
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Mungkin karena lelah, akhirnya tubuh wanita yang saat ini tengah membawa tiga nyawa itu, telah merebahkan tubuhnya semenjak dua jam yang lalu. Setelah ketiga anaknya memilih untuk beristirahat di kamar kedua mertuanya, ia pun segera langsung beristirahat. Adinda masih belum terlelap, karena dirinya memang lah belum mengantuk.
Adinda masih merebahkan tubuhnya itu dalam posisi miring. Entah ada apa, tiba - tiba saja ada semacam tetesan air yang menyiprati wajahnya, dan tentu saja hal itu sangat mengganggu dirinya.
" Ih, mas... mas Al ini apa sih, kan Adinda jadi basah ". Keluh Adinda.
" Hihihihi... habisnya kamu kenapa diam sih sayang, dan kenapa juga harus tiduran dengan posisi miring seperti itu, kenapa tidak menghadap ke sini saja ". Goda Al yang baru saja menyelesaikan aktivitas mandinya.
" Ya karena Adinda ingin menghadap ke sana mas ". Sahut Adinda lagi, lalu wanita itupun membalik tubuhnya menghadap ke arah sang suami.
" Nah, begitu dong sayang menghadap ke sini ". Sahut Al dengan tersenyum jahil.
Lalu Al pun kembali melanjutkan untuk mengeringkan rambutnya yang masih terasa basah itu dengan handuk, sebelum akhirnya ia lanjut mengeringkan nya dengan hairdryer.
" Akhirnya sudah selesai ". Sahut daddy yang sebenar lagi akan memiliki lima orang anak itu.
Al pun segera menaiki ranjang kasurnya itu untuk menemani istri tercintanya di sana. Seperti kebiasaannya, pria berusia matang itu memang tak pernah absen menggiring tangannya untuk mengelus perut buncit istrinya itu.
Meski ini adalah yang ketiga kalinya istrinya mengandung, tak membuat Al merasa bosan untuk terus mengelus perut nya. Oh lebih tepatnya, Al suka mengelus perut istrinya itu semenjak sang istri mengalami kehamilan keduanya, karena di saat istrinya Adinda mengandung untuk pertama kalinya ia memang tak ada di sampingnya. Dan mungkin inilah alasan mengapa Al tak pernah absen untuk terus mengelus perut buncit istrinya itu.
" Sayang ". Seru Al.
" Iya mas ". Sahut Adinda dengan lembut.
" Anak kita yang masih belum lahir ini kan kembar lagi, aku tidak mau jika kamu mengalami kesakitan karena melahirkan lagi sayang ". Sahut Al, sangat terdengar jelas jika ada rasa khawatir pada dirinya.
" Maksud mas?, kok mas Al bicara seperti itu, ya namanya orang akan melahirkan sudah pasti akan sakit mas ". Sahut Adinda, jujur saja Adinda merasa bingung dengan kalimat suaminya.
" Justru karena itu sayang, aku tidak mau kamu merasakan sakit lagi saat melahirkan, lebih baik, anak kembar kita ini dilahirkan secara cesar saja ya sayang, aku tidak mau kamu kesakitan lagi seperti sebelum - sebelumnya saat akan melahirkan ". Sahut Al, karena itulah yang dirinya khawatirkan.
Adinda tak langsung menyahut ucapan suaminya. Entah mengapa mendengar kata operasi membuat dirinya merasa takut.
__ADS_1
" Ada apa sayang? ". Tanya Al.
" Adinda tidak mau melahirkan dengan cara dioperasi mas, Adinda takut dioperasi ". Sahut Adinda apa adanya.
" Jadi kamu takut sayang? ". Sahut Al lagi.
" Huum ". Sahut Adinda, bahkan dengan raut sedikit memelas.
" Sayang, dioperasi cesar itu tidak akan sakit, kamu tenanglah sayang, semuanya akan berjalan baik - baik saja, aku akan jamin itu sayang, mau ya melahirkan secara cesar? ". Sahut Al lagi.
" Tidak mas, Adinda mau melahirkan secara normal saja bukan cesar... sudahlah mas Al, mas jangan menawarkan seperti itu lagi, percuma, karena Adinda tidak akan pernah mau melakukannya ". Putus Adinda pada akhirnya.
