
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Terasa berada di tengah - tengah lembaran bunga - bunga yang begitu indah dan wangi itulah yang Vita rasakan saat ini. Senyum mengembang seolah tak henti - hentinya terpancar dari bibir manisnya. Vita merasa sangat bahagia karena tuan Andrew nya telah menjadi calon suaminya. Meski Vita masih merasa yang terjadi bagaikan sebuah mimpi namun inilah faktanya, dirinya saat ini telah menjadi kekasih dari seorang Andrew Choi.
Selesai mandi, memasak, dan berbagai aktivitas pagi lainnya yang sudah Vita lakukan, kini gadis yang berusia lebih dari usia sembilan belas tahun itu masih tetap bersantai dan berguling - guling di atas kasur empuknya dengan mengingat saat - saat dimana tuan Andrew nya melamarnya kemarin, hingga terdengarlah seperti adanya suara cuilan getaran handphone yang menandakan ada pesan whatsapp yang masuk ke handphone pintarnya.
" Siapa ya? ". Gumamnya, dan Vita pun meraih benda pipih itu yang letaknya tak jauh dari posisinya berbaring.
" Tuan Andrew ". Seru Vita, dan ia pun langsung bangkit dari posisinya.
" Assalamu'alaikum, sekarang hari libur, kamu sedang apa Vita? ". Itulah pesan masuk dari Andrew.
" Waalaikum salam, pagi tuan, saya tidak melakukan apa di rumah hanya bersantai di kamar saja ". Balas Vita mengetik.
" Bersantai, hemm pasti kamu sedang memikirkan ku kan? π₯° ". Balas Andrew.
Vita merasa malu melihat jawaban pesan dari tuannya, bahkan kini wajahnya pun sudah seperti buah tomat merah, bagaimana bisa tuan Andrew nya itu tahu jika ia sedang memikirkan tuan nya.
" Kenapa?, kamu malu ya karena yang ku katakan benar? π". Balas Andrew lagi.
" Tidak ". Balas Vita yang mencoba mengelak.
" Hihihihihi, kamu ini lucu sekali Vita ". Balas Andrew lagi.
" Jadi, tuan Andrew menghubungiku hanya ingin meledekku? π‘". Tanya Vita yang merasa kesal.
" πππ, kamu ini benar - benar lucu Vita, siapa yang mau meledek mu? ". Balas Andrew.
" Tahu lah, tuan Andrew menyebalkan ". Balas Vita.
" Jangan marah seperti itu dong calon istriku, aku kan hanya ingin tahu saja apa yang kamu lakukan di hari libur seperti ini? ". Balas Andrew.
" Saya tidak melakukan apapun tuan, selain hanya melakukan kegiatan seperti biasanya ya seperti memasak dan sarapan, saya sudah tidak melakukan kegiatan apa - apa lagi, mungkin nanti siang saya akan membuat susu untuk ayah ". Balas Vita.
" Vita, nanti sore kamu ada acara tidak? ". Balas Andrew.
" Tidak ada tuan ". Balas Vita.
" Ya sudah, nanti sore aku akan datang ke rumah mu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu ". Balas Andrew.
" Hal penting apa tuan? ". Tanya Vita.
" Adalah nanti kamu akan tahu sendiri ". Balas Andrew.
" Baiklah tuan, assalamu'alaikum ". Balas Vita.
" Eh, harusnya aku yang mengucap salam, waalaikumsalam ". Balas Andrew.
" Hihihihihi π ". Balas Vita lagi sebelum benar - benar me nonaktifkan whatsapp nya.
*****
Sepasang suami istri dengan kedua anak kembarnya sedang duduk tenang di dalam mobilnya. Ya siapa lagi jika bukan Al dengan Adinda dan juga sepasang anak kembarnya yaitu Aganta dan juga Damian yang sedang tidur terlelap dipangkuan daddy dan juga mommy nya.
" Sayang ". Panggil Al.
" Iya mas ". Sahut Adinda.
" Apa Sintia juga bersama bi Nadia di rumahnya? ". Tanya Al pada sang istri.
Untuk sesaat Adinda terdiam sebelum akhirnya juga menjawab.
" Iya mas, kemungkinan kak Sintia juga bersama bibi kan mereka hanya punya satu rumah ". Sahut Adinda sebelum akhirnya pandangannya kembali fokus ke depan.
Al mencoba meraih wajah sang istri.
" Sayang, apa kamu takut pada Sintia? ". Tanya Al.
__ADS_1
Adinda hanya tersenyum kecut menanggapi pertanyaan suaminya.
" Sayang kamu jangan takut, ada aku disini, selama ada aku maka kamu dan juga ayah kita akan baik - baik saja ". Seru Al yang mencoba mengingatkan pada istrinya.
