
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Maafkan aku sayang, tolong jangan menangis lagi, tolong maafkan aku ". Seru Al lagi dengan tetap mengeratkan pelukannya.
" Astagfirullah hal adzim, apa yang kamu lakukan Al, kenapa kamu kembali menyakitinya, kamu sudah mengingkari janjimu Al ". Batin Al penuh sesal.
Sang suami yang telah dilanda rasa bersalah itupun mencoba menggiring sang istri yang masih terisak untuk duduk lebih benar di atas ranjang nya.
" Sayang, lihat aku ". Seru Al dengan menangkup sisi kanan dan kiri wajah istrinya.
" Maafkan mas sayang, mas tadi salah paham, tolong jangan menangis lagi " Seru Al yang merasa tak tega melihat istrinya.
Tak tinggal diam, kini jemari Al mencoba mengusap lelehan air mata di pipi sang istri. Dan hal tak terduga nya adalah, Adinda melepas usapan lembut jemari sang suami dari wajahnya.
Dengan segala keberanian hatinya, Adinda mencoba mengeluarkan uneg - uneg dalam hatinya tentang apa yang ia tak sukai. Sedangkan Al jangan ditanya lagi, ia yang melihat perubahan sikap dan mimik wajah dari sang istri menjadi sedikit khawatir.
" Mas, selama sepuluh bulan lamanya Adinda mengandung Aganta dan juga Damian, tapi tidak sedikitpun hal terpikirkan oleh Adinda, untuk menghilangkan mereka, mereka sangat berarti bagiku mas, mereka nyawaku, jika memang Adinda tidak sudi mereka ada, sudah pasti Adinda menggugurkan mereka, bukankah mas Al pernah memberiku black card?, kenapa Adinda tidak menggunakan kartu itu saja untuk menghilangkan nyawa anak - anak mas? ". Seru Adinda dengan tatapan nanarnya.
Deg..... bak dihantam ribuan jarum di dadanya. Al begitu sangat terkejut dengan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh istrinya.
" Bahkan dengan tanpa hadirnya mas Al sekalipun, Adinda akan tetap berjuang untuk mereka, karena mereka anak - anakku mas, meski Aganta dan juga Damian bisa hadir ke dunia karena sebuah kesalahan, tapi bagiku mereka bukanlah sebuah kesalahan ". Lanjut Adinda, dan kali ini dengan air matanya yang kembali menetes.
Al seolah semakin terjatuh ke dalam sebuah jurang yang teramat sangat dalam. Ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh sang istri benar - benar bagaikan sebuah belati tajam yang telah berhasil melukai dan mengeluarkan sisi bejat dalam dirinya.
Seharusnya dirinya sadar, betapa selama ini istrinya meski tanpa kehadiran nya sekalipun telah berjuang demi kedua anaknya, sepasang anak kembar yang tidak pernah akan terpikirkan akan hadir karena sebuah kesalahan yang telah diperbuat oleh dirinya.
Namun dengan segala keikhlasan dan ketulusan hatinya, wanita yang telah ia lukai dengan luka yang begitu dalam telah mau menjaga dan berjuang untuk kedua anaknya, bahkan ia dengan tanpa syarat telah begitu ikhlas memaafkan kesalahan besarnya.
Sungguh Al menyesali kemarahannya yang sangat tidak mendasar ini, seharusnya dirinya bisa lebih mengontrol emosinya dan juga bisa berpikir lebih dalam lagi sebelum menyimpulkan sebuah kalimat yang belum tentu kalimat yang didengarnya itu bisa sama dengan yang dipahaminya.
Untuk sejenak Al menunduk, ia tak tahu harus bersikap bagaimana lagi setelah sang istri telah melontarkan isi hatinya. Andai jika waktu bisa diulang, tak ingin ia melewati masa - masa dimana Aganta dan Damian masih berada di dalam rahim istrinya.
Hingga setelah cukup lama Al menunduk, ia mulai menatap wajah sang istri yang masih terlihat sembab itu. Adinda menatap datar ke arah depan dengan tatapan kosong nya. Dapat Al lihat saat ini, jika dari kedua sorot mata indah istrinya itu seperti tergambar jika dirinya begitu sangat terbebani akan masalah yang terjadi.
Sungguh Al tak sanggup melihat istri yang dicintainya itu menjadi terlihat menyedihkan karena perbuatannya, hingga lengan kekarnya kini kembali meraih tubuh mungil istrinya dan membawanya kedalam dekapan hangatnya.
" Sayang, tolong maafkan aku, aku tadi salah paham, seharusnya sebelum aku marah, aku mencerna terlebih dulu ucapanmu, maafkan aku tolong maafkan aku, tolong jangan seperti ini Adinda, aku tidak bisa jika kamu seperti ini ". Seru Al sedih dan kali ini ia menjatuhkan air matanya.
Adinda yang merasakan seperti ada sesuatu yang basah yang mengenai pelipis sebelah kirinya pun menjadi tersentak, Adinda tersadar dari beban pikirannya.
