
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Al, kamu menikahi Adinda karena rasa bersalah kan, iya, kamu menikahi Adinda karena kamu sudah menodainya hingga hamil ". Ucap Diandra pada akhirnya.
Deg...
Al begitu sangat terkejut, begitupun dengan Adinda, dari mana Diandra bisa mengetahui jika Al menikahi Adinda karena kesalahan satu malam, bukankah yang tahu masalah ini hanya keluarga inti dan juga asistennya Andrew, lalu bagaimana bisa Diandra bisa mengetahui masalah yang menjadi rahasia keluarganya.
Al dan juga Adinda pun akhirnya saling menatap, mengapa Diandra bisa mengetahui masa lalu kelam itu?, itulah yang menjadi tanda tanya di benak Al dan juga Adinda.
" Tenanglah Al, Adinda, kalian tidak usah terkejut, aku hanya mengatakan suatu kebenaran yang lahir dari sebuah kesalahan, jadi memang benar kan, jika kamu menikahi Adinda karena rasa bersalah mu Al? ".
" Itu artinya kamu menikahi Adinda bukan karena rasa cinta, melainkan karena sebuah bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan yang tidak sengaja kamu lakukan ".
" Iya, sudah pasti seperti itu, aku tahu Al, tidak semudah itu kamu bisa melupakan cinta pertamamu, jadi inikah maksudmu yang mengatakan jika tidak ada yang pernah tahu dengan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, jadi di saat aku masih berada di Canada, telah terjadi suatu kesalahan besar yang kamu sendiri tidak ingin semua itu terjadi, itu artinya, kamu menikahi Adinda karena sebatas rasa bersalah bukan karena rasa cinta ". Ungkap Diandra pada akhirnya.
Adinda yang mendengar untaian kalimat Diandra yang terdengar begitu jelas itu mendadak merasakan sakit di hatinya.
Memang benar jika suaminya Al menikahi dirinya karena sebuah kesalahan, bukan karena dasar cinta, iya itu benar, bukan atas dasar perasaan mencintai, lalu, apakah sekarang perasaan suaminya yang pernah diungkapkan memang benar perasaan cinta?, atau itu semua hanya sebuah wujud untuk menutupi perasaan yang sebenarnya jika sebenarnya suaminya Al tidaklah mencintainya?.
Hati Adinda begitu sakit, jika itu memang benar, artinya selama ini, secara tidak langsung Adinda sudah memaksakan perasaan suaminya padanya, tidak, Adinda tidak ingin itu semua terus berlanjut.
Tanpa terasa, kini Adinda telah menjatuhkan air matanya kembali, entahlah, Adinda lebih sering mudah menangis, apakah ini memang sifatnya yang begitu sensitif sehingga mudah tersinggung dengan perkataan orang lain, atau mungkin perasaan sensitifnya ini karena efek dari kehamilannya.
Al yang mendengar ungkapan panjang lebar dari Diandra pun merasa kasihan sekaligus tak habis pikir dalam waktu yang bersamaan. Al merasa kasihan karena ternyata Diandra masih mengharapkan dirinya, namun Al juga merasa tak habis pikir, bagaimana bisa Diandra sampai mengatakan hal seperti itu, terlepas apa yang dikatakan nya benar atau tidak, seharusnya jangan sampai Diandra mengatakan hal seperti itu di depan istrinya yang saat ini sedang mengandung.
Merasa khawatir pada sang istri karena kalimat Diandra, membuat Al ingin menenangkan istrinya.
Dan betapa terkejutnya Al saat melihat sang istri tercintanya ternyata sudah bercucuran air mata.
" Sayang, kamu menangis? ". Seru Al khawatir, dan ia pun langsung memeluk istrinya.
" Mommy, mommy nanit ladi, teunapa mommy nanit? ( mommy, mommy nangis lagi, kenapa mommy nangis?) ". Tanya si kecil Aganta.
Entahlah, nampaknya Aganta begitu sangat khawatir jika mommy nya lagi - lagi harus menangis.
" Sayang, aku mohon jangan menangis lagi, apa yang dikatakan Diandra tidaklah selamanya benar ". Seru Al yang berusaha menenangkan istrinya.
Lagi - lagi Al harus merasa khawatir dibuatnya, bagaimana tidak, saat ini sang istri Adinda sedang mengandung anaknya, namun harus menerima kabar - kabar yang begitu tidak menyenangkan yang sebenarnya dapat memberikan efek yang tidak baik pada kandungannya.
