
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Mobil mewah hitam itu telah sampai di pelataran rumahnya. Rasa rindu ingin bertemu dengan sang pujaan hati dan juga kedua bocah mungil nya sudah tak bisa dibendung lagi, padahal dirinya setiap hari selalu berinteraksi dengan mereka namun tetap saja tak dapat melawan kerinduan itu, dan satu satunya obatnya adalah bertemu dengan sang istri dan juga kedua putra mungil nya.
Al melangkah tergesa - gesa memasuki ruangan rumahnya.
" Sore tuan ". Seru bu Ika kala melihat tuan Al nya telah pulang.
" Sore bi, istri dan anak - anakku di kamar? ". Sahut Al bertanya yang membenarkan.
" Iya tuan, nyonya dan kedua tuan muda sedang di kamar ". Sahut bu Ika.
Dan sepasang kaki jenjang milik sang tuan Alexander itu masih terus melangkah hingga tibalah ia di depan pintu kamarnya.
Ceklek..... pintu kamar pun dibuka. Nampak di sana kedua putranya yang sudah terlihat segar dengan bedak bayi yang banyak menempel di wajah menggemaskan nya.
Si kecil Aganta dan juga Damian nampak fokus dengan tayangan televisi yang ada di depannya. Sedangkan sang istri Adinda sedang meletakkan kembali beberapa perlengkapan bayi di lemarinya.
" Sayang ". Panggil Al, dan ia pun langsung bergegas menghampiri sang istri.
" Mas, mas sudah datang ya? ". Sahutnya tersentak namun menyimpan rasa kecewa di dalam hatinya.
" Sayang aku merindukanmu cup... ". Seru Al dengan memeluk istrinya dan mencium kening sang istri.
" Mas, maaf ya Adinda tidak menyambut mas pulang dari kerja ". Sahut nya, dan Adinda pun langsung punggung tangan suaminya.
Al memeluk tubuh istrinya.
" Adinda baru selesai memandikan anak - anak tadi, jadinya tidak tahu kalau mas datang ". Imbuhnya lagi.
Dan Al mulai melepas rengkuhannya dari tubuh mungil sang istri.
" Tidak apa - apa sayang, tapi kenapa anak - anak baru selesai mandi hingga se sore ini, biasanya kan satu jam sebelum aku datang mereka biasanya sudah mandi? ". Tanya Al.
" Iya Adinda memandikan anak - anak sampai larut sore seperti ini, soalnya mereka tadi sibuk bermain dengan opa Herdi, oma Indah, dan juga ontinya tadi mas ". Sahut Adinda yang menjelaskan tentang yang dilakukan oleh kedua putranya.
" Paman Herdi kesini? ". Tanya Al yang cukup terkejut.
" Iya mas, tadi paman, onti, dan juga saudara sepupu perempuan ku datang kemari, tapi masih ada satu orang lagi yang tidak ikut anak pertama paman Herdi, kakak sepupu ku yang melanjutkan pendidikan S2 nya di Canada ". Sahut Adinda menjelaskan.
" Ya Tuhan sayang, kenapa kamu tidak cerita dari awal kalau paman akan datang kemari? ". Sahut Al dengan raut tak habis pikirnya dengan sang istri.
" Maaf mas bukannya Adinda tidak mau memberitahu, satu jam setelah mas pergi paman Herdi baru memberitahu Adinda kalau ingin datang kemari, dan Adinda juga tidak ingin mengganggu mas yang sedang bekerja, jadinya Adinda memutuskan untuk tidak memberitahu mas ". Sahut Adinda takut - takut.
" Haahh ". Al menghela nafasnya. Dan tubuh kekarnya kini kembali memeluk tubuh sang istri.
Sedangkan Aganta dan juga Damian yang sebelumnya sempat momfokuskan sepasang manik matanya melihat tayangan kartun kesayangan mereka, kini malah beralih menatap sang daddy dan juga mommy mereka yang sedang berpelukan.
Hanya sepersekian detik kedua bocah kembar itu menatap orang tuanya, hingga si kecil Aganta memutuskan untuk tetap melanjutkan menonton kartun lucu yang disukainya. Namun beda halnya dengan Damian, jika sang kembaran Aganta memilih kembali fokus pada tayangan kartun nya, Damian malah bangkit berdiri, dan mulai melangkahkan sepasang kaki mungilnya itu dengan tertatih - tatih, entah apa yang ingin dilakukan bocah gembul itu.
