
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pagi hari yang cerah, begitu memberi semangat bagi para pekerja untuk terus bekerja dan berkarya dalam menciptakan suatu hasil karya yang dapat memberi manfaat dan juga keuntungan yang baik.
Begitu pun dengan yang dilakukan oleh para karyawan di sebuah perusahaan ternama G. Group, yang memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang industri ini, semua karyawannya benar - benar telah menggunakan potensi keprofesionalan mereka dalam terus berkarya dan meningkatkan kinerjanya.
Dan hal itu juga tak luput dari seorang gadis yang berusia sembilan belas tahun ini dalam meningkatkan kinerjanya agar dirinya bisa memberikan potensi terbaiknya untuk kemajuan perusahaannya.
Di ruangannya nampak Vita yang begitu terlihat serius dalam bekerja. Di waktu yang masih pagi ini Vita seperti seolah disibukkan dengan beberapa berkas penting yang ia dapat dari tuan Andrew nya. Meski dirinya hanya tenaga karyawan dengan lulusan SMA, tak membuat Vita berputus asa dalam memberikan kinerja terbaiknya.
Namun, di pagi hari ini nampaknya ada sesuatu yang berbeda dari penampilan Vita. Ya, pada hari ini Vita sudah memutuskan untuk menggunakan hijab sama seperti jejak sahabat terbaiknya Adinda.
Ia sudah memutuskan untuk melakukan hijrahnya yang diawali dengan menutupi auratnya terlebih dahulu, dan jika di nilai dari segi perilaku, tentu Vita masih harus banyak belajar lagi, setidaknya ia bisa mencontoh perilaku dari sahabat terbaiknya Adinda.
" Ini data yang kemarin yang tuan Andrew berikan padaku, data ini bagian apa yang harus aku perbaiki? ". Gumam Vita dengan tetap fokus pada berkas - berkasnya.
" Oh, aku tahu, dari kedua data ini bagian penetapan waktunya yang tidak sesuai, berarti aku harus memperbaikinya ". Gumam Vita lagi, dan kali ini gadis berhijab itu beralih pada layar laptopnya.
" Berarti, aku harus mengubah tanggalnya untuk disesuaikan dengan data yang pertama ". Vita tetap bermonolog pada dirinya sendiri.
Vita begitu sangat bersemangat dalam melakukan pekerjaannya, hingga sekitar hampir lima belas menit lamanya, Vita mendengar seperti ada suara pintu yang di ketuk.
Tok... tok... tok...
Kriett.....
Vita menoleh ke arah pintu yang sedang dibuka, dan nampaklah sesosok dari balik pintu yang sangat ia kenal. Ya, dialah tuan Andrew, sosok yang begitu dipercaya oleh tuan Alexander.
Andrew mencoba mengambil langkah lebih maju lagi agar dirinya bisa menjangkau keberadaan Vita, dan kini tatapan mereka berdua saling bertemu.
Andrew begitu sangat tertegun disaat ia melihat penampilan dari Vita sang asisten yang begitu terlihat berbeda.
" Apa ini?, Vita menggunakan hijab? ". Batin Andrew.
" Tuan Andrew, selamat pagi tuan ". Seru Vita dengan berdiri dari posisinya.
" Pa, pagi ". Sahut Andrew yang sedikit gagap.
" Maaf tuan, tadi sewaktu saya datang, saya tidak ke ruangan tuan terlebih dahulu ". Sahut Vita yang merasa tak enak hati.
" Tidak apa - apa ". Sahut Andrew dengan berusaha menetralkan dirinya.
" Tuan Andrew, pagi - pagi sudah datang ke ruangan saya, ada apa tuan?, apakah ada sesuatu yang harus saya selesaikan? ". Tanya Vita.
" Oh iya, em tidak ". Sahut Andrew.
Vita mengernyit bingung atas jawaban dari tuannya, apa maksud dari oh iya, em tidak?.
" Maksud, aku datang ke ruangan mu bukan untuk menyuruhmu untuk menyelesaikan tugas baru, tapi aku datang kesini karena ada seseorang yang ingin menemui mu ". Sahut Andrew.
Vita yang sedari tadi sudah bingung dengan maksud tuannya, kini malah bertambah bingung.
" Sebenarnya ada apa dengan tuan Andrew, dan siapa yang ingin bertemu dengan ku?. Batin Vita.
