Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Ulang Tahun Alexa ( Bonus )


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Hari - hari terus berganti meninggalkan berbagai kenangan indah yang selalu menjadi pengiring sang waktu yang akan terus berjalan.


Tanpa terasa, lima bulan telah hampir berlalu, yang menandakan usia pun juga semakin bertambah. Seperti pada bulan ini, usia dari putri kesayangan tuan Alexander telah memasuki usia dua tahun. Dan pada hari ini, adalah hari di mana si putri kecilnya itu nona muda kecil Alexa, merayakan hari ulang tahunnya yang kedua tahun.


Kini ruangan rumah mewah itu telah dirias dengan begitu indah. Ornamen - ornamen yang telah terpasang itu terlihat begitu sangat menarik dan sangat indah dalam pandangan. Ditambah lagi dengan riuhan suara anak - anak dari keluarga itu serta beberapa anak tetangga yang juga turut diundang dalam merayakan hari ulang tahun si kecil Alexa, benar - benar menambah kemeriahan ulang tahun sang tuan putri Alexa.


" Yeay, mucik na badush ". Seru si kecil Alexa yang menari - nari bersama anak - anak yang lain.


Merasa suasana semakin asyik, akhirnya kakak dari Alexa, yang tak lain adalah tuan muda kecil Damian, ikut bergabung menari bersama adiknya Alexa.


" Tatak, tatak Mian mau nali - nali duda? ". Seru Alexa di sela - sela menarinya.


" Iya dong, kakak mau nari juga adikku ". Sahut Damian yang tersenyum ke arah adiknya.


" Tapi tatak Anta dak nali ". Lanjut Alexa dengan menatap kakak Aganta nya yang masih setia berdiri dengan gaya cool nya.


" Sudah, biarkan saja, kakak Aganta mu memang seperti itu orangnya, mirip robot, tak mau bergerak kalau tak disuruh ". Sahut Damian.


Ya, perkembangan yang sangat baik sudah di alami oleh kedua anak kembar Al. Di usia mereka yang telah menginjak usia empat setengah tahun lebih, tak ada lagi kalimat dari keduanya yang terdengar cadel. Kedua bocah kembar itu telah bisa mengucapkan kalimat dengan lafal yang benar tak seperti enam bulan yang lalu yang masih belum bisa mengucap huruf R.


" Tatak Anta, ayo cini, tita nali - nali ". Ajak si mungil Alexa yang sedang menari - nari bak ikan lele yang sedang meliuk-liuk.


" Tidak, kakak malas menari ". Sahut Aganta dengan gayanya yang cuek.


" Huuuh, tatak Anta dak celu ". Sahut Alexa dengan sedikit memanyunkan bibirnya.


" Sudah - sudah adikku, biarkan saja dia, kamu nari sama kakak saja ya, ayo kemari, kamu pegang tangan kakak Damian ". Putus Damian pada akhirnya dengan meraih kedua tangan mungil Alexa.


Semua orang yang berada di ruangan itupun hanya bisa tertawa melihat tingkah si mungil Alexa. Gadis balita itu memang seolah tak pernah henti untuk selalu mencari perhatian dari kedua kakaknya.


" Putriku - putriku, kamu tidak mirip mommy mu ternyata, tapi lebih mirip daddy ". Gumam Al tersenyum dengan memandang putrinya yang sedang menari bersama dengan kakaknya Damian.


" Ayo cucu - cucu oma, narinya yang bagus dong, yang semangat, mumpung musiknya enak di dengar ini ". Seru Devina sang oma yang menyemangati kedua cucunya.


" Siap oma ". Sahut keduanya kompak.


Dan benar saja, diantara teman - temannya yang lain, Damian semakin bersemangat mengajak adiknya Alexa menari. Bocah yang hampir berusia lima tahun itu menuntun sang adik untuk berputar - putar sehingga menciptakan tarian yang begitu indah.


Pok... pok... pok...


Semua orang di sana pun bertepuk tangan gembira karena melihat aksi kakak beradik itu.


