adinda yang melihat bagaimana tingkah menjengkelkan putrinya itu hanya bisa tersenyum. Menurutnya ada - ada saja putrinya ini, baru satu kali saja sudah bisa menyebut kata oma, malah terus dimanfaatkan untuk terus memanggilnya hingga membuat oma nya menjadi jengah.
Devina sudah terdiam, ia tak mau lagi melanjutkan nya. Namun wanita paru baya itu malah menoleh pada menantunya Adinda yang saat ini masih tersenyum.
" Sayang ". Panggil Devina pada sang menantu.
" Iya ma ". Sahut Adinda.
__ADS_1
" Apa benar kamu akan bersedia kalau harus punya anak lagi? ". Tanya Devina pada akhirnya.
Adinda langsung terdiam. Ia tak menyangka jika mama mertuanya akan bertanya seperti ini. Mengapa mama mertuanya malah bertanya seperti ini?. Apakah ini karena suaminya Al yang pernah mengatakan jika akan menambah anak lagi?. Dan mama mertuanya menanggapinya dengan serius.
" Iya sayang benar seperti itu? ". Tanya Devina lagi yang ingin memastikan.
" A-Adinda tidak tahu ma ". Sahut Adinda dengan sedikit kikuk.
" Loh, kok bisa tidak tahu sayang?, jangan katakan kalau suami kamu itu berbohong? ". Tebak Devina.
Adinda menjadi bingung sendiri. Bagaimana cara ia menjawabnya, sedangkan suaminya Al, tak memberitahu apapun jika ingin menambah momongan, terakhir kali suaminya yang mengatakan jika ingin menambah anak karena sedang menjahili mama nya, entah itu hanya candaan atau sungguhan, Adinda sendiri tak bisa memahaminya.
" Sudahlah nak lupakan saja, jangan terlalu dianggap serius pertanyaan mama ". Putus Devina pada akhirnya.
" Oh iya, Al sama si kembar kemana ya, kok belum datang juga?, membuat sarapan untuk Alexa sampai lebih dari satu jam, jangan - jangan sedang tidur mereka ". Lanjut Devina lagi.
Lalu wanita paru baya itupun hendak berdiri dari posisi nya dengan masih memangku Alexa.
" Ma, mama mau ke mana? ". Tahan Adinda.
" Mama mau ke dapur sayang, mau menemui Al sama cucu - cucu mama ". Sahut Devina.
" Ya sudah biar Adinda saja yang ke sana ma ". Sahut Adinda, dengan mulai berdiri dari posisinya.
" Ya sudah sayang, ke sana lah ". Putus Devina pada akhirnya.
Adinda pun mulai melangkah dari posisinya nya untuk menuju pintu, ia melangkah biasa agar bisa sampai di pintu kamar nya itu, namun baru beberapa langkah Adinda menuju pintu, tiba - tiba saja...
Ceklek.....
Pintu kamarnya pun telah terbuka. Dan ternyata benar, sosok yang datang adalah sang suami Al dan juga kedua putra kembarnya si kecil Aganta dengan Damian.
" Mas, ini, Adinda mau menyusul mas Al sama anak - anak ke dapur, tapi kalian sudah datang ". Sahut Adinda.
Adinda menatap pada nampan yang sudah berisi menu sarapan untuk putri mungilnya yang sudah berada dalam pegangan kedua tangan suaminya.
Lalu si kecil Aganta dengan Damian pun melangkah dengan sedikit cepat menuju adik Alexa mereka.
" Ayo Adik Alexa, adik salapan dulu ya ". Seru si kecil sang kakak Damian pada adiknya.
" Mam, mam, mam... ". Sahut Alexa seolah bayi gembul itu menerima ajakan dari sang kakak untuk sarapan.
" Tapi, sebelum salapan, tatak Alexa mau cium dulu ". Seru sang kakak Aganta tiba - tiba.
" Hem mam mama... ". Sahut Alexa seolah bayi gembul itu menyetujui keinginan kakaknya Aganta.
Dan akhirnya sebelum si mungil Alexa sarapan, kedua kakak kembarnya itupun menciumnya terlebih dahulu. Alexa begitu sangat senang karena kedua kakaknya selalu memperlakunnya dengan sayang dan manja.
"'Hihihihi... ada - ada saja kalian ini my twins boy, agar adik Alexa mau sarapan, kalian harus ada drama mencium dulu ". Sahut sang daddy Al dengan cekikikan nya.
" Ya kan tidak apa - apa daddy, yang penting adik Alexa nya senang ". Sahut Damian.
" Mana Al sarapannya cucu mama, biar mama yang menyuapi Alexa, bukannya langsung memberikan pada mama makanan untuk anakmu ini, malah masih berdiri ". Seru Devina tak sabar.
Al pun langsung memberikan mangkuk kecil yang sudah ada makanan untuk putrinya itu, lengkap dengan air minumnya juga.
__ADS_1
Dan setelah itu, mereka pun duduk bersama di sana, dengan sang oma Devina yang sedang menyuapi Alexa. Tak ada opa Enriko di sana, karena pria paru baya itu sedang berada di rumah utama mengingat sudah hampir satu minggu ini telah ia dan istrinya tinggalkan.
*****
Sang mentari telah lama kembali ke tempat peraduan nya dan tak menyisakan cahayanya di langit yang biru. Ya, waktu telah menunjukkan malam hari. Dan malam ini pun terasa sudah cukup larut. Bahkan tak sedikit dari banyak insan yang telah terlelap mengarungi mimpi indah mereka.
