
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pancaran sinar lampu yang begitu indah, terlihat nampak begitu menghiasi halaman luas nan indah yang telah di desain dengan begitu mewahnya, yang akan membuat setiap pasang mata menjadi terpana ketika melihatnya.
Di malam ini, di malam yang indah ini, adalah malam yang begitu dinanti - nantikan oleh kedua keluarga besar yang ingin menyaksikan putra putri mereka bersanding bersama. Malam indah ini adalah malam resepsi pernikahan Alexander dengan sang istri Adinda.
Keluarga besar Georgino dan juga keluarga besar dari Adinda sudah berbaur bersama demi menyambut kehadiran para tamu undangan yang menghadiri malam pernikahan anak - anaknya.
Tak lupa sang asisten kepercayaan Andrew Choi, dengan di dampingi oleh para bodyguard kepercayaan sang tuan, juga telah siap siaga menjaga keamanan serta kelancaran selama acara berlangsung.
Semua orang yang berada dalam pesta itu tersenyum bahagia, apalagi sepasang suami istri, dan juga kedua anak kembar mereka yang begitu tampan, yang saat ini telah menjadi objek utama.
Memang tak ada media yang meliput acara itu, namun tak membuat malam resepsi itu tenggelam tanpa kemeriahan, semuanya begitu meriah dengan keindahan yang senantiasa mengiringi.
" Daddy mommy, Anta mau te adik Andi ( Andri), Anta mau tium - tium ( mencium) adik Andi na ". Pintanya pada sang daddy dan juga mommy nya.
" Mian itut ( ikut), Mian itut ". Timpal Damian, rupanya ia juga ingin menghampiri adik Andri nya, yang saat ini sedang di pangku oleh onti Vita nya.
" Kalau Aganta sama Damian mau menemui adik Andri, jangan keluyuran kemana - mana ya, di sana banyak orang dewasa soalnya, kalau mau cium tak apa, daddy izinkan, tapi ingat jangan buat repot onti Vita ya ". Peringat Al pada kedua putranya.
" Iya daddy, dandi ( janji) ". Sahut keduanya mengangguk dengan yakin.
" Hati - hati anak - anak mommy, sebaiknya jalan saja ya nak, tidak perlu lari - lari sayang ". Ucap sang mommy yang menasihati.
" Iya mommy, tita mau dalan ja ". Sahut keduanya kompak.
Lalu kedua bocah kembar tampan yang begitu aktiv itupun, mulai menjulurkan sepasang kaki mungil mereka dan mulai melangkah menuju onti Vita nya yang sedang duduk memangku Andri.
" Aduh, ponakan - ponakan onti yang tampan, kok malah turun sayang ". Seru Vita setelah kedua keponakannya datang menghampiri.
" Tita mau main cama tium adik Andi uti ". Sahut Aganta dengan tersenyum tapi menatap adik Andri nya.
" Memang di bolehkan sama mommy dan daddy? ". Sahut Vita.
" Boleh itu, huum boleh ". Sahut Aganta, dengan Damian.
" Adik Andi, tamu dah mamam tue na ". Seru Damian dengan memegangi tangan mungil adiknya, pasalnya adik Andri nya terlihat seperti mengunyah makanan.
" Hum hum hum... ". Hanya gumaman - gumaman yang tak bisa dimengerti lah yang diucapkan bayi gembul itu.
" Iya sayang, ini adik Andri mau makan puding cake tadi ". Sahut Vita.
" Uti, Anta mau tium adik Andi uti ". Pintanya pada sang onti, karena memang itulah alasannya menghampiri.
" Oh, jadi ceritanya ponakannya onti ini mau cium adik, ya sudah sayang cium saja adiknya ". Suruh Vita.
Dan benar, Aganta pun mulai ingin menciumi adiknya.
Cup... cup... cup... cup... Aganta menciumi ke hampir semua bagian wajah adik yang di cintainya.
Dan tak lama dari itupun, berganti dengan Damian yang ingin mencium adiknya.
__ADS_1
Cup... cup... cup... ciumnya, namun saat mencium adiknya itu, Damian merasakan adanya aroma yang khas dari mulut adiknya.
