Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Ketidaksengajaan Andrew


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Setelah kejadian dimana Vita menabrak punggung Andrew, kini mereka berdua terus melangkah menuju kamar hotelnya.


Dan disinilah sekarang mereka berada, di depan sebuah pintu kamar hotel yang bernomer 50.


Andrew mencoba membuka pintu kamar itu dengan kunci yang dibawanya.


" Tuan, dimana kunci kamar saya?, saya juga akan masuk ke kamar saya tuan ". Seru Vita.


" Disinilah kamarnya ". Sahut Andrew santai.


Vita nampak mengernyit bingung dengan kalimat tuannya.


" Tuan, disini kan kamar tuan, bukan kamar saya, jadi sekarang saya mau ke kamar saya sendiri tuan ". Seru Vita lagi.


Andrew berhasil membuka pintunya.


" Ya disinilah kamar kita, kita akan tidur di kamar ini ". Sahut Andrew dengan wajah datarnya.


" Apa?, kamar kita?, yang benar saja tuan ". Sentak Vita yang sangat terkejut.


" Iya, kamar kita, kita akan menginap di kamar ini ". Sahut nya lagi.


" Tapi tuan, sangat tidak mungkin jika kita berdua tinggal di kamar yang sama, kita kan... kita kan bukan suami istri, jadi bagaimana mungkin kita tinggal di satu kamar yang sama ". Sahut Vita yang mencoba menjelaskan.


" Vita, di hotel ini hanya tersisa satu kamar saja yang masih kosong, jadi mau tidak mau kita harus tinggal di kamar yang sama, sudahlah ayo cepat masuk, tenang, kamu tidak perlu khawatir aku tidak akan berbuat macam - macam padamu ". Sahut Andrew lagi, dan ia pun langsung melenggang masuk ke kamarnya.


" Tapi tuan... ". Ucapan Vita langsung terhenti.


" Cepat masuk atau kamu tidur di luar saja ". Peringat Andrew telak.


Mau tidak mau akhirnya Vita pun juga ikut masuk ke kamar itu.


" Awas saja kamu tuan jika berbuat macam - macam padaku, akan aku adukan kamu pada tuan Al ". Batin Vita mengancam.


" Sudah tenang saja, aku tidak akan berbuat macam - macam padamu, kalau aku sampai melanggar, tuan Al akan membunuhku ". Sahut Andrew dengan menutup kembali pintu kamarnya.


Deg..... Vita begitu tersentak kaget dengan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh tuan Andrew nya. Seolah tuan Andrew nya itu bisa membaca pikirannya.


" Apa?, bagaimana bisa tuan Andrew bicara seperti itu, apa dia tahu isi pikiranku? ". Batin Vita.


" Sekarang letakkan lah pakaianmu di lemari itu, aku ingin pergi ke luar sebentar, aku mau mandi ". Seru Andrew lagi.


Vita hanya mengangguk saja mengikuti perintah tuan Andrew nya, sedangkan Andrew kini sudah mulai masuk ke kamar mandi untuk memulai aktivitas mandinya.


Gadis berhijab itu mulai meletakkan beberapa pakaiannya di dalam lemari, Vita tidak terlalu banyak membawa pasang baju, ia hanya membawa empat pasang baju saja karena ia dan tuan Andrew nya hanya akan menginap selama dua hari saja.


Sudah sekitar tiga puluh menit lamanya akhirnya Andrew pun selesai dengan aktivitas mandinya, bahkan sekarang ia sudah menggunakan setelan jas dengan rapi, ya maklum saja Andrew memasang pakaiannya di ruang ganti pakaian yang tidak terlalu besar, karena ia tidak ingin Vita melihat hal - hal yang tidak pantas pada dirinya.


" Sekarang kamu boleh mandi, aku ingin keluar dulu sebentar untuk membeli makanan " . Seru Andrew pada Vita yang sedang duduk di atas kasur.


Vita hanya diam melihat tuan Andrew nya, jujur saja tuan Andrew nya benar - benar terlihat sangat tampan setelah selesai mandi, bahkan aroma perfume yang begitu menyegarkan dari sang tuan benar - benar semakin menambah aura kemaskulinan nya.


" Vita, apa kamu tidak mendengar ku? ". Tanya Andrew.


" Eh, iya tuan, saya mendengarnya ". Sahut Vita.


Tak ada sahutan lagi dari Andrew, pria blasteran Indonesia - Korea itu, langsung melenggang pergi dari kamarnya dan meninggalkan Vita seorang diri.


Vita pun beranjak dari kasur itu untuk mandi, entah di sengaja atau tidak Vita sama sekali tidak membawa pakaian ganti, ia hanya membawa handuk saja.


" Sebenarnya tuan Andrew itu baik, tapi sayang dia terlalu ketus dan kurang ramah pada orang, hidup mu terlalu kaku tuan ". Gumam Vita dan ia pun melenggang masuk ke kamar mandinya.


