
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Akibat dari tak bersahabat nya situasi dari pihak Al dengan Herdi, telah berhasil membuat seorang wanita paru baya itu yang begitu sangat menyayangi menantu dengan kedua cucunya menjadi tak sadarkan diri.
Kini, disinilah Devina berada, di sebuah ruang kamarnya dan juga sang suami di saat mengunjungi kedua cucunya.
Setelah satu jam lamanya, Devina masih setia memejamkan kedua bola matanya. Menurut keterangan dokter pribadi keluarga Georgino, Devina sang nyonya mengalami shock berat, sehingga menyebabkannya tak sadarkan diri.
Namun selain dari hal mengejutkan dari pingsannya Devina sang nyonya utama. Ada suatu hal yang membuat mereka semua menjadi lebih terkejut bahkan telah merasa bersalah dibuatnya.
Ya, Al telah menceritakan semuanya. Al telah menceritakan tentang mengapa dirinya pergi dari malam resepsinya, namun sayang, kepergiannya malah tak bisa membuatnya kembali tepat pada waktunya.
Al menceritakan mengapa dirinya pergi tanpa izin di malam pentingnya sendiri, itu semua dirinya lakukan agar sang istri dan juga kedua keluarga besarnya menjadi tak panik dengan berita buruknya kondisi Diandra.
Namun sayangnya, disaat dirinya sudah di rumah sakit dan siap mendonorkan darahnya, David malah berhasil membuatnya tak bisa berkutik karena alasan pengorbanan dan balas budi.
Semua yang terjadi benar - benar menjadi sebuah dilema bagi Al, Al ingin memberitahukan semuanya pada asistennya Andrew, namun sayang, karena ponselnya yang terjatuh dan tak sempat menyala, membuatnya tak dapat memberi kabar apapun.
Kini hanyalah penyesalan yang dirasakan Adinda. Adinda merasa menyesal karena sedari awal dirinya tak mau mendengar penjelasan apapun dari suaminya. Seharusnya dirinya tak terbakar oleh emosi. Semua yang terjadi adalah murni bukan kesalahan suaminya.
Adinda menangis dengan terisak, bulir - bulir air mata itu terus bercucuran seolah tak ingin henti.
" Sayang, sudah ya, jangan menangis lagi, kasihan loh sama baby kita yang masih ada di dalam sini ". Seru Al menenangkan dengan terus mengelus perut istrinya.
" Adinda minta maaf mas hiks hiks... harusnya Adinda dengarkan penjelasan mas Al dulu hiks... ".
" Tidak sayang, tidak, kamu sama sekali tak bersalah, akulah yang harusnya minta maaf karena sudah meninggalkan mu seorang diri, maafkan aku sayang ". Serunya dengan masih memeluk dan mengelus perut istrinya.
" Sudah aku mohon jangan menangis lagi sayang, kasihan anak kita di dalam, dia pasti ikut sedih jika mommy nya terus - terusan menangis seperti ini, sudah ya ". Serunya lagi.
Dan benar, setelah cukup lama wanita hamil itu menangis, akhirnya secara perlahan air matanya mulai surut. Al mulai mengusap bersih sisa lelehan air mata istrinya di kedua pipi putihnya itu.
Herdi sang paman pun juga merasa bersalah karena tidak mau memberikan kesempatan pada Al untuk menjelaskan, bahkan tadi dirinya sempat menampar nya berkali - kali hingga pipi sebelah kiri suami keponakannya itu menjadi agak bengkak.
Dirinya sudah benar - benar sangat emosi atas kejadian yang dialami oleh keponakannya hingga membuatnya gelap mata dan tak mau menerima alasan apapun sebagai pembelaan dari suami keponakannya sendiri.
Namun setelah keributan tadi pagi apakah Herdi menyesali perbuatannya?, tentu saja tidak. Herdi sama sekali tak menyesal karena sudah memberi pelajaran pada Al, rupanya Herdi masih merasa kesal dengan suami Adinda.
Namun dari pengakuan Al tadi, ada satu hal yang begitu menggelitik pikirannya. Jika Diandra mengalami kecelakaan dan kondisinya kritis, lalu mengapa David ataupun Kendi tak memberi kabar apapun padanya dan juga istrinya?, bukankah kehidupan Diandra juga sangat penting baginya, apalagi Herdi menganggap Diandra seperti putri kandungnya sendiri.
" Memang aku harus memastikannya sendiri ". Batin Herdi.
Setelah kondisi di ruangan kamar itu sudah nampak tenang, terasa seperti ada seseorang yang akan masuk ke ruangan itu, hingga...
