Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Teunapa Dak Ulan Taun


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sore sejuk telah mengantarkan langkahnya menuju rumah istirahat nya, setelah hampir seharian penuh banyak menghabiskan waktunya di kantor, kini pria dengan bola mata biru keabu-abuan nya itu telah tiba dan ingin segera menemui istri dan anak - anak tercintanya.


Al terus melangkah saja memasuki ruangan rumahnya, hingga saat dirinya telah berhasil membuka pintunya, betapa bahagianya ia karena telah di suguhkan dengan sambutan hangat dari sang istri dan juga anak - anak tercintanya.


" Cammicum daddy ". Seru kedua bocah kembar itu, lalu sepasang kaki mereka melangkah cepat demi meraih sang daddy.


" Waalaikumsalam, my twins boy nya daddy ". Sahut Al, lalu ia berusaha mensejajarkan tubuh tingginya dengan tubuh mungil kedua putranya.


Cup... cup... Al mencium kening kedua putranya secara bergantian.


" Mas ". Sapa suara lembut dari sang istri.


" Sayang ". Sahut Al, lalu ia berdiri menerima uluran tangan istrinya, juga tak lupa kecupan hangat senantiasa ia daratkan di kening istri tercintanya itu.


" Daddy daddy, ayo daddy, macuk te tamal, tita ada tue tolat buat daddy, mommy tadi yan buat, enat cetali tue na ( daddy daddy, ayo daddy, masuk ke kamar, kita ada kue chocolate buat daddy, mommy tadi yang buat, enak sekali kuenya) ". Seru Damian, nampaknya ia begitu ingin agar sang daddy segera memakan kue chocolate nya.


" Iya iya my twins boy, daddy akan makan kue chocolate nya, tapi sebelum itu, daddy harus ganti baju dulu ya ". Sahut nya pada kedua putranya.


" Sayang, kamu buat kue tadi? ". Tanya Al.


" Iya mas, tadi Adinda iseng saja ingin membuat kue, tapi kuenya kue chocolate bukan kue strawberry seperti kue kesukaan mas Al ". Sahutnya sedikit lirih.


" Tak apa sayang, apapun yang kamu buat, mas akan tetap menyukainya ". Sahut Al, yang telah berhasil membuat wajah istrinya itu memerah bak buah tomat yang matang.


" Hihihihi... istriku - istriku, selalu saja malu, padahal aku kan tidak menggodamu, menggemaskan ". Lanjut Al lagi, dengan menjewel pipi kiri istrinya.


" Ayo, kita ke kamar ". Ajak Al pada akhirnya.


Keluarga kecil itu melangkah bersama menuju kamar, kecuali si kecil Aganta dan juga Damian yang sudah berada dalam rangkulan kedua lengan kekar sang daddy.


βž–


Suara celotehan - celotehan yang begitu menghibur, terus di tayangkan dalam benda persegi panjang yang berukuran besar itu, gambar - gambar unik nan menggemaskan di dalamnya terlihat begitu menarik perhatian setiap pasang mata yang melihatnya.


Di malam yang tenang ini, si kecil Damian dan juga Aganta sedang sibuk dengan memainkan puzzle milik mereka. Dengan duduk di atas karpet tebal, kedua bocah itu begitu asyik bermain puzzle dengan sambil lalu melihat tayangan film kartun kesukaan mereka.


Sang daddy dan juga mommy mereka juga ikut mendampingi mereka yang begitu asyik bermain, dengan mommy yang sedang rebahan dengan kepalanya yang di sandarkan di atas bantal, sedangkan sang daddy duduk bersila dengan pandangan nya yang hampir selalu memperhatikan istri dan juga anak - anaknya.

__ADS_1


" Boy, kalian sebenarnya ingin main puzzle atau nonton kartunnya? ". Tanya Al, pasalnya kedua putranya itu sibuk lirik sana lirik sini antara puzzle dan juga film kartun.


