Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Peringatan Keras Dari Herdi


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Rasa lemah di tubuhnya masih begitu terasa. Namun pelan tapi pasti tubuhnya telah berangsur membaik. Setelah sempat tak sadarkan diri selama tiga hari tiga malam, akhirnya Diandra telah sadar.


" Ayo Di, kamu makan dulu, biar tenagamu bisa cepat pulih kembali ". Seru Rania sang saudara sepupu.


" Tidak ah Ran... aku belum lapar ". Sahut Diandra lirih.


" Loh, ya jangan nunggu lapar lah Di, kamu itu butuh asupan nutrisi yang cukup agar tubuh kamu kembali Vit, kamu tak ingin cepat sembuh apa?, ingat loh, kalau kamu sakit dan belum sembuh, yang repot itu kita semua karena harus bolak - balik ke rumah sakit buat jenguk kamu ". Singgung Rania lagi agar sang saudara sepupu merasa tesentil.


Dan mau tak mau, Diandra pun mengikuti apa yang saudara sepupu nya itu katakan. Menyinggung memang, namun itu semua Rania lakukan agar dirinya mau makan.


Dengan penuh ketelatenan Rania menyuapi Diandra dengan makanan khusus pasien yang memang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.


Meski terasa hambar, Diandra tetap berusaha menerima suapan demi suapan dari Rania.


" Emm... sudah Ran, aku sudah kenyang ". Tolak Diandra, karena perutnya memang sudah terasa kenyang.


" Nanggung loh Di, hanya tinggal sedikit, ayo buka mulutmu lagi ". Sahut Rania lagi sedikit memaksa.


" Sudahlah Ran, aku sudah kenyang, kalau kamu minta aku menghabiskan semuanya, nanti yang ada aku malah muntah ". Sahutnya menolak lalu Diandra pun berusaha meraih gelas yang yang berisikan air minumnya.


" Heh kamu ini, ya sudah - ya sudah diam, biar aku yang ambil airnya ". Punkas Rania pada akhirnya.


Makan dan minum pun telah usai, Diandra kembali sedikit menidurkan tubuhnya, tak ada kedua orang tuanya, karena mama dan papanya sedang pulang sebentar, sedangkan sang adik Dika, sedang membeli makanan di luar.


Hingga beberapa saat setelah dirinya kembali merebahkan tubuhnya, terdengar...


Tok... tok... tok... kriett... pintu kamar rawatnya pun dibuka. Dan ternyata sosok yang datang adalah Rendi teman dekatnya. Teman dekat?, benarkah hanya sekedar teman dekat?, rupanya Diandra sudah menanam sesuatu pada hatinya.


" Diandra ". Sapa Rendi, lalu Rendi pun sedikit tersenyum pada saudara sepupu Diandra Rania.


" Ren, kenapa kamu tidak istirahat saja dulu di rumahmu, baru tadi kamu pulang, sekarang kamu ke sini lagi ". Sahut Diandra, namun meski begitu hatinya merasa senang karena Rendi datang kembali.


" Tak apa lah Di, memangnya kenapa kalau aku ke sini lagi?, ini aku bawa buket bunga untukmu, dan ini mama ku juga sudah buatkan puding susu moca untukmu, katanya kamu suka puding susu moca ". Sahutnya dengan meletakkan pemberiannya itu.


" Terima kasih Di, dan terima kasih juga untuk mama mu tante Risa yang sudah repot - repot mau buatkan makanan kesukaanku ". Sahutnya tersenyum. Diandra benar - benar sangat senang karena mama Rendi begitu sangat perhatian padanya.


Rania yang langsung tak bersuara setelah melihat kedatangan Rendi, sebenarnya merasa ada yang aneh, bukan aneh, melainkan Rania merasa jika sepertinya Rendi memiliki perasaan yang tak biasa pada Diandra sang saudara sepupu, hal itu terlihat dari bagaimana cara Rendi memperlakukan Diandra. Bukan hanya hal itu, dari tatapan Rendi, perhatiannya benar - benar nampak seperti seorang kekasih yang begitu menyayangi pasangannya, benar - benar tak biasa.