Tok... tok... tok... suara ketukan pintu itupun mengalihkan pandangan beberapa orang yang di dalam sana.
Ceklek...
" Permisi tuan, nyonya, ini, tuan muda Aganta dan juga tuan muda Damian ingin bertemu dengan omanya nyonya Devina ". Seru bu Ima, yang sedari tadi pagi memang sengaja ditugaskan untuk menjaga kedua tuan muda kecil itu.
__ADS_1
" Mommy, daddy ". Seru Aganta dengan Damian, lalu kedua bocah kecil itupun mendekati kedua orang tuanya.
" Aduh, sayang - sayangnya mommy ". Sahut Adinda dengan merengkuh tubuh mungil kedua putranya.
" Mommy, mommy nanit?, teunapa mommy nanit? ". Tanya si kecil Damian dengan menatap mata indah mommy nya yang terlihat sembab.
" Tidak apa - apa sayang, mommy tidak nangis kok ". Sahut Adinda mengelak dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
Lalu kedua anak kembar itupun menoleh pada sang oma yang saat ini tengah tidur terlelap, tidak, bukan tidur, melainkan karena sang oma pingsan. Ya, si kecil Aganta dengan Damian tahu jika oma mereka pingsan, karena kedua bocah kembar itu tak sengaja mendengar kepanikan nenek Ima dan juga nenek Tarsih mereka.
" Uma, uma tatit? ". Seru Aganta khawatir, lalu bocah kecil itupun mencoba menaiki ranjang kasur oma nya.
" Hati - hati cucu opa, Al, kamu bantu anakmu, dia mau naik ". Seru Enriko.
Dan kedua bocah kembar itupun sudah berada di dekat omanya. Aganta dengan Damian, sudah memeluk tubuh oma mereka dari samping kanan dan kiri tubuh sang oma.
Sangat terlihat jelas adanya raut kesedihan pada kedua bocah kembar itu. Kedua tangan mungil mereka pun mengelus - ngelus tubuh dan wajah sang oma. Nampaknya kedua bocah kembar itu merasa sangat sedih dan tak tega melihat sang oma dalam keadaan terbaring lemah tak berdaya.
" Uma, uma banun, uma danan pican ( pingsan) ladi ya ". Aganta.
" Huum, uma danan pican ladi, Mian dadi cedih uma ". Seru Damian sedih.
Deg...
Sontak saja semua orang yang ada di ruangan itupun menjadi sangat terkejut. Darimana Aganta dengan Damian tahu jika oma mereka sedang pingsan, tidak mungkin kan kedua anak kembar itu melihat semuanya, karena sewaktu kejadian itu terjadi, mereka sedang bersama bu Ima dan juga bu Tarsih.
" Uma, uma banun ya, tita main - main ladi ". Seru Damian lagi dengan mengelus bahu omanya yang masih setia terpejam itu.
Adinda yang melihat bagaimana kesedihan kedua putranya karena nasib mama mertuanya, merasa tak sanggup. Bahkan anak se kecil kedua putranya pun bisa merasakan adanya hal yang tak baik.
" Tapi uma tok dak banun - banun? ". Tanya Aganta.
" Karena oma istirahatnya masih belum cukup sayang, nanti kalau istirahatnya oma sudah cukup, pasti oma bangun lagi ". Sahut Al dengan senyumannya.
" Huum ". Sahutnya.
Si kembar kembali memeluk tubuh oma mereka yang masih terpejam itu, dan tak lupa kedua tangan mungil mereka selalu terulur mengelus kedua pipi sang oma.
Semenjak kejadian pingsannya Devina, tak ada lagi kalimat yang keluar dari belah bibir Herdi. Pria paru baya itu diam dengan seribu bahasa. Berbagai pertanyaan masih terus bermunculan di kepalanya.
Sedangkan Indah sang istri, masih berada di luar ruangan kamar itu. Indah masih menghubungi Kendi, karena ingin memastikan jika kondisi keponakannya baik - baik saja.
" Sayang ". Panggil Al.
" Iya mas ". Sahutnya lembut.
" Malam resepsi kita jadi berantakan karena ulahku, aku mau malam resepsinya di ulang lagi sayang ". Serunya.
Deg... Adinda tertegun mendengar kalimat suaminya. Mengapa harus diadakan lagi, bukankah hal itu hanya akan membuang - buang waktu dan biaya saja, tidak, Adinda tak ingin adanya pengulangan malam resepsi lagi.
" Mas, untuk apa diadakan lagi, itu tidak perlu mas, ya meski akhir dari malam resepsi kita tak sesuai yang kita inginkan, tapi kan tetap saja, semua sudah berjalan dan selesai, lalu untuk apa lagi di ulang ". Sahutnya.