__ADS_1
Sedangkan Diandra jangan ditanya, sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya Diandra merasa tak tega harus melihat Adinda bersedih apa lagi yang menjadi penyebabnya adalah kalimatnya, namun hal ini harus tetap ia lakukan, bukan dengan harapan agar Al bisa kembali lagi padanya melainkan karena Diandra ingin sebuah bukti jika Al benar - benar tulus mencintai istrinya.
Al pun kini menatap Diandra kembali.
" Iya, memang benar yang kamu katakan jika aku menikahi Adinda karena suatu kesalahan, tapi harus kamu tahu Diandra, meski pernikahan ku dilakukan karena bentuk pertanggungjawaban ku, tidak ada sedikitpun niatku untuk meninggalkan Adinda, aku tidak tahu kapan perasaan ini tumbuh, tapi yang pasti, aku telah jatuh cinta pada istriku ini, semenjak aku telah mengikrarkan janji suci pernikahan ". Sahut Al dengan segala kejujurannya.
Adinda cukup tersentak sekaligus bahagia mendengar pengakuan dari suaminya, jika suaminya Al sudah mencintai dirinya semenjak ijab kabul itu telah sah, itu artinya jauh sebelum dirinya di temukan, ternyata suaminya Al sudah memiliki perasaan padanya, sungguh Adinda tak pernah menyangka jika apa yang dirasakan oleh suaminya Al sampai sejauh itu.
" Di, memang benar jika dulu aku sangat mencintaimu, tapi itu dulu, dan semenjak malam naas di mana aku sudah menodai istriku Adinda, semenjak kejadian buruk itulah telah banyak mengubah hal dalam diriku ".
" Meski aku dan istriku dipertemukan dengan cara yang menyakitkan, tapi mungkin itulah cara Tuhan mempertemukan ku dengannya, mempertemukan ku dengan wanita yang bisa menjadi istri dan juga ibu yang baik untuk anak - anakku, dan mungkin dengan cara itulah Tuhan mempertemukan ku dengan seseorang yang akan menjadi cinta sejati ku, tidak peduli apapun yang di katakan oleh orang di luar sana termasuk kamu, tidak akan mengubah perasaan ku ini, sampai kapanpun cintaku hanya untuk Adinda istriku ". Pungkas Al dengan segala kebenaran dalam perasaannya.
Diandra yang mendengar setiap untaian kalimat yang sedari tadi dilontarkan oleh Al, sebenarnya perasaannya sudah terasa terhenyak. Sakit memang harus mendengar kalimat yang begitu tak ingin untuk di dengar, namun inilah faktanya.
Meski saat ini hati Diandra merasa sakit, namun dalam waktu yang bersamaan ia juga merasa senang dan lega, karena ternyata Diandra yang tadi sempat merasa jika Al menikahi Adinda karena rasa bersalahnya, nyatanya tak cukup sampai di sana, ternyata Al sudah mencintai Adinda, dan itu bisa Diandra lihat dari sorot mata Al yang menyiratkan tentang kesungguhan perasaannya.
" Syukurlah Al, jika kamu sudah mencintai Adinda, iya, kamu memang harus mencintainya dengan tulus, karena di masa lalu hidupnya, sudah banyak luka yang Adinda rasakan ". Batin Diandra.
Diandra tersenyum pada Al dan juga Adinda, ternyata dirinya terlalu percaya diri jika masih menganggap Al memiliki perasaan padanya.
" Hemm, sayang sekali, rupanya aku terlalu percaya diri, syukurlah jika kamu sudah mencintai Adinda, aku harap kamu selalu bisa menjaga dan melindungi Adinda Al ". Sahut Diandra dengan senyumnya.
" Apa maksudmu Di, apa maksudmu yang mengatakan kalau aku harus menjaga dan melindungi Adinda, tanpa kamu mengatakan nya pun aku akan melakukannya, aku heran denganmu Di, kenapa kamu ini bicara seolah kamu tahu segalanya tentang kehidupan Adinda? ". Sahut Al pada akhirnya.
Diandra tersenyum mendengar penuturan Al, iya memang benar Diandra mengetahui masa lalu Adinda yang begitu pahit, kebenaran yang yang masih baru ia ketahui.
" Tentu aku tahu Al, karena Adinda masih saudaraku ". Sahut Diandra.
Sontak saja Adinda terkejut, begitupun dengan Al, apa maksud Diandra yang mengatakan jika Adinda masih saudaranya.
" Maaf, maksud anda apa? ". Tanya Adinda pada akhirnya setelah sekian lama wanita itu diam.
