
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Suasana meriah di kediaman mewah itu kini sudah nampak lengang dan hanya menyisakan beberapa tempat duduk.
Mungkin karena perayaan hari ulang tahun si tuan muda kembar Aganta dengan Damian, serta anak - anak yatim yang berumur sama pun telah usai. Sehingga, kini kedua bocah kembar itu sedang sibuk dengan beberapa kado ulang tahun, pemberian dari keluarga tercintanya. Memang tak ada kado dari para anak yatim, karena kedua tuan muda kecil itu, dan juga keluarga Akexander, memang tak mengharapkan dan melarang para anak yatim untuk memberikan hadiah ulah tahun pada kedua tuan muda itu.
Mungkin jika dijumlahkan, hadiah yang didapat dari kedua bocah kembar itu tak sampai enam puluh hadiah. Namun baik Aganta maupun Damian, sudah merasa sangat senang dengan hadiah yang mereka dapatkan. Mereka sama sekali tak mempermasalahkan akan hadiah yang mereka peroleh.
" Aganta, kamu dapat apa?, ini punya sepeltinya mainan puzzle, telus ini sepelti buku, telus yang ini apa ya? ". Seru Damian pada sang kembaran dengan masih membuka satu persatu kado yang ia dapatkan.
" Kalau punyaku, sepeltinya juga sama sepelti kamu Aganta, ya wajal sih kalau sama, kan yang membelikan hadiahnya kelualga kita ". Sahut Aganta apa adanya.
" Hemm, iya, kamu benal ". Sahut Damian lagi.
Dan kedua saudara kembar itu kembali melanjutkan membuka satu persatu hadiah ulang tahun mereka, sepasang tangan mungil mereka begitu sangat terampil seolah terbiasa membukanya, kedua anak kembar itu masih begitu fokus, hingga tak lama dari itu...
Ceklek.... terdengar pintu kamar itupun sedang dibuka yang menandakan akan ada yang masuk. Sontak saja kedua saudara kembar itupun langsung menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata setelah mereka melihatnya, yang datang adalah sang daddy Al dan juga si kecil adik Alexa yang masih setia berada dalam gendongan daddy mereka.
" Tatak ". Seru Alexa senang pada kedua kakak kembar nya.
" Ayo sini adikku, ini, kakak punya hadiah banyak loh ". Sahut sang kakak Damian.
Al dengan putri kecilnya itupun mendekati Aganta dengan Damian. Lalu pria berusia matang itupun meletakkan tubuh mungil putrinya di karpet empuk berbulu itu, agar sang putri bisa melihat dengan jelas akan hadiah apa yang kedua kakaknya itu dapatkan.
" Eca mau tak, eca mau yan ni ". Seru Alexa yang begitu berharap, bahkan bayi gembul itu mulai mengambil salah satu kado yang masih belum di buka milik kakak Aganta nya.
" Alexa mau yang ini? ". Tanya Aganta.
" Huum, Eca mau yan ni ". Sahut si kecil Alexa jujur dengan segala kepolosannya.
" Ya sudah, ambil saja, itu untuk Alexa ". Sahut Aganta dengan tersenyum.
Jika ketiga anaknya masih disibukkan dengan hadiah mereka, maka beda halnya dengan daddy mereka. Semenjak memasuki kamar besarnya, Al sudah mengedarkan pandangannya itu untuk melihat keberadaan sang istri, namun ternyata istrinya tak ada. Bukankah tadi istrinya mengatakan ingin istirahat lebih awal, lalu kemanakah istrinya sekarang?.
" Twins boy? ". Panggil Al.
" Iya daddy ". Sahut kedua anak kembar itu kompak.
" Mommy kalian kemana, bukannya tadi mommy sudah istirahat? ". Sahut bertanya.
" Oh mommy, mommy sedang ada di kamal mandi daddy, mungkin mommy sakit pelut ". Sahut Aganta dengan begitu polosnya.
" Oooh begitu? ". Sahut Al yang telah paham.
