Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Pemutusan Kontrak Kerja


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Pagi hari yang cerah, pagi hari yang indah dengan rasa sejuk yang masih terasa rupanya tak membuat pria paru baya ini patah arang demi mendapat jawaban dari hal yang telah menambah deretan pukulan batin yang semakin meluluhlantakkan hatinya.


Perusahaan besarnya di Kanada telah berada dalam kendali sang kakak ipar yang sangat tak ia suka, kini kesepakatan kontrak kerja pada sebuah proyek yang telah hampir separuh di bangun itu, malah tiba - tiba tanpa sepengetahuannya telah melakukan pemutusan kontrak kerja secara sepihak.


Ia begitu geram dan sangat marah atas pemutusan kerjasama ini. Dengan langkahnya yang sedikit cepat, pria paru baya itupun telah memasuki lift menuju ruangan utama pemilik perusahan hingga dirinya benar - benar telah sampai di tempat yang dituju.


" Maaf tuan, anda tidak bisa langsung masuk, jika anda ingin masuk, maka anda harus membuat janji terlebih dahulu dengan tuan Al ". Cegah sekretaris wanita itu. Ia sangat tahu siapa yang ingin menemui tuan besarnya, tapi, karena sang tuan tak memberi pesan apapun jika akan ada tamu yang datang, maka sekretaris itupun langsung mencegah kedatangannya.


" Kamu mencegahku, apa kamu tak tahu siapa aku? ". Sahut David dengan nadanya yang sedikit menyentak.


" Sekali lagi tolong maafkan saya tuan, saya tidak bisa membiarkan seorang tamu masuk ke ruangan tuan Al, jika beliau memang tak memerintahkannya ". Sahut sekretaris wanita itu dengan segala kesopanannya.


" Kalau begitu, cepat katakan pada tuanmu, jika aku akan masuk ke ruangan nya sekarang ". Pinta David tanpa bantahan.


Sekretaris itupun langsung menghubungi nomer telpon di ruangan tuannya, ia mengatakan jika sang tuan David ini benar - benar tak bisa menahan diri lagi yang ingin segera bertemu.


" Baik tuan David, anda diperbolehkan masuk oleh tuan Al ". Jelasnya.


" Heh... kamu saja yang dari tadi sok - sok menghalangi ". Kesal David lalu ia pun melenggang masuk ke ruangan Al.


Sedangkan di dalam ruangannya saat ini, Al nampak begitu santai. Dirinya duduk di kursi kebesarannya itu dengan memainkan ponselnya, hingga...


Ceklek.... pintu ruangan nya pun telah dibuka oleh seseorang. Al sudah tahu siapa orang itu.


Dengan tatapan tajamnya, David sangat ingin memberi pelajaran pada Al, namun ia menahannya karena adalah di perusahaan.


" Al, kenapa kamu dengan seenaknya memutus kontrak kerja sama kita Al, apa kamu tahu, akibat dari tindakan kurang ajar mu itu perusahaan ku harus menanggung banyak kerugian? ". David benar - benar sudah sangat marah, bahkan sikap sopannya pun benar - benar hilang di depan Al.


Namun, sang tuan yang menjadi sasaran kemarahan David itu hanya bersikap acuh seolah dirinya tak melihat jika di depannya saat ini tengah berdiri tegak seseorang yang begitu marah padanya.


" Al, apa kamu tidak mendengarku?, aku sedang bicara padamu Al, begini ya, sikap seorang bos besar yang dengan begitu kurang ajarnya telah merusak kesepakatan kerjasamanya?, benar - benar rendahan ". Sindiran David masih dengan marahnya.


Sontak saja pria pemilik kedua bola mata biru keabu-abuan itu pun langsung menatap tajam pada sosok di depannya. Darahnya benar - benar mendidih atas perkataan lancang yang telah dilontarkan oleh pria paru baya yang menurutnya sangat tak tahu diri itu.

__ADS_1


Merasa sangat kesal, Al pun langsung menuju ke arah David, dan... ia langsung menarik kerah baju pria paru baya itu.


" Apa tadi katamu, kamu mengatakan aku bos yang kurang ajar hah?, harus kamu mengatakan itu pada dirimu sendiri, dasar manusia tak tahu malu ". Marah Al, lalu dengan melepas kerah baju David dengan sangat kasar.


David yang mendapat perlakuan kasar dari sang tuan besar pun membuat tubuhnya hampir terjengkal dan mencium lantai, beruntung tangan kirinya memegang sebuah sofa yang tak jauh dari posisi di mana tubuhnya akan terjatuh.