" Pintarnya cucu oma narinya ". Puji Devina senang dengan terus memperhatikan kedua cucunya yang menari bersama.


" Ma ". Bisik Enriko tiba - tiba.


" Apa sih pa? ". Sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua cucunya.


" Mama senang melihat Damian dengan Alexa menari? ". Sahut Enriko.


" Ya iyalah pa, mama senang, kenapa papa bertanya seperti itu, memangnya papa tak suka melihat menari? ". Sahut Devina, bahkan ia pun sudah menatap suaminya.


" Tentu papa senang, bahkan sangat senang, ya sudah, kalau begitu, kita menari juga yuk ma, kan seru kalau kita juga ikut menari ". Ajak Enriko tanpa ia tahu apa akibat dari ajakan nya.

__ADS_1


" Ih, papa ini, ada - ada saja yang mau mengajak nari, tidak malu apa, ingat sama umur pa. Lagi pula lagu yang dimainkan kan lagunya anak - anak, tidak sesuai pada tempatnya kalau kita yang nati ". Sahut Devina agak ketus bahkan dengan mendelikkan kedua bola matanya.


" Ya apa salahnya sih ma, kalau kita juga ikutan nari, kan jadi seru. Itu artinya, kita juga ikut berpartisipasi dalam merayakan ulang tahun cucu kita ". Sahut Enriko lagi yang masih berusaha membujuk istrinya.


" Tidak, mama tidak mau, kalau papa masih ngotot, ya sana papa sendiri yang menari ". Putus Devina pada akhirnya, lalu wanita paru baya itupun melenggang pergi berpindah ke posisi lain agar sang suami tak lagi mengusiknya.


Enriko hanya pasrah dengan penolakan istrinya itu, padahal ia begitu sangat ingin menari bersama dengan istrinya, apalagi sudah cukup lama bagi dirinya tak pernah menari bersama lagi dengan sang istri.


Dari posisi yang tak begitu jauh Devina dan Enriko sedang duduk, nampak Vita dan juga suaminya Andrew memperhatikan putranya Andri.


Vita sangat begitu memperhatikan gerak - gerik putranya. Mommy muda itu sangat khawatir jika putra kecilnya itu sampai tersenggol oleh anak - anak lain yang lebih dari Andri.


" Sayang, kok kamu seserius itu sih melihat putra kita? ". Seru Andrew.


" Vita hanya sedikit khawatir saja mas, khawatir jika anak kita tersenggol dengan anak - anak yang lain, apalagi sampai usil pada Alexa ". Sahut Vita dengan tanpa melepas pandangannya pada sang putra.


" Hihihihi... itu hanya ketakutan mu sayang, tidak mungkinlah Andri sampai tersenggol, anak kita kan cukup tinggi untuk anak seusianya ". Sahut Andrew cekikikan.


Vita tak menyahuti ucapan suaminya, meski sebenarnya apa yang dikatakan oleh suaminya Andrew benar, jika pun anaknya tersenggol, ya tak akan jadi masalah asalkan itu sampai melukai, namanya juga di tempat yang banyak kerumuni anak - anak.


Sementara di posisi lain, di mana orang tua dari si kembar dan juga si mungil Alexa yang saat ini tengah duduk bersama masih menikmati acara ulang tahun putri mereka.


Al bersama Adinda istrinya, dan juga putranya Aganta masih duduk tenang memperhatikan tingkah Damian dan juga Alexa yang masih asyik menari bersama anak - anak yang lainnya.


Lalu, wanita yang saat ini tengah hamil usia lima bulan itu, memperhatikan putranya Aganta yang sedari tadi hampir tak mengeluarkan suara.


" Sayangnya mommy ". Seru Adinda lembut pada Aganta.


" Iya mommy ". Sahut Aganta dengan menatap mommy nya.


" Aganta benar tidak mau ikut menari sayang?, lihatlah nak, semua anak - anak di sana pada senang menari sayang ". Seru Adinda yang mencoba mengarahkan putranya agar mau bergabung bersama dengan anak - anak yang lain.


