Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Tidak Sabar


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sang suami yang sudah cukup lama menggunakan waktu paginya demi hanya untuk ice semangka kini telah hadir bak pahlawan kelamaan dengan sebuah semangka besar yang telah bergelantungan di bawah cengkraman tangannya.


Sang istri yang mendapati sang suami telah berhasil membawa buah semangka keinginannya menjadi berbinar. Hatinya begitu sangat bahagia bagai mendapatkan sebuah undian berhadiah.


Dengan semangat empat lima, Vita pun mulai mendekati dan meraih buah semangka yang masih dalam ikatan tali itu.


" Wah mas terima kasih sudah membawa buah semangka keinginan ku, meski bukan dalam bentuk es, tapi tidak apa - apa Vita tetap suka ". Serunya dengan senyuman bahagianya, lalu ia pun langsung meraih buah semangka itu.


" Sayang, hati - hati, ini semangkanya tidak akan lari ". Seru Andrew mengingatkan.


" Iya mas tenang saja tidak akan jatuh kok, Vita sudah tidak sabar ingin memotong semangka ini dan dimasukkan ke dalam freezer biar cepat jadi es ". Sahut nya sumringah, dan ia pun langsung melenggang pergi menuju dapur.


Andrew menggeleng - gelengkan kepalanya, ia merasa tak habis pikir dengan tingkah istrinya, hanya karena sebuah semangka saja istrinya menjadi seperti seorang anak kecil yang begitu senang karena mendapat permen lolipop.


" Haduuuh sayang, hanya karena sebuah semangka kamu sampai kegirangan seperti ini, kenapa akhir - akhir ini kamu menjadi aneh sih sayang? ". Batin Andrew.


*****


Sang pemilik tubuh kekar itu nampak sudah terkapar. Akibat dari atraksi pagi yang diminta oleh kedua putra kembarnya, membuat pria bertubuh kekar itu harus menelan kepahitan akibat dari perbuatannya sendiri.


Sang istri yang melihat suaminya yang sedang meluruskan bagian tubuh belakangnya di kasur empuknya itu merasa lucu sekaligus kasihan dengan nasib suaminya.


" Mas, punggung mas masih sakit? ". Seru Adinda bertanya dengan mengelus punggung lebar suaminya.


" Bukan hanya punggung sayang, pinggang mas juga sakit ini huhu ". Sahut Al berseru.


" Ya mas Al harus bersabar, mas sakit seperti ini kan karena ulah mas sendiri?, lain kali kalau mas ingin mengajak anak - anak agar mau melakukan hal yang mas inginkan jangan pernah menjanjikan apapun pada anak - anak ". Sahut Adinda memperingati.


" Ya mana mas tahu akan seperti ini jadinya sayang aduuuh, apalagi kamu mengancam tidak akan memberi jatah, tentulah mas sangat khawatir sayang, bagaimana nanti nasib adik kecilku ini sayang? ". Sahut nya dengan sedikit merintih.


Plak.....


" Aw.. sakit sayang ". Pekik Al kala Adinda memukul pinggangnya yang masih linu.


" Jadi mas melakukan penebusan kesalahan pada anak - anak bukan karena merasa bersalah pada mereka tapi karena takut tidak mendapatkan jatah? ". Sahut Adinda dengan kesal.


" B-bukan seperti itu maksud mas sayang ". Sahutnya gelagapan.


" Aduh, kenapa kamu keceplosan sih Al ".


" Sayang aw, tolong jangan kesal lah sayang, ya mas merasa bersalah pada anak - anak sekaligus juga takut tidak mendapatkan itu dari kamu sayang, ya kan kamu tahu sendiri mana mungkin mas bisa tahan kalau tidak mendapatkan jatah sampai terlalu lama sayang, ayolah sayang kamu jangan seperti ini ". Sahut nya memelas bahkan Al berusaha memeluk tubuh istrinya.


" Haahh ". Adinda menghela nafasnya cukup dalam.


" Ya sudah sekarang mas buka bajunya, dan tengkurap lah, Adinda akan mengoleskan obat di punggung dan juga pinggang mas supaya cepat reda rasa sakitnya ". Seru Adinda memerintah.


Al pun menurut, ia melakukan hal yang disuruh oleh istrinya.


