
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pria dengan tubuh kekar itu nampaknya sedang bergerak di dapur dan tak mau menerima bantuan dari para asisten rumah tangganya. Di waktu yang masih pagi ini nampaknya Al sudah bersiap untuk membuatkan susu untuk sang istri dan juga kedua anak kembarnya.
" Tuan, biarkan saya membuatkan susu untuk nyonya dan juga kedua tuan muda kecil tuan ". Seru bu Tarsih yang merasa tak enak hati karena tuannya membuat susu sendiri.
" Tidak apa - apa bi, bibi melanjutkan pekerjaan yang lain saja, Al ingin membuat sendiri susu untuk mereka, sudah bi Tarsih tidak perlu repot - repot membantuku ". Tolak Al sopan.
Bu Tarsih pun kembali melakukan aktivitasnya yang lain bersama bu Ima.
Tiga gelas susu hangat kini telah siap. Al pun menata ketiga gelas susu yang dibuatnya di atas nampan dan membawanya menuju kamar mewah mereka.
Ceklek.... pintu kamar pun dibuka, dan nampak lah si tampan Al di kamar itu.
" Daddy, Mian mau cucu, Mian mau cucu ( daddy, Damian mau susu, Damian mau susu) ". Sambut Damian kegirangan setelah ia melihat sang daddy nya membawa susu kesukaannya.
" Iya iya anaknya daddy, kalian minum susu ". Sahut Al dengan tersenyum.
" Mas, mas yang membuatkan susu untuk kita? ". Tanya Adinda berdiri sebelum akhirnya mendekati sang suami.
" Iya sayang, mumpung hari ini hari libur kerja, jadi ya tidak apa - apa kan sekali - kali mas membuatkan susu untuk istri dan juga anak - anak mas ini ". Sahut setelah meletakkan nampan susu itu di atas meja di sana.
" Daddy daddy, Mian mau cucu na ( daddy daddy, Damian mau susu nya) ". Celoteh Damian lagi bahkan bocah kecil itu sudah memegangi kaki jenjang nan kokoh milik sang daddy.
" Iya iya boy, tenanglah daddy akan mengambilkannya untukmu, sekarang Damian duduk dulu yang tenang dengan Aganta, biarkan daddy yang mengambil susunya agar tak tumpah boy ". Sahut Al dengan menunduk dan menggiring tubuh mungil Damian agar bisa duduk dengan tenang.
" Mas bantu anak - anak minum susunya ya, biar Adinda minum di sini saja ". Ujar Adinda dengan menepuk kasur empuknya.
Al pun menurut saja sebelum akhirnya ia membawa dua gelas susu yang tadi pada kedua anak kembarnya.
" Aganta, Damian, minumnya gantian ya nak, kan tangan daddy hanya dua ". Peringat Al.
" Atu dulu daddy ( aku dulu daddy) ". Sahut Damian tiba - tiba seolah tak ingin didahului oleh saudara kembarnya.
" Aganta setelah Damian ya nak minumnya ". Al mencoba memberi pengertian pada Aganta.
" Huum, cucu na dak nanat daddy? ( huum, susu nya tidak panas daddy?) ". Sahut Aganta bertanya. Ya wajar saja jika Aganta bertanya seperti itu, karena bocah kecil itu pernah memiliki pengalaman meminum susu dari gelas secara langsung namun susunya masih terasa begitu sangat hangat. Aganta yang notabene nya masih seorang bocah kecil tentulah lidahnya masih tak mampu menahan hangatnya susu yang di minumnya meski kedua tangan mungilnya sudah mampu menahan hangatnya gelas yang berisi susu hangat miliknya.
" Iya nak, susunya sudah hangat kuku, bahkan sekarang susunya sudah cenderung mendingin ". Sahut Al yang sudah paham akan kekhawatiran putranya Aganta.
" Talo deditu, Anta mau ninum na ceudilli daddy ( kalau begitu, Aganta mau meminum nya sendiri daddy) ". Pintanya pada sang daddy.
Al yang memang sudah tahu jika sang putra Aganta mampu meminum susunya sendiri langsung memberikan susu miliknya.
" Hati - hati nak memegangnya ". Peringat sang daddy Al sebelum Aganta memegang gelas nya. Ya, untuk soal kemandirian, Aganta dalam kemampuan kemandiriannya memang lebih banyak berkembang daripada Damian.
