
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Adinda tak bisa berbuat apa - apa lagi, air mata yang sedari tadi ia tahan pun sudah tumpah membasahi pipi putihnya.
Sedangkan si kecil Aganta dan juga Damian memeluk erat kedua kaki sang mommy, kedua bocah kecil itu begitu takut karena hampir semua orang telah mengerumuni mereka.
" Ayo, tunggu apa lagi, pergi kamu dari tempat ini wanita murahan ". Bentak Silvi lagi.
" Silvi ". Teriak seorang pria yang semua orang sangat mengenali suaranya.
Al melangkah dengan begitu geramnya menuju ke arah mereka.
" Daddy ". Seru Aganta lirih.
" Apa yang kamu lakukan Silvi? ". Marah Al.
" Tuan, perempuan ini dan juga anak - anaknya harus di usir dari kantor ini, dasar wanita murahan pembawa anak haram ". Hina Silvi lagi.
" Tutup mulutmu Silvi, dia adalah istri dan juga anak - anakku ". Marah Al dengan emosi yang sudah bersungut-sungut.
Deg...
Silvi sangat terkejut... begitupun dengan dua teman dekatnya Rani dan Rita yang begitu sangat terkejut setelah mendengar ucapan dari tuan nya.
Silvi membeku di tempat, bahkan deru nafasnya pun seolah terhenti. Jadi yang dirinya hina adalah istri dari sang bos besar.
" Beginikah kamu memperlakukan istri dan juga anak - anak dari atasanmu hah? ". Lanjut Al lagi masih dengan amarahnya.
" Tu-tuan, maafkan saya, saya sama sekali tidak tahu kalau A-Adinda istri tuan ". Sahut Silvi dengan rasa ketakutan yang sudah mulai terasa.
" Daddy ". Panggil Damian sedih.
" Sayang ". Sahut Al, dan ia pun langsung menunduk.
Al meraih kedua tubuh mungil putranya itu dan membawanya ke dalam dekapannya.
Al menatap wajah istrinya, terlihat lelehan air mata yang masih setia membasahi pipi putihnya.
" Sayang ". Seru Al yang menatap tak tega pada istrinya.
Al berusaha membawa istrinya ke dalam dekapannya. Al memagutkan dagunya untuk meraih pucuk kepala Adinda, dan membawa wanita yang dicintainya itu ke dalam sandarannya.
Cup... cup... cup... diciumnya berkali - kali pucuk kepala istrinya.
" Sayang maafkan aku, maafkan aku yang sudah datang terlambat cup... ". Seru Al dengan penuh rasa sesal.
" M-mas ". Seru Adinda dengan suaranya yang bergetar.
" Tenanglah ada aku di sini cup... ". Sahut Al yang berusaha menenangkan istrinya, pasti istrinya ini begitu sangat terpukul dengan apa yang dialaminya.
Semua orang yang menyaksikan bagaimana sang tuan besar memperlakukan istri dan juga anak - anak nya menatap kagum sekaligus heran dalam waktu bersamaan, mereka sangat tak menyangka jika sang tuan besar yang terkenal kaku dan dingin itu bisa bersikap begitu hangat pada istri dan juga anak - anaknya.
" Tu-tuan, tolong maafkan saya, saya tidak bermaksud menghina nyonya dan juga anak - anak tuan ". Seru Silvi setelah cukup lama dirinya terdiam karena rasa takutnya.
" Saya juga minta maaf tuan ". Lanjut Rani yang juga meminta maaf.
" Saya juga minta maaf tuan, saya, saya tidak sengaja melakukannya ". Rita juga meminta maaf, ia sudah merutuki kesalahannya yang sudah ikut - ikutan menghina istri tuan nya.
Al tak menggubris tiga bawahannya yang mencoba meminta maaf.
" Sayang, duduklah dulu, Aganta, Damian, duduk dulu nak ". Seru Al lembut pada istri dan juga kedua putranya.
__ADS_1
" Tuan, saya mohon tolong maafkan kesalahan saya tuan, tolong maafkan saya ". Seru Silvi lagi meminta maaf.
Sudah tidak bisa digambarkan lagi bagaimana malunya Silvi yang harus mengemis - ngemis untuk mendapatkan kata maaf.
" Heh, kalau saja kamu bukan istri dari bos ku, heh, aku sama sekali tidak sudi meminta maaf pada wanita rendahan sepertimu Adinda ". Batin Silvi memaki - maki.