Dengan perlahan Adinda mulai mengoleskan obat cream di bagian tubuh belakang suaminya itu yang masih linu - linu.

__ADS_1


Al yang mendapat perlakuan dan perhatian yang begitu hangat dari sang istri pun merasa sangat nyaman.


" Bagaimana mas apa sudah mulai terasa lebih baik? ". Tanya Adinda.


" Huum, lumayan sayang, obatnya meresap dengan cepat ". Sahutnya.


" Mas ". Panggilnya dengan khas suara lembutnya.


" Iya sayang ". Sahut Al dan ia pun membalikkan tubuh kekarnya menjadi terlentang. Nampak perut sixpack bak roti sobek itu terpampang nyata.


" Mas, maafkan Adinda ya, karena tadi sempat kesal dengan mas ". Serunya pada akhirnya.


" Tidak, jangan meminta maaf sayang, kamu sama sekali tidak salah, ini salah mas, seharusnya mas tidak menjanjikan apapun pada anak - anak, apalagi yang dijanjikan itu sesuatu yang membuat mereka sakit, wajar saja kalau kamu kesal sayang ". Sahut Al dengan mengelus pipi putih istrinya.


Adinda tersenyum pada suaminya, sebelum akhirnya wanita berparas manis itu juga ikut membaringkan tubuhnya di samping tubuh kekar sang suami.


" Cup.... aku mencintaimu sayang ". Seru Al dengan mencium pucuk kepala sang istri.


" Adinda juga mencintaimu mas ". Sahutnya, lalu memeluk tubuh kekar suaminya itu dengan erat.


*****


Waktu kini sudah menunjukkan sore hari. Dan sang mentari pun masih tersenyum cerah menerangi setiap belahan bumi yang masih tak tersinggahi oleh indahnya malam.


Namun cerahnya sang mentari sore nampaknya tak dapat ikut mencerahkan hati seorang ibu yang saat ini tengah menatap sendu putri semata wayangnya.


Bu Nadia memperhatikan kondisi putri nya yang sedang menjalani masa pengasingan. Hatinya begitu sakit melihat kondisi putrinya yang semakin hari terlihat menjadi lebih kurus.


Hatinya begitu tersayat. Meski apa yang diterima oleh putrinya adalah hasil dari perbuatannya sendiri, namun tetap saja tidak ada seorang ibu yang akan sanggup jika melihat kondisi anaknya yang begitu disayanginya begitu sangat memprihatinkan. Dan kini sepasang manik mata wanita paru baya itu kembali meneteskan air matanya?.


" Apa kamu masih takut tinggal disini nak, tinggal ditengah - tengah hutan yang dijaga dengan orang - orang yang terlihat menyeramkan? ". Seru bu Nadia lagi.


Sintia tersenyum miris. Lalu ia menggenggam kedua tangan ibunya.


" Rasa takut itu masih ada bu, tapi ibu tenanglah, meski mereka berwajah sangar, mereka tidak pernah kasar pada Sintia, hanya saja..... ". Kalimatnya terhenti.


" Hanya saja apa nak? ". Tanya bu Nadia yang sudah sangat khawatir.


" Hanya saja, Sintia merasa aneh dengan salah satu dari mereka ". Sahut Sintia pada akhirnya.


" Merasa aneh, merasa aneh bagaimana nak?, jawab Sintia jangan membuat ibu jadi semakin khawatir seperti ini ". Seru bu Nadia lagi, bahkan dengan mengguncang lengan putrinya.


" Entahlah bu, mungkin ini hanya perasaan Sintia saja, sekitar satu bulan yang lalu Sintia pernah melihat salah satu dari mereka sedang menelfon di belakang rumah, mungkin dia sedang menelfon keluarganya ". Sahut Sintia dengan raut yang dibuat setenang mungkin.


" Huuft...untunglah nak, ibu kira ada yang berniat jahat dari mereka ". Seru bu Nadia bernafas lega.


" Maafkan Sintia bu yang tidak berkata jujur, Sintia sendiri tidak tahu apakah kecurigaan Sintia ini benar, tapi sepertinya salah satu dari mereka ada yang berniat tidak baik ". Batin Sintia.


" Sintia nak, ayo makan dulu, ibu sudah membuat masakan kesukaan kamu " . Ajak bu Nadia, lalu wanita paru baya itupun mulai beranjak dan menata makanan nya di atas meja.