" Sebenarnya apa sih hubungan Diandra dengan laki - laki ini, dan laki - laki ini sangat perhatian pada Diandra, sebenarnya mereka ini teman atau apa? ". Batin Rania.


" Kalau begitu, aku mau makan pudingnya Ren, ambilkan sedikit untukku ya ". Pinta Diandra.


" Oke Di, dengan senang hati ". Sahut si Rendi.


" Tunggu dulu - tunggu dulu, katanya kamu sudah kenyang Di, terus kenapa masih ingin makan puding? ". Potong Rania tiba - tiba.


" Hehehehe.... aku memang sudah kenyang Di, tapi karena Rendi sudah membawa makanan kesukaan ku, jadinya aku ingin deh, ya tak apa lah, kan hanya sepotong saja ". Sahutnya cengengesan.


" Ih dasar kamu Di, mungkin ini hanya alasan kamu saja iya kan, sudah, tak perlu menyembunyikan, katakan saja jika kamu memang ingin di perhatikan sama si Rendi ini kan? ". Goda Rania, nampaknya ia sengaja ingin menjahili kedua orang ini.


" Ih apa sih kamu Ran, aku mau makan puding karena aku memang ingin kok, bukan karena yang lainnya ". Sahutnya dengan berpaling dari wajah Rania.


Benar memang ingin makan puding yang dibawakan oleh Rendi, sekaligus dirinya juga merasa senang karena Rendi nya sudah hadir kembali, entahlah, nampaknya akhir - akhir ini, Diandra begitu sangat senang jika Rendi berada di dekatnya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Rendi selesai memotong puding susu moca itu, nampaknya ia ingin menyuapi langsung pada Diandra sang wanita pujaannya.


" Tak apa Ren, biar aku sendiri saja yang makan ". Tolaknya lembut.


" Sudah diam saja Di, aku mau menyuapi mu, jangan menolak ". Putus Rendi.

__ADS_1


Tak ingin semakin panjang urusannya, Diandra pun menurut saja, dan jujur saja sebenarnya dirinya sangat senang jika Rendi yang menyapinya.


" Bagaimana, enak? ". Tanya Rendi.


" Huum... enak sekali, aku suka ". Sahutnya di sela - sela kunyahan nya.


Rania hanya memandang dua sejoli yang menurutnya tak jelas apa hubungan mereka. Rania hanya menggeleng, rupanya mereka berdua jika telah berada dalam situasi seperti ini, seolah sudah lupa dengan keadaan sekitarnya, bahkan mereka berdua tak ingat lagi jika dirinya masih berada di ruangan ini, benar - benar aneh.


Hingga potongan puding itu mulai hampir habis, terdengar adanya....


Tok... tok... tok... kriett....


Sontak semua orang menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata papa David dan mama Kendi lah yang datang.


" Diandra, kamu sudah bangun nak? ". Seru Kendi sang mama, pasalnya saat putrinya ia tinggal tadi masih dalam keadaan terlelap.


" Iya ma, Dia sudah tadi bangunnya ". Sahutnya.


Cup... cup... cup... cup... David dan Kendi mencium kening sang putri, sedangkan Rendi, pria itu sudah berpindah dari posisi awalnya.


" Terima kasih, nak Rendi, Rania, sudah mau menemani Dia ". Ujar Kendi.


" Iya tante sama - sama ". Sahut Rendi.


" Mama dan papamu belum datang Ran? ". Lanjut Kendi lagi.


" Masih belum ini tante, mungkin sudah di jalan tante ". Sahutnya.


" Oh iya, om, tapi papaku sempat kasih tahu, katanya papa mau bicara penting sama om ". Seru Rania pada akhirnya, karena itulah yang papanya Herdi sempat katakan.


Sontak David sangat tertegun. Bahkan hatinya pun merasa khawatir. Ada apa ini?, mengapa Herdi tiba - tiba ingin bicara penting dengannya?, mendadak tubuh David seolah tak bisa digerakkan. Ia diam dengan posisinya yang masih berdiri, namun dari sorot kedua matanya seolah menyiratkan rasa takut.