" Adik Andi, mulut na bau tue ya ". Ungkap nya.
" Hihihihi... aduh Damian - Damian, ya iya, mulut adikmu wangi kue, kan baru selesai makan kue sayang ". Sahut Vita dengan senyuman gelinya.
Tamu undangan pun terus berdatangan, semua anggota keluarga inti kedua pengantin itu masih sibuk menyambut dan dan mengobrol dengan para tamu undangannya.
Tuan Herdi nampak berbincang - bincang dengan rekan kerjanya yang juga hadir di sana, begitupun dengan Enriko yang juga masih fokus dengan tamunya.
" Tuan, ini sudah yang kedua kalinya saya datang ke acara malam pernikahan tuan Al ". Seru tuan Rahman.
" Iya tuan, benar sekali, tapi ya mau bagaimana lagi, dengan istri pertamanya ternyata belum menjadi jodoh sejati ". Sahut Enriko.
" Tidak apa - apa tuan, yang terpenting bagi anak - anak adalah kebahagiaan mereka, lihatlah, tuan Al begitu sangat bahagia dengan istrinya yang saat ini ". Puji tuan Rahman.
" Iya tuan, anda benar ". Sahut Enriko.
" Oh iya tuan, saya tadi melihat dua anak kecil yang kembar, mereka anak tuan Al kan, kemana sudah? ". Lanjut tuan Rahman lagi yang mencari keberadaan kedua cucu Enriko.
" Oh, cucu - cucuku, itu mereka, sedang bersama anaknya Andrew ". Sahut Enriko dengan menunjuk ke arah meja Vita.
" Wah, bahkan baju kedua cucu anda, sama seperti tuan Al, sepertinya itu sangat menyayangi anak - anaknya tuan ". Puji Enriko lagi.
" Haha... iya benar sekali tuan, dari saking sayangnya Al pada kedua anaknya, saya sampai tidak diperbolehkan membawa cucu - cucu saya ke rumah tuan, ya jadinya, kami yang harus menginap di sini kalau rindu dengan mereka ". Sahut Enriko, karena memang itulah faktanya.
" Haha... tak apa tuan, yang penting kan anda masih bisa bertemu dengan kedua cucu anda ". Sahut tuan Rahman dengan menepuk lembut pundak Enriko.
" Iya tuan ". Sahutnya.
" Haha... iya, benar sekali tuan, putraku itu memang tidak bisa menunda lama - lama untuk punya anak ".
" Hahahaha... ". Tawa kedua pria paru baya itu.
Devina sang nyonya utama yang mendengar obrolan suaminya dengan rekan kerjanya itu, merasa jengkel dibuatnya. Devina tak habis pikir dengan suaminya, bagaimana bisa suaminya itu membicarakan putranya sendiri seperti itu, apalagi yang dibicarakan hal yang dewasa.
" Papa papa, bisa - bisanya membicarakan anak soal yang itu, dasar tua - tua tak tau malu ". Batin Devina kesal.
Kedatangan dan penyambutan para tamu pun masih terus berlangsung. Dan sepanjang tamu - tamu itu datang, sang asisten kepercayaan tuan Al, masih terus mengedarkan pandangannya untuk memperhatikan setiap tamu - tamu itu. Hingga tanpa sengaja pandangannya mengarah pada wanita dan anak yang di cintainya.
Andrew melihat sang istri Vita yang sedang duduk santai memangku anaknya, bahkan keduanya sedang ditemani oleh kedua putra tuannya.
" Rupanya kalian di sana ". Gumamnya dengan tersenyum.
Pria blasteran Indonesia - Korea itupun mendadak menjadi begitu sejuk hatinya, setelah melihat sang kekasih bersama sang buah hati duduk bersama, semua keseriusan yang dialaminya karena sebuah tanggung jawab mendadak menjadi rileks seketika karena melihat senyuman mereka.
Merasa puas menatap sang istri dan juga putra mungilnya, Andrew pun kembali memperhatikan tamu - tamu undangan yang sudah banyak berbaur itu, dan bisa dipastikan jika semuanya sudah hadir, karena sangat tahu bahkan banyak mengenal siapa saja para tamu yang diundang oleh tuannya.
