
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Di kediaman Alexander.
Sistem pencahayaan pun telah sempurna, sang fotografer profesional yang handal itu nampak sudah siap mengambil hasil pemotretan terbaiknya.
Ya, di waktu yang masih sangat pagi ini, pria berbola mata biru keabu-abuan dengan sang istri dan juga kedua putra tercintanya tengah siap dalam mengabadikan momen indah di masa sang istri yang saat ini tengah mengandung.
Aura ketampanan dari sang daddy dan juga kedua anak kembarnya nampak begitu menguar, begitupun dengan si wanita yang terlihat sangat anggun, benar - benar keluarga serasi yang menjadi dambaan banyak orang.
" Baik, posisinya sudah bagus, satu dua cekrek... ". Seru fotografer pria itu.
" Lagi, satu dua cekrek.... ".
" Baik tuan nyonya, sekarang boleh pindah posisi, tuan Al bisa menggendong tuan muda Aganta, tuan muda Damian boleh berdiri dengan merangkul bahu nyonya yang sedang duduk ". Suruh fotografer itu.
Keluarga kecil itupun mengikuti dengan apa yang menjadi arahan sang fotografer.
" Baik, satu dua cekrek... ".
" Baik, satu dua cekrek.... ".
" Satu dua cekrek... ".
" Satu dua cekrek... cekrek... cekrek... ".
" Selesai tuan nyonya ". Seru fotografer itu pada akhirnya.
" Yeay, atu mau liat atu mau liat ". Seru si kecil Damian dengan begitu girangnya.
Untung saja saat pemotretan tadi, bocah kecil yang sangat aktif itu bisa di ajak kompromi selama kegiatan pengambilan foto berlangsung, jika tidak, mungkin pengambilan foto bersama akan membutuhkan waktu lama atau bahkan mungkin bisa mengalami kegagalan yang tak diinginkan karena ulahnya.
" Ayo daddy, Mian mau liat poto na ". Seru si kecil Damian lagi, bahkan bocah kecil itu sampai melompat - lompat agar sang daddy mau menggendongnya.
" Boy, sebaiknya nanti saja ya, kalau foto - fotonya sudah di cetak dan dijadikan album ". Sahut Al dengan mengusap kepala mungil putranya.
" No daddy, Mian mau na liat cetalan ( no daddy, Damian maunya lihat sekarang) ". Paksa si kecil Damian pada sang daddy.
" Huh, tamu tuh Mian, cuta cetali dak nulut cama daddy, talo tata na daddy nanti ya nanti ( huh, kamu tuh Damian, suka sekali tidak nurut sama daddy, kalau katanya daddy nanti ya nanti) ". Protes sang kembaran Aganta, nampaknya bocah kecil yang satu itu begitu tak suka dengan tingkah Damian yang suka memaksakan sesuatu.
" Bial, itu tan cuta - cuta atu ( biar, itu kan suka - suka aku) ". Sahut Damian dengan wajah acuhnya.
Adinda sang mommy yang menyaksikan kedua putranya yang berselisih itu hanya bisa menghela napasnya, wanita berhijab dengan perutnya yang masih buncit itu tak mampu menasehati kedua buah hatinya saat ini, karena ia tahu, jika putranya Damian begitu sangat ngotot melihat hasil foto kebersamaannya.
" Ayo daddy, Mian mau liat ". Pintanya lagi pada sang daddy, bahkan bocah kecil itupun sudah mulai merengek yang menandakan jika dirinya akan segera menangis.
" Baiklah, baiklah boy ". Sahut Al pada akhirnya.
" Yeay, asyik - asyik - asyik ". Serunya bahagia.
Al, sang daddy yang tampan itu, meraih tubuh mungil putranya untuk ia bawa ke dalam rengkuhannya.
Di dekatinya sang fotografer yang nampaknya masih terlihat fokus menatap hasil pemotretannya.
__ADS_1
" Aku ingin lihat hasil pemotretannya ". Pinta Al pada sang fotografer.
" Oh, ini tuan, anda bisa mengeceknya ". Sahut fotografer itu ramah, dengan memberikan kameranya pada Al.
Al dan juga sang putra kecilnya melihat hasil fotonya satu persatu, dan benar, pria dengan bola mata biru keabu-abuan itu nampak tersenyum lucu di saat melihat hasil dari pemotretan tadi.