" Dy dy, myh myh, mian au dadu ices ( daddy, mommy, Damian mau baju princess) ". Celoteh Damian mengadu pada sang daddy dan juga mommy nya, bahkan tangan mungilnya menarik - narik kain celana sang daddy.
Sontak saja hal itu membuat Al dan juga Adinda menghentikan aktivitas pelukannya secara mendadak.
__ADS_1
" Dy dy, myh myh, mian au dadu ices ( daddy, mommy, Damian mau baju princess) ". Seru Damian lagi.
" Ada apa nak? ". Respon Adinda karena nampaknya putra mungilnya itu nampak terlihat serius.
Al pun meraih tubuh mungil putranya itu dan membawanya dalam gendongannya.
" Anak daddy kenapa hem? ". Tanya Al dengan mengelus pipi gembul Damian.
" Dy dy mian au dadu ices ( daddy Damian mau baju princess) ". Serunya berharap pada sang daddy.
Entah semenjak kapan Aganta telah berlalu dari posisi duduknya, kini bocah gembul itu ada di dekat mommy nya.
" Myh myh, en dong ( mommy gendong) ". Seru Aganta dengan mengangkat kedua tangan mungilnya, sebagai pertanda jika bocah mungil itu ingin segera di gendong oleh sang mommy.
Al yang tadi sempat ingin menjawab keinginan Damian, kini mendadak terhenti kalimatnya karena kedatangan Aganta.
Cup... " Ada apa anak mommy? ". Sahut Adinda dengan mengelus kepala Aganta, namun Aganta tak menyahut dan malah menatap Damian.
" Dy dy, mian au dadu ices dy dy ( daddy, Damian mau baju princess daddy) ". Seru Damian pada sang daddy bahkan dengan raut memelas nya.
Al dan Adinda seketika itu membelalakkan kedua bola matanya, apa tadi putranya Damian ingin baju princess, itu kan baju perempuan, yang benar saja.
" Mian, dak oyeh au dadu ices ( Damian tidak boleh mau baju princess) ". Sentak Aganta pada sang kembaran.
Ya, Aganta sudah tahu sejak tadi jika saudara kembarnya itu ingin memiliki baju yang sama seperti baju princess dalam kartun yang mereka tonton tadi.
" Dy dy, mian au dadu ices dy dy ( daddy, Damian mau baju princess daddy) ". Seru Damian, bahkan bocah yang baru berumur satu tahun itu sudah merengek - rengek ingin memiliki baju princess.
" Sayang Damian, baju princess itu baju untuk anak perempuan nak, Damian kan anak laki - laki, jadi Damian pakai baju khusus untuk anak laki - laki saja nak ". Sahut Adinda memberi pengertian dengan mengelus lembut pipi Damian.
" Dak au, mian au dadu ices hwa... ". Sahut Damian, bahkan bocah mungil itu sudah menjerit menangis.
Adinda merasa sangat khawatir melihat putranya menangis seperti ini, tapi jika dituruti tidak mungkin kan?.
" Hwa... mian au dadu ices hwa...". Damian semakin menangis kencang karena keinginannya tak kunjung disetujui oleh sang daddy dengan mommy nya.
" Mas, mas menggendong Aganta dulu ya, biar Adinda yang menggendong Damian! ". Serunya pada sang suami.
" Aganta, Aganta dengan daddy dulu ya nak? ". Pintanya, dan Aganta pun mengangguk menuruti keinginan sang mommy.
Adinda pun menyerahkan tubuh Aganta pada suaminya, lalu setelah itu ia meraih tubuh Damian.
" Myh myh, mian au dadu ices hwa..... ". Adunya dengan masih setia dengan isakannya.
" Tup.. tup.. tup.. anak mommy yang tampan tenang ya nak ". Seru nya dengan menepuk - nepuk lembut punggung mungil putranya.
" Damian, sekarang mommy ingin bertanya pada Damian, Damian anak mommy ini tampan atau tidak? ". Tanya Adinda yang berusaha memancing putranya.
Damian yang awalnya menangis kini mulai berhenti dari isakannya.
" Anat tapan ( sangat tampan) ". Sahut Damian. Ya, bocah mungil itu memang sangat senang jika dikatakan tampan.