" Ya, tita mau main patel ( puzzle)cama liat pombop ( SpongeBob) na daddy ". Sahut Aganta dengan tetap setia pada mainannya.


" Teunapa, daddy mau main duda?, daddy mau main patel ( puzzle) duda? ". Timpal Damian yang menawarkan daddy nya bermain juga.


" Tidak boy, daddy tidak ingin main, kalian saja yang main, hanya saja daddy sedikit merasa bingung, apa leher kalian tidak sakit karena bolak balik lihat puzzle kartun - lihat puzzle kartun? " . Sahut Al, karena itulah alasannya.


Sontak kedua bocah kembar itu langsung menatap daddy mereka, lalu mereka pun menatap sesama saudara kembarnya.


" Dak daddy, lehel na tita dak tatit ". Sahut Damian dengan sedikit menggeleng.


" Apa lehel daddy tatit? ". Tanya Aganta, bukan tanpa alasan ia menanyakan seperti itu, karena sang daddy bertanya tentang leher sakit, mungkin menurutnya leher daddy nya lah yang sakit.


" Tidak my twins boy, daddy tidak sakit apa - apa, apalagi sakit leher, sudahlah lupakan, kalian fokus saja sama permainan puzzle dan nonton kartunnya, daddy mau tiduran dulu di dekat mommy ". Pangkas Al pada akhirnya, ia tak ingin berbicara panjang lagi dengan kedua putranya, bisa lama selesainya nanti.


Al, si pria blasteran itupun, ikut berbaring di samping tubuh istrinya yang sedikit miring. Dipeluk nya tubuh istrinya yang hamil itu, tangannya pun terulur untuk mengelus perut besar istrinya.


" Sayang ". Seru Al di dekat telinga sang istri.


" Iya mas ". Sahutnya lembut.


Adinda tak langsung menyahut, lalu digeser nya tubuhnya hingga terlentang dengan menatap suaminya.


" Katakanlah, mas akan mendengarkan nya ". Serunya lagi.


" Tidak apa - apa mas, hanya saja, Adinda merasa sedikit gugup, karena beberapa hari lagi malam resepsi pernikahan kita, terdengar aneh memang, belum apa - apa sudah gugup lebih dulu ". Sahutnya dengan masih menatap sang suami.


Al mengeratkan pelukannya pada istrinya, seolah ingin mengatakan jika semuanya akan baik - baik saja.


" Tenanglah istriku, semuanya akan baik - baik saja, di malam pengantin nanti, kamu akan duduk bersama dan juga kedua anak kita, jadi kamu tidak sendirian sayang ". Sahutnya, masih dengan pelukan hangatnya.


" Terima kasih mas ". Sahut Adinda, lalu ia pun membalas pelukan sang suami dengan lebih erat.


Pasangan itu masih tetap saling berpelukan, entah di sengaja atau memang benar - benar lupa, mereka tidak ingat jika di dekat mereka masih ada kedua anak kembarnya yang masih belum tidur, hingga...


" Daddy mommy ". Panggil Damian.


Sontak saja pasangan suami istri itupun melepas rengkuhannya.


" Iya boy, ada apa? ". Sahut Al dan ia pun mulai duduk terjaga dari posisinya tadi.

__ADS_1


" Daddy, teunapa tita dak ulan taun ( daddy, kenapa kita tidak ulang tahun?) ". Tanya Damian tiba - tiba.


Deg...


Bagai mendapat hantaman di dadanya. Al begitu tersentak, ia tak menyangka dengan pertanyaan tak terduga dari putranya. Bagaimana bisa putranya bertanya seperti ini, suatu pertanyaan yang baru bisa Al jawab, setelah semuanya menjadi jelas.


Adinda yang berbaring pun menatap suaminya, apa yang ditanyakan oleh putranya Damian, juga membawa hati kecilnya menjadi ingin bertanya juga.


Tidak ada yang salah dengan pertanyaan putranya, benar juga, kedua putranya sudah berusia dua tahun lebih, lalu mengapa tidak pernah di hari ulang tahun untuk mereka?.