Al menatap tajam ke arah tiga wanita yang sudah menghina istri dan anak - anaknya.
" Tuan, nyonya, maafkan saya, saya tidak tahu jika perempuan yang saya hina ini adalah istri anda tuan, kalau saja saya ta... ".
" Jadi, jika perempuan yang kalian hina ini bukan istriku, kalian akan tetap menghinanya, iya begitu? ". Sentak Al lagi.
Al kali ini sudah benar - benar marah.
" Bu-bukan seperti itu tuan, ka-kami hanya..
". Rita yang menyahut pun menjadi terhenti, ia bingung harus melanjutkan kalimatnya dengan kalimat apa.
" Hanya apa, kalian hanya apa hah?... orang - orang seperti kalian yang tidak punya sopan santun dan tidak tahu cara menghargai orang lain sama sekali tidak pantas bekerja di perusahaan ku, mulai hari ini juga kalian bertiga aku pecat! ". Ucap Al telak.
Terkejut.... semua orang yang ada di lorong lantai dasar perusahaan itupun begitu sangat terkejut. Mereka sangat tak menyangka jika seorang tuan Al, telah memecat karyawannya secara tidak terhormat seperti ini, apalagi yang di pecat nya adalah orang - orang yang memiliki jabatan cukup penting, dan terbilang dekat dengan sang tuan besar.
" Tuan, jangan pecat saya tuan, tolong maafkan saya, saya janji saya tidak akan mengulanginya lagi tuan ". Seru Silvi, dan kali ini ia bersungguh - sungguh dalam meminta maaf.
" Iya tuan, tolong jangan pecat saya, saya masih ingin bekerja di perusahaan ini tuan, lebih baik yang anda pecat Silvi saja tuan, karena gara - gara dia saya sampai ikut - ikutan menghina seperti ini tuan, jadi yang seharusnya di pecat itu Silvi saja tuan ". Lanjut Rita tiba - tiba yang tidak pernah di duga oleh Silvi.
" Iya benar tuan, ini semua gara - gara Silvi, gara - gara dia kami berdua jadi ikut - ikutan jahat seperti ini tuan ". Timpal Rani dengan menyalahkan temannya Silvi.
" Enak saja kalian bicara seperti itu, aku tidak pernah menyuruh kalian untuk menghina Adinda, dan sekarang kalian malah mengatakan gara - gara aku, dasar teman - teman tidak tahu di untung ". Marah Silvi pada Rita dan juga Rani.
Namun Rita dan Rani sama sekali tak perduli dengan ucapan Silvi, mereka berdua hanya bersikap pura - pura bodoh.
" Tuan Al, nyonya Adinda tolong jangan pecat kami, jika ingin memecat, pecat saja Silvi ". Lanjut Rani tetap pada permohonannya.
" Aku sama sekali tidak peduli dengan permohonan maaf kalian, pokoknya hari ini juga kalian aku pecat ". Ucap Al lagi tanpa bantahan.
Semua orang yang ada di sana pun tak bisa berbuat apa - apa, bahkan sebagian dari mereka ada yang berangsur bubar, mereka ada yang merasa takut, mereka merasa takut jika mereka akan bernasib sama seperti ketiga orang itu.
" Mas ". Seru Adinda tiba - tiba dengan memegang lengan kekar sang suami.
" Maafkan saja mereka mas, kasihan mereka, mereka bicara seperti itu karena mereka tidak tahu kalau Adinda istri mas, jadi Adinda mohon maafkan saja mereka mas, jangan pecat mereka kasihan ". Mohon Adinda yang merasa iba.
" Kalian lihat, istriku yang sudah kalian hina ini masih memohon agar aku tidak memecat kalian, kalian lihat itu hah...tapi sayangnya tidak, kalian akan tetap aku pecat, orang yang kalian hina dan kalian rendahkan adalah istri dan juga anak - anakku, dan aku tidak akan pernah bisa menerima itu ". Ujar Al lagi dengan segala kemarahannya.
" Tuan, tolong beri saya satu kesempatan lagi, saya janji saya tidak akan melakukan kesalahan ini lagi tuan ". Mohon Silvi.
" Security... security.. ". Panggil Al.
" Cepat seret ketiga wanita ini keluar dari perusahaan ku, jangan biarkan mereka menginjakkan kaki lagi di sini, cepat usir mereka ". Perintah Al.
" Baik tuan ". Sahut ke empat security itu.
" Tuan, saya mohon jangan pecat saya tuan ". Mohon Silvi lagi dengan begitu pilu.