Al pun membiarkan saja ketiga anaknya membuka kado - kado ulang tahun itu. Hati daddy yang berusia matang itu terasa begitu menghangat dan sangat bahagia saat melihat kerukunan dari ketiga anaknya.
Aganta dengan Damian, dengan penuh sayang dan rela membiarkan sang adik Alexa memilih apa saja hadiah ulang tahun yang telah mereka dapatkan, padahal yang berulang tahun adalah mereka, namun yang memilikinya Alexa, sangat lucu memang.
__ADS_1
Ceklek...
Tiba - tiba saja pintu kamar itupun sedang dibuka. Sontak saja semua orang yang ada di dalam kamar itu langsung menoleh ke arahnya kecuali si kecil Alexa yang masih sibuk memilih milih hadiah ulang tahun.
" Ada apa ma? ". Seru setelah melihat mamanya lah yang datang.
" Tidak ada nak, mama hanya ingin melihat mereka saja ". Sahut Devina apa adanya, karena memang itulah yang wanita paru baya itu ingin lihat.
Al masih berada di dekat anak - anaknya. Pikirannya kini sudah mulai berkelana memikirkan istrinya Adinda.
" Istriku belum keluar juga dari kamar mandi, apa dia begitu sakit perut sampai lama keluarnya, ini kan lebih dari lima menit aku menunggu ". Batin Al.
Merasa penasaran, akhirnya Al pun ingin menyusul istrinya yang dikata masih berada di kamar kecil itu.
" Daddy mau kemana? ". Tanya Damian setelah melihat sang daddy berdiri dari posisinya.
" Daddy mau ke kamar mandi boy, mau menyusul mommy mu ". Sahut Al, lalu pria itupun mulai melangkah mendekati kamar mandinya.
" Dasar budak cinta, istri ke kamar mandi saja tetap di susul, Al - Al ". Gumam Devina, namun masih di dengar oleh putranya Al.
Al pun mulai memasuki kamar itu, lebih tepatnya ia masih baru memasuki ruangan berganti baju. Lalu pria itupun melanjutkan langkahnya untuk menuju handle pintu kamar mandinya itu.
Kriett... setelah pintu itu dibuka. Al mulai melangkahkan kakinya dengan tangan kanannya yang juga membuka lebar pintu itu.
Dengan perlahan sepasang bola mata biru keabu-abuan nya itu mulai menatap setiap pasang lantai di ruangan itu hingga tatapannya...
Deg...
Al pun langsung berhambur menghampiri istrinya yang sudah tergeletak tak berdaya itu.
" Ya Allah sayang, kamu kenapa? ". Seru Al yang begitu sangat khawatir akan kondisi istrinya yang sudah tak berdaya ini.
Rasa khawatir itu begitu mendera hatinya. Al sama sekali tak tahu jika sang istri ternyata sudah tergeletak lemah tak berdaya seperti ini. Entah semenjak kapan istrinya ini tak sadarkan diri. Al merasa sangat khawatir, benar - benar sangat khawatir.
" Tenanglah istriku, aku akan segera membawamu ke rumah sakit ". Khawatir Al, lalu Al pun dengan begitu sigap langsung menggendong tubuh mungil istrinya itu menuju luar kamar mandi.
Dengan perlahan, pria bertubuh tinggi dan kekar itu melebarkan pintunya, hingga mereka benar - benar keluar dari kamar itu.
Devina sang mama yang mendengar adanya suara seseorang yang keluar dari kamar mandi merasa sangat aneh. Mengapa pintu kamar mandi itu seolah terdengar seperti di desak - didesak?, hingga wanita paru baya itupun mulai menoleh.
Deg....
" Astagfirullahalazim, Adinda ". Pekik Devina, kala ia sudah melihat menantu kesayangannya itu di gendong dengan cara seperti itu oleh putranya.
" Ya Allah, Al, apa yang terjadi, kenapa menantu mama jadi seperti ini? ". Khawatirnya setelah bergegas.