__ADS_1
Dan kini seorang ibu muda yang saat ini tengah mengandung dan juga kedua anak kembarnya mulai meminum susu mereka masing - masing, dan mungkin hanya Damian lah disini yang masih perlu dibantu oleh sang daddy kesayangannya.
Dan inilah hal yang selalu ingin diberikan oleh seorang Alexander pada keluarga kecilnya, perhatian yang begitu tulus yang didasari dengan rasa cinta dan kasih sayang yang tak pernah usai.
*****
Malaysia
Seorang wanita dengan di dampingi oleh dua orang bodyguard kini telah berdiri di halaman sebuah rumah. Nampak rumah itu meski tak terlalu mewah namun terlihat cukup besar dan sangat layak untuk dihuni karena dapat dipastikan akan bisa memberikan kenyamanan pada orang - orang yang tinggal di dalamnya.
Sintia masih berdiri di halaman rumah itu. Ia dan juga kedua orang kepercayaan Al telah berhasil masuk dengan melewati pintu pagar besi tadi.
" Apa benar ini rumahnya? ". Tanya Sintia pada kedua bodyguard itu.
" Iya memang benar ini, apa kamu tidak ingin masuk?, ingat kamu hanya memiliki waktu satu hari untuk bertemu anakmu, jangan membuang - buang waktu mu ". Sahut Ivan memperingati.
Sintia mulai melangkah lagi agar lebih dekat dengan rumah itu.
Ada desiran aneh yang dirinya rasakan saat ini. Entah mengapa ia merasa malu jika seandainya ia benar - benar bertemu dengan ayah dari anaknya.
" Kamu sebenarnya ingin bertemu dengan anak mu atau tidak?, sudah satu jam kita berada di luar seperti ini, apa kamu tidak ingin bertemu dengan anakmu, kalau memang tidak ingin bertemu ya sudah sebaiknya kembali saja ke tempat pengasingan ". Ujar Ivan lagi dengan sedikit kesal.
" Eh iya iya, aku ingin bertemu dengan anakku ". Sahut Sintia.
" Huft... tenangkan dirimu Sintia ". Batinnya menenangkan.
Tok... tok... tok... tok... tok... tok... Sintia mengetuknya, namun masih belum ada tanda - tanda jika sang tuan rumah akan membuka pintunya.
Tok... tok... tok....
Tok.... tok... tok...
Ceklek.... sang tuan rumah pun telah membuka pintunya, dan.....
Deg.....
Sepasang mata dari dua insan yang telah lama tak berjumpa itu kini telah kembali bertemu.
Sintia terdiam membeku. Kedua bola matanya tak mampu berkedip kala melihat sesosok pria yang telah begitu lama tak ia lihat. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya lidahnya benar - benar terasa kelu.
" Kamu? ". Sentak Kelvin setelah cukup lama dirinya terdiam.
" Untuk apa kamu kesini Sintia? ". Sahut Kelvin lagi yang masih begitu terkejut dengan kedatangan Sintia yang tidak pernah ia duga.
" Kelvin, aku aku ingin bertemu dengan anakku ". Sahut Sintia.
" Cih, anak?, anak kamu bilang?, jangan harap kamu bisa bertemu dengan putraku Sintia, wanita licik seperti mu tidak pantas menjadi ibu dari putraku, pergi, cepat kamu pergi dari sini ". Ujar Kelvin marah bahkan ia sudah mengangkat tangannya untuk mengusir Sintia.
__ADS_1
" Kelvin, kamu tidak bisa seperti ini Kelvin, dia juga putraku, aku yang sudah mengandung dan melahirkan nya, jadi kamu sama sekali tidak berhak melarang ku untuk bertemu dengan putraku ". Sentak Sintia yang juga tak kalah dari Kelvin.
" Tidak bisa, kamu tidak bisa bertemu dengannya, karena apa?, karena kamu terlalu kotor untuk bisa bertemu dengan dia yang masih suci ". Ujar Kelvin masih dengan aura kemarahannya bahkan ia sampai tega menghina Sintia.
Plakkk..... satu tamparan yang begitu sangat keras telah mendarat di pipi kiri Kelvin, bahkan tubuhnya hampir oleng karena tamparan keras dari tangan Sintia.
