
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sinar mentari pagi telah berhasil menelusup dan mengusik mimpi indah seorang wanita yang berparas cantik dengan khas bulu mata lentiknya yang menghiasi kelopak matanya.
Ia mulai mengerjap - ngerjapkan kelopak mata indahnya itu dan mulai terlepas dari alam mimpinya. Ia mulai mengelus - ngelus perut besarnya yang saat ini tengah tertanam benih cinta dari sosok yang sangat di cintainya.
"Sayang, anak mommy tidak lama lagi kamu akan segera lahir nak, mommy sudah benar - benar tidak sabar menanti kehadiran mu ". Seru Adinda dengan mengelus perut besarnya.
Dan begitu terasa dari dalam perutnya kini sedang terjadi tendangan - tendangan kecil seolah bayi dalam perutnya itu memberi respon positif pada sentuhan - sentuhan yang Adinda berikan.
" Iya anak mommy, kamu juga tidak sabar ya nak juga ingin segera keluar, tapi belum saatnya sayang masih harus menunggu beberapa bulan lagi ". Sahut Adinda tersenyum pada sang jabang bayi.
" Sayang, kamu sudah bangun hem?, ini mas membawakan susu hangat untukmu ". Seru Al setelah dirinya masuk ke kamar dengan sebuah nampan kecil yang berisi segelas susu hamil.
" Iya mas, Adinda tidak lama ini bangun, terima kasih mas sudah membawakan susu untuk kami ". Sahut Adinda dengan senyuman manis di wajahnya.
Cup..... " Tentu sayang, segala yang terbaik akan selalu mas berikan untukmu dan juga anak kita ". Sahut Al dengan senyuman nya.
" Diminum dulu susunya sayang ". Perintah Al, dan Adinda pun mulai meminum susu buatannya hingga tandas.
" Bagaimana enak? ". Seru Al.
" Iya mas susunya sangat enak ". Sahut Adinda.
Cup..... Al mencium perut buncit istrinya, dipeluk nya perut sang istri yang saat ini sedang tumbuh benihnya.
" Anak daddy apa kabarnya sayang hem, daddy sudah tidak sabar menantimu lahir nak, cepatlah lahir sayang kedua kakak mu sedang menanti mu ". Serunya.
" Al ". Panggil seorang wanita yang sudah berdiri tegak di dekat mereka.
Adinda pun menoleh begitupun dengan Al yang ikut menoleh.
" Apa yang sedang kamu lakukan Al? ". Sungut wanita itu dengan wajahnya yang sudah terlihat memerah.
Deg.....
" Apa yang sedang kamu lakukan dengan wanita ini Al? ". Tanya wanita itu lagi.
Al pun berdiri dari posisinya dan menghadap wanita yang saat ini tengah tersungut - sungut kepadanya.
Wanita itupun langsung memeluk tubuh Al, ia memeluknya seolah ia tak ingin kehilangan dirinya.
" Al aku merindukanmu sayang, aku sangat merindukanmu, maafkan aku yang sudah meninggalkan mu, aku mencintai mu Al, sangat mencintaimu ". Seru wanita itu dengan tanpa melepaskan pelukan eratnya dari tubuh Al.
" Mas, si-apa wanita ini mas? ". Tanya Adinda dengan suaranya yang bergetar, namun yang ditanya hanya diam.
" Mas, katakan siapa wanita ini mas? ". Tanya nya lagi bahkan kali ini kedua matanya sudah mulai berkaca - kaca.
" Kamu bertanya siapa aku?, seharusnya aku yang bertanya siapa kamu?, aku ini adalah wanita yang dicintai Al, jadi jangan coba - coba kamu mengganggu kami ". Sahut wanita itu dengan nada tak sukanya.
Adinda pun turun dari ranjang, ia melangkah secara perlahan dengan memegangi perutnya.
" Mas tolong katakan padaku siapa wanita ini ". Seru Adinda lagi bahkan ia sudah menjatuhkan air matanya.
" Hey, wanita tidak tahu diri, kamu ini masih bertanya siapa aku, aku ini adalah kekasih Al, kami berdua saling mencintai, jangan ganggu kami, pergilah kamu dari sini ". Sahut wanita itu dengan marah.
" Tidak hiks..., kamu bohong, pasti kamu bohong, mas Al hanya mencintaiku sampai kapanpun mas Al akan tetap mencintaiku, aku ini istrinya hiks hiks... ". Seru Adinda dengan tangis pilunya.
" Dasar wanita tidak tahu malu, pergi kamu dari sini ". Teriak wanita itu dengan menarik tubuh Adinda keluar.
" Tidak hiks... mas hiks hiks... mas Al kamu mencintai ku kan mas hiks... mas...maaaas... ".
__ADS_1
β
" Hiks hiks... mas hiks hiks... kamu mencintai ku kan mas hiks hiks... ". Isak Adinda dengan matanya yang masih terpejam.
