Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Selamat Membaca


❤❤❤❤❤


Dan Al pun kini mulai melanjutkan aksinya kembali. Al kembali mencium bibir peach milik istrinya itu dengan penuh rasa cinta.


Bahkan kini kedua tangannya pun kembali menjelajahi dan memainkan dua gundukan empuk milik sang istri yang memang telah menjadi tempat favoritnya.


Al masih terus melakukannya, bahkan kini sudah banyak terdapat tanda merah kepemilikannya di leher jenjang sang istri.


Lidahnya seolah tak henti - henti menelusuri leher putih istrinya itu. Merasa telah cukup bermain - main di area yang menjadi titik awal permainannya, kini Al kembali menatap wajah sang istri.


Cup..... satu kecupan hangat telah kembali mendarat di kening sang istri.


" Sayang, aku akan melepas semua pakaianmu, bolehkah aku melakukannya? ". Pinta Al dengan lembut dan penuh harap pada sang istri.


Bukan tanpa sebab dirinya meminta izin terlebih dahulu, mengingat pada saat malam pertama istrinya menjadi takut karena dirinya, membuat Al tak ingin menghadirkan rasa trauma istrinya lagi. Dan kali ini Al akan melakukannya dengan sehati - hati mungkin.


Mendengar pertanyaan dari sang suami yang meminta izin, membuat Adinda menerbitkan senyumannya.


" Mas, Adinda ini adalah istri mas, silahkan jika mas ingin melakukannya, mas berhak melakukannya ". Sahut Adinda dengan lembut.


Cup..... Al mencium bibir sang istri, seolah ia tak pernah bosan untuk terus melakukannya.


Dengan penuh kehati - hatian dan rasa cinta, Al mulai melepas setiap helaian benang yang melekat di tubuh Adinda istrinya, hingga tubuh istrinya itu menjadi polos. Dan Al pun juga melakukan hal yang sama pada tubuh kekarnya, dan kini kedua insan yang akan memulai ikatan hubungan percintaan itu telah sama - sama polos tanpa menggunakan sehelai benang pun.


Di saat Al telah melepas semua helaian benang yang melekat di tubuhnya secara keseluruhan, tanpa sengaja Adinda telah melihat barang berharga kepemilikan suaminya yang terlihat begitu perkasa. Dan sungguh barang tumpul milik suaminya itu tidak lah kecil.


Jika saat malam kelam dimana suaminya melakukan penyatuan dengannya tanpa Adinda bisa melihat bagaimana bentuknya, namun kali ini Adinda benar - benar bisa melihatnya dengan jelas, benda tumpul yang memiliki besar dan panjang di atas rata - rata itu yang telah mampu menghadirkan baby Aganta dan juga baby Damian ke dunia ini.


Masih teringat dalam benak Adinda bagaimana rasa sakit ketika barang berharga milik suaminya itu telah berhasil pernah menerobos pertahanannya. Dan tak bisa dipungkiri jika saat ini perasaan Adinda terasa sedikit cemas, namun harus bagaimana lagi, melayani seorang suami adalah kewajiban bagi istrinya.


Al kini kembali menindih tubuh sang istri. Ia kembali melanjutkan aksinya yang tadi sempat terjeda karena melepas helaian benangnya.


Kini tubuh mungil sang istri benar - benar bisa Al jelajahi dengan sepuas hatinya tanpa adanya sehelai benangpun yang bisa menghalangi.


Tidak ada sejengkal bagian pun dari tubuh istrinya itu yang telah Al lewati. Semuanya telah ia sentuh dan ia raba dari ujung kepala hingga ujung kakinya, kecuali satu bagian inti, yaitu bagian inti yang akan menjadi tujuan utama akan penyatuan dirinya dengan sang istri.


Al masih menindih tubuh istrinya, di tatapnya lagi tubuh sang istri seolah ia tak ingin salah langkah dalam bertindak lagi.


" Sayang, apakah aku boleh melakukannya? ". Seru Al dengan tatapannya yang penuh harap.


Adinda menyentuh sisi kanan dan kiri wajah suaminya dengan kedua tangan mungilnya.


" Mas, lakukanlah mas, aku milikmu, mas berhak atas diriku, tapi Adinda minta satu hal sama mas, jika mas ingin melakukannya, lakukanlah dengan lembut ". Sahut Adinda lembut.