Adinda tersenyum mendengar sahutan putranya. Menurutnya hal yang dilakukan oleh putranya sangatlah baik, dan cukup bijak untuk anak seumuran nya. Aganta ingin memantau adiknya Alexa dari jarak tidak dekat namun ia pun juga ingin menemani dirinya dan juga kedua adiknya yang masih belum lahir ini. Sungguh Adinda merasa sangat bangga, karena baik Aganta maupun Damian, sama - sama menjadi anak yang siaga dan juga penyayang bagi saudaranya.


" Sayang ". Bisik Al, karena di ruangan itu masih di dominasi alunan lagu anak - anak.


" Iya mas ". Sahut Adinda.


" Coba lihat, Damian dengan Alexa sudah dari tadi menari terus, tidak lelah apa mereka, kalau seperti ini, kapan acara pemberian kado akan dimulai? ". Sahutnya pada sang istri.


Adinda hanya tersenyum mendengar keluhan suami tercintanya itu.


" Kenapa kamu tersenyum sayang?, memangnya ada yang lucu? ". Sahut Al lagi yang merasa heran.


" Iya, mas Al lucu. Kalau hadiah ulang tahun untuk Alexa ingin segera di berikan, ya tinggal dimatikan saja dulu lagu anak - anaknya mas, beritahu kalau sekarang saatnya pemberian hadiah ulang tahun untuk Alexa, mudah kan? ". Sahut Adinda santai tanpa melepas senyuman nya.


" Oh iya, kamu benar juga sayang... tapi... bagaimana kalau Alexa marah nanti karena lagunya dimatikan? ". Sahut Al lagi.


"'Tidak akan mas, kan mas Al akan memberitahu kalau sekarang waktunya pemberian hadiah untuk Alexa ". Sahut Adinda lagi.


Dan Al pun akhirnya setuju dengan saran istrinya. Bukan karena Al tak tahu cara mengontrol acara ulang tahun putrinya ini, hanya saja karena Alexa memiliki sifat yang hampir sama dengannya yaitu sedikit keras kepala, apalagi saat ini Alexa sedang begitu asyik - asyiknya menari, bukan tak mungkin jika Alexa akan protes padanya.


Setelah mengikuti anjuran dari sang istri, akhirnya pria berusia matang itupun mulai beranjak dari posisinya dan mematikan alunan lagu anak - anak itu.


Karena tak adanya lagi musik yang mengiringi mereka, sontak saja semua anak - anak yang begitu asyik menari itu, mendadak jadi terhenti dan mematung.


" Yaaah... kenapa mati lagunya? ". Keluh mereka kecewa, karena lagu yang begitu basyik untuk menari itu mendadak mati.

__ADS_1


" Tatak, teunapa ladu na mati cih, tan dak celu? ". Rengek si kecil Alexa pada kakaknya Damian.


" Sabar dulu ya adikku, mungkin saja ada gangguan ". Sahut Damian yang berusaha memberikan pengertian pada sang adik.


" Halo semuanya ". Sapa seorang pria matang diantara mereka, ya siapa lagi jika bukan sang daddy Al.


" Anak - anakku semuanya, pasti kalian merasa bingung kenapa lagunya di matikan?... benar, lagunya memang sengaja daddy Al matikan karena sekarang saatnya bagi kalian untuk berkesempatan memberikan hadiah untuk Alexa, dan nanti, setelah acara pemberian hadiahnya sudah selesai, menarinya baru akan dilanjutkan lagi, bagaimana aap kalian setuju? ". Seru Al panjang lebar.


" Setuju daddy ". Sahut anak - anak itu kompak.


Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan sang daddy Al akhirnya mulai memberikan pengertian dan bimbingan pada semua anak - anak yang ada di sana agar mau berbaris dengan memegang hadiah yang akan diberikan pada putrinya Alexa.


