Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Baby Alexa


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Rumah mewah nan megah yang telah hampir satu minggu tak dihuni oleh sang tuan dan nyonya, dan hanya menyisakan para asisten rumah dan penjaga rumah, kini tak sunyi lagi karena sang tuan dan nyonya itu telah kembali pada kediaman mereka.


Ya, pada hari ini, Adinda dan juga putri mungilnya baby Alexa, telah diperbolehkan kembali ke rumah mereka, apalagi alasannya jika bukan kondisi mommy dari sang baby Alexa itulah yang telah membaik.


Dengan di temani oleh keluarga inti sang suami, Adinda nampak sedikit membaringkan separuh tubuhnya di atas kasur, dengan sang suami Al yang sedang menemaninya.


Devina sang oma yang begitu penyayang, masih setia menggendong cucu perempuannya dengan duduk diantara cucu kembarnya Aganta dan Damian, tak lupa sang opa Enriko juga senantiasi menemani ketiga cucunya itu.


" Uma, Mian mau tium adik ladi uma ". Pintanya pada sang oma.


" Oh iya, ayo cium sini sayang, kan adik Alexa nya sudah oma turunkan sedikit sayang ". Sahut sang oma, karena memang sudah sedari tadi tubuh mungil Alexa ia sedikit turunkan hingga berada di atas pahanya, agar kedua cucu kembarnya bisa mencium sang adik.


Cup... cup... cup... cup... ternyata kedua kakak kembar Alexa tak henti - henti menciumi wajahnya sehingga membuat bayi mungil yang sedang terlelap itu menjadi terusik dan menggeliat.


" Wah, adik Eca na delak - delak, teunapa ya, apa adik Eca mau minum cucu? ". Seru Damian dengan begitu polosnya.


" Butan talna mau minum cucu, tapi talna adik Eca tita tium - tium telush, dadina adik Eca na delak - delak, ya cudah, adik Eca na danan di tium - tium ladi, tacihan adik Eca na dadi dak bica tidul ". Sahut sang kakak Aganta.


" Hahahaha... rupanya Aganta tahu kalau adiknya tidak mau di cium ". Tawa Enriko yang merasa gemas dengan tingkah kedua cucunya.


Mendengar sahutan dari sang saudara kembar dengan opa nya telah membuat seorang Damian menjadi sedikit kecewa. Ia merasa kecewa karena ternyata adiknya tidak suka di cium, mengapa harus seperti itu?.


Devina sang oma yang melihat kekecewaan dari cucunya ini hanya bisa tersenyum menggeleng. Rupanya Damian merasa sedih karena Alexa tak suka jika terus - terusan dicuami oleh kakaknya, apalagi Damian yang lebih sering menciumnya.


" Damian cucu oma, Damian masih mau cium adik Alexa? ". Tanyanya yang ternyata direspon anggukan oleh Damian.


" Kalau mau cium adiknya cium lah sayang, tapi kalau mau cium di kening sama di pipi ya sayang, biar adik Alexa nya tak terganggu ". Ucap Devina yang memperingati.


" Iya uma ". Sahut sang kakak Damian, lalu bocah kecil itupun menciumi kembali adiknya sesuai dengan yang diberitahu oma nya.


Seolah tak pernah bosan, kedua bocah kecil itu terus memandangi wajah adik mereka, meski yang paling banyak mencium Alexa adalah sang kakak Damian.


Devina dengan Enriko tersenyum senang melihat interaksi ketiga cucu mereka. Sampai saat ini pasangan paru baya itu masih tak menyangka jika mereka sudah memiliki tiga orang cucu, padahal seperti yang di tahu jika pasangan paru baya itu hanya di anugerahi seorang putra tunggal, namun ternyata putra tunggalnya itu malah memberikan mereka tiga orang cucu.


Al dengan Adinda yang menyaksikan kebahagiaan kedua orang tuanya dan juga kedua anak kembarnya ikut tersenyum bahagia, apalagi Al, dirinya benar - benar sangat bahagia melihat kebahagiaan keluarganya.


