
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Dimana putraku Kelvin, aku tidak bisa berlama - lama disini, dan nanti sore aku sudah harus kembali ". Ujar Sintia lagi bahkan sudah nampak raut kesedihannya.
Merasa iba, akhirnya Kelvin pun ingin memberikan izin nya pada Sintia.
" Dia ada di da... ".
" Apa?, apa ladi apa di lual? ( papa? , papa lagi apa di luar?) ". Tanya seorang bocah kecil yang tak lain adalah Kenzie sehingga menyebabkan kalimat sang papa menjadi terputus.
Kelvin pun langsung berbalik badan untuk melihat putranya Kenzie, sedangkan Sintia, ia sedang berusaha menoleh dimana sumber suara anak kecil itu muncul, hingga...
Deg.....
Sintia begitu tertegun akan sosok kecil yang saat ini tengah berdiri tegak di ambang pintu. Sintia menatap wajah anak kecil itu dengan tanpa berkedip. Pertanyaan akan kebenaran sosok mungil di depannya itupun telah muncul begitu kuat dalam benaknya, jadi, anak kecil inilah putranya?.
" Apa, apa ladi apa? ( papa, papa lagi apa?) ". Tanya Kenzie lagi dengan menatap wajah papanya.
" Anu ini papa sedang menemui ta... ".
" Uti ni capa apa? ( onti ini siapa papa?) ". Tanya Kenzie lagi sebelum sang papa Kelvin menyelesaikan kalimatnya.
Kenzie menatap wajah seorang wanita yang saat ini sedang berdiri mematung yang juga menatap dirinya.
Sintia terus menatap wajah putranya, bahkan kini kedua bola matanya nampak mulai berkaca - kaca.
" Apa, uti ni capa apa? ( papa, onti ini siapa papa?) ". Tanya Kenzie lagi.
" Onti ini anu nak emm? ". Bingung Kelvin harus menjawab apa pada Kenzie. Bahkan ia pun sudah salah berucap dengan menyebut Sintia sebagai Onti di depan putranya sendiri.
" Uti, uti ni capa, uti memenna apa? ( onti, onti ini siapa, onti temannya papa?) ". Ujar Kenzie lagi yang memutuskan untuk bertanya langsung pada Sintia.
Sintia masih tak menyahut, lidahnya terlalu kelu untuk menyampaikan untaian kata pada putra semata wayangnya. Dan tanpa Sintia sadari, ia telah menjatuhkan buliran air mata dari kedua kelopak matanya.
" Uti, uti teunapa nanit? ( onti, onti kenapa nangis?) ". Tanya si kecil Kenzie yang merasa bingung karena sosok onti yang ada di depannya sudah menangis.
" Danan nanit uti, cini - cini, bial Ezie lap lap nanit na ( Jangan menangis onti, sini sini, biar Kenzie mengelap nangis nya) ". Pinta Kenzie tiba - tiba bahkan bocah kecil itu sudah mendekat ke arah Sintia.
Sintia pun langsung duduk berjongkok untuk mensejajarkan tubuh nya dengan tubuh mungil sang putra.
Dan benar saja Kenzie pun mengelap kedua pipi Sintia dengan kedua tangan mungilnya.
Kelvin yang menyaksikan adegan di depan matanya pun menjadi terenyuh. Kenzie benar - benar begitu dekat dengan Sintia, padahal ini adalah pertemuan pertamanya setelah Kenzie terpisah selama dua tahun lamanya dengan Sintia. Mungkinkah ini yang dinamakan ikatan batin antara seorang anak dengan ibunya?.
Begitupun dengan kedua bodyguard yang mendampingi Sintia yang juga merasa terharu dengan hal yang dilakukan oleh seorang anak pada ibunya.
Merasa tak sanggup untuk bertanya pada sang onti akhirnya Kenzie pun mencoba ingin bertanya lagi pada papanya namun ia juga masih belum melepas kedua tangan mungilnya untuk mengelap air mata Sintia.
" Apa, uti ni teunapa nanit, teunapa nanit ya, uti ni capa ya apa? ( papa, onti ini kenapa nangis, kenapa nangis ya, onti ini siapa ya papa?) ". Tanya Kenzie lagi tanpa melepas usapan kedua tangan mungilnya dari pipi Sintia.