" Iya tuan, tolong jangan pecat kami tuan ". Mohon Rita juga pada tuan nya.
" Sudah, kalian jangan banyak tingkah, ayo keluar ". Sentak para security itu dengan menyeret paksa Silvi, Rita, dan juga Rani.
Akhirnya ketiga wanita yang sudah menghina istri dan juga anak - anak tercintanya pun telah menghilang dari lorong perusahaan itu.
" Daddy ". Seru Aganta dengan kedua bola matanya yang sudah nampak berkaca - kaca.
" Sayang ". Sahut Al dan ia pun meraih tubuh mungil Aganta.
__ADS_1
" Semuanya bubar, yang ingin makan siang silakan makan siang, tidak usah lanjut menonton ". Ujar Al pada beberapa karyawannya yang masih berdiri memperhatikan.
Al menatap wajah istrinya, sembab, itulah yang Al lihat.
" Sayang, sudahlah jangan menangis, jangan kamu merasa bersalah, mereka memang pantas mendapatkan itu semua, bahkan pemecatan mereka adalah hukuman yang terlalu ringan untuk mereka ". Seru Al lembut.
" Tapi mas, tetap saja kasihan dengan mereka ". Ternyata Adinda masih merasa iba.
" Sudahlah sayang, rasa kasihan mu sama sekali tak pantas diberikan pada orang seperti mereka, mereka saja tidak kasihan pada diri mereka sendiri dan menghina - hina orang lain, lalu untuk apa orang harus mengasihani mereka ". Sahut Al lagi.
Adinda tak bisa berkata apa - apa lagi, suaminya Al kalau sudah seperti ini memang tidak bisa diberi pengertian lagi.
" Damian, ayo berdiri nak, gendong pada daddy ". Seru Al lagi pada anaknya yang sedari tadi hanya diam membisu, mungkin bocah kecil itu terlalu shock dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
Cup... cup... cup... Al mencium kening istri dan juga kedua anaknya secara bergantian.
" Sayang, ayo kita pulang ". Seru Al pada akhirnya.
Setelah mengalami masalah yang begitu menguras emosi, akhirnya Al pun membawa sang istri dan juga kedua anak kembarnya pulang.
*****
Di Mobil...
Adinda masih terdiam. Pandangannya pun hanya tertuju ke arah samping jendela mobilnya.
" Sayang ". Panggil Al di sela - sela kegiatan menyetir nya.
" Iya mas ". Sahutnya lirih.
" Kamu masih memikirkan mereka yang sudah aku pecat? ". Tebak Al.
Adinda pun mengangguk pelan.
Al meraih tangan mungil istrinya, dan cup... satu kecupan telah mendarat di sana.
" Sayang, kamu merasa kasihan pada mereka karena sudah memecat mereka kan? ". Lanjut Al lagi.
Dan lagi - lagi Adinda pun menyahutnya dengan anggukan.
" Hatimu terlalu baik istriku, aku sangat beruntung bisa memiliki istri seperti mu, yang tidak pernah dendam pada mereka yang sudah pernah menyakitimu ".
" Baiklah... untuk mengurangi kesedihanmu, aku akan memberikan pesangon untuk mereka ". Sahut Al pada akhirnya.
Dan benar saja, sebuah senyuman kini telah terbit di wajah manis istrinya.
" Daddy, canoun tu apa? ( daddy, pesangon itu apa?) ". Tanya Damian tiba - tiba yang duduk di kursi belakang.
" Pesangon itu, sejumlah uang yang diberikan pada orang yang sudah berakhir masa kerjanya boy ". Sahut Al dengan kalimat sederhana.
Damian nampak memikirkan jawaban dari daddy nya.
" Canoun tu, uan ya di tashik te uti yan daddy ushil tadi? ( pesangon itu, uang yang di kasih ke onti yang daddy usir tadi? ) ". Kali ini Aganta lah yang menyahut.
" Wah, benar sekali boy, uang untuk onti yang sudah daddy usir tadi ". Sahut Al dengan tersenyum.
" Badush, uti tu meman halush di ushil, dashal uti dahat ( bagus, onti itu memang harus di usir, dasar onti jahat) ". Sentak Damian, yang masih mengingat perbuatan ketiga wanita tadi.
" Iya betul, orang jahat seperti mereka memang pantas di usir boy ". Sahut Al dengan senyuman kemenangannya.
Bersambung..........
Tetap semangat baca ya kakak - kakak.
__ADS_1
ππππππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