" Mas, mas Al jangan menangis ". Seru Adinda dan jemari tangannya mulai meraih wajah sang suami.
" Sayang tolong maafkan aku ". Seru Al lagi dan kalimat itu terus ia ulang - ulang.
" Mas, mas, lihat Adinda ". Sahut Adinda lagi dan kali ini ia mulai menangkup wajah tampan suaminya.
" Mas jangan menangis lagi ". Imbuhnya.
Al menatap wajah sang istri, berharap jika istrinya mau memaafkan kesalahannya.
" Sayang, aku minta maaf ya, tolong maafkan aku, aku tadi salah paham ". Seru Al lagi.
Meski sebenarnya hatinya masih merasa sakit, tetapi Adinda paham jika suaminya bisa sampai bersikap seperti itu karena suaminya begitu sangat menyayangi dan mengharapkan kedua putranya, bahkan mungkin bisa dikatakan jika dirinya juga menjadi penyebab mengapa suaminya bisa memiliki pikiran seperti itu.
Bagaimana tidak, suaminya Al dulu sudah sangat yakin dan meminta kejujurannya untuk mengatakan jika anak yang dikandungnya adalah anak susminya, tetapi apa, dirinya malah menyembunyikan semua kebenaran itu karena ancaman dari sang kakak sepupu.
Adinda tersenyum memandang wajah suaminya, diusapnya lelehan air mata yang tadi sempat bercucuran.
__ADS_1
" Mas, Adinda sudah memaafkan mas, dan tolong maafkan Adinda juga karena biar bagaimanapun ada kemungkinan sikap mas yang seperti ini Adinda lah yang juga menjadi penyebabnya ". Sahut Adinda pada akhirnya.
Mendapat kalimat maaf dari sang istri, Al pun langsung memeluk istrinya dengan begitu erat.
Cup...... Sebuah kecupan yang cukup lama telah mendarat di kening Adinda.
" Terima kasih sayang, terima kasih karena kamu sudah mau memaafkanku ". Sahut Al dengan penuh rasa haru.
Cup... cup... cup... kecupan bertubi - tubi telah Al berikan di wajah sang istri. Ia begitu sangat bahagia karena akhirnya istrinya sudah mau memaafkannya.
Hingga setelah cukup lama dua insan yang saling merengkuh itu, membuat Adinda tersadar kembali dan ingin mengeluarkan rasa cemasnya yang tadi sempat tertunda karena salah paham.
" Mas " Seru Adinda dengan menguraikan rengkuhan suaminya.
" Ada apa sayang? ". Sahut Al.
" Adinda masih memikirkan hal yang tadi, Adinda masih khawatir bagaimana kalau Adinda hamil lagi sedangkan Aganta dan Damian masih bayi mas? ". Seru Adinda.
Al tersenyum mendengar pertanyaan ini yang sudah lengkap keluar dari kedua belah bibir istrinya.
" Kamu tidak akan hamil sayang ". Sahut Al dengan tersenyum.
Adinda mengernyit bingung mendengar jawaban dari sang suami, bagaimana bisa dirinya tidak hamil setelah ia dan suaminya sudah melakukannya berkali-kali?, sedangkan kejadian buruk yang hanya sekali terjadi saja sudah mampu membuatnya hamil.
" Bagaimana bisa mas? ". Sahut Adinda.
" Karena kamu sudah meminum obat pencegah kehamilan ". Sahut Al yang masih setia dengan senyumannya.
" Obat pencegah kehamilan?, kapan Adinda minum mas, Adinda belum pernah meminumnya ". Sahut Adinda dengan kebingungannya yang semakin bertambah.
" Ha.. ha.. ha.. ha.. ". Al tertawa dengan begitu riangnya, sedangkan Adinda menjadi semakin bingung dengan tingkah suaminya.
" Iya kamu lucu sayang, ha.. ha.. ha.. ha.. ". Sahut Al masih dengan tawanya.
Setelah hampir lima menit lamanya barulah Al selesai dengan tawa riangnya itu.
" Sayang, kamu tidak akan hamil, karena aku sudah memberi mu obat pencegah kehamilan yang sengaja dibuat khusus, aku menyuruh orang kepercayaan di rumah sakit ku untuk membuatnya ". Sahut Al menjelaskan.
Namun Adinda masih belum merasa puas dengan jawaban dari suaminya, menurutnya jawaban dari suaminya itu masih menjadi sebuah teka - teki.
" Tapi mas kapan Adinda pernah meminum obat itu? ". Tanya nya lagi.
" Apakah kamu tahu sayang, setiap kali bi Ima membuatkan susu untuk mu, disaat itu aku mencampur obat pencegah kehamilannya agar kamu mau meminumnya ". Sahut Al pada akhirnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
" Apa? ... ".
*****
Angin yang begitu sepoi - sepoi telah menyapa dua sosok yang akan melakukan tugas penting di sebuah desa yang akan menjadi wilayah terlaksana nya sebuah proyek penting yang dapat menunjang dan menumbuhkan kemajuan perekonomian di desa itu.
