
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Waktu terus berjalan mengiringi hari - hari yang akan terus berganti. Kebahagiaan dan cinta seolah terus mengiring dua keluarga besar yang telah terjalin.
Tanpa terasa kini usia pernikahan Al dengan Adinda telah memasuki lima bulan. Menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga selalu ia lakoni dengan baik.
Meski usia Adinda tergolong masih belia, namun gadis berparas cantik yang memiliki bulu mata lentik itu sudah sangat mampu menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang wanita yang sudah berumah tangga.
Seperti yang dilakukannya di pagi hari ini, ia begitu bersemangat memasak untuk suami dan juga keluarganya. Meski sangat sering Adinda dilarang untuk memasak namun ia tetap memaksa, dan alasannya pun tetap sama yaitu merasa bosan jika tidak memasak untuk keluarganya.
" Bi Ima, ikan asam pedasnya coba di lihat dulu bi, mungkin sudah matang, Adinda akan melanjutkan membuat tumis kangkung dulu! ". Seru Adinda.
" Sudah matang nyonya ". Sahut bi Ima, dan ia pun langsung memindahkan masakan itu.
Sudah sekitar sepuluh menit lamanya dari sisa waktu yang ada, akhirnya Adinda dan kedua bibinya bisa menyelesaikan membuat masakannya.
" Alhamdulillah, semuanya sudah selesai ". Seru Adinda.
" Tapi ini masih pukul lima lewat nyonya, apa makanannya mau langsung diletakkan di meja makan? ". Tanya bi Tarsih.
" Masih kurang bi, nanti kalau sudah pukul enam baru kita membawanya ". Sahut Adinda.
Bi Ima tersenyum melihat Adinda. Ia sangat bersyukur karena tuan Al nya bisa memiliki istri sebaik Adinda.
" Bi, bi Ima ada apa, kenapa senyum - senyum seperti itu? ". Seru Adinda.
" Bibi tersenyum bahagia nyonya " Sahut bi Ima.
" Bi Ima bahagia, kalau bibi bahagia, tolong berbagi dengan kita lah bi, biar kita juga ikut merasa bahagia ". Sahut Adinda dengan senymannya.
" Bi Ima itu bahagia karena melihat nyonya Adinda ". Sahut bi Tarsih yang ikut menimpali.
Adinda mengernyit bingung.
" Bahagia karena melihat Adinda, memangnya Adinda kenapa bi? ". Tanya Adinda dan kali ini ia sudah penasaran.
" Iya nyonya, bibi bahagia, karena semenjak ada nyonya Adinda dalam kehidupan tuan Al, tuan Al sudah sangat banyak berubah, tapi yang paling membuat bibi bahagia adalah karena yang menjadi ibu dari anak - anak tuan Al adalah nyonya Adinda bukan tunangannya dulu ". Sahut bi Ima, namun ia merutuki kalimat terakhirnya.
__ADS_1
" Tunangan?, memangnya mas Al pernah bertunangan? ". Tanya Adinda yang sudah dilanda rasa penasaran.
Bukan tanpa sebab Adinda menanyakan hal itu, karena yang ia tahu selama ini, suaminya Al hanya menikahi kakak sepupunya Sintia, dan itupun sudah bercerai.
" Aduh, mulut mu Ima, kenapa tidak bisa di rem sih? ". Batin bi Ima.
" Aduh, bi Ima keceplosan ". Batin bi Tarsih.
" Bi Ima, memangnya siapa dulu tangannya mas Al? ". Tanya Adinda lagi.
" Iya, anu itu dulu nyonya, tu, tuan Al pernah punya tunangan ". Sahut bi Ima yang terpaksa harus menjawab.
Adinda yang masih dilanda rasa penasaran pun membuatnya ingin terus bertanya, entah mengapa ia ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan di masa lalu suaminya.
" Bi, bi Ima tidak perlu takut, Adinda tidak bermaksud apa - apa kok bi, Adinda hanya ingin tahu saja bagaimana masa lalu mas Al dengan tunangannya? ". Sahut Adinda dengan mengelus bahu bi Ima.
Mau tidak mau bi Ima yang sudah keceplosan itupun harus menceritakan kisah tuan Al nya dengan sang tunangan.
" Begini nyonya, tuan Al itu sebenarnya orang yang baik dan perduli pada kehidupan orang - orang yang susah, dan tuan Al itu orang yang sangat cerdas dan gila kerja, namun sayangnya tuan Al itu kurang begitu ramah pada orang lain kecuali orang - orang yang tuan sayang, dan dari sifat tuan Al yang kurang ramah dan cenderung dingin pada orang - orang di luar sana membuat tuan Al digilai oleh banyak wanita, namun sayangnya tidak ada seorang wanita pun yang mampu meluluhkan hati seorang tuan Al, hingga akhirnya karena suatu insiden kecil tuan Al ditolong oleh seorang wanita ".
Adinda begitu menyimak setiap untaian kata yang keluar dari belah bibir bi Ima, hingga disaat bi Ima mengatakan ada seorang wanita yang menolong suaminya membuat hati Adinda semakin terjingkat, Adinda ingin mengetahui lebih jauh lagi.
" Dulu sekitar empat tahun yang lalu ada seorang wanita yang menolong tuan Al dari orang - orang yang sengaja ingin melukai tuan, jadi nyonya sewaktu tuan Al ingin menyeberangi sebuah jalan raya tiba - tiba saja ada sebuah mobil yang melaju dengan sangat cepat ke arah tuan Al, padahal kondisi jalan pada waktu itu tidak terlalu ramai, hingga pada saat dimana mobil itu sudah akan menabrak tuan Al, tiba - tiba saja ada seorang wanita yang menolong tuan, hingga akhirnya wanita itulah yang ditabrak, dan akibat dari kecelakaan itu wanita yang menolong tuan menjadi koma sampai dua bulan nyonya, wanita itu namanya nona Diandra ". Lanjut bi Ima.
