
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Malaysia
Sepasang suami istri dengan kedua anak kembarnya nampak sudah berada siap di sebuah rumah yang dituju, sebuah rumah yang tidak terlalu mewah namun cukup besar dan nyaman di tempati.
" Mas, memangnya benar disini rumahnya pacarnya kak Sintia? ". Tanya Adinda.
" Iya sayang, memang benar disini ". Sahut Al.
" Daddy daddy, nih lumah na capa, teunapa Mian dak tau? ( daddy daddy, ini rumahnya siapa, kenapa Damian tidak tahu?) ". Damian ikut bertanya karena ia merasa ini adalah pertama kalinya ia melihat rumah ini.
" Ini rumah teman daddy boy ". Sahut Al berbohong.
" Memenna daddy dauh ceutalli yah, Mian alush shawat shawat ( temannya daddy jauh sekali ya, Damian harus naik pesawat) ". Ujar Damian yang memang benar adanya.
Al tersenyum mendengar tanggapan dari putranya, ternyata putranya ini tahu tentang waktu dan jarak meski itu hal yang sederhana namun sangat bagus untuk perkembangan pemikiran anak kecil seusianya.
" Pintarnya anak daddy cup... ". Puji Al.
" Mas, ini rumahnya tertutup, apa mungkin orangnya keluar? ". Tanya Adinda lagi.
" Aku juga tidak tahu sayang, tapi sepertinya ada di dalam, buktinya ini masih banyak sandal di sini ". Sahutnya.
Tak ingin berlama - lama, Al pun harus mengetuk pintu yang sudah ada di depannya.
Tok... tok... tok...
Tok... tok... tok...
Rupanya pintu masih tak kunjung dibuka.
Tok... tok... tok.... Al mengetuknya lagi hingga...
Ceklek..... pintu pun dibuka, dan nampak lah sesosok wanita paru baya.
" Cari siapa y... ". Kalimat bu Mariam terhenti kala ia melihat tamu yang datang ke rumahnya, tidak atau lebih tepatnya melihat kedatangan Adinda.
" Loh, kamu Adinda kan nak, saudara sepupu nya Sintia? ". Tanya bu Mariam tiba - tiba.
" Iya bu, assalamualaikum bu ". Sahut Adinda dengan senyumannya.
" Waalaikumsalam ". Sahut bu Mariam.
Bu Mariam menatap kembali sosok tamu yang datang, benar sedari awal bu Mariam sudah melihat sosok pria tinggi di depannya. Jika yang datang kemari adalah Adinda maka laki - laki yang ada di depannya ini pastilah suaminya, yang bernama Al, orang yang telah memberikan hukuman pengasingan untuk Sintia.
" Ibu pasti sudah tahu siapa saya kan, saya ingin bertemu dengan Sintia dan juga anak ibu ". Ucap Al tiba - tiba langsung pada intinya.
" Iya, mereka ada di dalam nak ". Sahut bu Mariam.
Sebenarnya di dalam lubuk hatinya, bu Mariam merasa takut. Takut jika ada hal buruk yang akan terjadi di rumah ini.
" Ayo, mari masuk ". Ajaknya lembut.
__ADS_1
" Siapa yang datang bu? ". Tanya seorang pria yang berasal dari dalam rumahnya, siapa lagi pria itu jika bukan Kelvin.
Kelvin pun terus melangkah mendekati pintunya hingga ia melihat adanya sesosok pria tinggi dan gagah dengan menggendong seorang bocah kecil yang bisa dibilang bak copy paste wajah pria yang menggendongnya.
Dan sesaat setelah itu Kelvin melihat ke arah wanita yang ada di samping tubuh pria itu, dan...
Deg... tubuh Kelvin langsung membeku, jantungnya langsung berdetak tak karuan. Kelvin begitu sangat terkejut kala ia melihat sosok wanita yang sangat ia tahu betul orangnya.
" Kenapa kamu terkejut seperti itu? ". Ujar Al tiba - tiba.
" Ya iyalah kamu terkejut, kamu kan orang yang sudah bersekongkol dengan Sintia untuk menipu ku dan juga menyakiti wanita di sampingku ini ". Lanjut Al, bahkan tatapan nya sudah menajam.