Lalu pria dengan bola mata biru keabu-abuan itu menatap wajah cantik istrinya yang masih tersenyum. Al tak tahu lagi bagaimana caranya berterima kasih pada istrinya. Kebahagiaan yang hadir dalam hidup keluarganya karena kehadiran Adinda, benar - benar tak akan bisa dirinya balas dan bahkan diukur dengan apapun.


Cup... tiba - tiba saja Al mencium kening istrinya dengan lembut. Lalu ia pun memeluk dengan hangat tubuh istrinya itu.


" Mas, ada apa? ". Seru Adinda.


" Tidak ada sayang, aku hanya bahagia saja, aku bahagia karena kamu ". Sahutnya dengan masih memeluk.


" Adinda juga bahagia mas ". Sahut Adinda sehingga membuat Al semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


" Aku mencintaimu sayang ". Bisik Al.


" Adinda juga mencintaimu mas ". Sahutnya.


Al masih memeluk tubuh istrinya itu dengan hangat. Hatinya telah dipenuhi dengan rasa kebahagiaan. Al sangat berharap jika kebahagiaan ini akan terus ada dan dirinya rasakan sepanjang hidupnya.


Bersama istrinya Adinda, dirinya merasakan kebahagiaan, bersama istrinya Adinda keluarganya juga terus merasakan kebahagiaan.


" Sayang, kamu memang kebahagiaanku ". Batin Al.


Sepasang kedua bola mata biru keabu-abuan dari kedua bocah kembar itu masih menatap sayang pada adik mungilnya. Baik Aganta dengan Damian maupun sang opa dengan sang oma, nampaknya masih tak ingin berhenti memperhatikan makhluk mungil yang baru berusia enam hari itu.


Devina sang oma selalu memperhatikan anak - anak dari putranya. Dirinya merasa sedikit terheran dengan anak - anak Al, karena satupun tak ada yang mirip dengan Adinda menantunya, padahal Adinda kan yang mengandung mereka.


" Al ". Seru Devina sehingga membuat Al sedikit merenggangkan pelukannya.


" Iya ma ada apa? ". Sahutnya.


" Mama perhatikan semua anak - anak satupun tidak ada yang mirip dengan Adinda, semua mirip sama kamu, termasuk si mungil Alexa ini, heh... hanya bibir Alexa saja yang mirip Adinda, dan semua sisanya mirip kamu, heh... mama benar - benar tak habis pikir Al ". Ucap Devina.


" Hahahaha... ". Al tergelak, sehingga hampir setiap sudut ruangan di kamarnya itu hampir dipenuhi oleh tawanya.


" Ya iyalah mirip Al ma, kan aku yang semangat membuat mereka ". Sahutnya tanpa merasa malu.


" Ya Allah, anak ini benar - benar ya, tidak punya malu huh..., ada - ada saja kamu jawabnya Al ". Kesal Devina.


" Loh kan iya ma, apa yang salah dengan jawabanku? ". Sahutnya lagi.


Adinda yang mendengar sahutan suaminya, merasa sangat malu. Bisa - bisanya suaminya memberikan jawaban yang intim seperti itu. Adinda hanya bisa menundukkan wajahnya yang berusaha untuk menutupi rasa malunya.


Sedangkan Enriko sang opa, hanya bisa menggeleng dengan tingkah istri dan juga putranya. Menurutnya ada - ada saja dengan mereka, disaat sedang dilanda kebahagiaan seperti ini ada saja hal yang menjadi humor.


Sesaat setelah hal konyol itu terjadi, samar - samar mereka yang berada di dalam kamar seperti mendengar suara beberapa orang yang hendak masuk, mungkin karena kamar Al sedikit terbuka sehingga membuat mereka bisa mendengarnya.


Tok... tok... tok... lalu seseorang di luar sanan mendorong pelan daun pintu.


" Tuan, nyonya, ada bu Nadia dengan pak Budi yang datang ". Seru bu Ika yang memang bertugas di halaman depan.


" Oh masuk ". Sahut Enriko lalu beranjak dari tempat duduknya.