Cup..... Al mengecup kening Adinda dengan begitu dalam.


" Terima kasih sayang, mas janji, mas akan melakukannya dengan lembut ". Sahut Al.


Al kini mulai memposisikan tubuhnya dan juga tubuh sang istri dengan senyaman mungkin. Al berusaha menempatkan posisi kedua paha istrinya di atas kedua pahanya, hingga kini tubuh sang istri berada pas di bawah kungkungan nya.


Al menatap wajah Adinda dengan begitu mendalam, seolah ia ingin melimpahkan sesuatu yang selama ini telah ia pendam.


Cup.....


" Sayang ". Seru Al lembut.


" Iya mas ". Sahut Adinda.


" Aku Mencintaimu, aku mencintaimu istriku ". Ungkap Al dengan segala ketulusannya.


Deg..... Sebuah kalimat yang begitu mendebarkan hati Adinda telah keluar dari kedua belah bibir suaminya Al.


Adinda terdiam, ia masih menatap tak percaya pada sang suami, benarkah jika suaminya Al telah mencintainya?. Jika apa yang di dengarnya memanglah benar, sungguh Adinda sangat merasa bahagia.


Bisa melayani seorang suami yang mencintai istrinya, tentulah itu dambaan bagi semua istri, dan hal itupun juga tak luput dari Adinda, ia sangat bersyukur, ternyata sebelum suaminya melakukan penyatuan nya, suaminya telah mengungkapkan perasaan cintanya.


Cup... cup... cup... kecupan bertubi - tubi telah kembali Al sematkan di wajah manis istrinya.


" Aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu istriku, malam ini kamu adalah milikku seutuhnya, aku akan melakukannya Adinda ". Seru Al lirih pada Adinda istrinya.


Karena posisi tubuh mereka yang sudah pas, dan bagian selangkang*n sang istri yang ada di atas paha Al, sudah Al buka dengan sempurna, kini Al akan mulai memasukkan senjata keperkasaan nya itu.


Al mulai memasukkan batang miliknya yang sudah tegak itu secara perlahan pada bagian dalam kepemilikan istrinya.

__ADS_1


" Akhh..... ". Pekik Adinda, kala ia merasakan seperti ada sesuatu yang besar yang berusaha menerobos masuk pertahanannya.


Mendapati istrinya yang memekik seolah menahan rasa sakit, bahkan kini istrinya telah meremas pundak kekarnya, membuat Al menghentikan aksinya sejenak.


" Sayang, apa sakit? ". Seru Al.


" Sedikit mas ". Sahut Adinda dengan suara lirihnya.


" Sayang, jika kamu memang tidak sanggup, aku tidak akan melanjutkannya ". Sahut Al yang merasa khawatir dengan istrinya.


Ya, meski Adinda sudah pernah disetub*hi oleh Al suaminya, bahkan Adinda sudah pernah melahirkan dua orang bayi, namun tetap saja tak mudah agar miliknya bisa menyesuaikan dengan milik Al suaminya yang ukurannya di atas rata - rata, apalagi bekas melahirkan nya telah lama sembuh membuat milik Adinda harus melakukan penyesuaian dari awal lagi.


" Tidak mas, lakukanlah, Insya Allah, Adinda bisa melakukannya ". Sahut Adinda dengan suara lembutnya.


Cup.....


" Terima kasih sayang ". Seru Al.


Dan Al pun kini melanjutkan aksinya yang sempat terhenti untuk terus memasukkan miliknya ke liang sang istri yang terasa masih begitu sempit itu.


Perlahan tapi pasti Al terus mendorong miliknya hingga bisa masuk sepenuhnya, bahkan disela - sela proses masuknya senjatanya itu, Adinda tak henti - hentinya meremas pundaknya, hingga.....


" Akhh..... ". Adinda memekik dengan membelalakkan kedua bola matanya kala senjata hebat milik suaminya itu telah masuk sepenuhnya ke dalam miliknya.


Dapat Adinda rasakan betapa perkasanya milik suaminya itu.


Al melakukan penyatuannya dengan lembut, ia tak ingin sang istri merasa kesakitan seperti saat dirinya merebut kesuciannya secara paksa.


