Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Kembali Ke Rumah 2


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Suasana tenang kini sudah mulai terasa. Kejadian yang begitu menguras emosi dan juga air mata telah berlalu karena sebab suatu keputusan yang menjadi akhir dari perselisihan keluarga.


Kini Al, Adinda dan juga si kembar telah berada di dalam pesawat pribadinya, tak lupa mereka juga membawa bu Nadia untuk ikut bersama dan kembali tinggal di Jakarta.


Ya, semenjak Sintia dibawa ke tempat pengasingan yang ada di Kalimantan, Adinda sudah memutuskan untuk membawa bibi kandungnya itu untuk tinggal bersamanya lagi.


" Mam, mam, mam, mam ". Seru Damian dengan menyentuh dagu sang mommy, kemudian bayi mendusel - duselkan wajah di dada sang mommy yang tertutup hijab itu.


" Ada apa nak Damian haus?, Damian ingin minum ASI?, ya sudah ayo ". Seru Adinda pada sang putra dan ia pun mulai menyusui nya.


Sedangkan Aganta sedang terlelap di gendongan sang nenek, bayi gembul itu lebih awal terlelap sedangkan Damian seperti nya masih baru akan tidur.


" Bi, apa bibi tidak lelah memangku Aganta sedari tadi? ". Serunya pada sang bibi.


" Tidak nak, bibi sama sekali tidak lelah, malah bibi sangat senang kalau dia mau bibi gendong ". Sahut bu Nadia dengan mengelus kepala Aganta.


Al hanya diam, sedari tadi dirinya tidak terlalu banyak bicara, saat ini Al hanya lebih fokus untuk menjadi pendengar saja.


" Nak Al ". Panggil bu Nadia.


" Iya bi ". Sahut Al.


" Kira - kira, berapa lama anak bibi diasingkan nak? ". Bi Nadia mencoba memberanikan diri bertanya.


Al terdiam sejenak.


" Sampai dia sadar dan tidak mencoba mencelakai istri dan juga anak - anakku ". Sahut Al mantap memikirkan bagaimana perasaan bu Nadia.


Bu Nadia sangat sedih dan hanya bisa pasrah, tapi setidaknya diasingkan di daerah lain masih lebih manusiawi daripada di penjara dan bisa saja putrinya itu mendapat kekerasan disana.


" Bi Nadia tetap bisa menjenguknya setiap satu bulan sekali ". Imbuh Al diakhir kalimatnya.


Dan benar saja, sebuah senyuman terbit di wajah bu Nadia, meski dirinya tak dapat melihat sang putri setiap hari tetapi setidaknya pertemuan yang hanya satu bulan satu kali itu membuat bu Nadia bisa memastikan jika putrinya masih aman - aman saja.


*****


Suasana ceria nampak mengiringi kehidupan keluarga kecil antara sepasang ayah dengan putra kecilnya. Lama tak tersiar kehidupannya, ternyata ia begitu sangat menikmati kehidupan barunya di negara tetangga bersama bayi kecilnya dan juga sang ibu. Ya disinilah dia berada di negeri Malaysa.


Kelvin nampak terlihat sangat senang memainkan ayunan bayi yang sedang di duduki putra kecilnya. Ya dialah Kelvin Handoko yang begitu asyik sedang memanjakan bayi gembulnya Kenzie Handoko di dalam ayunan.


" Ayo ayo lagi ". Kelvin mendorong ayunan nya kemudian melepasnya secara perlahan.


Kenzie tertawa cekikikan kala ayunannya bergerak maju mundur seolah seperti melayang.


" Lagi papa lepas ya ". Seru Kelvin lagi dan melakukan hal yang sama seperti tadi.


Dan lagi - lagi Kenzie tertawa kegirangan karena dirinya seperti diayun - ayunkan di udara.


" Sudah ya anak papa besok lagi ya mainnya ". Seru Kelvin dan ia pun berusaha menggendong tubuh putranya, namun sayang Kenzie menolaknya, bayi gembul itu malah memberatkan tubuhnya di ayunannya.


" Aduh sayang, besok lagi ya mainnya nak, papa lelah besok lagi saja ya, papa janji besok kita akan lebih lama lagi mainnya oke!!! ". Sahut Kelvin pada sang putra.


Namun Kenzie masih tetap pada pendiriannya, bayi gembul itu masih setia ingin menempel pada mainan baru yang dibelikan oleh papanya itu.


Kelvin sudah tidak ingin bernego lagi pada putra kecilnya karena itu hanya akan percuma saja. Ia langsung meraih tubuh gembul putranya itu dan membawanya dalam gendongannya.


" Mam, mam, mam ". Protes Kenzie dan ia ingin kembali pada mainannya.


" Besok lagi ya nak, itu coba lihat nenek sudah membuatkan sesuatu untuk Kenzie ". Seru Kelvin dan ia pun terus melangkah menuju dapur.


" Pagi nek, nenek membuatkan Kenzie bubur ya? ". Seru Kelvin.


" Aduh cucu nenek sudah mainnya nak? ". Sahut bu Mariam pada sang cucu.