" Daddy, daddy tok dak dawab?, teunapa tita dak ulan taun? ". Tanya Damian lagi.


" Oh anu, itu, daddy masih menunggu ulang tahun mommy sayang, iya, ulang tahun mommy ". Sahut Al gelagapan.


" Mommy duda dak ulan taun, meman na tapan ulan taun na mommy? ( mommy juga tidak ulang tahun, memangnya kapan ulang tahunnya mommy?) ". Ia bertanya lagi, rupanya Damian masih tak puas dengan jawaban daddy nya.


Al tak tahu harus menjawab apa pada pertanyaan kritis putranya. Haruskah ia menjawab jika apa yang menjadi penyebab dirinya tidak pernah mengadakan perayaan untuk ulang tahun kedua putranya karena dirinya masih belum mengesahkan pernikahannya dengan istrinya secara hukum?.


" Damian, anak mommy, kenapa Damian bertanya seperti ini sayang? ". Tanya Adinda setelah dirinya duduk.


" Talna, di tp banak memen na Mian yan ulan taun mommy ( karena di tv banyak temannya Damian yang ulang tahun mommy) ". Sahutnya, maksudnya adalah para tokoh kartun yang pernah Damian tonton.


" Sayangnya mommy ingin ulang tahun?, ulang tahunnya nanti saja ya sayang, kalau umur Aganta dan juga Damian sudah mau masuk tiga tahun, nanti di acara ulang tahun itu, mommy akan buatkan kue yang enak sekali untuk kalian berdua, iya kan daddy? ". Sahut Adinda dengan berusaha meyakinkan kedua putranya.


" Oh, i-iya, nanti ulang tahun Damian dan Aganta, akan daddy buat semeriah mungkin, bahkan lebih meriah dari teman - teman kartun itu ". Sahut Al kebingungan.


Adinda yang mendengar jawaban dari suaminya Al, sebenarnya merasa bingung, dan meski tanpa adanya hari ulang tahun pun untuk kedua putranya, sebenarnya dirinya sama sekali tidak masalah, namun yang menjadi persoalan bukanlah itu, pertanyaan dari sang putra lah, yang diharuskan untuk bisa di jawab.


" Maafkan daddy my twins boy, bukannya daddy tak ingin adanya hari ulang tahun untuk kalian, tapi, daddy ingin segala sesuatu nya berjalan sesuai dengan rencana agar tak lagi ada kesalahpahaman, dari dulu daddy begitu sangat ingin adanya hari ulang tahun yang begitu mewah untuk kalian, supaya semua orang tahu, jika kalian adalah putra - putra mahkota di keluarga Georgino, bersabarlah, karena di usia kalian yang ketiga tahun, akan ada hari ulang tahun yang sangat mewah untuk kalian nanti ". Batin Al menatap sedih pada kedua putranya.


" Ayo, Damian Aganta, dilanjut lagi mainnya sayang ". Suruh Adinda, nampaknya ia ingin mengalihkan perhatian kedua putranya.


" Sayang, aku tahu, pasti kamu bertanya-tanya, kenapa anak kita masih belum merayakan hari ulang tahun, maafkan aku sayang, untuk saat ini, aku memang harus menundanya lebih dulu, tapi setelah malam resepsi nanti, dan pernikahan kita sudah sah secara hukum negara, dengan sesegera mungkin kita akan merayakan hari ulang tahun kedua putra kita, ini semua aku lakukan demi kebaikan keluarga kecil kita sayang, setelah semua orang tahu, jika kamulah istri sah ku, maka di saat itulah semua juga harus tahu, jika Aganta, Damian, dan anak kita yang masih belum lahir itu, adalah pewaris dari keluarga Georgino ". Batin Al berbicara dengan masih menatap wajah sendu istrinya.


Bersambung..........


Hai kakak - kakak, Author update lagi, semangat mbaca ya.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2