" Sebelum aku berbuat yang lebih nekat lagi, sekarang cepat keluar kamu dari ruanganku ". Sentak Al, ia sudah tak peduli meski orang yang diusirnya adalah orang tua sekalipun.


" Kenapa kamu yang jadi marah Al, seharusnya aku yang marah karena kamu sudah secara sepihak, sudah mencabaut kerjasama proyek yang sudah kita bangun, jadi yang harusnya di sini marah adalah aku, bukan kamu ". Ujar David lagi dengan berusaha menyeimbangkan tubuhnya, rupanya orang tua ini masih tak paham atau memang pura - pura tak paham mengapa Al marah.


" Heh... David - David, semakin bertambahnya usiamu, ternyata tak membuatmu semakin bijak, sekarang aku paham, kenapa perusahaan mu tak mau bekerja sama dengan perusahaan paman Herdi, bukan karena kamu merasa tak enak hati pada paman Herdi, melainkan, karena paman Herdi tahu, jika kamu adalah orang bermuka dua dan tak bisa dipercaya, heh... benar - benar memalukan, tapi beruntungnya Tuhan masih baik padamu dengan memberi seorang istri dan anak - anak yang baik ".


" Baiklah, akan aku katakan, kerjasama proyek aku tarik kembali, kenapa?, karena kamu sudah berusaha merusak malam pentingku dan juga istriku,... dan kamu ingin mengatakan aku tak profesional?... heh mungkin... tapi aku sama sekali tak peduli itu, gara - gara rencana licikmu, pesta pernikahanku jadi bermasalah, jadi rasakan saja jika proyek pembangunan yang sudah kita sepakati sejak awal harus kandas di tengah jalan ".


" Jadi, sekarang juga, cepat kamu keluar dari ruangan ku, semakin kamu lama di ruangan ini, hanya akan mengotorinya saja, sekarang cepat keluar... ". Pungkas Al kegeraman nya.


Sudah tak ada rasa toleransi lagi dari Al. Bahkan sebenarnya, dirinya bisa merusak bahkan menghancurkan perusahaan David sama seperti saat dirinya menghancurkan perusahaan Viko dulu, namun, Al tak melakukannya, karena dirinya juga masih memikirkan keluarga David yang sebenarnya sangat baik.


Dalam hatinya David benar - benar sangatlah marah, namun dirinya juga tak bisa berbuat apa - apa, sudah cukup ia dibuat pusing dengan tingkah Herdi dan juga pemutusan kontrak kerja dari Al, dan dirinya memang tak boleh berulah lagi, karena jika sampai itu terjadi?, bukan tak mungkin jika Al akan melibas habis perusahaan nya, tidak, tentu Herdi tak mau itu terjadi.


" Kenapa masih di sini?, cepat keluar ". Bentak Al, ia benar - benar sangat kesal karena David tak kunjung juga keluar dari ruangannya.


" Aku tahu kamu memang sangat marah David, dan bukan tak mungkin jika kamu akan kembali berulah untuk membalasku, tapi, coba saja kamu balas, aku tak akan tinggal diam, sekali lagi kamu berulah, maka semua perusahaan mu akan hancur, dan aku pastikan itu ". Batin Al.


*****


Sepasang anak manusia ini nampak begitu tenang dan santai dengan bersinggah di sebuah gubuk kecil nan unik yang terletak di tak begitu jauh dari tepi pantai.


Sesuai janji mereka yang akan bertemu dan menikmati waktu bersama, membuat Rendi seorang pria tampan yang begitu mengagumi sosok Diandra, tak ingin menyia - nyiakan kesempatan ini. Rendi sudah tak sabar sebenarnya apa yang ingin diutarakan oleh Diandra, apalagi ini menyangkut dengan penantian selama ini.


" Di, kita sudah ada di sini sekarang, ayo katakan padaku, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan Di, jangan buat aku penasaran ". Seru Rendi pada akhirnya, karena setelah mereka berdua sampai di tempat itu, Diandra tak kunjung mengatakan apapun.


Sudah selama ini Diandra masih diam, bukan diam sih, tapi lebih tepatnya, ia sendiri tak tahu harus memulainya dari mana.


" Dia, kamu masih diam, kamu merasa malu yang ingin mengutarakan semuanya? ". Tebak Rendi, karena itulah yang ia lihat dari sorot mata Diandra.


" Emm... anu Ren, aku tak tahu harus memulainya dari mana ". Sahut Diandra pada akhirnya.