" Hiks hiks... hiks hiks... ".
Al mengerjapkan kedua kelopak matanya kala ia merasa terusik dengan suara yang terasa menganggu di indra pendengarnya.
" Mas hiks hiks... kamu mencintaiku kan mas hiks hiks... ". Isak Adinda dengan kondisi yang sama.
" Sayang, kamu kenapa? ". Seru Al setelah mendengar istrinya meracau dengan isakan nya.
" Mas hiks hiks... kamu mencintaiku kan mas hiks hiks... ".
" Sayang, sayang sadarlah ada apa denganmu?, iya mas mencintaimu, mas sangat mencintaimu, sayang Adinda bangunlah ". Seru Al lagi bahkan ia sudah duduk terjaga dengan rasa khawatirnya, namun Adinda masih tetap pada racauannya.
" Hiks hiks... hiks hiks... ". Isaknya.
" Sayang Adinda, bukalah matamu, bangun mas disini sayang, mas sangat mencintaimu ". Seru Al dengan menepuk - nepuk lembut pipi Adinda.
Akhirnya Adinda pun membuka kedua kelopak matanya, ia begitu tersentak kaget kala melihat wajah suaminya sudah berada di dekat wajahnya, hingga tidak lama dari itu dirinya pun menyadari dari mimpi kelamnya.
" Mas ". Serunya dan ia pun langsung memeluk suaminya.
" Hiks hiks... ". Isak Adinda, ia memeluk suaminya dengan begitu erat seolah ia tidak ingin melepasnya.
" Tenang lah sayang, tenang kamu bermimpi buruk hem? ". Seru Al lembut dengan mengelus kepala istrinya.
" Mas hiks hiks... kamu mencintaiku kan? hiks hiks... ". Sahutnya dengan tidak melepas pelukannya dari sang suami.
" Sayang, tentu mas mencintaimu, mas sangat mencintaimu ". Sahut Al.
" Adinda hiks... takut mas jika suatu hari nanti hiks... mas Al akan meninggalkan Adinda hiks hiks... ". Sahutnya pilu.
Cup... Al mencium kening istrinya dengan begitu dalam. Diusapnya lelehan air mata yang sudah hampir membasahi seluruh bagian wajah cantik istrinya.
" Sayang, dengarkan mas, mas sangat mencintaimu, sampai kapanpun akan tetap seperti itu, apapun yang terjadi percayalah mas tidak akan meninggalkanmu sayang, mas tidak bisa jika harus tanpamu, mas mencintaimu, aku mencintaimu Adinda ". Sahut Al dengan segala perasaan terdalamnya.
" Aku juga mencintaimu mas, Adinda sangat mencintai mas ". Serunya dengan meneteskan air matanya kembali.
Cup... Al mencium bibir Adinda, dan Adinda pun juga membalas ciuman suaminya. Cukup lama mereka berciuman hingga Adinda mulai melepasnya karena merasa mulai kehabisan nafas.
" Sudah jangan menangis lagi ya, pasti kamu sedang bermimpi buruk, sudah lupakan mimpi itu, mimpi itu hanyalah bunga tidur ". Serunya.
" Ayo kita lanjutkan lagi tidur kita sayang, ini masih tengah malam ". Seru Al, dan ia pun kembali membawa tubuh istrinya ke dalam pelukan hangatnya.
Kini sepasang suami istri yang sempat terjaga karena suatu tragedi mimpi buruk, kini telah kembali terlelap dan mulai meraih mimpi indahnya kembali.
*****
Pagi hari yang cerah ini dimana dihari ini seharusnya Andrew dan Vita menggunakan waktunya untuk bekerja tapi tidak. Setelah menemui tuannya kemarin Andrew sudah meminta ijin jika dirinya tidak akan bekerja selama satu hari karena ia dan Vita akan pergi ke Bandung untuk menemui keluarganya di sana.
" Kamu sudah siap? ". Tanya Andrew pada Vita yang sudah berada di teras rumahnya.
" Sudah tuan, saya sudah siap ". Sahutnya mantap.
" Nak Andrew, bapak titip Vita ya nak, jaga putriku selama pergi ke Bandung ". Pesan pak Budi.
" Iya Pak saya janji akan menjaga Vita, bapak tenanglah tidak usah khawatir ". Sahut Andrew.
" Ya sudah ayah, kalau begitu Vita dan tuan Andrew berangkat dulu ya yah ". Sahut Vita pada pak Budi, dan ia pun mulai meraih punggung tangan ayahnya untuk ia cium, begitupun dengan Andrew, ia juga melakukan hal yang sama seperti yang Vita lakukan.
" Assalamu'alaikum ". Sahut Vita.
__ADS_1
" Waalaikumsalam ". Sahut pak Budi.
Mobil mewah milik Andrew pun telah lepas mengendara dari halaman rumah Vita.