Al terus memacu miliknya yang perkasa itu dengan tetap lembut, dan sesekali di tengah - tengah kegiatannya ia menciumi wajah manis istrinya.


Dua insan yang sedang memadu kasih itu seolah benar - benar telah larut dalam nikmatnya kenikmatan surgawi.


Des*han demi des*han pun telah cukup banyak keluar dari belah bibir manis sang istri. Bahkan kini sudah cukup banyak keringat bermunculan di wajah manisnya.


Al yang awalnya memainkan miliknya dengan begitu lembut, kini sudah mengubah modenya menjadi agak cepat bahkan lebih cepat, sehingga dari perbuatannya itu, membuat Adinda sang istri menjadi meng*rang cukup hebat.


Suara - suara s*ksi milik sang istri pun kini mulai memenuhi kamar mewah yang kedap suara itu. Tak ingin sang istri terus mengeluarkan suara s*sinya, membuat Al membungkam belahan bibir sang istri dengan belahan bibirnya.


Al terus memacu miliknya yang perkasa itu untuk terus mendapatkan kenikmatan yang begitu ia damba, bahkan kini Adinda istrinya sudah mulai kehabisan tenaganya, namun dirinya masih belum ada tanda - tanda untuk mencapai titik pelepasannya.


Jujur saja Adinda yang sudah sekitar satu jam berada di bawah kungkungan sang suami telah kehabisan tenaganya, tubuhnya sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bisa menyeimbangi tenaga dari suaminya, Adinda benar - benar tidak berdaya dibuatnya.


Memang tidak diragukan lagi jika suaminya ini memanglah kuat di atas ranjang, dan ini adalah yang kedua kalinya dirinya dibuat tak berdaya seperti ini.


Hingga sekitar hampir satu setengah jam lamanya Al mengagahi sang istri, kini Al telah mencapai pada titik pelepasannya. Dan ini adalah yang kedua kalinya Al menaburkan benihnya di rahim Adinda.


Tubuh Al menjadi ambruk di atas tubuh sang istri, deru nafasnya pun saat ini terdengar begitu naik turun.


Al sedikit mengangkat kepalanya untuk menjangkau wajah sang istri.


Terlihat wajah istrinya yang begitu lelah, dengan kedua kelopak matanya yang sedikit terpejam, bahkan kedua kelopak matanya terlihat agak sembab setelah tadi sempat menangis, apalagi penyebabnya jika bukan karena kegiatan penyatuan tadi.


Diusapnya beberapa embun keringat di wajah manisnya dengan telapak tangannya.


Cup..... Al mencium kening istrinya Adinda dengan begitu lembut dan lama.


Cup.....


" Terima kasih sayang... dan... maafkan aku, karena telah membuat mu seperti ini ". Seru Al.


" Aku mencintaimu my wife ". Seru Al lagi dengan tulus.


Adinda sama sekali tidak menyahuti kalimat cinta dari suaminya karena tubuhnya yang terasa begitu lelah.


Dan Al pun kini sudah benar - benar melepas bagian tubuhnya dari tubuh istrinya Adinda. Tak lupa ia meluruskan kembali sepasang kaki istrinya setelah tadi sempat ia bentang.


Al kini tidur di sebelah tubuh istrinya, ia memeluk tubuh mungil itu yang sudah terlelap lebih awal sebelum dirinya, dan.....


Cup..... Al kembali mengecup kening sang istri.


" Selamat tidur Adinda istriku ". Batin Al.


Akhirnya, malam yang begitu dinantikan pun telah terjadi. Dan sepasang suami istri itupun telah terlelap dan mengarungi mimpi indahnya.


*****

__ADS_1


Hening nya waktu malam yang ingin berlalu menjelang waktu pagi, telah menerpa setiap kubu - kubu peristirahatan setiap insan yang melewati mimpi malamnya.


Sinyal - sinyal akan hati yang menggantungkan diri pada sang Khalik pun mulai menyadarkan setiap insan untuk menunaikan kewajibannya.


Begitu hal nya dengan sepasang insan anak manusia yang sempat menggunakan malam indahnya untuk meraih cinta indahnya.


Adinda mulai mengerjap - ngerjapkan kedua kelopak mata indahnya kala hatinya merasa terpanggil untuk menunaikan kewajibannya kepada sang Khalik.