Al hanya bisa pasrah. Menyuruh sang istri untuk mengikuti anjuran nya sepertinya akan percuma saja, yang ada jika terus dipaksa istrinya Adinda bisa menjadi kesal, padahal dirinya hanya menginginkan yang terbaik untuk sang istri dan juga kedua anak kembar nya.
Dan setelah obrolan yang hampir saja membuat istrinya terpancing emosi itu, akhirnya Al pun memilih untuk memeluk tubuh istrinya, mungkin karena Adinda mengandung sehingga membuat dirinya menjadi lebih sensitif, jadi Al tak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi. Dan seperti malam ini, sepasang suami istri itupun sudah mulai akan menuju malam panjang dengan meraih mimpi indah mereka.
*****
Rumah sakit keluarga Georgino
" Tuan, nyonya, lihatlah dua janin ini, kondisi keduanya berkembang sangat baik ". Seru dokter Nita.
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena janin berkembang sangat baik ". Lanjut dokter Nita lagi.
Deg deg... deg deg... deg deg...
Itulah suara detak jantung kedua janin Al dan juga Adinda. Adinda yang mendengar suara detak jantung kedua anaknya merasa begitu sangat tersentuh dan terharu. Padahal ini sudah yang kesekian kalinya ibu muda itu selalu mendengarkan detak jantung anak - anaknya.
Dan tanpa terasa kini air mata itu kembali menetes. Adinda benar - benar tak bisa mengungkapkan bagaimana tersentuh nya hatinya saat ini. Seolah tak pernah bosan, ia selalu merasa terharu ketika dihadapkan pada kondisi anak - anaknya.
" Sayang ". Seru Al, dan cup... ia pun mencium dengan lembut kening istrinya itu.
" Si kembar baik di sini ". Seru Al lagi dengan mengelus perut buncit istrinya itu.
" Iya mas ". Lirih nya terharu.
__ADS_1
" Dok, bisa kamu periksa apa jenis kelamin kedua anakku? ". Lanjut Al, karena ia begitu penasaran.
" Baiklah tuan, kalau begitu akan saya periksa lebih detail lagi ". Sahut dokter Nita.
Lalu dokter muda itupun mulai mencari apa yang disuruh oleh tuan nya. Dengan penuh ketelitian dan ketelatenan, dokter Nita memeriksa dengan sangat hati - hati.
Dan senyuman kegembiraan itupun terpancar dari wajah dokter muda itu.
" Tuan, nyonya, selamat, si kembar kali ini ada sepasang, selamat tuan nyonya si kembar penerus dari keluarga Georgino kali ini laki - laki dan juga perempuan ". Seru dokter Nita panjang lebar.
Al bersama sang istri yang mendengar pun merasa begitu sangat bahagia.
" Sayang, si kembar ada sepasang, berarti Alexa punya teman sayang ". Seru Al lagi dengan perasaan bahagianya.
" Iya mas". Sahut Adinda yang tak kalah bahagia.
" Sepertinya, kedua anak kembar tuan dan nyonya ini memang sengaja memperlihatkan identitas mereka, agar kedua orang tuanya tak jadi penasaran, tidak seperti nona kecil Alexa waktu itu ". Timpal dokter Nita.
" Hahahaha... iya kamu benar sekali dok ". Sahut Al tertawa, ia masih sangat ingat betul bagaimana putrinya Alexa sangat pintar menyembunyikan identitas nya.
" Baiklah tuan nyonya, semua pemeriksaan sudah saya jalankan, adakah yang ingin tuan dan nyonya ingin pastikan lagi? ". Seru dokter Nita.
" Aku rasa sudah tidak ada dok, semuanya sudah terjawab ". Sahut Al pada akhirnya.
Dan tak lama dari itu, dokter Nita pun merapikan kembali pakaian nyonya nya, sebelum akhirnya dokter muda itu menata alat pemeriksaannya ke tempat semula.
" Kalau begitu terima kasih ya dokter Nita ". Seru Adinda, lalu mommy muda itupun mulai turun dari ranjang pemeriksaan.
" Hati-hati sayang ". Seru Al dengan memegangi tubuh sang istri.
Pemeriksaan pun telah usai, dan kini saatnya lah pasangan suami istri itu keluar, karena setelah ini mereka berencana akan lansung membeli pakaian untuk si baby twins.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