Adinda, sang mommy muda dengan perutnya yang buncit itu, telah berdiri mendampingi putrinya Alexa serta kedua anak kembarnya. Begitu pun dengan sang oma Devina dan juga sang opa Enriko, yang telah ikut serta mendampingi keluarga kecil putranya itu.


" Baiklah, pemberian hadiah untuk Alexa sudah bisa dimulai ". Seru sang daddy Al pada semua anak - anak itu.


Dan benar saja, akhirnya anak - anak itupun mulai berjalan dalam satu barisan untuk memberikan hadiah yang sudah mereka bawa dari rumahnya untuk diberikan.


" Ini adik Alexa kadonya ". Sahut salah seorang anak laki - laki yang tak lain adalah teman sekolah kedua kakak Alexa.


" Maacih tatak ". Sahut Alexa senang dengan menerima kado itu.


Pemberian kado itupun masih terus berlanjut, hingga kini tibalah pada Andri, putra dari Vita yang akan memberikan hadiah spesialnya untuk si kecil Alexa.


" Halo adik Alexa, ini kado na buat kamu, tapi di buka na di kamal saja ya, janan di sini ". Seru si kecil Andri dengan memberikan hadiah spesialnya itu pada kedua tangan mungil Alexa.


" Maacih tatak Andi, iya, tado na mau Eca buta di tamal ". Sahut si mungil Alexa dengan senyuman menggemaskan nya.


Dengan masih di dampingi oleh mommy dan juga daddy nya, ternyata Andri masih tak kunjung melanjutkan langkahnya, sehingga membuat barisan anak - anak yang berjalan itupun menjadi terhenti.


" Ada apa nak? ". Seru Vita, karena sang putra masih diam padahal ia sudah memberikan hadiahnya untuk Alexa.


Si kecil Andri tak menyahut, malah bocah laki - laki itupun masih menatap Alexa, hingga...


Cup...


Sebuah kecupan manis telas berhasil si kecil Andri berikan pada pipi sebelah kanan Alexa.


Sontak saja semua orang yang ada di tempat itupun langsung membelalak tak percaya. Bagaimana bisa si kecil Andri begitu beraninya mencium si mungil Alexa, hingga sesaat setelah itu...


" Hahahaha.... ". Sontak semua orang tua di ruangan yang indah itupun tertawa dengan begitu kencangnya karena ulah si kecil Andri, kecuali Adinda yang hanya bisa tersenyum dengan menggeleng.


" Hahahaha... aduh Andri - Andri, kamu ini ada - ada saja yang mencium Alexa, untung Alexa nya masih tak mengerti apa - apa hahahaha... ". Seru Devina dengan masih tertawa.


Si kecil Andri hanya bisa tersenyum pada orang - orang di sana, apalagi pada si mungil Alexa. Sedangkan Alexa sendiri juga ikut tersenyum namun disertai dengan tolehan yang membingungkan. Ya, Alexa masih tak paham mengapa semua orang di dekatnya menjadi tertawa, bahkan sang oma sampai menyebut namanya. Namun yang pasti, Alexa begitu sangat senang karena semua orang di sekitarnya pada tertawa.


Jika sang putra Andri begitu senang karena keberhasilannya yang mencium Alexa, maka beda halnya dengan Vita dan juga Andrew selaku orang tua dari Andri. Sepasang suami istri itu merasa sangat malu karena tingkah putranya yang begitu jahil dan terkesan menggoda Alexa. Benar - benar tak habis dipikir, bagaimana bisa Andri bersikap seberani itu.


" Aduh Andri - Andri, kamu ini, hanya membuat daddy dan mommy jadi malu saja nak ". Batin Andrew.


" Hahahaha... Andrew, sepertinya kita akan menjadi calon besan hihihihi... ". Seru Al yang masih dengan tawanya.


Andrew yang mendengar sahutan dari Al, hanya bisa tersenyum kecut. Sungguh, ingin sekali rasanya Andrew segera menenggelamkan dirinya ke dalam kolam untuk menghilangkan rasa malunya ini.


Bersambung...........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2