Namun setelah dirinya perhatikan, ada beberapa tamu undangan yang tak hadir pada malam ini.
" Di mana tuan David, dan kemana juga sahabat tuan Al, tuan Rian dan tuan Rendi? ".
" Apa mereka tidak datang, tapi bagaimana mungkin, kalau tuan David yang tak datang, itu bisa mungkin, tapi kalau tuan Rendi dan tuan Rian?, tidak mungkin kan kalau mereka tidak datang juga? ". Gumam Andrew bertanya-tanya.
__ADS_1
Ingin memastikan jawaban dari pertanyaannya, Andrew pun segera merogoh ponselnya dari saku celananya itu, nampaknya ia sedang ingin menghubungi seseorang.
" Halo Ivan, apa kamu melihat tuan David, dan juga tuan Rendi dan tuan Rian? ".
" Tidak tuan, saya juga dari tadi berusaha menemukan mereka, tapi ternyata mereka tidak ada, kemungkinan mereka tidak datang tuan ". Sahut Ivan di seberang halaman.
" Tidak datang?, sangat mustahil jika kedua sahabat tuan Al tidak datang Ivan ". Sahut Andrew yang masih tak percaya.
" Tapi itulah yang saya lihat tuan, tuan Rendi dan juga tuan Rian masih belum datang sampai saat ini, mungkin kedua tuan itu akan datang di waktu yang sedikit lebih malam lagi tuan ".
" Mungkin saja, kalau kamu melihat mereka atau salah satu dari mereka, segera hubungi aku, dan jangan lupa tanyakan ini juga pada yang lainnya ". Perintah Andrew.
" Siap tuan, akan segera saya lakukan ".
Kegiatan kabar mengabari pun sudah selesai, kini Andrew kembali melanjutkan tugasnya.
Acara pun masih terus berlanjut, sambutan demi sambutan dari tuan utama yaitu tuan Enriko Gerald Georgino, begitu di sambut dengan baik oleh para tamu undangan.
Tamu - tamu undangan itupun sudah cukup banyak yang menyalami sang tuan besar Al dan juga istrinya. Namun karena kondisi Adinda yang saat ini tengah mengandung besar, membuatnya tak mampu berdiri lama sehingga mengharuskan dirinya untuk duduk.
" Sayang, kamu lelah?, istirahat di kamar saja ya, biar aku yang menyambut tamunya saja ". Serunya lembut.
" Tidak mas, Adinda tidak lelah, hanya saja karena adik bayinya yang sudah semakin besar, Adinda merasa sedikit sesak saja, Adinda mau duduk saja mas ". Sahutnya.
" Ya sudah, tapi kalau kamu sudah tak kuat lagi, beritahu aku sayang ". Serunya lagi.
" Huum... ".
Dan tak lama dari itupun, kedua putranya datang menghampiri.
" Mommy, daddy ". Panggil mereka.
" Kalian baru datang rupanya boy, asyik sekali kalian mainnya, sampai melupakan daddy dan mommy di sini ". Sahut Al, dengan rautnya yang dibuat pura - pura kesal.
" Hihihihi... dak apalah daddy, tan tita hana main cama adik Andi ja, dak teumana - mana ". Sahut Damian dengan rautnya yang dibuat seimut mungkin.
" Heh... ya sudah, naik lagi ke sini, dan satu lagi, kalian berdua harus memijat kedua lengan daddy ".
Sontak saja Adinda langsung membelalakkan kedua bola matanya, apa maksud suaminya menyuruh kedua putranya memijit, yang benar saja, ini kan malam resepsi pernikahannya, apa kata orang nanti, atau semua tamu undangan akan tertawa melihatnya.
" Hahahaha... kalian ini, kenapa sampai seserius itu wajahnya, aku hanya bercanda, come on my wife and my twins boy, tidak perlu kalian seserius itu ".
" Ih, daddy dak lutu ". Protes Damian.
" Hihihihi... ayo kalian naik saja, temani daddy dan mommy ". Suruh Al lagi.
Dan akhirnya sepasang pengantin dengan kedua anak kembarnya pun kembali duduk bersama.
Bersambung..........
Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat baca.
πππππβ€β€β€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