" Ada apa pa?, kenapa papa Diam, Rania sedang bicara loh sama papa ". Seru Kendi yang berusaha menyadarkan suaminya.


" Eh, iya ma, papa dengar ". Sahutnya kikkuk.


" Tidak - tidak, hanya saja om hanya berpikir, kira - kira apa yang ingin papa mu bicarakan ". Sahut David dengan senyuman sumbangnya.


" Emm... begitu, aku kira kenapa ". Sahutnya.


Kendi dengan David pun ingin duduk di kursi empuk yang berdekatan dengan kasur rawat putri mereka, namun baru saja mereka hendak duduk, tiba - tiba saja...


Ceklek.... pintu kamar itupun kembali dibuka.


" Mama, papa ". Seru Rania, dan gadis itupun mendekati kedua orang tuanya.


" Diandra ". Seru Indah sedih, lalu wanita paru baya itupun langsung mendekati keponakannya.


Indah berhambur memeluk tubuh Diandra. Perban yang melekat di kepala sang keponakan itu, benar - benar membuatnya sedih. Indah merasa miris, karena harus melihat keponakannya ini bernasib seperti ini.


" Sudah, tante jangan sedih, Dia baik - baik saja kok ". Serunya.


" Maaf ya sayang, tante baru jenguk kamu sekarang, habisnya tante sendiri tak tahu kalau kamu kecelakaan ". Sahutnya.


" Iya tak apa tante, sudah tenanglah, Dia sudah membaik kok ". Ujarnya, ya, Diandra tak ingin jika sang tante terus mengkhawatirkan nya.


Dan tak lama dari itu, Herdi pun memeluk Diandra. Ya, sangat berbanding terbalik memang, Herdi memang sangat meyanyangi Diandra dan juga Dika, namun meski begitu, Herdi sangat kurang menyukai papa mereka si David, lebih tepatnya Herdi kurang begitu menyukai sifat David. Beruntung Diandra dengan Dika tak menuruni sifat papanya itu.


" Cup... cepat sembuh ya nak ". Seru Herdi dengan mencium pucuk kepala Diandra.


" Iya om pasti, om jangan khawatir ". Sahutnya.


Jika Diandra sang putri mengingatkan tante dan juga omnya untuk tak merasa khawatir, maka beda halnya David. Semenjak awal Herdi memasuki ruangan putrinya, dirinya seolah seperti melakukan lari maraton.

__ADS_1


Sasana di sekelilingnya mendadak terasa begitu dingin mencekam. Meski David tak begitu akrab dengan Herdi, namun David sangat tahu, jika Herdi adalah orang yang sangat nekat jika sudah menginginkan sesuatu.


Namun saat ini, dirinya sebisa mungkin untuk tetap bersikap tenang. Siapa tahu Herdi ingin bicara dengan nya karena sedang ingin membahas hal yang baik, iya, mungkin saja seperti itu.


Hingga setelah Herdi selesai memeluk Diandra, pria paru baya itu langsung menoleh pada David yang nampak duduk tenang.


Tatapan Herdi begitu dalam dan mengincar seolah ingin segera mengambil sesuatu dari lawannya, entah apa itu, yang pasti, David yang ditatap seperti itu oleh sang kakak ipar merasa gugup dan takut, namun dirinya sebisa mungkin bersikap tenang seolah tak merasakan ketegangan apapun.


" David aku ingin bicara denganmu, ini penting, kita bicara di luar ". Ajak Herdi langsung, rupanya ia tak ingin menunda - nunda lagi.


" Ingin bicara apa kak, kenapa tidak di sini saja bicaranya? ". Sahut David, rupanya David ingin menghindari Herdi.


" Tidak bisa, kita harus bicara di luar, karena yang ingin aku bicarakan sangat berkaitan dengan perusahaan mu di Kanada ". Jelas Herdi.


Deg...


Sontak David pun sangat tersentak dengan ucapan Herdi. Dirinya tak pernah melakukan kerja sama apapun dengan Herdi, lalu mengapa Herdi mengaitkan kalimatnya dengan perusahaan nya di Kanada?, ada apa ini?.