Tak ingin berlama - lama, Andrew pun memanggil orang yang ingin menemui Vita.
" Masuk ". Seru Andrew lantang.
__ADS_1
Dan tidak lama pun sepasang kaki jenjang kini terdengar melangkah memasuki ruangan itu. Vita mengarahkan pandangannya ke arah dimana sosok yang dipanggil itu akan muncul.
Selangkah.. dua langkah.. tiga langkah, dan sosok itupun muncul dan berdiri tidak jauh dari samping tubuh tuan Al nya.
" Silvi?, mau apa lagi dia? ". Batin Vita.
Silvi yang sudah berada di ruangan Adinda hanya bisa menunduk. Jujur saja, sebenarnya dalam benaknya ia merasa tak sudi jika harus melakukan hal ini, namun harus bagaimana lagi, demi agar ia tidak kehilangan pekerjaannya dirinya harus melakukan ini, meski itu sangat menjatuhkan harga dirinya.
" Kamu hanya ingin berdiri disini, apa kamu datang kemari hanya untuk berdiri? ". Seru Andrew dengan nada ketus yang menjadi ciri khasnya.
Mau tidak mau Silvi pun harus melakukan nya.
" Asal kamu tahu Vita, aku terpaksa melakukan hal ini, heh.. aku sangat membencimu Vita ". Batin Silvi marah.
Vita menatap bingung pada tuan Andrew dan juga Silvi yang hanya berdiri di depannya.
" Vita, aku minta maaf ". Seru Silvi pada akhirnya.
Vita yang mendengar permintaan maaf dari Silvi pun, menjadi heran, benarkah yang didengarnya, seorang Silvi yang begitu tidak menyukai dirinya sedari dulu meminta maaf.
" Hanya seperti itu?, seperti itu caramu meminta maaf? ". Ucap Andrew yang merasa tak habis pikir dengan Silvi.
Sudah tidak bisa digambarkan lagi bagaimana kekesalan hati Silvi saat ini, ingin sekali rasanya ia menyepak Vita dari kantor ini.
" Vita, aku minta maaf ya, aku tidak bermaksud untuk mengusir mu kemarin dari kantor ini ". Seru Silvi lagi.
Karena Vita bukanlah tipe orang yang pendendam, dan tidak suka akan adanya masalah yang berkepanjangan, akhirnya ia pun memutuskan untuk memaafkan.
" Iya aku memaafkan mu ". Sahut Vita.
" Vita, kamu sudah benar - benar memaafkan Silvi? ". Tanya Andrew untuk memastikan.
" Iya tuan, saya sudah memaafkan, lagi pula Silvi tidak sepenuhnya bersalah, Silvi seperti itu karena mengikuti aturan perusahaan dan dia juga tidak tahu, jika saya bekerja di kantor ini memang atas dasar permintaan tuan Al ". Sahut Vita menerangkan.
" Iya saya paham tuan ". Sahut Silvi dengan sedikit mengangguk.
" Puas kamu Vita, sudah membuat harga diriku jatuh, urusan kita belum selesai Vita ". Batin Silvi marah.
Vita Ramadani
Andrew Choi
*****
Semburat mentari telah datang dan menelusup ke setiap cela lapisan bening yang menjadi penghalang ruang kamar yang indah dengan keindahan pantai biru yang yang berseberangan dengan Vila mewah miliknya.
Sepasang bola mata indah dengan hiasan bulu mata lentik yang senantiasa menghiasi kelopak mata indahnya, nampaknya masih setia terpejam meski tadi subuh sempat terjaga.
Al mengelus - elus lembut pipi putih nanti kenyal milik istrinya itu.
" Sayang, bangun ". Seru Al lembut dengan mengelus pipi Adinda.
Adinda yang merasa seperti ada yang sedang mengusik tidurnya, terpaksa harus membuka kedua kelopak mata indahnya.
Ya, akibat dari pertempuran dengan suaminya semalam benar - benar membuat tubuh Adinda menjadi masih terasa lelah dan begitu mengantuk, rasanya ia masih ingin tetap tidur lagi, namun sayang suaminya malah datang dan mengusik tidur nyenyak nya.
__ADS_1
" Sayang, kamu masih mengantuk hem?, kamu tidak ingin bangun untuk jalan - jalan keluar? ". Tanya Al.
