
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Dengan masih menggendong tubuh mungil cucunya Damian, Devina pun akan mulai mengetuk pintu kamar putranya.
Tok... tok... tok...
" Al, buka pintunya nak, ini Damian mau tidur di sana katanya ". Seru Devina.
" Uma, pintu na buta cada uma ". Suruh Damian.
Devina pun menurut saja, dan mencoba membukanya dan ternyata...
Ceklek... pintu kamar itupun terbuka.
" Loh, kamarnya tidak di kunci? ". Bingung Devina.
Tak mau berlama - lama di luar, Devina pun langsung masuk. Devina pun mendekati ranjang kasur putranya, agar cucunya itu bisa langsung tidur dengan daddy dan juga mommy nya.
" Loh, Al sama Adinda kemana?, kok tidak ada? ". Bingung Devina lagi.
" Daddy cama mommy teumana ya, tok dak ada di tamal? ". Seru Damian yang juga bingung.
Devina lalu mengedarkan pandangannya pada jam dinding di sana, dan ternyata waktu sudah menunjukkan tiga dini hari.
" Anak dan menantuku pada kemana?, tidak mungkin kan mereka berada di kamar yang lain? ". Gumam Devina.
" Damian, sebentar ya sayang, oma mau nelfon daddy mu dulu, siapa tahu daddy sama mommy sedang ada di luar ". Serunya agar sang cucu mengerti.
Lalu Dengan masih menggendong Damian, Devina ingin kembali lagi ke kamarnya untuk mengambil handphone nya.
" Ma, mama mau kemana?, Damian tidak jadi tidur sama mommy nya? ". Tanya Enriko setelah dirinya berpapasan dengan sang istri.
" Bukan pa, mama mau ambil handphone dulu di kamar, mau menghubungi Al, terus ini Aganta kenapa bangun pa? ". Sahutnya yang malah balik bertanya.
" Ya ini Aganta juga ingin tidur di sana ma, cucu kita dua - duanya mau tidur sama mommy mereka ". Jelas Enriko.
" Percuma pa, Al sama Adinda nya tidak ada di kamar, mungkin mereka sedang keluar, mungkin Adinda nya ngidam pa, sana papa minggir dulu, mama mau telfon Al ". Serunya lalu Devina pun langsung melewati suaminya.
*****
Keringat sangat nampak jelas di kening sang istri. Setelah cukup lama menantikan pembukaan untuk lahirnya keturunan Georgino, akhirnya pembukaan untuk proses persalinan pun telah sempurna, yang artinya Adinda sudah akan mulai melahirkan anaknya ke dunia ini.
" Ayo nyonya, nyonya dengarkan aba - aba dari saya ya, sudah saatnya si adik dilahirkan nyonya ". Seru dokter Nita.
" Baik nyonya tarik nafas.... lalu dorong ".
" Eeergh... ". Adinda mendorongnya dengan sekuat tenaga.
" Ayo nyonya lagi, tarik nafas dorong ".
" Eeergh... ".
" Ayo nyonya, nyonya pasti bisa, tarik nafas lalu dorong ".
" Eeergh... eeergh... ".
Al sang suami yang menyaksikan bagaimana sang istri tercinta sedang berjuang melahirkan buah hatinya benar - benar merasa tak sanggup.
Hatinya begitu teriris melihat bagaimana istrinya menahan rasa sakit dan juga harus berjuang antara hidup dan mati. Jika saja boleh memilih, maka dirinyalah yang lebih baik berada di posisi istrinya.
" Ayo nyonya lagi ".
" Eeergh... eeergh... ".
__ADS_1
Sudah tak bisa digambarkan lagi bagaimana menderitanya Adinda. Meski dirinya sudah pernah melahirkan sebelumnya, namun tetap saja tak membuat proses persalinan nya kali ini menjadi lebih muda, ternyata perjuangan nya untuk melahirkan anak ketiganya masih sama sulitnya seperti melahirkan anak pertama dan keduanya.
Adinda benar - benar lelah, sangat lelah, namun dirinya harus tetap berjuang agar buah hatinya bisa lahir dengan selamat.
" Sayang, aku yakin kamu pasti bisa, aku yakin kamu pasti bisa melahirkan anak kita cup... cup... ". Seru Al menyemangati agar sang istri tak patah semangat.