Disaat Adinda telah membuka kedua kelopak mata indahnya, terasa seperti ada sesuatu yang berat yang telah melingkar di perut kecilnya. Dan bukan hanya itu, bahkan kini tubuh nya terasa masih linu - linu.


Adinda menoleh ke arah samping tubuhnya. Dan terlihat suaminya Al masih terlelap dengan kedua kelopak matanya yang masih setia terpejam.


" Mas ". Seru Adinda dengan sedikit menggoyang - goyangkan lengan kekar suaminya.


" Mas, bangun, ini sudah masuk waktu subuh, kita sholat yuk ". Seru Adinda lagi dengan tetap menggoyangkan lengan kekar suaminya.


Namun yang diserukan untuk bangun masih tak kunjung membuka matanya.


" Mas, mas Al, bangun, kita sholat subuh yuk ". Seru Adinda lagi, dan kali ini dengan jemarinya yang mengelus rahang tegas suaminya.


Merasa ada yang bermain - main di wajah tampannya, membuat Al sedikit terusik.


" Emmhh ". Lenguh Al kala dirinya mulai tersadar.


" Mas, bangun yuk, kita sholat subuh ". Seru Adinda dengan tetap menggunakan khas suara lembutnya.


Al mulai mengerjap - ngerjapkan kedua kelopak matanya. Perlahan tapi pasti kesadarannya sudah mulai penuh menguasai dirinya.


" Sayang ". Seru Al, dengan suara khas bangun tidur.


" Kamu sudah bangun, sudah subuh ya? ". Tanya Al.


" Iya mas, ini sudah subuh ". Sahut Adinda.


Seolah masih kurang waktu tadi malam yang ia gunakan bersama sang istri, kini pria dengan bola mata biru keabu - abuan itu kembali memeluk erat tubuh mungil sang istri.


" Emh sayang, jangan terburu - buru dulu, tetaplah berbaring sebentar, aku masih ingin memelukmu ". Seru Al manja dengan mengeratkan pelukannya.


" Tapi mas, Adinda takut waktu subuh nya nanti habis ". Sahut Adinda yang masih khwatir.


Kemudian Al mencoba merenggangkan pelukannya, dan memandang wajah sang istri. Dan ternyata masih sama, wajah istrinya terlihat sedikit pucat dengan kedua kelopak matanya yang masih terlihat sembab.


Cup..... Al mencium kening Adinda.


" Sayang, apa tubuhmu masih terasa sakit? ". Tanya Al.


Adinda terdiam mendengar pertanyaan dari suaminya, jujur saja ia merasa malu saat suaminya menanyakan hal ini.


" Sayang aku bertanya padamu, apa tubuhmu masih terasa sakit? ". Tanya Al lagi.


Dengan malu - malu Adinda pun mengangguk.


" Hanya tubuhmu?, lalu bagian inti mu bagaimana, apa masih sakit? ". Tanya Al lagi.


" I, iya mas, bagian itunya Adinda masih sakit ". Sahut Adinda malu - malu.


" Haahh..... ". Al menghela nafasnya cukup panjang. Rasa sesal kini sedikit menarik hatinya. Seharusnya ia tak menggunakan mode cepat tadi malam dan menyebabkan Adinda menjadi sangat kesakitan, apalagi senjata miliknya tidaklah kecil.


" Maafkan aku ya sayang ". Seru Al dengan tatapan sendunya.


Adinda tersenyum mendengar permintaan maaf dari suaminya.


" Iya mas tidak apa - apa ". Sahut Adinda.


Dan dengan tanpa interupsi apapun, Al menegakkan tubuh kekarnya. Dalam keadaan tubuhnya yang masih polos Al pun turun dari ranjang kasurnya, mendekati Adinda sang istri dan ia pun langsung menggendong tubuh mungil istrinya itu tanpa memperdulikan istrinya yang menjadi terkejut.


" Mas ". Pekik Adinda yang merasa terkejut karena suaminya yang tiba - tiba menggendongnya.


Dalam keadaan tubuh mereka yang masih sama - sama polos, Al dan juga istrinya yang ia gendong mulai melangkah menuju kamar mandi.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya 🙏🙏🙏


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2