" Daddy, poto na badush cetali ya daddy, badu na Mian duda badush ( daddy, fotonya bagus sekali ya daddy, bajunya Damian juga bagus) ". Puji Damian, ia merasa bangga karena dari fotonya ia terlihat tampan.
" Iya boy, hasil gambarnya sangat bagus, kalian berdua sangat lucu, dan mommy juga sangat cantik ". Sahut Al, namun diakhir kalimatnya ia menatap pada sang istri dengan senyumannya.
Adinda pun menunduk malu - malu mendengar pujian dari suami tercintanya, apalagi di rumahnya saat ini ada seorang fotografer yang mendengarnya.
" Sayang, kamu ingin melihat hasil fotonya? ". Tawar Al pada sang istri.
" Tidak mas, nanti saja kalau sudah di cetak dan di jadikan album ". Sahut Adinda.
" Aganta ingin lihat juga sama seperti Damian? ". Kali putranya lah yang di tanya.
" Dak daddy, Anta mau liat nanti ja ". Tolaknya juga, nampaknya bocah kecil yang satu itu memiliki keinginan yang sama dengan sang mommy.
Merasa sudah puas melihat hasil pemotretan nya di kamera, kini sepasang daddy dan anaknya itu tak ingin berlama - lama menahan kamera itu, lalu memberikannya pada sang fotografer.
Akhirnya, kegiatan foto bersama keluarga kecil Al telah usai sudah, senyum bahagia pun terpancar indah, momen kebersamaan ini memang harus di abadikan.
*****
Di kediaman Wijaya.
Jika di kediaman Al sedang menyelesaikan kegiatan pemotretan untuk keluarga kecilnya, maka beda halnya dengan keluarga Wijaya, oh tidak bukan beda, akan tetapi keluarga ini tidak melakukan hal sama dalam segala hal dengan keluarga Al.
Di meja makan besar itu, pastilah ada David dan juga sang istri Kendi, tak lupa kedua anaknya yaitu Diandra dan juga Andika.
Setelah sekian hampir tiga puluh menit lamanya keluarga itu sarapan bersama, akhirnya telah usai sudah.
" Dika ". Panggil David pada sang putra bungsu.
" Iya pa ". Sahut Dika.
" Bagaimana, apa kamu sudah siap mengurus perusahaan papa yang ada di Kanada? ". Tanya David pada sang putra, tidak, lebih tepatnya bapak dua orang anak itu tengah menagih janjinya pada sang putra.
" Dua minggu lagi pa, dua minggu lagi Dika akan berangkat ke sana ". Sahut Dika.
Ya, dialah Andika Ilyas Wijaya, putra bungsu dari tuan David, sekaligus adik kesayangan Diandra.
" Bagus lah nak, papa rasa waktu dua minggu lagi tidaklah lama keberangkatannya ". Sahut David.
Kendi sang mama mulai nampak memancarkan cairan beningnya di kedua sudut bola matanya, nampaknya wanita paru baya itu merasa sedih jika harus berjauhan dengan putra tercintanya.
Baru beberapa bulan yang lalu putranya itu kembali dari luar negeri karena harus menyelesaikan pendidikan S2 nya, kini tidak lama lagi malah harus pergi lagi meninggalkan dirinya.
Sungguh hati Kendi begitu tersayat dibuatnya, bagaimana tidak?, ibu mana yang bisa tahan jika harus berjauhan dengan anak - anak tercintanya, namun harus bagaimana lagi, demi kebaikan keluarga dan juga nasib para karyawan yang bergantung di perusahaan suaminya, membuat Kendi harus bisa menerima semua keadaan ini.
" Ma, mama kenapa ma, mama sedih? ". Tanya Dika, lalu pria muda itupun berpindah posisi mendekati mamanya.
" Ha tidak, hem sayangnya iya, tapi tidak apa - apa, selama untuk kebaikan insyaallah mama ikhlas nak ". Sahut Kendi berusaha memancarkan senyumannya.
__ADS_1
" Jangan sedih ma, kalau mama sedih seperti ini bagaimana Dika bisa bekerja dengan tenang di sana, mama tenanglah, setiap satu bulan sekali Dika akan pulang dan menjenguk mama di sini, atau kalau perlu Dika akan membeli jet pribadi agar bisa pulang kapanpun ". Sahut Dika dengan mengelus pundak sang mama.