" Selama dua bulan nona Diandra itu koma, tuan Al tak henti - hentinya terus menjenguk dan bahkan tuan Al sering menginap di rumah sakit untuk menjaganya nyonya, hingga pada saat nona Diandra sembuh hubungan tuan Al menjadi sangat dekat dengan nona Diandra, hingga pada suatu hari tuan Al memutuskan untuk melamar nona Diandra pada pada orang tuanya, dan itu adalah hal yang sangat semua orang tidak bisa menduganya, karena tuan Al adalah laki - laki yang sangat sulit untuk menerima wanita dalam hidupnya, tetapi nona Diandra telah mampu hadir di hati tuan Al ".
Deg... Adinda merasa hatinya begitu tertegun, cerita dari bi Ima tentang tunangan suaminya Al, telah mampu membuat hatinya begitu terhenyak. Entah mengapa saat ini Adinda merasa begitu sesak di dadanya.
" Namun sayang nyonya, hubungan sepasang kekasih yang sudah hampir satu tahun itu, harus berakhir karena nona Diandra memutuskan untuk pergi ke Canada karena permintaan dari papanya, tapi entahlah nyonya bibi juga tidak tahu pasti kebenarannya bagaimana, tapi yang pernah bibi dengar dari kisah tuan Al, tuan Al akan tetap menunggu nona Diandra hingga dia kembali, tapi nyatanya nona Diandra tidak pernah kembali dan bahkan tidak menghubungi tuan Al lagi, dan dari masalah asmara ini, tuan Al kembali menjadi pria yang dingin dan tak tersentuh, tapi untunglah tuan Al tidak jadi menikah dengan nina Diandra, tetapi menikah dengan nyonya ". Pungkas bi Ima.
Dalam seketika hati Adinda merasa hancur. Cerita lengkap tentang tunangan suaminya dulu membuat Adinda paham, jika suaminya Al sangatlah mencintai kekasihnya Diandra. Dan mungkin seharusnya suaminya itu menikah dengan Diandra bukanlah dengan dirinya.
Namun sayang karena suatu kesalahan yang tak diharapkan harus membuat Al menikahi dirinya. Dan memang benar nyatanya jika suaminya Al menikahinya karena rasa bersalahnya saja.
" Mas, mas Al menikahi Adinda karena rasa bersalah bukan, iya memang benar itu alasannya, tapi bagaimana dengan kata cinta yang pernah mas ucapkan padaku, apakah itu memang benar adanya atau karena rasa bersalah mas saja?, mas apakah jika kekasih yang mas nantikan itu telah kembali, apakah mas akan kembali padanya? ". Batin Adinda Sedih.
Ingin sekali rasanya Adinda menangis, tapi tidak mungkin ia lakukan. Namun jika dipikirkan bukankah perasaan seseorang itu tidak bisa dipaksakan.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi yang menandakan kegiatan sarapan akan segera dimulai.
__ADS_1
" Nyonya, ini sudah pukul enam, apa kita sudah harus membawa makanan ini ke meja makan nyonya? ". Tanya bi Tarsih.
" Eh, iya bi, ayo kita bawa saja semuanya ". Sahut Adinda.
Semua menu makanan yang sudah dimasak tadi telah siap di meja makan. Hingga tidak berselang lama dari itu datanglah sesosok Al dengan segala kewibawaannya.
" Pagi sayang, cup... ". Sapa Al dengan mencium kening istrinya.
" Pagi mas ". Sahut Adinda.
" Ini, mas Al mau yang mana menunya, biar Adinda ambilkan ". Seru Adinda.
" Mas ingin yang ini, ini sama yang ini sayang ". Sahut Al dengan menunjuk beberapa lauk yang ada di mejanya.
Dengan tanpa banyak bicara, Adinda langsung mengambil lauk yang diinginkan suaminya dan menghidangkannya.
" Apakah masih ada lagi mas?, kalau tidak ada Adinda mau ke atas dulu ingin menemani anak - anak ". Serunya.
" Loh sayang, kamu mau kemana?, disinilah dulu temani mas sarapan, kita sarapan dulu sayang ". Pintar Al pada Adinda.
" Adinda mau ke atas mas, Adinda mau menyiapkan sarapan untuk anak - anak ". Sahutnya lagi.
" Sayang mereka masih belum bangun, disinilah dulu sayang kita sarapan ". Pinta Al, dan dengan lembut Al menggiring istrinya untuk duduk dan menikmati sarapan bersamanya.
" Mas apakah rasa perhatianmu saat ini juga karena rasa bersalah? ". Batin Adinda.
Al sudah akan siap memulai sarapannya, namun sepertinya dua sosok yang biasanya juga ikut sarapan sedang tidak ada di tempatnya.
" Bi Ima sama bi Tarsih kemana sayang, kenapa mereka tidak ikut sarapan juga? ". Tanya Al.
" Mereka ada di dapur mas, mereka ingin sarapan di sana ". Sahut Adinda.
Sepanjang Adinda berbicara dengan suaminya, raut wajahnya benar - benar terlihat datar. Dan hal ini tentu tak luput dari pandangan Al.
" Sebenarnya ada apa dengan mu sayang?, tidak biasanya kamu seperti ini, kamu tidak pintar menyembunyikan perasaan mu sayang, aku akan mengetahuinya sayang ". Batin Al.
Kini sepasang suami istri itu telah larut dalam kegiatan sarapan paginya yang begitu sangat disayangkan.
Bersambung..........
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan beri hadiahnya ya πππβ€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