" Kamu... kamu beraninya menamparku Sintia? ". Geram Kelvin dengan memegangi pipi kirinya yang sudah memar.
Sedangkan kedua bodyguard itu yang sedari tadi hanya diam menyaksikan tontonan live yang ada di depannya sampai melongo tak percaya.
" Kenapa, kenapa aku harus sampai tidak berani menamparmu hah?, kamu mengatakan aku wanita kotor?, seharusnya kamu berkaca pada dirimu sendiri Kelvin, kamu itu juga kotor, bahkan kamu jauh lebih kotor daripada aku, apa kamu lupa, kamulah lah dulu orang yang sudah tega menjebak ku hingga aku harus kehilangan kehormatan ku, apa kamu lupa itu? ". Marah Sintia dengan emosi yang sudah meletup - letup.
Kelvin langsung terdiam. Jika diingat kembali, benar memang jika dirinyalah yang sudah menghancurkan hidup Sintia. Kelvin lah dulu yang sudah begitu tega menjebak seorang Sintia saat itu masih polos untuk bisa bermalam dengannya.
" Apakah dengan kamu membawa dan juga merawat anakku sudah bisa menujukkan jika kamu adalah bukan pria kotor dan sudah menjadi ayah yang baik?, tidak, sama sekali tidak Kelvin, apakah kamu pikir setelah putraku tahu jika yang menjadi penyebab dia lahir adalah untuk misi jahat dari kedua orang tuanya apakah kamu pikir dia akan memaafkan orang tuanya?, pikirkan itu Kelvin ". Darah Sintia sudah benar - benar mendidih bahkan dadanya pun sudah terlihat kembang kempis karena amarahnya.
Kelvin tetap diam tak bergeming, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Suasana di depan rumahnya benar - benar terasa mencekam. Namun beberapa saat dari itu Sintia akhirnya berusaha untuk mengontrol emosinya kembali.
" Huft... ". Sintia berusaha menurunkan emosinya. Ia sadar pada akhirnya jika dirinya datang kemari bukanlah untuk melakukan keributan, akan tetapi untuk bertemu dengan putranya.
" Sekarang dimana putraku, aku ingin bertemu dengannya ". Ucap Sintia lagi dengan nada yang sudah sedikit mereda.
" Apakah kamu tidak melihat dua orang bertubuh kekar di belakangku ini?, seperti yang kamu katakan tadi, aku adalah wanita licik, dan sekarang aku sudah menuai dari perbuatan licik ku itu ".
" Apakah kamu tahu semenjak dua tahun yang lalu, Al sudah mengetahui kelicikan ku, dan sebagai hukumannya Al menceraikan ku secara tidak terhormat, bahkan sekarang aku harus menjalani masa pengasingan di tempat yang begitu mengerikan, tempat dimana sangat besar kemungkinan hewan liar bisa masuk dan menyerang ku, aku tidak memiliki banyak waktu sekarang, jadi aku minta padamu jangan halangi aku untuk bertemu dengan putraku, karena setelah ini aku harus kembali ke tempat pengasingan ku ". Ujar Sintia namun terdengar lirih pada kalimat terakhirnya.
Deg... Kelvin membulatkan kedua bola matanya. Kelvin sama sekali tidak tahu dan tak menyangka jika kejahatan Sintia sudah diketahui bahkan semenjak dua tahun yang lalu. Itu artinya tidak lama setelah dirinya membawa Kenzie, semua kejahatan Sintia telah terbongkar.
" Dimana putraku Kelvin, aku tidak bisa berlama - lama disini, dan nanti sore aku sudah harus kembali ". Ujar Sintia lagi bahkan sudah nampak raut kesedihannya.
Merasa iba, akhirnya Kelvin pun ingin memberikan izin nya pada Sintia.
" Dia ada di da... ".
" Apa?, apa ladi apa di lual? ( papa, papa lagi apa di luar? ". Tanya seorang bocah kecil yang tak lain adalah Kenzie sehingga menyebabkan kalimat sang papa menjadi terputus.
Kelvin pun langsung berbalik badan untuk melihat putranya Kenzie, sedangkan Sintia, ia sedang berusaha menoleh dimana sumber suara anak kecil itu muncul, hingga...
Deg...
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, tetap semangat membaca.
ππππππππππ
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