__ADS_1
" Ya memang harus di ulang sayang, kan yang terjadi sebelumnya sudah berantakan, sekaligus aku ingin menjelaskan semuanya pada semua tamu undangan karena kecerobohan ku ". Sahut Al, karena hal itu memang harus dirinya lakukan.
Digenggam nya kedua tangan suaminya itu dengan lembut. Adinda sangat paham mengapa suaminya ingin melakukan ini, karena suaminya Al ingin menebus semua kesalahan yang sudah diperbuatnya.
" Mas, terima kasih karena mas mau melakukan nya, tapi, Adinda sudah tak butuh itu lagi, sudah, tak apa meski tanpa malam resepsi, yang Adinda inginkan dan butuhkan hanyalah cinta dan perhatian mas Al pada Adinda dan juga anak - anak ". Sahutnya lembut, karena memang itulah yang dirinya perlukan.
Al pun kembali memeluk tubuh istrinya. Apa yang diucapkan oleh istrinya membuatnya semakin merasa bersalah sekaligus bangga dengan bersamaan. Bagaiman tidak, seharusnya dirinya lebih mementingkan istrinya bukan hal yang lainnya.
Cup... cup... " Terima kasih sayang, terima kasih karena kamu sudah menjadi istri yang baik untukku ". Serunya terharu, namun meski begitu, Al akan tetap merayakan pernikahannya, tak peduli meski itu harus dilakukan setiap tahun sekalipun.
Herdi dan Enriko yang melihat keharmonisan anak - anaknya ikut tersenyum bahagia, terlebih Herdi, seharusnya dari awal dirinya paham, jika Adinda hanya bisa bahagia jika bersama dengan Al.
" Sssssshh... emmh... ".
Suara lenguhan itupun berhasil mengalihkan pandangan semua orang yang ada di ruangan itu. Devina ternyata sudah mulai tersadar dari pingsannya. Dan sontak semua orang yang ada di sekitarnya pun mendekat ke arahnya.
" Uma ".
" Mama ". Seru Al.
" Ma, mama sudah sadar ". Seru sang suami Enriko.
Devina sang istri, tak langsung menyahut. Ia masih berusaha mengumpulkan semua nyawanya, pikirannya pun berusaha mengingat atas hal yang tak ingin terjadi.
Devina mengedarkan pandangannya, ia menelisik ke setiap wajah orang - orang yang ada di sekitarnya, hingga pandangannya itu telah menemukan tiga sosok yang tak ingin jika mereka pergi dari sisinya.
" Cucu - cucu oma, kalian jangan pergi ya sayang, oma tidak bisa jika tanpa kalian nak ". Seru Devina dengan langsung memeluk tubuh mungil kedua cucunya, bahkan dirinya sampai meneteskan air mata.
" Uma, tita tetap ada di cini uma, tita dak temana - mana, iya tan Mian ". Seru Aganta.
" Huum, iya, tita tetap di cini cama uma ". Sahut Damian.
Lalu Devina pun mengedarkan pandangannya menatap Adinda sang menantu yang sangat ia sayangi.
" Adinda, kemarilah nak, peluk mama ". Pintanya.
Lalu Adinda pun mendekati mama mertuanya dan juga ikut memeluk tubuh wanita paru baya itu bersama kedua anaknya.
" Kamu jangan pergi ya nak, tetaplah di sini, mama tidak ingin jika kamu dan kedua cucu - cucu mama pergi sayang, mama tidak bisa jika tanpa kalian nak ". Seru Devina masih dengan meneteskan air matanya.
Tanpa terasa air mata yang tadi sempat surut itupun, kini kembali mengalir. Adinda kembali menjatuhkan air matanya. Adinda merasa sedih dan juga terharu dalam waktu bersamaan.
Siapa yang ingin meninggalkan mama mertuanya, apalagi mama mertua yang sudah dirinya anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Karena mama mertuanya lah dirinya merasa seperti diperhatikan oleh ibu kandungnya sendiri, karena mama mertuanya lah, dirinya bisa mengeluh kesahkan apa yang terjadi pada mama mertuanya, tentu Adinda tak akan meninggalkan orang tua mertua dan juga suaminya, karena mereka adalah orang - orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
" Ma, Adinda tak akan pernah pergi ma, apalagi sampai meninggalkan keluarga ini, Adinda dan anak - anak akan tetap di sini ma, kami tak akan kemana - mana, jadi mama jangan khawatir ya ". Sahutnya lembut.
" Terima kasih sayang, terima kasih karena kamu sudah mau bertahan di sini ". Seru Devina.
Bersambung..........
Hak kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca ya.
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