" Cepat, aku menunggu mu di restoran bawah ". Ucap Herdi telak, dan ia pun segera keluar dari ruangan itu.


Dengan tanpa pamit, David pun juga ikut keluar dari ruangan rawat putrinya itu. Sementara Indah dengan sang adik Kendi, hanya saling menatap bingung.


" Kak, memangnya apa yang ingin kak Herdi bicarakan dengan suamiku?, sampai - sampai harus bicara di luar? ". Tanya Kendi.


" Sudahlah Ken, jangan terlalu khawatir, mungkin suamiku ingin mengajak kontrak kerja sama dengan suamimu ". Sahut Indah.


" Huum... iya, mungkin begitu.


*****


Di Restoran.


Herdi tak henti - hentinya menatap tajam pada David. Jika ini bukan di tempat umum, sudah pasti dirinya langsung menarik kerah baju pria yang ada di depannya ini.


" Kamu pasti sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan?, jadi mengaku lah, sebenarnya kamu ingin merusak malam pernikahan keponakan ku kan? ". Tanya Herdi, dan ia sangat yakin dengan hal itu.


" Merusak, merusak bagaimana kak?, kakak ipar, kalau bicara yang jelas ". Sahut David, entah ia benar tak paham atau pura-pura tak paham dengan maksud Herdi.


" Jangan pura - pura tak tahu di depanku David, aku tahu, kamu sengaja memanggil Al untuk pergi ke rumah sakit agar Al meninggalkan malam resepsinya kan, dasar licik ". Jelas Herdi dengan geramnya.


" Kakak ipar, kakak jangan asal menuduh seperti itu, kakak ipar kan orang pintar, pasti kakak tahu, jika menuduh seseorang tanpa adanya bukti, sama saja dengan fitnah ". Sahut David dengan pengakuannya yang seolah dibuat benar.


" Hah... inilah yang sangat aku benci darimu David, kamu sangat pandai memutar balik keadaan, mungkin kamu bisa menjebak seseorang dengan tipu muslihat mu ini, tapi tidak denganku, aku tidak mau banyak bicara lagi ".


" Dan aku memang harus mengatakan ini, dengarkan ini baik - baik, para pemilik saham di perusahaan mu yang ada di Kanada itu, semuanya sudah menjual saham mereka padaku, jadi, tujuh puluh persen dari saham perusahaan mu di sana, akulah pemiliknya ".


Deg...


Bak mendapat hantaman yang begitu dahsyat di dadanya. David begitu sangat shock. Bahkan tubuhnya pun sampai terjingkat. Bagaimana bisa perusahaannya sudah berada dalam kuasa Herdi?, tidak, ini tidak boleh terjadi.


" jadi kamu jangan macam - macam padaku, apalagi pada keponakan ku Adinda dan juga keluarga nya, karena jika sampai kamu berani melakukannya, maka bersiaplah, jika suatu hari nanti, kamu akan menggulung tikar dari perusahaan mu sendiri ". Pungkas Herdi.


Brakk... David memukul meja itu dengan sangat keras, sehingga membuat orang - orang yang ada di restoran itu pun menoleh ke arahnya.


" Apa yang kamu lakukan kakak ipar?, perusahaan itu, aku yang sudah membangunnya dengan sangat keras, bagaimana bisa kamu membeli semua saham di perusahaan ku tanpa seizinku? ". Marah David.


" Itu karena salah mu sendiri, salah mu sendiri karena bermain - main api denganku, jika kamu tak pernah mengusik kehidupan Adinda, tidak mungkin jika aku sampai berbuat se nekat ini, jadi, terima saja nasib perusahaan mu, karena apa yang terjadi, adalah akibat dari ulahmu sendiri ". Jelas Herdi, lalu dengan tanpa permisi, Herdi pun meninggalkan David seorang diri di mejanya.


" Herdi, kurang ajar kamu Herdi... ". Teriak David, namun sayang, Herdi sama sekali tak menghiraukan nya.


Bersambung..........


Hai kakak - kakak, Author update lagi, semangat baca ya.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2