Kini Andrew telah berada di halaman hotel dimana ia menginap, kedua pasang matanya mulai menelisik ke hampir semua sisi untuk mencari restoran ataupun kafe terdekat yang ada di sana dan ternyata benar saja ia menemukan sebuah restoran mini yang berjarak sekitar sepuluh meter dari posisi nya berdiri.


" Permisi tuan, ada yang ingin anda pesan ". Seru seorang pelayan wanita yang melihat Andrew berdiri mendekati etalase.


" Saya mau pesan menu ini dua, tapi saya tidak makan di sini, saya ingin makan di kamar ". Sahut Andrew menjelaskan.

__ADS_1


" Baik tuan, kalau begitu kami akan mempersiapkan ". Sahut pelayan itu.


Setelah memesan menu nya, Andrew mencoba merogoh saku celananya, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati dirinya tidak membawa dompet.


" Permisi mbak ". Seru Andrew.


" Iya tuan ". Sahut pelayan itu.


" Jangan di buat dulu makanannya, dompet saya tertinggal, sebentar saya ingin mengambil dompet saya dulu ". Sahut Andrew.


Pelayan wanita itupun mengangguk paham. Andrew melangkah dengan cukup tergesa-gesa menuju ruang kamarnya.


" Astaga Andrew, kamu kenapa bisa lupa membawa dompet, haah... sudah lima belas menit lamanya kamu di luar tapi malah tidak membawa apa - apa ". Gumam Andrew yang merasa kesal pada dirinya sendiri.


Sedangkan di ruang kamar mandi, Vita merutuki dirinya sendiri karena ia telah lupa membawa pakaian gantinya.


" Ya ampun Vita, kamu kenapa bisa lupa membawa baju ganti?, haah... aku harus keluar lagi ini ". Gumam Vita.


Ceklek..... pintu kamar pun di buka.


Andrew mencoba mengambil dompet nya di lemari, bahkan bukan hanya dompet yang tertinggal tetapi handphone nya pun juga lupa ia bawa.


" Astaga Andrew, dari saking laparnya kamu sampai lupa membawa dompet dan handphone mu ". Gumam Andrew yang merutuki dirinya sendiri.


Merasa seperti banyak pesan yang masuk di handphone pintarnya membuat Andrew menghentikan langkahnya sejenak.


Andrew memutuskan untuk bersinggah sejenak di sebuah sofa singel yang ada di dekat pintu namun cukup jauh jaraknya dari arah kamar mandi.


" Rupanya banyak pesan yang masuk, hah, tuan Al akan pulang besok? ". Gumam Andrew.


Andrew tetap fokus pada layar ponsel nya, hingga ia tidak menyadari akan sosok Vita yang baru keluar dari ruang kamar mandi.


Begitupun dengan Vita, Vita yang masih mengira tuan Andrew nya masih di luar, begitu leluasa menuju lemarinya untuk mengambil pakaian ganti nya.


Vita sama sekali tidak menyadari jika Andrew tuannya sudah berada di kamar itu. Dengan hanya menggunakan handuk yang ia lilitkan di dadanya, Vita mencoba mengambil baju nya.


Kreett..... Vita membuka pintu lemarinya.


Mendengar ada suara lemari, membuat Andrew langsung mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara, dan...


Deg.....


Gleg..... Andrew menelan ludahnya dengan begitu kelat. Sebuah pemandangan yang seharusnya tak boleh ia lihat seolah tertonton secara live di depannya.


Dapat Andrew lihat saat ini bagaimana tubuh mungil nan elok milik Vita terpampang nyata di depan matanya. Sepasang kaki jenjang hingga pahanya benar - benar terlihat menggoda. Bahkan rambut Vita yang basah itupun benar - benar telah menambah kes*ksiannya.


Vita sama sekali masih tidak menyadari akan keberadaan tuan nya yang sedang berada di pojokan pintu.


Hingga disaat Vita membalikkan tubuhnya untuk menuju ruang ganti lagi dan....


" Aaaaaaa..... tidaaaakkkk..... ".


" Tuan Andrew ". Teriak Vita.


" Apa yang anda lakukan tuaaaaan.....? ". Teriak Vita dengan menutupi dadanya.


Andrew langsung tersentak dari keterpakuannya. Andrew menjadi terjingkat dari tempatnya. Ia sadar jika dirinya telah melakukan kesalahan dengan memandang Vita.


" Vi, Vita, aku, aku bisa jelaskan ". Sahut Andrew tergagap.


" Tidaaaaak..... tuaaaaan..... ". Teriak Vita lagi, dan ia pun langsung berlari menuju kamar mandinya.


Brakk..... pintu kamar mandi itupun langsung Vita banting.


" Vi, Vita, aku bisa menjelaskan, aku tidak bermaksud untuk melihat semuanya ". Teriak Andrew dengan berlari mencoba mengejar Vita.


Tok... tok... tok... Andrew mencoba mengetuk pintu kamar mandi itu.


