
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sinar Mentari sudah terlihat mulai condong ke ufuk barat. Kehangatan yang tercipta telah mengantarkan pada sebuah keluarga kecil yang menjalani kehidupannya dengan kebahagiaan.
Seperti yang dilakukan oleh sepasang keluarga kecil Alexander yang memang selalu memanfaatkan waktu sore hari mereka.
" Mam, mam, dy, dy ". Seru Damian dengan memberikan mainan terompet mininya.
" Oh boy, kamu mengatakan apa tadi, dy dy?, kamu sudah mulai bisa mengucap kata daddy sayang? ". Tanya Al dengan ekspresi senangnya namun masih terlihat tak percaya.
" Dy, dy, mam, mam ". Seru Damian lagi dengan menyodorkan terompet mainannya.
" Ya Allah boy, kamu sudah bisa memanggil daddy nak, aduh pintarnya anak daddy ". Sahut Al pada sang putra lalu ia membawa Damian kedalam dekapannya.
" Emmuah emmuah ". Al menciumi pipi gembul Damian.
" Sejak kapan Damian bisa memanggil daddy nak, kenapa daddy tidak tahu?, maafkan daddy ya ". Seru Al. Dan tidak lama dari itu Al pun menoleh pada putra yang satunya Aganta.
Al meraih tubuh gembul Aganta dan juga ikut membawanya kedalam dekapannya. Sungguh sangat berbeda memang, putranya Aganta memang lebih cenderung kalem dan tidak terlalu banyak berceloteh daripada Damian yang memang terkesan lebih manja.
" My twins boy, wajah kalian sama tetapi sifat kalian sangat berbeda ya, tapi tidak apa - apa meski sifat kalian berbeda daddy tetap minta satu hal dan ingat pesan daddy ini ya, kalau kalian sudah besar nanti ingat tidak boleh bertengkar, kalian harus saling menjaga dan mendukung dan yang lebih penting adalah kalian harus saling menyayangi, oke?, bagaimana, apa anak - anak daddy ini sudah paham? ". Pinta Al pada kedua putranya.
" Mam, mam, dad ". Sahut Aganta.
" Mam, mam, dy, dy ". Sahut Damian.
Mendengar sahutan dari kedua putranya, Al mendengar seperti ada jawaban yang berbeda.
" Coba Damian, jawab daddy lagi nak, Damian mau kan nak kalau sudah besar nanti akan tetap mendukung dan menyayangi Aganta? ". Seru Al lagi untuk memastikan jawaban dari Damian.
" Mam, mam, dy, dy ". Sahut Damian dengan menatap wajah sang daddy.
" Bagus, pintar anak daddy, nah sekarang giliran Aganta, jawab daddy lagi ya nak, Aganta mau kan nak kalau sudah besar nanti akan tetap mendukung dan menyayangi Damian? ". Lanjut Al lagi.
" Mam, mam, dad ". Sahut Aganta.
" Oh boy, kamu menyebut dad nak, aduh pintarnya kedua anak daddy ini ". Seru Al dengan penuh rasa bangga pada kedua putranya.
" Cup.. cup.. cup.. ". Al menciumi pipi gembul kedua putranya. Dalam hatinya Al sungguh merasa sangat bahagia karena ternyata kedua putranya sudah mulai mampu menambah kosakata mereka. Al merasa sangat bersyukur ternyata tidak sia - sia karena usahanya dengan sang istri yang selalu mengajak kedua putra untuk mengobrol benar - benar membuahkan hasil meski itu tidaklah sempurna.
Celotehan - celotehan lucu masih cukup terdengar memenuhi ruangan santai nan mewah itu. Hingga tak lama dari itu nampak terdengar adanya suara sepasang langkah kaki yang tak menggunakan alas yang sedang mendekat.
Al pun menoleh, dan ternyata sang istri lah yang datang menghampirinya.
" Sayang kenapa kamu tidak istirahat di kamar, kamu sudah dari tadi pagi membantu persiapan akad nikah Andrew dan juga Vita, ini sudah sore apa kamu tidak lelah ". Seru Al pada sang istri disaat sudah duduk bersamanya.
" Hanya sedikit mas, tapi tidak apa - apa, Adinda tiduran disini saja ya menemani mas dan juga anak - anak ". Sahutnya dengan suara khasnya yang begitu lembut.