Kini di dalam kamarnya, Adinda memperhatikan putri kecilnya itu yang sudah terlelap. Bertambahnya hari putri kecilnya ini semakin terlihat menggemaskan saja.
Disaat ia memandang putri kecilnya, entah mengapa pikirannya teringat akan kejadian beberapa tahun yang silam, memori akan di mana dirinya harus kehilangan kesuciannya secara paksa. Dan orang yang telah merenggut kesuciannya itu telah menjadi suaminya yang begitu sangat mencintai nya.
Meski sudah hidup bahagia dan rasa trauma itupun telah hilang, namun tetap saja, memori akan kejadian malam naas itu masih terpatri begitu kuat dalam benaknya. Rasa sakit memang telah lama sembuh, namun lukanya masih akan terus membekas meski itu telah mengering.
Mengingat masa lalunya yang membuat dirinya dan sang suami bersatu, membuat Adinda terkadang tersenyum. Ternyata takdir memiliki cara yang unik untuk menyatukan dirinya dengan suaminya.
Semuanya diawali dengan rasa sakit karena malam kelam yang begitu memilukan, dan mendapat balasan kebahagiaan yang tiada terkira.
Cup... sebuah kecupan lembut telah berhasil menyapa tengkuknya sehingga membuat sang empu menjadi terlonjak.
" Mas, Ya Allah, mas Al membuat Adinda terkejut ". Serunya setelah melihat siapa sosok yang telah menciumnya dari belakang.
" Kenapa harus selalu terkejut sih sayang, kamu ini lucu sekali, anak kita sudah tiga, tapi kamunya masih saja suka terkejut jika aku cium ". Sahut Al lembut dengan senyuman simpulnya.
" Mas Al selalu menyahut begitu, ya wajarlah mas kalau Adinda terkejut, kan mas Al selalu menciumnya mendadak tanpa permisi dulu sama Adinda ". Sahut nya.
" Bagaimana suamimu ini bisa permisi dulu sayang saat akan menyentuh mu, kamunya saja sudah membuat aku tergoda ". Sahut Al tersenyum dengan pandangannya yang mengarah pada leher jenjang sang istri.
" Maksud mas?, mas Al tergoda pada Adinda, tapi kan Adinda tidak menggoda mas ". Sahut Adinda, ia masih bingung dengan suaminya.
" Sayang, kamu memang benar tak sadar atau pura - pura tak sadar hem, bagaimana aku bisa tahan jika melihat ini, ini, dan ini ". Sahut Al dengan menunjuk tengkuk, leher jenjang, dan dada Adinda yang sedikit terekspos.
Dan Adinda pun baru menyadarinya sekarang. Ia lupa jika masih belum menutup kancing bajunya dengan benar seusai menyusui Alexa. Mengetahui ketidaksadaran nya, membuat Adinda menjadi tersipu malu.
Al yang melihat wajah malu - malu istrinya itu ikut tersenyum. Dari dulu hingga sekarang istrinya Adinda memang selalu merasa malu jika dirinya goda simpul.
Al sangat menyukai sifat istrinya yang malu - malu seperti ini, dan membuat Al semakin ingin menggodanya.
Dengan perlahan, Al mulai menaikkan dagu istrinya itu dengan jemarinya sehingga wajah sang istri bisa ia lihat dengan jelas.
Al mencium bibir peach nan kenyal milik istrinya itu. Bibir indah yang terlihat menggoda dan sudah menjadi candu baginya.
Al menarik pinggang istrinya itu dengan lembut hingga menempel dengan tubuhnya dan tak ada jarak di antara mereka. Al memeluk tubuh mungil istrinya dengan erat tanpa melepas pagutan bibirnya pada Adinda.
Dengan penuh has*rat, ia terus mencumnya. Dalam posisi yang sudah begitu menempel dengan begitu erat ini, dapat Adinda rasakan adanya sebuah tonjolan yang begitu mengganjal dari milik suaminya yang saat ini tepat mengarah pada perut bagian bawahnya, mungkin karena suaminya Al pria yang tinggi sehingga posisi senjatanya berada sejajar dengan perut bagian bawahnya, tempat di mana ketiga anaknya dulu pernah tumbuh dan berkembang.
Merasa sudah tak tahan dengan gejolak tubuh yang telah dirasakan nya, Al pun mulai menggendong tubuh mungil istrinya itu ala bridal style dengan tanpa melepas pagutan bibirnya.
Pria bertubuh tinggi dan gagah itu secara perlahan mulai membaringkan tubuh mungil sang istri di atas ranjang kasurnya, ranjang kasur yang menajdi saksi bisa bagi sepasang insan itu saat saling bercinta.
Entah sudah berapa banyak waktu yang telah digunakan, kini sepasang suami-istri itu telah sama - sama polos tanpa helaian benang sedikitpun yang melekat di tubuh keduanya.
Dan kini, sepasang suami-istri itu telah melakukan penyatuan nya kembali dalam mengarungi indahnya cinta kenikmatan surgawi. Beruntung tak ada kedua anak kembarnya di sana, karena mereka sedang tidur bersama sang oma di sana, dan hanya ada si mungil Alexa yang telah terlelap begitu jauh, sehingga mereka berdua, Al dengan Adinda, bisa saling menikmati kegiatan bertukar peluh mereka yang penuh dengan cinta itu.
Bersambung..........
Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca.
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