" Ayo nyonya, terus mengedan, kepala adiknya sudah mulai terlihat nyonya ". Seru dokter Nita lagi.
" Eeergh... eeergh... ". Adinda kembali mengedan setelah tadi sempat berhenti.
" Iya nyonya, teruskan sedikit lagi ".
" Eeergh... eeergh... ".
" Eeergh... eeergh... ".
" Eeergh... eeergh... eeergh... ".
" Oekk... oekk... oekk... ".
Suara tangusan bayi itupun terdengar menggema hampir memenuhi sudut ruangan itu.
Al yang mendengar tangisan abaknya begitu sangat terharu. Hatinya terasa begitu bergetar saat sepasang indera pendengarannya telah dipenuhi oleh lengkingan suara tangis darah dagingnya.
" Sayang, anak kita sudah lahir cup... ". Serunya penuh haru dengan mengecup lembut kening sang istri.
" Terima kasih sayang cup... cup... ". Imbuhnya.
" Selamat tuan, nyonya, nona muda kecil telah lahir, selamat atas kelahiran putri tuan dan nyonya ". Seru dokter Nita dengan penuh rasa haru.
Dokter Nita pun lalu meletakkan bayi mungil perempuan itu di atas dada nyonya nya, berharap apa yang dilakukannya akan dapat memperkuat ikatan batin antara seorang ibu dengan putrinya.
Dengan tubuhnya yang masih terasa begitu lemah, Adinda menatap putri mungilnya yang masih sangat merah itu. Rasa bahagia dan haru telah bercampur aduk menjadi satu hingga tanpa terasa, ia telah menjatuhkan air matanya.
" Selamat datang putriku ". Serunya lirih dengan menyentuh lembut punggung mungil putrinya.
" Baiklah tuan nyonya, untuk sementara bayinya akan dibersihkan oleh suster, dan setelah itu baru tuan Al mengadzaninya ". Seru sang dokter Nita.
Al dengan Adinda pun menurut saja, dan Al sendiri juga tak mau menghalang - halangi tiga orang suster yang telah membantu dokter Nita dalam membantu istrinya.
*****
Adzan subuh pun telah berkumandang semenjak tiga puluh menit yang lalu. Setelah mendengar kabar jika cucu ketiganya telah lahir, kini sepasang oma dan opa itu nampak terlihat terburu - buru.
Dengan masing - masing menggendong tubuh mungil kedua cucunya. Devina dengan Enriko melangkah agak cepat menuju ruang rawat VVIP yang telah di beritahu oleh putra mereka Al.
" Di sini ruangannya ". Gumam Devina, lalu wanita paru paya itupun mulai membuka gagang pintu itu.
Ceklek.... pintu itupun berhasil Devina buka. Dan sontak saja hal itu membuat semua orang yang ada di ruangan rawat itupun langsung menoleh ke arahnya.
" Mommy ". Seru si kecil Aganta dengan Damian.
" Ya Allah, anak - anak mommy ". Sahut Adinda dengan penuh rasa haru. Adinda sangat tahu jika kedua putranya pasti sangat merindukan dan mengkhawatirkan nya.
" Cucu ku sudah lahir ". Seru sang oma Devina, lalu wanita paru baya itupun menurunkan tubuh Damian di dekat menantunya.
" Upa Anta mau te mommy upa ". Seru Aganta, lalu bocah kecil itupun langsung ingin merosot turun dari gendongan sang opa untuk mendekati mommy nya.
" Iya - iya, pelan - pelan nak ". Sahut Enriko dengan melepas cucunya itu mendekati mommy nya.
Rupanya yang dirindukan oleh Aganta dengan Damian adalah mommy mereka.
" Ya Allah cucuku... cucu mama ini perempuan Al? ". Tanya Devina dengan meraih tubuh mungil cucunya, pasalnya cucu yang baru lahir ini menggunakan hiasan khusus anak perempuan di kepalanya.
" Iya ma, cucu ketiga mama dan papa perempuan ". Sahut Al dengan senyuman yang masih terpancar di kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
" Alhamdulillah, akhirnya aku punya keturunan perempuan ". Puji syukur Enriko.
" Adinda ". Seru Enriko.