" Damian anak tampan, nak baju princess itu baju untuk anak perempuan sayang, dan anak yang memakai baju princess itu akan terlihat cantik nantinya, kalau Damian pakai baju princess Damian tidak akan tampan lagi sayang, yang ada Damian akan menjadi anak cantik karena memakai baju anak perempuan, memangnya Damian mau kalau tampannya Damian sampai hilang hanya karena memakai baju princess? ". Adinda berusaha memberikan pengertian pada putranya.
Untuk sejenak Damian terdiam, bocah mungil itu nampak memikirkan perkataan sang mommy, sebelum akhirnya ia pun menggeleng sebagai tanda penolakan.
__ADS_1
" Dak myh, mian dak au ( tidak mommy, Damian tidak mau) ". Sahutnya dengan menggelengkan kepala.
" Nah kalau begitu, Damian jangan memakai baju princess ya nak, baju princess itu untuk anak perempuan ok? ". Seru Adinda, agar Damian mau mengikuti didikannya.
" Ote myh ( oke mommy) ". Sahut Damian.
Al yang menyaksikan bagaimana istrinya Adinda memberikan pengertian dan menenangkan putranya yang sedang rewel itu benar-benar telah membuat hatinya menghangat.
Al sangat kagum dan juga bangga pada istri mungilnya yang telah begitu sabar mengurus kedua anaknya. Dan Al sangat bersyukur akan hal itu.
" Terima kasih ya Allah, karena Engkau telah menghadirkan seorang wanita yang begitu baik dan penuh kasih sayang dalam hidup ku, terima kasih ". Batin Al bersyukur.
*****
Malam sejuk telah menyelimuti di hampir setiap celah kota di ibu kota. Rutinitas makan malam pun tak pernah dilewatkan oleh sepasang suami istri yang sudah empat bulan ini menjalani bahtera rumah tangganya.
Kini Andrew dan juga sang istri Vita sedang menikmati makan malamnya, dan tak lupa malam ini sang mama Clara juga ikut menemani makan malamnya.
Meski tanpa ditemani oleh papa Young, kegiatan makan malam pun berlangsung hikmat. Hingga hampir dua puluh menit mereka meluangkan waktu untuk makan malam bersama, barulah mereka bertiga selesai dari kegiatan makannya.
" Ma, malam ini mama ingin menginap disini? ". Tanya Vita pada sang mama mertua.
" Sepertinya iya nak, mama akan menginap disini malam ini, sebenarnya mama ingin pulang sendiri ke rumah, tapi papa kalian melarang mama pulang malam ini, karena besok pagi papa kalian akan datang kesini ". Sahut Clara menjelaskan.
" Andrew? ". Panggil Clara.
" Iya ma ". Sahut Andrew.
" Mama ingin, besok sore setelah kamu pulang dari kerja, mama ingin kamu memeriksa menantu mama ini ke dokter kandungan ". Seru Clara langsung pada intinya.
Deg..... Vita sangat terkejut bukan main. Apa maksud dari mama mertuanya yang menyuruh agar dirinya diperiksa ke dokter kandungan?.
" Ma, maksud mama Vita hamil? ". Tanya Andrew dengan rasa terkejutnya.
Mama Clara tersenyum. ". Mama sendiri masih belum tahu pasti nak, tapi setelah beberapa minggu ini mama memperhatikan Vita, sepertinya istrimu ini kemungkinan besar sedang hamil ". Sahut Clara dengan masih tersenyum.
" Sayang kamu hamil sayang?, aduh terima kasih sayang akhirnya kamu hamil ". Seru Andrew bahagia dengan langsung memeluk istrinya.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari belah bibir Vita. Ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mama mertuanya, bisa saja kan dugaan sang mama mertua salah.
" Sayang, besok aku akan mengantarmu ke rumah sakit, aku sudah tidak sabar ingin melihat baby kita di perutmu sayang ". Lanjut Andrew, Ia benar - benar sangat bahagia.
" Vita kenapa kamu diam nak?, kamu masih ragu jika kamu benar - benar hamil? ". Tanya sang mama.
" Iya ma ". Sahut Vita setelah cukup lama dirinya diam.
Andrew pun mulai menguraikan pelukan nya dari sang istri.
" Sayang kamu tidak perlu ragu, aku yakin jika yang mama katakan itu benar, buktinya kamu sering menginginkan sesuatu dan itu harus dituruti, dan satu lagi, kamu kan sudah dua bulan ini tidak datang bulan " Jelas Andrew dengan senyuman kebanggaan nya.
" Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, terima kasih. Jangan lupa like dan beri komentarnya ya.
ππππππππππ
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