" Iya iya ". Sahut Kendi dengan senyumannya.
" Dan satu lagi Dika ". Kali ini sang kakak Diandra lah yang bersuara.
" Di Kanada itu banyak perempuan - perempuan cantik, awas saja kalau kamu tergoda sama mereka ". Peringat Diandra, tidak, sepertinya ia sedang menjahili adiknya.
" Ih, kakak terlambat bicara seperti itu, kakak lupa ya, aku kan pernah kuliah di Amerika, di sana banyak wanita - wanita cantik dan menggoda, menghadapi banyak perempuan seperti itu sudah biasa, jadi kakak tidak perlu mengingatkan aku bisa jaga diri ". Sahut Dika, menurutnya yang di ucapkan kakaknya itu percuma saja.
" Oh iya, kenapa aku bisa lupa ya hihihihi... ". Sahut Diandra cengengesan.
" Aku tahu kenapa kakak bisa lupa dan sok - sok menasihati ". Jelas Dika lagi.
" Memangnya apa, apa yang kamu tahu? ". Tanya Diandra yang tiba - tiba kehilangan senyumannya.
" Ya aku tahu, kenapa kakak bicara seperti itu agar aku tidak mudah tergoda dengan perempuan kan, kakak mau agar aku bisa menjaga hati, sama seperti yang dilakukan kak Diandra, yang selalu menjaga hatinya untuk tunangan kakak yang masih belum kelar itu, si siapa itu, si tuan Alexander ". Sahut Dika tanpa ada filter pada kalimatnya.
Deg... dada Diandra terasa begitu terhantam, mengapa hal ini harus di ungkit lagi, bukankah hatinya sudah mulai ikhlas melepas cinta pertamanya, lalu mengapa keadaan seolah mengingatkan nya pada kenangan indah yang telah berlalu itu, jika seperti ini, bagaimana nama Al bisa terhapus dengan sempurna di hatinya?.
David dan Kendi menatap pada Diandra, pasti putrinya itu sedih, sebagai seorang papa David sadar jika dirinya sudah melakukan kesalahan dengan memisahkan Diandra dengan Al, meski itu secara tidak langsung.
" Di ". Panggil David tiba - tiba.
" Iya pa ". Sahut Diandra.
" Apa kamu masih mencintai Al, apa kalian berdua masih saling mencintai? ". Tanya pada akhirnya.
" Kenapa papa bertanya seperti itu? ". Tanya balik Diandra.
" Jika kamu masih mencintai Al, dan jika kalian masih saling mencintai, engan senang hati pada akan datang pada Al, dan memintanya untuk melanjutkan hubungan kalian, bahkan hingga ke jenjang pernikahan ". Sahut David, dan itu kesungguhan.
Deg... Diandra begitu sangat tersentak mendengarnya, bahkan kini mendadak deru nafasnya terhenti, apakah papanya sadar dengan apa yang diucapkan nya.
" Pa, apa maksud papa bicara seperti itu, memangnya papa tidak tahu jika Al sudah menikah? ". Sahut Diandra.
" Apa? ". Pekik semua orang yang ada di sana.
Semua orang yang ada di meja makan itupun sangat terkejut, apalagi tuan David, pria paru baya itu sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja putrinya katakan.
" Menikah?, Al menikah?, bagaimana bisa Al menikah?, tidak, ini pasti suatu kebohongan, jika memang Al sudah menikah, lalu kenapa tidak ada kabar sama sekali di media? ". Tanya tuan David yang masih tak percaya.
" Entahlah pa, Dia juga tidak tahu, tapi yang pasti Al sudah menikah, Al bahagia dengan kehidupan keluarganya, alasan kenapa tidak ada satu media pun yang tahu tentang pernikahannya, mungkin karena Al tidak ingin banyak orang yang tahu ". Pungkas Diandra.
David tak menyahut lagi, kabar ini telah berhasil membuat hatinya tak tenang, David merasa tak terima jika Al sudah menikah, karena biar bagaimana pun, David masih ingin putrinya bersanding dengan Al.
" Al menikah, bagaimana mungkin?, pasti ada yang tidak beres ". Batin David.
Bersambung..........
Hai kakak - kakak, tetap semangat membaca ya, agar Author bisa mengusahakan update.
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1