" Iya mas ". Sahut Adinda yang disertai dengan anggukan.
Ya, hari ini mereka akan ke rumah bi Nadia. Meski sang suami sudah mengatakan jika dirinya dan juga sang ayah akan baik - baik saja namun tetap saja rasa cemas itu akan ada.
Terlebih saat ini Aganta dan juga Damian sudah hadir, membuat Adinda merasa takut jika kakak sepupunya itu akan mencelakai kedua putranya.
Pak Joko yang merupakan supir pribadi dari papa Enriko hanya bisa fokus menyetir dan mengendarai mobil tuan Al nya, hingga dimana mobil mewah itu berada di sebuah jalan pertigaan pak Joko membelokkan mobilnya ke kiri jalan.
" Loh mas, sejak kapan ya jalan disini sudah di aspal dan bisa di lewati mobil, perasaan dulu jalan disini sempit hanya bisa dilewati kendaraan roda dua dan itupun masih beralaskan tanah, tapi sekarang wah sudah sangat bagus jalannya ". Seru Adinda yang menatap tak percaya pada jalanan yang menuju kampungnya.
" Semenjak tiga bulan yang lalu sayang, semenjak tiga bulan yang lalu jalan ini sudah selesai dibangun dan sudah bisa digunakan ". Sahut Al.
Adinda kemudian menatap pada suaminya.
" Apa jalan ini mas yang membangunnya? ". Tanya Adinda.
Al tersenyum dengan disertai anggukan pada istrinya.
" Ya Allah, terima kasih ya mas sudah perduli pada warga disini ". Seru Adinda dengan senyum bangganya pada sang suami.
" Iya sayang sama - sama, lagi pula kampung ini kan adalah tempat dimana istriku tercinta ini dibesarkan ". Sahut nya.
Adinda sangat senang dan bersyukur suaminya Al meskipun terlahir dari keluarga kaya dan juga dibesarkan dengan kemewahan tak membuat suaminya sombong dan merendahkan orang kecil bahkan suaminya sangat perduli pada kehidupan orang - orang kecil.
Dan setelah sekitar tujuh menit lamanya mobil mewah itu mengendara setelah melewati jalan pertigaan tadi kini telah sampai di halaman dua rumah berukuran minimalis namun begitu sangat bersih dan terawat.
" Tuan kita sudah sampai ". Seru pak Joko.
" Ayo sayang kita turun ". Seru Al.
Deg...... Adinda terdiam melihat dua rumah yang saling bersebelahan, dimana rumah sebelah kiri adalah rumah ayah dan juga dirinya sedangkan rumah yang satunya adalah rumah bibinya dan juga saudara kandungnya.
Deg... deg... deg... itulah degupan jantungnya. Haruskah sekarang?, dirinya bertemu dengan bi Nadia nya dan juga sosok yang pernah menyakiti dan mengancamnya dulu, ya memang harus sekarang bertemu memangnya kapan harus bertemu, bukankah pertemuan ini dirinya yang memintanya, lalu mengapa sekarang menjadi khawatir seperti ini?.
" Iya mas ". Sahut nya.
Dan mereka pun keluar dari mobil mewah itu.
" Pak Joko, bapak boleh istirahat di mobil dulu untuk sementara, kalau lapar makan saja di warung itu ". Ucap Al dengan menunjuk warung nasi yang berhadapan dengan halaman rumah Adinda.
" Baik tuan ". Sahut pak Joko.
Kini Al dan Adinda pun berada di depan pintu rumah bi Nadia.
Tok... tok... tok....
" Assalamu'alaikum ". Ucap Al.
Namun tak ada sahutan.
Tok... tok... tok...
" Assalamu'alaikum bi ". Ucapnya lagi, dan...
Ceklek..... pintu rumah pun di buka, dan benar saja sosok yang keluar adalah Sintia.
Deg..... Sintia membelalakkan kedua bola matanya tak percaya kala ia melihat dua sosok yang ada di depannya, oh bukan hanya dua tetapi ada dua sosok lagi yaitu sepasang bayi gembul yang terlelap dalam gendongan dua sosok yang sangat di kenalnya.
" Kalian? ". Seru Sintia tak percaya.
" Assalamu'alaikum kak ". Seru Adinda lirih.
Al merangkul tubuh sang istri agar tak lagi merasa takut.
" Untuk apa kalian datang kemari? ". Tanya Sintia dengan sedikit ketus.
__ADS_1
" Kami mau bertemu bibi kak ". Sahut Adinda.
Sintia menatap kedua bayi gembul yang sedang terlelap di dekapan Adinda dan juga Al. Sedangkan Al menatap tajam ke arah Sintia.