" Mommy, mommy kenapa? ". Sentak Aganta dengan Damian yang begitu sangat khawatir.
" Myh myh, teunapa dy dyh? ". Seru si kecil Alexa yang juga merasa sangat khawatir.
__ADS_1
" Al, ada apa ini, kenapa Adinda sampai pingsan seperti ini nak, Ya Allah... ". Seru Devina yang begitu sangat khawatir.
" Tenanglah - tenanglah mama, anak - anak daddy, sepertinya istriku ini sedang kelelahan, mungkin karena persiapan ulang tahun dari semenjak dua hari yang lalu dia jadi pingsan seperti ini ". Sahut Al yang berusaha setenang mungkin.
Al sebenarnya merasa sangat begitu khawatir akan pingsannya Adinda, namun dirinya harus bisa bersikap tenang agar tak membuat suasana semakin menegang.
" Aku akan membawa nya ke rumah sakit ". Lanjut nya lagi.
" Daddy Aganta ikut ". Seru Aganta.
" Damian juga daddy ". Lanjut Damian juga.
" Tenanglah cucu - cucu oma, ayo kita berangkat bersama - sama ke rumah sakit sekarang ". Putus Devina pada akhirnya.
Dengan masih dilanda rasa khawatir itupun mereka mulai keluar bersama untuk pergi ke rumah sakit, dengan si kecil Alexa yang berada dalam gendongan Devina.
*****
Rumah sakit keluarga Georgino.
Rasa khawatir ini masih terasa begitu melanda hatinya. Bagaimana tidak, jika sang kekasih yang begitu ia cintai masih setia memejamkan kedua bola mata indahnya.
Al, masih setia menunggu istrinya yang masih belum membuka mata ini. Tangannya seolah tak lepas untuk terus menggenggam tangan mungil istri tercintanya itu.
Namun, ada satu hal yang membuat Al merasa bingung, bahkan mama dan juga papanya juga merasa bingung. Mengapa setelah diperiksa oleh dokter Lastri malah dilanjut diperiksa oleh dokter Nita?, bukankah dokter Nita ini adalah dokter spesialis kandungan?.
" Dok, sebenarnya apa yang terjadi pada istriku? ". Seru pria itu yang masih merasa sangat khawatir.
Dokter Nita pun sedikit tersenyum saat mendengar pertanyaan dari tuan nya.
" Tuan Al, anda tak perlu merasa khawatir, kerena nyonya hanya sedikit merasa kelelahan, apalagi saat ini nyonya Adinda sedang mengandung, sehingga nyonya butuh banyak waktu untuk beristirahat tuan ". Sahut dokter Nita.
" Apa, mengandung?, istriku hamil? ". Sahut Al tak percaya.
" Apa hamil, menantuku Adinda hamil lagi? ". Sentak Devina, jujur wanita paru baya ini masih tak percaya dengan kabar ini.
" Iya bebar tuan, selamat, tuan dan juga nyonya akan memiliki momongan lagi ". Sahut dokter Nita dengan tersenyum senang.
" Opa - opa, hamil itu kan di pelut mommy nya Damian ada adiknya ya opa? ". Tanya Damian tiba - tiba dengan memegang tangan opa nya.
" Iya cucu - cucu opa, sebentar lagi, kalian akan punya adik lagi, termasuk Alexa yang sebentar lagi akan jadi kakak ". Sahut Enriko yang berusaha memberikan penjelasan.
" Asyiiiiik, akhlinya Damian mau punya adik lagi ". Seru senang bocah itu dengan penuh kegirangan.
Rupanya anak - anak Al merasa sangat senang karena mereka akan memiliki adik, namun Al merasa agak sedikit bingung dengan situasi ini. Meski dirinya sangat bahagia karena akan memiliki anak lagi, namun ia juga merasa kurang siap jika ini harus hadir anak lagi, pasalnya Alexa masih begitu sangat kecil untuk memiliki seorang adik.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