" Mam, mam, mam, mam ". Sahut Kenzie dengan menggerak - gerakkan kedua tangannya aktif seolah bayi gembul itu tak sabar ingin memakan buburnya.


" Iya, aduh cucu nenek ini semangat sekali ya ". Sahut bu Mariam.

__ADS_1


" Ayo Kelvin ". Ajak bu Mariam pada sang putra.


Kini mereka bertiga sudah duduk santai di ruang tamunya. Karena buburnya sudah tidak lagi panas, bu Mariam pun mulai menyuapi cucunya.


" Bismillahirrahmanirrahim, buka mulutnya nak, aaaa, aem ". Satu suapan sudah berhasil masuk ke mulut mungil Kenzie. Bayi gembul itu menepuk - nepuk tangannya karena begitu girang sudah mulai melakukan sarapan paginya.


Cup..... Kelvin mencium pucuk kepala putranya.


" Semangat makannya ya nak, biar kamu cepat tumbuh besar ". Seru Kelvin dengan senyuman nya.


" Aaa, aem, enak nak? ". Seru bu Mariam dengan tetap menyuapi cucunya.


Kenzie benar - benar sangat bahagia, bayi gembul itu menikmati sarapannya dengan penuh kegembiraan.


*****


Sinar mentari sudah nampak condong menuju ufuk barat yang menandakan jika waktu telah memasuki sore hari. Mobil hitam mewah itu begitu leluasa melewati jalanan ibu kota yang begitu ramai lancar.


Bangunan - bangunan mewah yang menjulang tinggi begitu sangat memanjakan indra penglihatan bagi siapa saja yang melihatnya. Ya kini bu Nadia sudah mulai melihat kembali indahnya kota Jakarta, kota yang sudah hampir sembilan bulan ini tidak ia pijak.


Dengan kecepatan sedang, pak Joko mengendarai mobil mewah milik tuan Al nya, hingga sampailah mobil mewah itu pelataran kediaman mewah sang tuan.


" Mam, mam, mam, ba, ba, ba ". Celoteh Damian setelah sampai di depan rumahnya.


" Iya putra mommy, kita sudah sampai ". Seru Adinda yang mencoba menyahuti celotehan putranya.


Damian terlihat begitu senang telah sampai di kediamannya, ternyata bayi gembul yang baru berusia delapan bulan itu sudah sangat mengenali dimana dirinya dibesarkan.


Disaat mereka akan turun dari mobil mewahnya tiba - tiba saja Aganta terbangun dari tidur lelapnya, entahlah sepertinya hari ini putra tuan Al yang sedang dalam gendongannya itu lebih banyak tidur daripada saudara kembarnya Damian.


" Oh boy, kamu sudah bangun? ". Tanya Al pada sang putra.


Aganta hanya melihat sekilas pada sang daddy dan setelah itu ia menyandarkan kembali kepalanya pada dada bidang daddy nya.


Cup..... " Kamu masih lesu ya nak, ya sudah kita lanjutkan tidur di dalam ya ". Seru Al dan ia pun keluar dari mobil mewahnya.


" Pak Joko, bapak mau langsung pulang? ". Tanya Adinda sebelum dirinya belum benar - benar masuk ke dalam.


" Iya nyonya saya rasa saya akan segera kembali ke rumah utama ". Sahut pak Joko.


" Turuti saja keinginan istri saya pak ". Timpal Al.


" Baiklah tuan nyonya ". Sahut pak Joko.


Dan mereka pun memasuki rumah mewah itu. Dalam langkahnya memasuki rumah, jujur saja bu Nadia merasa sangat malu dan cemas. Setelah apa yang dilakukan oleh putrinya Sintia membuat bu Nadia tidak memiliki muka jika harus bertemu dengan mantan majikan, tidak lebih tepatnya adalah mantan besan nya.


Bu Nadia menghentikan langkahnya sejenak.


" Ada apa bi? ". Seru Adinda.


" Nak, di dalam ada tuan dan nyonya? ". Tanya bu Nadia cemas.


Adinda tersenyum melihat bibinya.


" Ada apa?, bibi merasa sungkan jika harus bertemu dengan mama dan papa? ". Sahutnya.


" Iya nak ". Sahut bu Nadia.


" Bi, bibi jangan pernah sungkan ataupun merasa tak enak jika harus bertemu mama dan papa, mereka masih menganggap bibi sebagai keluarga, jadi buang rasa sungkan itu ". Seru Al pada sang bibi.


Bu Nadia sudah bisa bernafas lega, seharusnya hal ini sudah bisa ia duga sebelumnya, jika tuan dan nyonya nya tidak akan bersikap buruk, lalu mengapa dirinya harus merasa malu dan takut secara berlebihan.


Langkah demi langkah pun, telah mereka lalui hingga sampailah mereka di dalam rumah.


" Bi, bibi tidur di kamar bibi yang dulu ya, di sebelah kamar Kak Sintia ". Seru Adinda.


" Baiklah nak ". Sahut bu Nadia.


" Oh iya mas, mama sama papa kemana ya? ". Tanya Adinda.