Ya, disinilah sekarang Andrew dan Vita berada, di pertigaan jalan untuk menuju hotel terdekat.
" Tuan, kita akan langsung ke lokasi? ". Tanya Vita.
" Tidak, kita akan mencari hotel terdekat dulu sebelum menuju desa ". Sahut Andrew.
" Tuan, apakah di desa itu tidak ada penginapan khusus untuk pria dan khusus untuk wanita? ". Tanya Vita.
" Dari informasi yang aku dapat tidak ada Vita, jadi sebelum kita kesana kita harus mencari hotel daerah ini dulu, karena orang kepercayaan ku mengatakan jika di daerah ini terdapat hotel ". Sahut Andrew menjelaskan.
__ADS_1
Dan Vita pun mengangguk paham. Sekitar hampir sepuluh menit lamanya mereka berada di tepi jalan itu, kini datanglah sebuah taksi online yang sudah siap membawa mereka ke tempat tujuan.
Taksi itu mengendara dengan kecepatan sedang, hingga sekitar hampir lima belas menit lamanya sampailah mereka di sebuah hotel yang tidak terlalu besar nan mewah namun masih memiliki fasilitas yang cukup baik untuk para tamu yang ingin menginap.
Kini Andrew dan Vita memasuki ruangan hotel itu.
" Permisi, kami ingin memesan dua kamar di hotel ini ". Seru Andrew pada petugas resepsionis.
" Sebentar ya tuan, kami akan mengeceknya terlebih dahulu ". Sahut staff resepsionis itu ramah.
" Mohon maaf tuan, di hotel ini hanya tersisa satu ruang kamar saja yang masih kosong, semua kamar di hotel ini telah penuh, hanya tersisa satu ruang kamar saja ". Sahut staff tadi.
Andrew nampak berpikir, tidak mungkin kan jika dirinya berada di kamar yang sama dengan Vita.
" Bagaimana ini, sangat tidak mungkin jika aku berada sekamar dengan Vita, tapi harus bagaimana lagi di hotel ini hanya tersisa satu kamar? ". Batin Andrew bingung.
" Bagaimana tuan, apakah anda dan rekan anda ini jadi menginap di hotel ini? ". Tanya staff wanita itu.
" Baiklah, aku terima ". Sahut Andrew.
Sedangkan Vita yang sedari tadi berada satu meter di belakang tubuh Andrew tak mengerti apa - apa, gadis yang menggunakan hijab berwarna silver itu hanya sibuk melihat pada ruangan hotel yang menurutnya sangat bagus.
Ya hal wajar memang jika Vita menganggap hotel ini sangatlah bagus karena ini adalah pertama kalinya ia masuk ke hotel, meski hotel ini sebenarnya tidak ada apa - apanya dengan hotel - hotel yang pernah di datangi oleh Andrew.
" Vita aku minta data - data mu ". Seru Andrew.
" Eh iya tuan maaf, baiklah akan saya ambil ". Sahut Vita dan ia pun merogoh data dirinya dari dalam tas dan menyerahkannya pada tuan Andrew nya.
" Silahkan tuan anda menempati ruang kamar 50 dan ini kuncinya ". Sahut staff itu dengan memberikan kunci kamarnya.
" Terima kasih tuan, nona, semoga anda bisa beristirahat dengan nyaman ". Sahut staff itu.
" Terima kasih ". Sahut Vita, namun lain hal nya dengan Andrew, ia langsung melenggang pergi menuju ruang kamarnya.
" Astagfirullah, tuan Andrew, malah langsung pergi saja ". Batin Vita kesal.
Vita mengikuti langkah Andrew yang lebar itu, dan Andrew tersadar jika Vita tertinggal di belakangnya hingga ia menghentikan langkahnya secara mendadak dan...
Bugh.....
" Aw, astagfirullah ". Seru Vita yang merasa sakit karena dahinya menabrak punggung lebar Andrew.
" Ya Allah, tuan, kenapa tuan langsung berhenti? ". Seru Vita dengan mengelus - ngelus keningnya.
" Ppfft... ppfft... ". Andrew mencoba menahan tawanya.
" Salah kamu sendiri yang berjalan tidak melihat ke depan ". Sahut Andrew dengan menahan tawanya.
" Ya, bagaimana saya bisa melihat dengan baik, sedangkan saya hanya fokus mengejar tuan yang jalannya cepat, kalau saja saya tahu tuan akan berhenti tidak akan saya melangkah lagi tuan ". Sahut Vita dengan tetap mengelus dahinya.
Jujur saja Andrew sebenarnya ingin sekali tertawa hingga terbahak - bahak, tapi tidak mungkin ia lakukan di tempat ini, karena itu akan sangat menjatuhkan harga dirinya.
" Ya ampun Vita, kamu ini lucu sekali ya kalau merajuk seperti itu ". Batin Andrew tersenyum geli.
Bersambung.........
Dukung terus karya Author ya ππβ€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1