" Emh... ". Lenguh Adinda. Dan ia pun mulai membuka kedua kelopak matanya.
Al tersenyum melihat wajah kusut istrinya.
Cup..... " Selamat pagi istriku ". Seru Al.
" Mas, mas sudah bangun? ". Tanya Adinda dengan suara serak khas bangun tidur.
" Mas sudah bangun tadi sayang ". Sahut Al.
" Maaf ya mas, Adinda siang bangunnya ". Sahut Adinda yang merasa tak enak hati.
Adinda yang berbicara sehabis bangun tidur, membuat kedua belah bibirnya menjadi sedikit manyun, dan hal itu benar - benar membuat Al merasa gemas padanya, dan ingin menciumi bibir itu.
Cup... cup... cup... Al mencium bibir Adinda secara bertubi - tubi.
" Ih mas, mas Al apa yang mas lakukan? ". Seru Adinda yang merasa geli dengan tingkah suaminya.
Cup... cup... cup... Al sama sekali tak menggubris seruan istrinya.
" Mas, ih, mas Al berhenti ". Seru Adinda lagi yang ingin segera lepas dari serangan ciuman yang bertubi - tubi dari suaminya.
" Salah kamu sendiri cup... kenapa kamu menggoda mas dengan bibir mu ini, jangan salahkan mas jika terus menciumi mu ". Sahut Al, dan ia pun baru berhenti dari aksinya.
Mendengar sahutan dari suaminya, membuat Adinda mengernyit tak percaya, apa maksudnya dari bibir nya yang menggoda.
" Mas, siapa yang menggoda, apalagi menggoda mas dengan bibir, kalau di ajak bicara setelah bangun dari tidur memang seperti ini bibirnya Adinda mas ". Sahut Adinda jujur.
" Ha.. ha.. ha.. ha, itu artinya kamu memang sengaja menggoda mas sayang, ha.. ha.. ha.. ". Sahut Al yang ingin mengerjai istrinya.
" Ih tidak mas, siapa yang ingin menggoda mas, Adinda tidak seperti itu kok ". Sahut Adinda yang merasa tak terima jika dirinya anggap menggoda.
" Ha..ha..ha..ha, sayang, sudah kamu tidak perlu mengelak dari ku sayang ". Sahut Al masih dengan tawanya.
" Apa jangan - jangan, kamu masih ingin kita mengulang kegiatan yang semalam hem? ". Goda Al dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Adinda membeliakkan kedua bola matanya tak percaya, suaminya sedari tadi terus menggodanya, semenjak kapan suaminya menjadi mesum seperti ini, padahal tuan Al yang dia kenal selama ini adalah tuan Al yang terlihat dingin dan sangat jarang tertawa, tetapi yang terjadi kini malah sebaliknya.
" Kamu tidak menjawabku sayang, itu artinya iya, kamu masih ingin mengulang kegiatan kita yang semalam, baiklah ". Goda Al lagi.
" Ti, tidak mas, apa yang mas ucapkan sedari tadi itu tidaklah benar ". Sahut Adinda yang merasa sedikit ketakutan.
Ya, Adinda merasa masih takut jika suaminya mengulang kegiatan bercintanya seperti semalam. Tidak ia tidak ingin di pagi hari ini kegiatan panas itu terulang lagi, apalagi tubuhnya saat ini masih terasa linu - linu.
Al tersenyum gemas melihat wajah istrinya yang terlihat cemas. Entah mengapa ia begitu sangat suka menggoda istrinya yang polos ini.
Dan Al kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri, dan...
Cup...... sebuah kecupan hangat telah mendarat di bibir istrinya.
" Kamu ini polos sekali ya, bagaimana mungkin aku menyentuhmu seperti kegiatan semalam sementara istriku ini masih lelah?, tidak aku tidak akan melakukannya di pagi ini sayang ". Sahut Al menjelaskan.
Adinda yang mendengar kalimat dari suaminya menjadi bernafas lega, ternyata suaminya hanya menggoda nya saja.
" Tapi besok, kamu harus bersiap - siaplah sayang, karena aku akan terus menggempur mu semalaman, ha.. ha.. ha.. ha.. ". Sahut Al tertawa.
Bersambung..........
__ADS_1
Jangan lupa dukung karya Author ya πππ.
πΏπΏπΏπΏπΏ