" Cepat menyingkir kami ingin bertemu bi Nadia ". Sahut Al setelah cukup lama dirinya diam.
" Datang - datang bertamu malah menyuruh tuan rumah menyingkir, dasar tidak punya sopan santun ". Sahut Sintia dengan mencebikkan bibirnya.
Al sungguh sangat geram dengan wanita ular yang ada di depannya, jika saja dia bukan wanita sudah pasti Al akan menghajar nya.
" Sintia siapa yang datang nak? ". Seru suara seorang wanita yang berasal dari dalam rumahnya.
" Siapa yang datang Sintia kenapa tidak disuruh ma..... ". Ucapan bi Nadia seketika terhenti ketika melihat dua orang sosok yang sudah berdiri di depan pintu, Dua sosok yang sudah lama tidak ia lihat, tidak bukan hanya dua sosok tetapi masih ada dua sosok lagi yang ada dalam gendongan mareka.
" Bi ". Seru Adinda dengan suaranya yang bergetar.
" Adinda, Adinda nak, ini benar kamu nak? ".
" Bi ".
Bi Nadia sedikit berlari mendekati Adinda, dan kini sepasang bibi dan keponakan perempuannya itupun saling memeluk.
" Ya Allah nak ini benar kamu nak, bibi sangat merindukanmu Adinda ". Seru bi Nadia dengan tetap memeluk erat keponakan yang sangat dirindukannya itu.
" Bi, Adinda rindu bi hiks... ". Seru Adinda dengan tangisan kerinduannya.
" Ya Allah nak, selama ini kamu kemana saja?, kenapa kamu tidak pernah cerita sama bibi nak hiks hiks... ". Seru bi Nadia lagi yang sudah tak sanggup menahan air matanya.
" Maafkan Adinda bi ". Sahutnya.
cukup lama bibi dan keponakan perempuannya itu saling berpelukan hingga bi Nadia pun mulai menguraikan pelukannya.
Cup... cup... cup... cup... bi Nadia mencium seluruh bagian wajah Adinda seolah betapa berharganya keponakannya itu.
Kemudian wanita paru baya itu mengalihkan pandangannya pada sosok mungil yang ada di gendongan Adinda dan juga Al.
" Mereka anakmu nak? ". Tanya bi Nadia dengan mengusap lelehan air matanya.
" Iya bi, dua bayi gembul yang menggemaskan ini anakku dan mas Al ". Sahut nya.
" Apa kabar bi ". Seru Al dan ia pun meraih punggung tangan bi Nadia untuk ia cium.
" Alhamdulillah baik nak, oh iya bibi sampai lupa, ayo masuk dulu ". Seru bi Nadia pada akhirnya.
Sintia memanglah Sintia, rupanya rasa benci nya tetap tak kunjung reda pada Adinda, padahal apa salah Adinda?. Sungguh tidak disangka lima tahun terabaikan oleh asuhan ibunya membuatnya menjadi pribadi yang begitu membenci Adinda, ya hal itu sangat mungkin terjadi karena biar bagaimanapun lima tahun terabaikan oleh ibu kandungnya sendiri menjadi sebuah torehan luka yang begitu mendalam dan alhasil tetap seperti inilah ia menjadi sosok yang tetap tak menyukai Adinda.
" Duduk dulu nak ". Seru bi Nadia.
Al dan Adinda pun duduk di ruang tamu yang berukuran minimalis itu, namun mungkin karena ada sesuatu yang mengusik membuat Aganta terbangun dari tidur lelapnya. Bayi gembul itu membuka matanya sejenak sebelum akhirnya.....
" Oekk... oekk... oekk...oekk... ". Aganta menangis.
" Oh boy kamu sudah bangun? ". Seru Al, dan ia pun berusaha untuk menepuk - nepuk lembut punggung mungil putranya.
" Sini mas gantian, mungkin Aganta haus ". Pintanya pada sang suami.
" Nak nama anak kamu siapa? ". Tanya bi Nadia.
" Yang menangis ini namanya Aganta bi, dan yang masih tidur ini namanya Damian ". Sahutnya.
" Ya sudah kalau begitu bibi yang menggendong Damian, kamu susui dulu itu Aganta ". Perintah bi Nadia.
Sintia yang memang tak suka melihat kebersamaan mereka hanya bisa mengintip dari balik tembok rumahnya. Ia sangat kesal karena melihat Al dan juga ibunya begitu memperhatikan Adinda.
" Dasar wanita suka mencari perhatian, kenapa kamu bodoh sekali Sintia, seharusnya sewaktu Adinda hamil kamu gugurkan saja bayinya, bukan malah menyuruhnya pergi ". Gumam Sintia dengan kekesalannya.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya πππβ€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