Sintia pun bangkit dari ranjang kasurnya dan mendekati sang ibu.


" Ibu, berapa kali sudah Sintia ingatkan, jika ibu ingin berkunjung ke sini tidak perlu membawa makanan, Sintia bisa memasak sendiri di sini bu ". Serunya.

__ADS_1


" Aduh nak, tidak apa - apalah, ibu kesini kan hanya satu bulan sekali, lihat lah tubuhmu itu, terlihat semakin kurus ". Sahut bu Nadia dengan tetap menata beberapa makanan yang dibawanya.


Akhirnya sepasang ibu dan anak itu mulai menikmati makanannya. Sintia nampak begitu lahap memakan makanan kesukaannya itu, bahkan ia menambah makanannya hingga tiga porsi.


Bu Nadia yang menyaksikan sang putri yang terlihat bersemangat memakan makanannya hanya tersenyum sekaligus menggelengkan kepalanya. Dan bu Nadia sudah bisa menebak apa yang menjadi penyebab putrinya menambah makanan nya hingga tiga porsi.


" Sintia? ". Panggil bu Nadia setelah selesai dari makannya.


" Hemm ". Sahutnya dengan mulutnya yang masih mengunyah.


" Pasti kamu sedang kedatangan tamu bulanan ya nak?, ya sudah habiskan makananmu ". Serunya.


" Hihihihi, iya bu ". Sahut Sintia, lalu ia kembali menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.


*****


Tanpa terasa waktu sudah berganti menjadi malam. Sepasang anak kembar yang sudah hampir satu hari penuh menghabiskan waktunya untuk bermain kini sudah terlelap dalam mimpi indahnya.


Cup... cup... Adinda mencium kening kedua putranya secara bergantian.


" Tidur yang nyenyak ya anak kembar mommy ". Seru nya dengan tersenyum.


Ibu muda dari sepasang anak kembar itu pun mulai bangkit dari posisi menunduk nya. Seolah tak pernah bosan menatap wajah kedua malaikat kecilnya, Adinda tetap berdiri tegak menatapnya.


" Sayangnya mommy, kalian sama sekali tidak mirip mommy nak, kalian sangat mirip dengan daddy kalian ". Serunya dengan tersenyum.


Tanpa terdengar suaranya tanpa terdengar langkahnya, bukan hal yang baru lagi melainkan sudah menjadi kebiasaannya.


Al mulai melingkarkan lengan kekarnya itu di perut sang istri. Sontak saja hal itu membuat Adinda menjadi sangat terkejut.


" Astaghfirullah mas, mas ini kebiasaan ya, selalu datang tanpa suara, Adinda kaget mas ". Sahutnya.


Al sama sekali tak menyahuti kalimat istrinya, yang ada ia malah mengelus perut datar sang istri, entah apa yang diinginkan oleh nya.


" Sayang, mas sudah tidak sabar akan hadir lagi Alexander junior di perutmu ini ". Serunya, lalu ia menenggelamkan wajahnya di ceruk sang istri.


Untuk sesaat Adinda terdiam, sebelum akhirnya ia melepas rengkuhan lengan kekar sang suami dari perutnya.


" Sabar dulu mas, anak - anak kita masih menyusu ". Sahutnya setelah beralih menatap wajah suaminya.


" Ya, sabar, hanya kata itu yang aku jalani sayang ". Sahutnya.


" Mas, kenapa mas begitu sangat tidak sabar sih ingin Adinda hamil lagi, mas kan sudah tahu dari awal kalau Adinda akan siap hamil lagi kalau anak - anak kita sudah berhenti meminum ASI ku mas ". Sahutnya.


" Ya, mas ingin saja segera melihat perutmu buncit lagi sayang, mas ingin melihat perutmu yang awalnya datar bisa berubah menjadi besar. Mas pernah dengar cerita dari orang kalau wanita hamil itu akan terlihat lebih se*si ketika hamil, apakah kamu tahu sayang bagaimana se*sinya wanita hamil? ". Tanya Al dengan tatapannya yang sudah tak biasa.


Adinda hanya bisa melongo mendengar kalimat dari suaminya, benar - benar tak disangka.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, terima kasih.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2