Kelvin tak mampu menyahut, ia merasa malu, menyesal dan takut dalam waktu bersamaan. Jadi ini yang namanya tuan Alexander, ternyata memang benar, dia adalah sosok yang dingin dan terlihat sedikit menyeramkan.
" Aku tidak memiliki banyak waktu disini, aku mau menemui Sintia ". Ucap Al lagi langsung pada intinya.
" Ya sudah, kalau begitu mari masuk ". Sahut Kelvin setelah cukup lama terdiam.
Keluarga kecil itupun masuk. Sepanjang langkahnya, Al tetap merangkul tubuh sang istri dan juga menggendong putranya Damian, sedangkan Aganta, ia begitu tenang berada di gendongan mommy nya.
" Duduk dulu nak disini ". Seru bu Mariam pada Adinda dan juga Al.
" Terima kasih bu ". Sahut Adinda.
Kelvin pun tak ingin berlama - lama, ia segera menemui Sintia yang saat ini sedang bermain dengan putranya Kenzie.
" Daddy liat, tu ada lobot - lobot na ( daddy lihat, itu ada robot - robot nya) ". Seru Damian dengan mengarahkan pandangannya pada sebuah robot mainan yang diletakkan di dekat televisi.
" Iya, itu ada robotnya, kenapa boy? ". Sahut Al bertanya.
" Dak apa daddy, lobot na cama peulti puna Mian ( tidak apa daddy, robotnya sama seperti punya Damian) ". Sahut Damian.
Setelah hampir lima menit lamanya keluarga kecil Al menunggu, kini dari balik tembok rumah itu nampaklah Sintia dengan menggendong seorang bocah kecil, siapa lagi jika bukan Kenzie, dengan di dampingi Kelvin di sampingnya.
Sebenarnya di dalam lubuk hatinya Sintia merasa takut melihat kedatangan Al. Ia takut jika Al melakukan sesuatu yang dapat membuat ia dan juga Kenzie menjadi terpisah.
Dalam gendongan sang mama, Kenzie melihat dua orang anak kecil yang sama seperti dirinya yang sedang duduk di pangkuan kedua orang tuanya.
Ketiga bocah itu saling menatap satu sama lain. Entah mengapa Kenzie malah merasa malu pada kedua anak kecil yang sedang menatapnya.
" Ada apa Al kamu datang kemari? ". Tanya Sintia setelah cukup lama dirinya diam.
" Aku ingin kamu dan pria di sampingmu ini meminta maaf pada istriku dan juga kedua anakku, jika kalian tidak mau melakukannya, jangan salahkan aku jika aku membawamu kembali hari ini juga ke tempat pengasingan ". Ucap Al langsung tanpa basa basi, namun hatinya masih tak tega pada Kenzie.
Kenzie yang mendengar sebuah kalimat jika mamanya akan dibawa pergi merasa sangat takut, dan bocah kecil itupun langsung memeluk mamanya.
Kenzie takut, teramat sangat takut jika kejadian kemarin akan terulang kembali.
" Kenzie, tenanglah nak ". Seru Sintia menenangkan.
Sintia tahu jika putranya Kenzie bersikap seperti ini, pastilah karena ia takut jika dirinya pergi lagi.
" Danan peuldi ma, Ezie dak mau ama peuldi ladi ( jangan pergi ma, Kenzie tidak mau mama pergi lagi) ". Seru Kenzie dengan tetap memeluk sang mama.
" Iya sayang mama tidak akan pergi nak, mama akan disini menemani Kenzie ". Sahut nya menenangkan.
__ADS_1
" Tapi tata um tu ama mau bawa peuldi ( tapi kata om itu mama mau dibawa pergi) ". Sahut Kenzie lagi takut - takut pada Al.
Adinda yang menyaksikan ketakutan anak itupun merasa sangat sedih. Kasihan sekali jika anak sekecil itu sudah harus merasakan masalah seperti ini.
" Mas ". Seru Adinda tiba - tiba dengan menggenggam tangan sang suami.
" Sudahlah mas, maafkan saja kak Sintia, Adinda ingin ikut mas kesini karena Adinda ingin melihat anak kak Sintia mas, bukan membuat kak Sintia meminta maaf ". Seru Adinda lagi.
" Tidak bisa sayang, mereka harus meminta maaf padamu, karena perbuatan jahat merekalah kamu sampai harus menderita ". Sahut Al yang masih tak terima.