" Iya pa ". Sahutnya yang masih sedikit lirih.
" Terima kasih ya nak, karena kamu keluarga Georgino bisa merasakan semua kebahagiaan ini ". Seru Enriko, bahkan kedua bola matanya nampak sedikit berembun.
Adinda tersenyum mendengarnya.
" Iya pa, sama - sama, Adinda juga bahagia ". Sahutnya.
" Iya sayang terima kasih, jika bukan karena kamu pasti keluarga mama tidak akan merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini ". Timpal Devina.
" Al, apa kamu sudah memberi nama untuk putrimu ini? ". Lanjut nya.
" Sudah ma, Al sudah memberikan nama untuk putri Al yang baru lahir ini ".
" Namanya Alexa Gerald Georgino ". Sahut Al.
" Wah nama yang bagus, selamat datang cucu oma Alexa cup... cup... ". Seru Devina dengan menciumi kening cucunya yang masih terlelap itu.
" Ma, mana Alexa nya, papa juga mau gendong ma ". Pinta Enriko.
" Ih jangan gendong - gendong, cium saja ". Tolak Devina.
Enriko pun hanya bisa pasrah, padahal dirinya juga ingin menggendong cucu perempuannya yang baru lahir itu. Apa boleh buat, bisa menciumnya saja dirinya sudah sangat bersyukur.
" Aganta, Damian, ini adik Alexa sayang, adik kalian, bukannya kalian selalu tak sabar ingin melihat adik lahir? ". Tanya Devina.
" Iya uma, tita mau adik na, tapi adik na taluk cini, tita mau tium - tium ". Pinta mereka, oh lebih tepatnya Damian yang berbicara.
Devina pun menuruti keinginan kedua cucu kembarnya itu agar Alexa di letakkan di kasur empuk menantunya.
" Cup... cup... adik Eca, Mian cayan adik Eca ". Seru sangat kakak Damian dengan menciumi adiknya.
" Boy, manggilnya bukan Damian, tapi kakak Damian, jadi mulai sekarang kalau Aganta mau bicara sama adik Alexa nya, kalian harus menyebut kakak ya, agar adik Alexa terbiasa memanggil Aganta dan Damian dengan sebutan kakak, apa kalian paham? ". Peringat Al.
" Iya paham daddy ". Sahut keduanya kompak.
" Bagus, itu baru anak - anak daddy ". Puji Al.
Rupanya tak sulit memberikan pemahaman pada kedua putranya.
" Al, papa perhatikan di ruangan ini hanya ada kalian bertiga tadi, memangnya kamu tidak menghubungi ayah dan bibi mertuamu? ". Tanya Enriko, pasalnya ia tak melihat siapapun selain keluarga kecil putranya.
" Oh itu, iya pa, Al memang sengaja tak menghubungi mereka, ya bukan bermaksud apa - apa, hanya saja lebih baik, Al menghubungi ayah dan bibi, setelah kami sudah pulang dari rumah sakit ". Jelas Al, karena itu menurutnya lebih baik.
" Begitu, ya tidak apa - apa, itu memang ada baiknya, dan lebih baik memang seperti itu ". Sahut nya yang memahami keputusan putranya.
" Eumm... adik Eca na halum cetali, iya tan Mian? ". Seru Damian yang tak henti - henti mencium adiknya.
" Iya, adik tita meman halum, atu cuta ". Sahut sang kakak Aganta.
Semua orang yang ada di ruangan itupun tersenyum penuh haru melihat interaksi si kembar dengan adik bayinya.
Al sangat bersyukur karena Tuhan telah menambah kebahagiaan pada keluarganya. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri jika hanya akan ada kebahagiaan dalam kehidupan keluarga kecilnya.
" Sayang, terima kasih untuk semuanya, sungguh, kebahagiaan ini tak akan pernah aku rasakan jika kamu tak pernah hadir dalam hidupku... Ya Allah, terima kasih atas anugerah Mu, yang begitu tiada terkira ini ". Batin Al berterima kasih.
Bersambung..........
* Duda Kaya Itu Suamiku *
* Duda Kaya Itu Suamiku *
__ADS_1
* Duda Kaya Itu Suamiku *
Jangan lupa di baca juga ya πβ€