Mau tidak mau Kelvin pun harus menjawab pertanyaan Kenzie, karena sudah terlalu banyak putranya ini bertanya namun tak kunjung juga mendapat jawaban.
" Onti ini... ".
__ADS_1
" Aku mama mu sayang... ". Putus Sintia pada akhirnya sebelum Kelvin menyelesaikan kalimatnya.
Kenzie langsung terdiam, bahkan usapan kedua tangan mungilnya pun mendadak terhenti.
" Iya nak, aku ini mama mu, mama yang sudah mengandung dan melahirkan mu ". Ujar Sintia lagi.
Tanpa disadari, Kenzie telah menjatuhkan kedua tangan mungilnya dari kedua pipi seorang wanita yang mengaku jika dirinya adalah sang mama.
Terkejut... itulah yang Kenzie rasakan, ya bagaimana tidak, selama dirinya tumbuh, tidak pernah sekali pun ia melihat kehadiran sosok mama yang sudah melahirkannya, bahkan ketika dirinya menginginkan kehadiran sang mama karena rasa rindu, tak pernah Kenzie mendapati nya.
" Maafkan mama nak, kamu pasti bingung dengan kedatangan mama yang tiba - tiba ini, mama sangat merindukanmu nak, mama sangat merin... ".
Grepp..... Kenzie langsung memeluk tubuh sang mama.
" Ama ama, Ezie mau ama, Ezie mau ama ma ( mama mama, Kenzie mau mama, Kenzie mau mau mama ma) ". Ujar Kenzie dengan memeluk tubuh Sintia dengan begitu eratnya.
Sintia pun langsung membalas pelukan putranya. Akhirnya, akhirnya keinginan untuk bisa bertemu dengan sang putra yang ia rindukan selama ini telah terkabul.
" Ama ama, Ezie lindu ama, tenan na Ezie puna ama cemua ama, tuma Ezie yan dak puna ama ( mama mama, Kenzie rindu mama, teman nya Kenzie punya mama semua ama, cuma Kenzie yang tidak punya mama) ". Seru Kenzie lagi tanpa melepas rengkuhan erat kedua tangan mungilnya dari sang mama.
" Mama juga rindu kamu sayang, mama sangat merindukan Ezie, Ezie punya mama sayang, maafkan mama ya yang tidak pernah memberi kabar pada Ezie ". Sahut Sintia yang juga masih tidak melepas pelukannya. Sintia benar - benar memeluk tubuh mungil itu dengan begitu sangat erat seolah tak pernah ingin untuk melepaskannya.
" Namanya Kenzie ". Ralat Kelvin tiba - tiba pada Sintia.
" Ama ama, Ezie bahadia ceutalli bisha beultemu ama ( mama mama, Kenzie bahagia sekali bisa bertemu mama) ". Ujar Kenzie lagi dengan begitu bahagianya.
Sintia akhirnya mulai menguraikan pelukannya dari sang putra. Dipandangnya wajah putranya itu lekat - lekat.
Cup... cup... cup... cup...
Cup... cup... bahkan kedua tangan mungil Kenzie juga tak luput dari ciumannya.
" Sayang Kenzie, hari Kenzie mau kan bermain dengan mama sayang? ". Tanya Sintia.
" Mau mau mau, Ezie mau main cama ama yeayy... ". Sahut Kenzie kegirangan, akhirnya keinginannya untuk bermain dengan sang mama menjadi terkabul, bahkan bocah kecil itu sampai melompat karena begitu bahagianya.
Tanpa mereka sadari ternyata sudah ada sesosok wanita paru baya yang telah memperhatikannya dari dalam rumah, ya siapa lagi jika bukan bu Mariam ibu dari Kelvin.
" Hari ini aku ingin bermain dengan putraku, jadi kamu jangan melarang ku untuk bermain dengannya ". Ucap Sintia lagi setelah ia mengarahkan tatapan tajamnya pada Kelvin.
" Silahkan ". Sahut Kelvin singkat.
" Ayo ama, tita main di lummah ( ayo mama, kita main di rumah) ". Ajak Kenzie pada sang mama.
" Sebentar dulu ya nak ". Tahan Sintia.
" Kalian di luar saja ya, aku tidak akan kabur ". Peringat Sintia pada kedua bodyguard itu.
" Baiklah terserah ". Sahut mereka.