__ADS_1
" Ya sudah kalau begitu mas dan anak - anak pindah ke kamar saja ya biar kamu bisa istirahat di kamar ". Sahut Al.
" Tidak perlu mas, Adinda istirahat disini saja, anak - anak kan maunya main disini kalau dibawa ke kamar Adinda khawatir mereka akan rewel ". Sahutnya pada sang suami dan Adinda pun langsung menggunakan bantal yang dibawanya untuk menopang kepalanya lalu istirahat di dekat sang suami dan juga kedua putranya.
Al hanya bisa menghela nafasnya, istrinya Adinda memang tidak bisa jika harus berjauhan dari kedua putranya.
" Mam, mam, dy, dy, nim ". Seru Damian dengan menyodorkan terompet mainannya.
" Aduh boy, kamu ingin daddy memainkan ini? ". Tanya Al, dan hanya di sahut anggukan oleh putranya.
" Aduh boy, kenapa kamu suka sekali daddy memainkan terompet ini, bukankah mainan mu banyak, main yang lain saja ya nak? ". Serunya pada sang putra.
" Mam, mam, mam, mam ". Sahut Damian dengan menggelengkan kepalanya.
" Hufft ". Al sudah pasrah, menolak pun percuma karena putranya itu tipe anak yang cukup keras kepala. Pria dengan bola mata biru keabu - abuan itu sangat heran pada putranya yang satu ini begitu sangat suka memainkan terompet mainannya seperti tidak ada mainan yang lain saja.
" Teeetooot... teeetooot... teeetooot... ". Al membunyikan terompet mini Damian secara perlahan agar tak menimbulkan suara yang terlalu nyaring.
Dan begitulah seterusnya Al memainkan mainan pertama putranya itu dan membuat kedua putra mungilnya tertawa hingga cekikikan.
Disaat kedua bayi gembul itu sedang asyik - asyiknya bermain dengan sang daddy, tiba - tiba datanglah sesosok wanita paru baya dan menghampiri mereka berempat, siapa lagi orangnya jika bukan bu Nadia.
" Nak ". Seru bu Nadia pada Adinda dan juga Al.
Adinda dan Al pun menoleh ke arah sang bibi.
" Loh bi, kenapa bibi tidak istirahat? ". Sahut Al bertanya.
" Iya setelah ini bibi akan kembali lagi ke kamar, tapi sebelum itu ada yang ingin bibi bicarakan pada kalian ". Ujar bu Nadia.
" Ingin membicarakan apa bi? ". Tanya Adinda.
" Nak Al, Adinda, Vita kan sudah ikut tinggal bersama suaminya, jadi Vita sudah tidak lagi bersama ayahmu nak, dan setelah bibi memikirkannya bibi ingin tinggal bersama ayah mu saja ".
" Ya bibi tahu, di rumah ayah mu di sana sudah ada asisten rumah tangga dan juga bodyguard yang menjaga di sana, tapi bibi merasa lebih baik bibi tinggal di sana membantu menjaga ayah mu, siapa tahu sewaktu - waktu jika ada hal yang ayah mu inginkan tapi tidak bisa dilakukan oleh asisten di sana ". Ujar bu Nadia memperjelas.
Adinda tidak menyahut. Ia memikirkan keinginan yang diinginkan oleh bibinya, dan memang benar apa yang dikatakan oleh bibinya, bisa saja kan sewaktu - waktu ayahnya membutuhkan sesuatu tetapi asisten rumah tangga di sana tidak dapat membantunya.
Jujur saja sebenarnya Adinda merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga ayahnya dengan baik, namun harus bagaimana lagi ayahnya menolak untuk tinggal bersamanya.
" Apakah bibi yakin ingin tinggal bersama ayah? ". Sahut Al bertanya.
" Iya nak bibi sangat yakin karena bibi rasa itu akan jauh lebih baik jika bibi tinggal di sana ". Sahut bu Nadia.
" Bi, terima kasih karena bibi selalu mengerti dan tetap menyayangi Adinda dan juga ayah, baiklah jika bibi memang ingin tinggal di sana ". Sahut Adinda pada akhirnya.
" Iya nak, tentu bibi menyayangi kalian ". Sahut bu Nadia.