__ADS_1


Seulas senyum nampak terbit di kedua sudut bibir Rendi. Rupanya Diandra merasa malu sehingga dirinya merasa bingung bagaimana cara mengutarakan kalimatnya.


" Di, katakanlah, apa yang ingin kamu katakan, jangan merasa malu, jangan merasa bingung, katakanlah, karena aku akan setia mendengarkan nya ". Sahut Rendi dengan menatap dalam kedua manik mata Diandra.


Diandra yang mendengar penuturan lembut dari kedua belah bibirnya pun mendadak merasa tenang. Seharusnya dirinya menyadarinya dari awal jika Rendi memang selalu membuka hatinya untuknya, sehingga apapun itu, dirinya akan menjadi pendengar setia untuknya.


" R-Ren, kamu pernah mengatakan jika kamu mencintaiku, dan kamu akan setia menantiku sampai hati ini bisa terbuka untukmu, emm... apa penantianmu itu masih ada untukku Ren? ". Serunya dengan menatap kedua manik mata Rendi.


Rendi cukup tersentak mendengar penuturan dari Diandra. Apa dirinya tak salah dengar?, apa maksudnya Diandra menanyakan hal ini?, apakah itu artinya Diandra sudah mulai membuka hatinya untuknya?, jika ini memang benar, tentu dirinya merasa sangat bahagia.


Dan Rendi pun mulai meraih kedua tangan lentik milik wanita idamannya itu. Ia menggenggammnya dengan begitu lembut.


" Di, kenapa bertanya seperti itu?, tentu aku masih mencintaimu dan akan setia menunggumu, bahkan bukankah aku pernah mengatakan sebelumnya jika... aku mencintai Di, aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku, aku ingin kamu menjadi istriku Di ". Ungkap Rendi, dan ini adalah yang kedua kalinya Rendi menyatakan perasaannya.


" Penantianku ini sudah pasti, tapi sayangnya masih belum terwujud karena menunggu jawaban darimu Di, dan semuanya akan terwujud jika kamu menerimanya ". Sahut Rendi, sangat nampak jelas adanya kelulusan dari kedua sorot manik matanya.


Diandra merasa sangat terharu dengan ungkapan perasaan Rendi, betapa teganya dirinya selama ini yang telah membiarkan sosok pria yang begitu tulus mencintainya. Diandra merasa terharu sekaligus merasa bersalah dalam waktu bersamaan. Meski tak pernah ada niat darinya untuk membuat Rendi harus mengalami penantian yang begitu menguras perasaan ini, tetap saja, apa yang dilakukannya benar - benar sangat tak adil untuk seorang pria tulus seperti Rendi.


Dan tanpa terasa, tetesan air mata itu mengalir begitu saja dari kedua bola mata indahnya.


" Ren, terima kasih atas cintamu dan juga kesetiaan mu dalam menungguku, terima kasih karena kamu sudah mau bersabar hingga sejauh ini... jujur, aku sendiri masih tak tahu, apakah aku ini sudah mencintaimu atau tidak, tapi yang pasti, aku sangat nyaman saat kamu berada di dekatku, aku merasa bahagia karena keberadaanmu... Rendi... aku... aku bersedia untuk menjadi istrimu Ren ". Ungkap Diandra pada akhirnya.


Untuk sesaat tubuh Rendi langsung membeku, apa yang diungkapkan Diandra telah berhasil membuat dirinya tertegun, namun tak lama dari itupun, Rendi langsung tersenyum. Dirinya sangat senang, karena akhirnya Diandra mau menerima cintanya.


Rendi pun langsung beranjak dari posisinya dengan berpindah di samping tubuh Diandra. Rendi memeluk tubuh wanita yang sangat dicintainya itu. Akhirnya, setelah sekian lama, Diandra akan benar - benar menjadi miliknya.


" Di, terima kasih Di, terima kasih karena kamu sudah mau menerima diriku dan juga cintaku, aku mencintai Diandra cup... cup... ". Serunya tulus dengan mencium pucuk kepala Diandra.


Diandra yang diperlakukan seperti itu oleh Rendi, sebenarnya masih merasa canggung, namun, ia tak ingin merusak kebahagiaan yang dirasakan oleh kekasih barunya ini.


" Ren, semoga kamu menjadi cinta sejatiku ". Batin Diandra berdoa.


Bersambung..........


Hai kakak - kakak, Author kembali update ini, terima kasih ya atas dukungan kalian semua selama ini, dan Author mau kasih tahu kalau Author sudah buat karya baru lagi yang berjudul : *Duda Kaya Itu Suamiku *, semangat membaca.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2