Akhirnya si kecil Kenzie akan bermain dengan mamanya, seorang mama yang sudah ia nantikan kehadiran nya selama ini.
" Ama endong ( mama gendong) ". Manja Kenzie dengan mengangkat kedua tangan mungilnya.
" Iya iya sayangnya mama ". Sahut Sintia sebelum akhirnya ia menggendong tubuh mungil putranya.
__ADS_1
Cup... cup... Sintia mencium kedua pipi gembul putranya di sela langkah nya.
" Cup... cup... Ezie cayan ama ( Kenzie sayang mama) ". Seru Kenzie dengan membalas ciuman sang mama.
Sudah tidak bisa digambarkan lagi bagaimana rasa bahagia yang dirasakan oleh si kecil Kenzie. Sungguh Kenzie tak ingin jika kebahagiaan ini sirna.
Kini sepasang orang tua yang tidak terikat dalam sebuah ikatan pernikahan itu telah melangkah bersama dengan putra semata wayang mereka.
Kelvin dan Sintia terus melangkah masuk dengan tanpa menyadari akan adanya bu Mariam yang sudah duduk di dalam.
" Ibu ". Sentak Kelvin setelah menyadari keberadaan ibunya.
" enek enek, Ezie mau main cama mama, Ezie ceunan ceutalli ( nenek nenek, Kenzie mau main sama mama, Kenzie senang sekali) ". Seru Kenzie bahagia dengan tetap bergelayut manja pada sang mama.
Bu Mariam pun tersenyum melihat kebahagiaan cucunya. Sedangkan Sintia, ia merasa sangat canggung karena sudah cukup lama dirinya tidak bertemu dengan sosok wanita paru baya yang begitu perhatian padanya selama Sintia menjadi menjadi kekasih Kelvin.
*****
Sepasang opa dan oma itu nampak bahagia karena ingin menemui cucu - cucunya. Tak lupa mereka membawa oleh - oleh sebagai buah tangan untuk cucu - cucunya.
Enriko sudah memegang dua dua box yang berukuran tidak terlalu besar yang berisi mainan mobil - mobilan untuk kedua cucunya, sedangkan sang oma Devina tengah membawa salad buah spesial untuk sang menantu yang saat ini tengah mengandung cucu ketiganya.
" Cammicum upa uma ". Sambut Aganta dan dan Damian antusias kala melihat kedatangan opa dan juga omanya.
Kedua bocah kembar itu pun langsung berhambur memeluk kaki opa dan juga omanya.
" Waalaikum salam cucu - cucuku yang tampan ".
" Upa upa ni apa? opa opa ini apa?) ".Tanya Damian yang merasa penasaran dengan dua box yang dibawa oleh opanya.
" Ini mainan untuk kalian sayang, di dalam box ini ada mobil sport mainan dengan remote control nya ". Sahutnya pada sang cucu, namun nampaknya kedua cucunya itu masih belum tahu mainan yang disebutnya.
" Wah boys, kalian dibelikan mobil mainan yang bisa digerakkan dengan remote boys ". Ujar Al.
" Tapi tu minan apa? ( tapi itu mainan apa?) ". Kali ini Aganta yang bertanya.
Ya, Aganta dengan Damian memang memiliki banyak mainan di rumahnya kecuali mainan mobil - mobilan yang disertai dengan remote control.
" Mian mau liat upa, mian mau liat ( Damian mau lihat opa, Damian mau lihat) ". Seru Damian antusias bahkan bocah kecil itu sampai melompat - lompat.
Jika sang suami Enriko sedang sibuk dengan memberikan mainan untuk kedua cucunya, beda halnya dengan Devina, wanita paru baya yang masih cantik ini sedang sibuk menemani sang menantu.
" Sayang dimakan sampai habis salad buahnya, biar cucu oma yang ada di dalam sini bisa tercukupi asupan nutrisinya ". Ujar Devina dengan mengelus perut Adinda.
" Iya ma ". Sahut Adinda.
Sebenarnya Adinda merasa bingung sekaligus heran. Bagaimana bisa dirinya harus memakan salad buah sebanyak ini yang porsinya cukup dimakan untuk tiga orang, namun harus bagaimana lagi demi menyenangkan hati sang mama mertua Adinda harus menghabiskan salad buah yang banyak ini.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, semangat membaca.
ππππππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1