" Tapi bibi jangan pergi ke rumah ayah sekarang, besok saja ya bi ke sananya, sekarang bibi istirahat saja dulu ". Sahut Al mengingatkan, dan bu Nadia pun menuruti perkataan menantunya.
__ADS_1
*****
Tanpa terasa malam pun telah tiba. Di dalam sebuah kamar mewah nan elegan, seorang wanita kini tengah duduk bersimpuh di atas kasur empuknya.
Rasa gugup yang menghinggap di dadanya benar - benar begitu terasa. Rasa malu dan cemas seolah telah teraduk menjadi satu. Ternyata apa yang dirasakannya tidak seperti yang dikatakan oleh kebanyakan orang.
" Ya Allah, malam ini adalah malam pertamaku dengan tuan Andrew eh mas Andrew, bagaimana ini ya Allah?, tenang Vita kamu tidak boleh gugup, sebagai seorang istri kamu harus bisa melayani suamimu dengan baik, aduh tapi bagaimana?, haruskah sekarang?, ya Allah bagaimana ini?, mudah - mudahan saja tuan Andrew eh maksudnya mas Andrew tidak memintanya malam ini, tapi bagaimana jika dia benar - benar meminta haknya? ". Batin Vita berkecamuk.
Dan benar saja, tidak lama dari itu Andrew telah keluar dari kamar mandi mewahnya. Rambutnya masih terlihat basah. Dengan hanya menggunakan handuk kimono nya, Andrew mendekati sang istri yang sedang duduk tenang di atas kasur empuknya.
Cup..... sebuah ciuman lembut telah mendarat di kening Vita. Vita yang mendapatkan perlakuan manis dari suaminya hanya bisa menunduk malu.
Andrew tersenyum melihat tingkah malu - malu istrinya.
" Sayang, kamu kenapa hem? ". Serunya bertanya.
" Tidak ada mas ". Sahut Vita tanpa melihat wajah sang suami.
Andrew meraih dagu sang istri agar ia mau menatapnya dan... cup... sebuah ciuman lembut telah mendarat di bibir kenyal istrinya.
Vita yang mendapat perlakuan seperti itu menjadi semakin bertambah malu, namun ia sendiri tidak dapat memalingkan wajah sang suami yang saat ini sedang menatap lekat wajah, hingga Vita berusaha untuk menghilangkan rasa malunya.
" T-tuan eh maksudku mas, mas Andrew tidak ingin mengganti baju mas? ". Seru Vita pada akhirnya.
" Kenapa harus berganti baju?, seharusnya aku yang bertanya padamu sayang, kenapa kamu masih menggunakan baju? ". Sahut Andrew yang bermakna absurd.
Vita membelalakkan kedua bola matanya, apa yang dikatakan oleh suaminya benar - benar membuatnya menjadi semakin gugup.
" Maksud mas?, tentu Vita harus menggunakan baju, kalau tidak menggunakan baju Vita akan masuk angin mas ". Elak Vita, sebenarnya ia mengerti kemana arah pembicaraan suaminya, namun Vita berusaha untuk menampiknya, entah apa tujuannya.
Dengan tanpa aba - aba, Andrew mengangkat tubuh Vita dan meletakkannya di pangkuannya. Sontak saja hal itu membuat Vita begitu sangat terkejut.
" Astagfirullah mas, apa yang mas lakukan? ". Seru Vita dengan rasa keterkejutan nya.
" Ya memangku mu lah sayang ". Sahut Andrew.
" Mas turunkan Vita ya, Vita duduk di atas kasur saja ". Seru Vita dengan ekspresi yang mulai pasi.
Dengan tanpa memperdulikan permintaan Vita, Andrew langsung menyambar bibir kenyal itu kembali. Andrew melakukannya dengan tanpa memberi sedikit cela pada Vita, hingga Andrew pun mulai melepas pagutan bibirnya karena dirasa Vita sang istri sudah mulai mencari - cari pasokan oksigen agar bisa ia hirup.
Andrew membaringkan tubuh Vita, dan ia pun mulai mengkungkung tubuhnya.
" Sayang, aku menginginkannya sekarang, bolehkah aku meminta hak ku sebagai seorang suami sayang?, tenanglah aku akan melakukannya secara perlahan ". Seru Andrew dengan tatapannya yang sudah mulai sendu.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, karena dukungan kalian adalah semangat bagi Author untuk melanjutkan karya ini.
πππππβ€β€β€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