" Sepertinya mama dan papa di rumah utama sayang ". Sahut Al.

__ADS_1


" Ya maklum lah sayang, kan di rumah tidak ada Aganta dan juga Damian, jadi mereka kembali ke rumah utama ". Sambung Al lagi.


Pembicaraan mereka telah usai dan mereka pun telah telah masuk ke kamarnya masing - masing kecuali pak Joko yang saat ini sedang duduk di ruang tamu.


Semua makanan sudah siap tersaji dengan cantik di meja makan makan di rumah mewah itu, nampak bu Nadia mulai keluar dari kamarnya, dan setelah itu disusul oleh Adinda dan juga Al dengan menggendong kedua bayi gembulnya.


" Ayo bi, kita langsung ke meja makan, Adinda sudah lapar ". Serunya pada sang bibi.


" Mam, mam, mam, mam ". Celoteh Aganta yang ingin di gendong sang daddy.


" Mam, mam, mam, ba, ba ". Sahut Damian yang seolah melarang Aganta untuk juga di gendong oleh daddy nya, ya wajar saja Damian melarang karena sekarang giliran didrinyalah yang berada dalam gendongan daddy nya.


" Mas, sepertinya Aganta ingin digendong oleh mas, tapi sayangnya Damian melarangnya ". Seru Adinda di tengah perjalannya.


" Tidak apa - apa, sini sayang biar mas gendong Aganta juga ". Sahut Al.


" Tapi mas apa tidak repot? ". Seru Adinda lagi.


" Tidaklah sayang ini sama sekali tidak repot, mas bisa menggendong mereka berdua ". Sahut Al dan ia pun mencoba membuka lengan kirinya untuk memberi tempat pada Aganta.


Adinda memberikan Aganta pada suaminya, dan alhasil jadilah seperti sekarang, suaminya menggendong kedua putra gembulnya. Entahlah Adinda sendiri tidak mengerti, sepertinya akhir - akhir ini kedua putranya sangat suka jika bersama daddy nya, bahkan jika satu hari saja daddy tidak menggendong, mereka akan merengek ingin segera bertemu daddynya.


" Ayo pak Joko, kita makan bersama ". Seru Al pada supir pribadi papanya.


Dan tak menunggu waktu lama, mereka semua pun telah singgah di meja makan besar itu.


" Mam, mam, mam, ba, ba, ba, mam, mam ". Celoteh Aganta dan juga Damian yang saling bersahut - sahutan.


" Mas, mas ingin lauk yang mana biar Adinda ambilkan ". Seru Adinda.


" Seperti biasa sayang ". Sahut Al.


" Mas, Adinda akan menyuapi mas ya, mas kan repot menggendong anak - anak ". Imbuh Adinda.


Al pun mengangguk " Terima kasih sayang ". Sahutnya.


" Bi, ini ada menu kesukaan bibi rupanya ". Seru Adinda pada sang bibi.


" Iya nak, ada rendang ". Sahut bi Nadia.


" Pak Joko, bapak jangan sungkan - sungkan, silahkan bapak makan, kalau perlu sampai kenyang pak ". Seru Al.


" Hihihi, iya tuan terima kasih ". Sahut pak Joko.


Semua orang di meja makan itu sudah hampir selesai mengambil menu - menunya dan mereka sudah siap memakannya, namun tak berselang lama dari itu datanglah bi Ima dan juga bi Tarsih yang membawa buah - buahan dan juga puding sebagai makanan penutup.


" Maaf tuan nyonya makanan penutupnya baru datang ". Seru bi Ima, dan mereka berdua pun meletakkan makanan penutup itu di meja makan.


Mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, bu Nadia pun menoleh. Bu Nadia melihat kedua sahabat lamanya yang sudah hampir sembilan bulan ini tidak is lihat benar - benar membuat hatinya rindu dan menghangat.


" Bu Ima, bu Tarsih ". Seru bi Nadia.


Bi Ima dan bi Tarsih pun menoleh.


Deg.... dan betapa terkejutnya bi Ima dan juga bi Tarsih, akan sosok yang saat ini sedang duduk di meja makan.


" Bu Nadia ". Sahut bi Ima dan bi Tarsih bersamaan.


" Ya Allah bu Nadia ". Seru bi Ima, dan iapun lansung berhambur ke arah bi Nadia, dan begitupun dengan bi Tarsih.


" Ya Allah bu, akhirnya kami melihat ibu lagi ". Seru bi Tarsih, bahkan ia sudah menitikkan air matanya.


" Sama bu, saya juga merindukan kalian ". Sahut bi Nadia dengan tak kalah erat memeluk kedua sahabatnya itu.


Dan itulah yang terjadi, tiga orang sahabat yang sama - sama merantau dan berjuang di tanah orang lain akhirnya dipertemukan kembali.


Waktu sore hari yang seharusnya dipergunakan untuk kegiatan makan untuk menghilangkan rasa lapar, mendadak telah berubah menjadi rasa haru yang tak bisa digambarkan.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, karena dukungan kalian adalah semangat bagi Author untuk melanjutkan karya ini. πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


❀❀❀❀❀


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2