" Tapi mas, bukan seperti ini juga caranya, Adinda tidak ingin anak kak Sintia yang tidak tahu apa - apa harus menjadi korban disini mas, apalagi dia masih sangat kecil ". Sahutnya lagi, bahkan sudah nampak raut kesedihan di wajah Adinda.
" Itu tergantung mereka sayang, kalau mereka sayang pada anak mereka, mereka harus meminta maaf ". Ucap Al lagi.
Kali ini Al sudah tidak bisa di luluhkan oleh siapapun dan dengan cara apapun.
" um um danan bawa ama na Ezie peuldi, Ezie dak mau ama peuldi ( om, om jangan bawa mama nya Kenzie pergi, Kenzie tidak mau mama pergi) ". Mohon Kenzie, bahkan kedua bola mata bocah kecil itupun sudah nampak berkaca - kaca.
Sebenarnya Al merasa tak tega melihat Kenzie sampai memohon seperti ini, namun harus bagaimana lagi, hanya ini satu - satunya cara agar Sintia dan juga Kelvin mau meminta maaf pada istrinya dan tidak mengulangi kejahatan yang sama lagi.
" Maafkan aku dan juga Sintia, kami tahu kami sudah melakukan kejahatan yang sangat besar, tapi kali ini aku mohon padamu, maafkan aku dan juga Sintia Adinda, tuan Al ". Mohon maafkan Kelvin secara tiba - tiba.
" Iya, aku minta maaf juga Al, Adinda, aku janji aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, karena aku tidak ingin terpisah dengan putraku lagi ". Mohon maaf Sintia dengan segala penyesalan nya.
" Adinda sudah memaafkan kak, kakak sekar... ".
" Apa jaminan nya jika kalian tidak akan mengulangi kejahatan yang sama lagi? ". Potong Al.
" Kamu boleh memenjarakan ku Al, kalau sampai aku melakukan kejahatan yang sama ".
" Bagus kalau begitu aku pe... ".
" Tamu, tamu capa, atu Mian ( kamu, kamu siapa, aku Damian) ". Ucap Damian tiba - tiba sehingga memutus kalimat sang daddy.
Ya, dari semenjak awal Damian melihat Kenzie, ia memang ingin sekali mengenal sosok anak kecil yang sama seperti dirinya, namun nampaknya si kecil Kenzie terlihat malu - malu.
" Ih Mian, daddy tan ladi cala cala, tamu na diam, danan dadu daddy cala cala ( Ih Damian, daddy kan lagi berbicara, kamu nya diam, jangan ganggu daddy berbicara) ". Protes Aganta pada sang kembaran yang hampir selalu ikut berceloteh ketika ada orang yang berbicara.
" Dak pa pa, tan atu inin teunal ( tidak apa apa, kan aku ingin kenal) ". Sahut Damian yang tak kalah ketus dari Aganta.
" Iya tan myh, Mian buleh tan myh talo teunal cama tu ( iya kan my, Damian boleh kan my kalau kenalan sama itu) ". Ujar Damian bertanya dengan tangan mungilnya yang menunjuk Kenzie.
" Iya nak tentu boleh, Damian sama Aganta boleh berkenalan, bahkan anak kecil yang ada di pangkuan mommy nya itu, saudaranya Aganta dengan Damian sayang ". Sahut Adinda menjelaskan.
" Wah, beunal tah, dadi tu su da la na Mian, yeayy... ( wah, benarkah, jadi itu saudaranya Damian, yeayy... ". Damian begitu sangat gembira kala ia tahu jika bocah kecil yang ingin ia kenal ternyata tidak adalah saudaranya.
Dan benar saja, akibat dari celotehan Damian dan juga Aganta, membuat suasana ruang tamu yang awalnya menegangkan mendadak berubah sejuk seolah tak terjadi masalah apapun.
Bu Mariam tadi sempat meneteskan air mata, dan juga Kelvin dan Sintia yang tadi sempat merasakan suasana mencekam, kini mendadak hilang begitu saja akibat ulah dari si kecil Damian dan juga Aganta.
Sungguh tak pernah disangka, jika pria kaku dan dingin seperti Al, ternyata memiliki anak - anak yang begitu lucu dan menggemaskan.
Bersambung..........
Untuk kakak semua terima kasih ya atas masukannya kemarin, semangat membaca.
__ADS_1
ππππππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