*****
" Mam, mam, mama ". Celoteh Damian pada kedua orang tuanya yang sedang sibuk berbenah.
" Iya anak mommy sebentar ya nak, mommy mau membantu daddy dulu ya ". Sahut Adinda.
Adinda begitu sibuk menyiapkan keperluan suaminya yang akan pergi ke kantor.
" Mas, sepertinya dasi mas masih tidak rapi, sini biar Adinda betulkan dulu ". Sahutnya pada sang suami.
" Sayang ". Panggil Al di sela istrinya sedang memperbaiki posisi dasinya.
" Iya mas ". Sahutnya.
" Usia mu kapan sih bisa sampai dua puluh satu tahun? ". Tanya Al pada sang istri.
Adinda tersenyum sekaligus bingung dengan pertanyaan suaminya.
" Memangnya ada apa sih mas? ". Sahutnya.
" Ya mas ingin segera melakukan acara untuk resepsi pernikahan kita, usia mu kan masih sembilan belas tahun lebih dua bulan ". Sahut Al yang sedikit pasrah.
" Sabar mas, kita harus menunggu dua tahun lagi, kita harus mengikuti aturan di negara ini mas ". Sahut Adinda lembut.
Dalam sejenak Al teringat sesuatu, Al teringat akan memori dimana istrinya Adinda melahirkan kedua putranya.
" Sayang maafkan mas ya, diusiamu yang sekarang ini dimana kamu bisa menikmati masa mudamu untuk bekerja dan menikmati waktu bersama dengan teman - teman seusia mu tapi kamu malah harus menjadi ibu dari dua orang anak ". Seru Al dengan rasa bersalahnya.
Adinda sudah selesai memperbaiki dasi suaminya.
" Mas, apapun yang terjadi Adinda tidak pernah menyalahkan apa sudah terjadi, dan mas Al berhentilah menyalahkan diri mas terus, lihatlah kedua putra kita, hadirnya mereka dalam hidup Adinda adalah suatu anugerah dan kebahagiaan yang sudah menjadi obat terampuh untuk mengobati luka terdalam yang pernah melukai hati Adinda, jadi berhentilah mas menyalahkan diri mas terus karena semua kesalahan mas telah terobati dengan tanggung jawab yang mas berikan dan juga hadirnya Aganta dan Damian ". Sahut Adinda yang berusaha memberikan pengertian kepada suaminya.
Al hanya bisa tersenyum, tidak ada sepatah katapun yang bisa ia ucap.
" Tapi tunggu, kenapa mas Al tiba - tiba menanyakan kapan usia Adinda sampai dua puluh satu tahun, bukankah tanpa resepsi sekali pun Adinda sudah menjadi istri mas ". Ujarnya.
" Haaaahh ". Al menghela nafasnya cukup dalam.
" Agar semua orang di luar sana tahu jika kamulah istri mas bukan Sintia ". Sahut Al.
" Apa?, jadi maksud mas, mas dan kak Sintia belum resmi bercerai? ". Sahut Adinda tersentak.
" Iya sayang, mas masih belum melakukan jumpa pers jika mas dan Sintia sudah bercerai, jadi orang - orang tahunya Sintia lah istri mas bukan kamu ". Sahut Al pada akhirnya.
Adinda merasa sangat kecewa dengan apa yang dikatakan oleh suaminya, meski sudah resmi bercerai secara agama dan hukum tapi tetap saja kan orang lain tahunya kakak sepupunya itulah istrinya.
" Kenapa mas, masih belum mengumumkan jika mas dan kak Sintia sudah bercerai? ". Tanya Adinda dengan raut wajahnya yang terlihat sedih.
" Maafkan mas sayang, karena pada saat itu Sintia baru selesai melahirkan tetapi mas malah menceraikannya, dan itu akan menjadi pertanyaan besar bagi publik nanti, sedangkan mas pada saat itu tidak memiliki alasan yang kuat untuk memberi penjelasan, tidak mungkin kan jika mas mengatakan pada semua orang jika mas menceraikan Sintia karena dia sudah menipu keluarga Georgino dan mengandung anak dari pria lain, itu akan sangat mencoreng nama baik keluarga Georgino dan juga bi Nadia, mas hanya tidak ingin jika sampai ada orang - orang yang tidak bersalah menjadi bulan - bulanan wartawan ". Sahut Al menjelaskan.
Adinda langsung mendongakkan wajahnya, ia yang awalnya merasa sedih dan kecewa kini malah merasa sangat terharu dan bangga pada suaminya, ternyata suaminya menutupi semua kenyataan ini hanya demi untuk menjaga nama baik bibinya, seharusnya Adinda bisa menyadari jika suaminya Al bukanlah orang suka melibatkan orang yang sama sekali tidak bersalah. Dan Adinda pun langsung memeluk tubuh suaminya.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, karena dukungan kalian adalah semangat bagi Author untuk tetap melanjutkan karya ini.
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1