" Pak Budi, bu Nadia mari masuk ". Ajak Enriko setelah melihat kedua besannya.


" Terima kasih pak ". Sahut mereka.


Lalu Enriko pun menggiring kedua besannya itu menuju dalam kamar.


" Ayah, bibi ". Seru Adinda senang, setelah cukup lama tak menghubungi ayah dan juga bibinya, akhirnya Adinda bisa bertemu dengan mereka secara langsung.


" Adinda ". Seru Budi, lalu ia pun mendekati putrinya.

__ADS_1


" Ayah, Adinda rindu ayah ". Sahutnya dengan memeluk tubuh tua ayahnya.


" Ayah juga merindukanmu nak ".


" Bagaimana, apa kondisi sudah membaik? ". Seru Budi dengan memegangi kepala putrinya.


" Alhamdulillah sudah agak mendingan ayah, ya meski tubuh Adinda masih agak sakit ". Adunya.


" Kasihannya putri ayah ". Seru Budi yang merasa iba dengan kondisi putrinya.


" Tapi ayah jangan khawatir, Adinda sudah biasa kok ayah, kan ini sudah kelahiran ketiga ". Ucap Adinda yang berusaha menghilangkan kekhawatiran ayahnya.


" Iya ayah paham nak ".


Jika Budi langsung menemui putrinya karena merasa khawatir dengan kondisi sang putri, maka beda halnya dengan bu Nadia adiknya. Wanita paru baya itu rupanya sudah tak sabar ingin segera melihat cucunya yang sudah lahir.


" Aduh, cantiknya cucuku ini, siapa namanya bu? ". Seru bu Nadia.


" Namanya Alexa bu ". Sahut Devina.


Bu Nadia tersenyum kagum melihat cucu mungilnya itu, di matanya baby Alexa memanglah sangat cantik bahkan meski masih bayi.


Dan jika diperhatikan dengan seksama, cucu perempuannya ini sangatlah mirip dengan kedua cucu kembarnya.


" Aganta, Damian, lihat adik Alexa nya nak, wajahnya mirip kalian ya? ". Ucapnya.


" Iya nenek, adik Eca meman milip tita, tata capa adik Eca itu milip daddy?... dak, adik Eca dan milip daddy, tapi milip Mian cama Anta, iya tan Anta? ". Sahut Damian, karena memang itulah yang ingin bocah kecil itu protes kan dari tadi.


" Huum... betul ". Sahut Aganta mengangguk.


Semua orang di kamar itupun nampak saling menatap, lalu setelah itu...


" Hahahaha... ". Mereka tertawa bersama, kecuali Adinda yang hanya tersenyum.


" Teunapa cemuana teltawa, tan betul tata Mian? ". Seru bocah itu yang merasa heran karena sudah ditertawakan, memangnya apa yang salah dengan kalimatnya.


" Hihihihi... aduh cucuku - cucuku, ada - ada saja kalian, mau adik Alexa nya mirip Damian sama Aganta, atau mirip daddy kan sama saja nak, kan Damian sama Aganta mirip daddy wajahnya ". Sahut bu Nadia dengan berusaha menahan tawanya.


" Ih dak, Mian dak milip daddy, Mian tan tampan ". Tolaknya.


" Hahahaha... ". Semua orang di ruangan kamar itupun semakin tertawa geli dibuatnya. Selain lucu, rupanya Damian tak ingin disamakan dengan daddy, padahal jika dilihat dari sifatnya, Damian lebih cenderung menuruni sifat Al.


Damian sang tuan muda kecil itu semakin kesal saja dengan tawa semua orang yang menurutnya terkesan meledek, namun sesaat setelah itu, Damian malah ikut - ikutan tertawa. Bocah kecil itu baru sadar jika dirinya telah membuat semua orang di sana tertawa bahagia.


Sedangkan Aganta hanya diam tak menggubris, Aganta tak mempedulikan orang - orang di sana karena yang bocah itu perhatikan hanyalah adik bayinya Alexa.


Bersambung..........


Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2