" Vita kamu dengar aku?, aku tidak bermaksud untuk melakukan itu, aku kemari untuk mengambil dompet dan juga handphone ku, Vita kamu dengar aku? ". Teriak Andrew dari balik pintu.


" Tidak tuan Andrew, anda pergi dari sini, anda sudah ingkar janji untuk tidak berbuat macam - macam, tapi sekarang apa yang sudah anda lakukan pergi..... ". Teriak Vita dari dalam.

__ADS_1


" Vita, aku bisa menjelaskannya, aku tidak sengaja Vita ". Seru Andrew lagi, namun tak ada sahutan dari Vita.


" Astaga ya Tuhan, bagaimana ini, kenapa jadi kacau seperti ini? ". Gumam Andrew dengan mengusap wajahnya dengan kasar.


Niat hati hanya untuk mengambil sebuah dompet yang terlupa malah menjadi sebuah kesalahpahaman pada Vita.


*****


Mobil mewah hitam yang mengendara telah membelah jalan ibu kota yang begitu terlihat ramai lancar.


Sepasang suami istri yang telah menghabiskan waktunya untuk berbulan madu nampak begitu bahagia karena tidak lama lagi mereka akan bertemu dengan kedua putra mungilnya.


" Sayang, kamu terlihat bahagia sekali? ". Seru Al.


" Iya mas, Adinda bahagia karena sebentar lagi kita akan bertemu dengan Aganta dan Damian ". Sahut Adinda dengan senyumannya.


Cup... cup... Al mencium kening istrinya.


" Mas juga sayang ". Sahutnya.


" Ih mas, apa yang mas lakukan, malu dengan supir ". Sahut Adinda yang tak suka karena suaminya menciumnya di dalam mobil.


" Ya tidak apa - apalah sayang, kenapa harus malu, biarkan saja dia tahu ". Sahut Al dengan santainya.


Adinda sudah tidak ingin menyahuti suaminya lagi karena akan percuma saja ia melakukan nya.


Mobil mewah berwarna hitam itu kini telah memasuki halaman luas nan indah kediaman Al, hingga sampai di pelataran rumahnya.


" Mari tuan biar saya yang membawa kopernya ". Seru pak Joko yang merupakan supir pribadi papanya.


" Tidak perlu pak, Al akan membawa nya sendiri ". Sahut Al.


Kini sepasang pengantin baru yang baru saja datang dari bulan madunya telah memasuki rumahnya, rumah yang sudah dia minggu ini telah mereka tinggalkan.


" Assalamu'alaikum pa, ma ". Seru Adinda.


" Waalaikum salam ". Sahut kedua orang tua itu yang saat ini sedang berada di ruang tamu.


Kemudian Al dan Adinda pun mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


Adinda memperhatikan kedua bayi kembarnya yang begitu anteng dan tersenyum manis padanya.


" Uh sayangnya mommy, kalian rindu mommy nak? ". Seru Adinda dan mendekati kedua putranya yang begitu asyik terlentang di kasur mininya.


Cup... cup... cup... cup... Adinda menciumi wajah tampan kedua putranya.


" Mam, mam, nyam ". Celoteh Damian.


" Nyam, mam, mam ". Aganta juga ikut berceloteh seolah tak ingin kalah dari kembarannya.


" Emmuah.. emmuah.. ". Adinda menciumi pipi gembul kedua putranya, Adinda begitu gemas dengan tingkah bayi kembar nya itu.


" Aduh, sepertinya anak - anak daddy ini sudah tidak sabar ya ingin daddy gendong hem? ". Seru Al dan ia pun mencoba meraih tubuh Aganta.


" Sayang, kemarikan Damian, mas juga ingin menggendongnya ". Perintahnya.


Tak ingin berlama - lama Adinda langsung membawa tubuh mungil Damian ke dalam gendongan suaminya.


Kedua bayi kembar yang sudah berusia tiga bulan itu nampak begitu senang dalam gendongan daddy nya.


" Wah, kedua putra daddy ini bertambah gembul saja, kalian senang ya daddy tinggal ke luar negeri? ". Tanya Al pada kedua putranya.


" Ya iyalah mereka bertambah gembul, oma dan opa nya kan menjaga mereka dengan baik ". Sahut Devina ketus pada sangat putra.


" Ma, jangan dimulai lagi lah ma ". Peringat Enriko pada sang istri.


Al tak ingin merespon perkataan sang mama, ia tak ingin dimana di hari ia bertemu dengan kedua putranya setelah dua minggu berpisah menjadi bermasalah karena ocehan sang mama.


" Ayo sayang, kamu ke kamar dulu, pasti kalian lelah sudah melakukan perjalanan yang jauh ". Seru Devina pada sang menantu dan juga anaknya.


Bersambung..........

__ADS_1


Yang baca pada kemana ya?, jangan lupa dukung terus karya Author dengan memberi like, dan komen nya ya πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2