" Iya, kamu masih saudara denganku Adinda, apa kamu tahu Rania?, iya Rania, Rania itu adalah saudara sepupuku ". Ungkap Diandra.
Deg...
Adinda benar - benar sangat terkejut, ia terkejut bukan main. Begitupun dengan Al, ia juga tak kalah terkejutnya, jadi, maksud kalimat tuan David beberapa waktu yang lalu yang mengatakan tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan paman Herdi karena mereka masih bersaudara ipar, adalah ini jawabannya, jika ini memang fakta, itu artinya benar jika dunia tidaklah seluas apa yang kita di bayangkan.
" Baiklah, aku akan menceritakan nya dengan singkat, Adinda, paman kandungmu om Herdi, dia adalah suami dari tanteku, iya tante Indah, yang sering kamu panggil onti Indah itu ". Jelas Diandra.
Adinda membelalakkan kedua bola matanya, sungguh semua ini seperti sebuah mimpi, jadi, Diandra adalah keponakan paman dan juga onti nya, itu artinya, Diandra juga masih memiliki ikatan saudara sepupu dengannya.
__ADS_1
" Sudah, sudah, kalian ini kenapa malah bengong sih, ya sudah lupakan, niat hati aku datang kemari karena ingin kembali pada Al, eh sekarang malah jadi saudara begini hehehehe... ". Hibur Diandra.
Kini Al kembali tersenyum, ternyata Diandra memang tidak pernah berubah, masih tetap sama seperti yang dulu, selalu saja bisa tersenyum meski hatinya dilanda kesedihan.
" Aku yakin Di, suatu hari nanti kamu pasti dipertemukan dengan laki - laki yang baik, dan aku sangat berharap jika laki - laki itu adalah Rendi, yang selama ini sudah menjaga cintanya untukmu ". Batin Al.
" Ayo twins, main sama tante ". Ajak Diandra tiba - tiba pada Aganta dan juga Damian yang sudah cukup lama diam.
" Tundu dulu ante, Mian dak mau mandil ante, Mian mau na mandil onti ja ( tunggu dulu tante, Damian tidak mau manggil tante, Damian maunya manggil onti saja) ". Tolaknya.
Diandra terdiam, ia tak langsung menyahut kalimat Damian, Diandra masih mencerna bahasa cadel Damian yang menurutnya tidak jauh berbeda dengan bahasa alien, hingga setelah sepersekian detik, barulah Diandra bisa memahami kalimat yang di maksud si kecil Damian.
" Oh, oke, terserah Damian mau manggil tante atau onti, tapi yang penting, jangan manggil tante dengan sebutan mak Lampir ya, hahahaha.... ". Sahutnya bercanda.
" Hahahaha..... ". Tawa si kecil Damian dan juga Aganta.
Mendadak suasana di ruangan itu berubah menjadi begitu sangat gembira, seolah tidak pernah terjadi hal menegangkan apapun.
Melihat senyum Diandra, membuat Adinda merasa tenteram, ternyata Diandra memang benar wanita baik, bahkan ia juga sangat ramah, meski baru beberapa menit yang lalu hatinya tersakiti, namun Diandra masih bisa memperlihatkan senyumannya.
" Al, Adinda, aku bawa kue strawberry, tapi ada di lantai bawah di ruang tamu, boleh ya, aku bawa si kembar ini ke lantai bawah sambil makan kue di sana ". Pinta Diandra.
" Kenapa harus turun ke bawah, kenapa tidak di bawa saja kue nya kemari, kita makan di ruang santai saja ". Sahut Al dengan memberikan jalan lain pada Diandra.
Diandra pun menyanggupi saran dari Al, tak ingin berlama - lama, akhirnya wanita cantik itupun mengambil kue nya.
Al memandang istrinya, ternyata istrinya masih diam dan nampak malu - malu. Kemudian Al pun memeluk pinggang istrinya yang terasa lebih lebar itu.
" Sayang, kenapa kamu diam hem? ". Tanya Al.
" Eh, tidak mas, hanya saja Adinda masih tidak percaya dengan semua ini, Adinda masih tidak percaya, jika Diandra, kekasih mas Al yang dulu ternyata masih saudara dengan Adinda ". Sahutnya dengan tersenyum.
" Itulah namanya kehidupan sayang, kita tidak pernah tahu akan sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan, termasuk yang terjadi pada hati ini, tapi apapun itu, jangan pernah kamu ragu pada cintaku sayang, aku mencintaimu dan sampai kapanpun akan tetap mencintaimu ". Seru Al dengan segala kesungguhannya.
Bersambung..........
Sampai di sini dulu ya, semangat membaca.
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1