Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Merasakan Kontraksi


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Tubuh pun terasa sudah mendapatkan tenaganya kembali, mungkin karena sudah mendapatkan asupan nutrisi dari kegiatan makan bersama tadi.


Masih di mall tepatnya di zona bermain anak - anak balita, nampak Aganta dan juga Damian begitu sangat gembira riangnya menikmati kegiatan bermain mereka.


Kedua bocah kembar itu begitu sangat asyik bermain bola - bola kecil atau lebih tepatnya orang mengenalnya dengan istilah mandi bola.


" Daddyh, mommyh liat liat mian na macuk dalam bula ( daddy, mommy lihat - lihat Damiannya masuk ke dalam bola) ". Seru Damian dengan gembira riangnya yang berusaha menunjukkan aksi menyelam di dasar ribuan bola - bola kecil agar kedua orang tuanya dapat melihat aksinya.


Dan benar saja, Damian pun melakukan aksinya sehingga membuat Adinda dan juga Al tertawa melihatnya.


" Ha ha ha ha, aduh anak daddy hebat bisa menerobos bola ". Seru Al dengan senangnya.


" Daddyh daddyh, anta juda bisha macuk te bula ( daddy daddy, Aganta juga bisa masuk ke bola) ". Seru Aganta yang merasa jika dirinya bisa melakukan hal yang juga dilakukan oleh sang kembaran, dan benar Aganta pun melompat lalu menceburkan tubuh mungilnya diantara tumpukan bola - bola kecil itu.


Pok... pok... pok... Al dan Adinda menepuk - nepukkan tangannya, kedua orang tua itu begitu sangat senang dan bahagia karena kedua anak kembarnya yang masih belum memasuki usia dua tahun itu sudah sangat aktif dan lincah bahkan mungkin melebihi kelincahan balita seumuran mereka.


" Pintarnya anak - anak daddy, tetap semangat mainnya nak ". Seru Al menyemangati dengan senyuman bahagianya.


" Sayang ". Bisik Al di telinga sang istri.


" Iya mas ". Sahutnya.


" Lihatlah kedua anak kita sayang, mereka masih belum berusia dua tahun tapi benar - benar sangat aktif, bahkan melebihi anak seumuran mereka, iya kan sayang? ". Seru Al bertanya yang membenarkan perkembangan Aganta dan juga Damian.


" Iya mas, mas Al benar sekali, Adinda juga tidak menyangka jika mereka selincah ini ". Sahutnya dengan senyuman yang tak lepas di setiap sisi sudut bibirnya.


Kedua orang tua itupun terus memperhatikan kedua anak kembarnya dengan penuh rasa bahagia, hingga sekitar hampir lima belas menit lamanya Adinda menunggu di area bermain itu namun sepertinya ia seperti mendapatkan panggilan alam.


" Mas, Adinda mau ke belakang dulu sebentar ya, mas jaga anak - anak dulu ". Serunya di dekat telinga sang suami.


" Sayang kamu mau apa ke sana sayang? ". Tanya Al, entah dirinya memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.


" Adinda mau pipis mas ". Bisiknya malu - malu di telinga sang suami.


" Anak - anak di suruh berhenti saja dulu mainnya ya, biar mereka ikut, mas ingin mengantarmu sayang ". Sahutnya.


" Tidak perlu mas, Adinda bisa sendiri, tidak apa - apa, mas disini sendiri saja ya menemani anak - anak ". Pintanya lagi.


" Ya sudah hati - hati sayang ". Sahut Al.


Adinda pun akhirnya melangkahkan kedua kaki jenjang nya yang tertutup gamis itu menuju toilet. Dan benar saja hanya butuh waktu sekitar lima menit dirinya telah sampai di area toilet wanita.


Sedangkan di posisi yang tidak jauh dari posisi Adinda berdiri, nampak Silvi juga datang ke area itu.


Tak mau menunggu lama akhirnya Adinda pun masuk ke ruangan itu, dimana ruangan yang Adinda masuki sedang bersebelahan dengan ruangan yang akan Silvi masuki.


" Hah, apa aku tidak salah lihat?, sepertinya wanita yang baru saja masuk mirip Adinda, wanita yang mengandung anak haram itu ". Gumam Silvi.


" Tapi mana mungkin, Adinda kan ada di Bandung, untuk apa juga dia ada di Jakarta, palingan di Bandung dia mengurus anak haramnya itu ". Imbuhnya lagi dengan wajah sinisnya.


Silvi pun masuk ke ruangan itu, mungkin ia ingin melakukan hal yang sama seperti Adinda.


" Rita, Silvi tadi masuk ke toilet yang mana? ". Tanya Rani disela - sela langkahnya menuju ruang belakang untuk menyusul Silvi.

__ADS_1


" Aku juga tidak tahu Rani, ya sudah ayo kita cari, lagipula si Silvi cepat sekali jalannya ". Sahut Rita.


" Ya mungkin dia sudah kebelet Rita ". Sahut Rani.


" Kita tunggu di sini sajalah, daripada sibuk mondar mandir mencari Silvi ". Ujar Rita.


Sekitar hampir lima menit lamanya Rita dan juga Rani menunggu sang teman, tiba - tiba terdengar adanya suara pintu toilet di buka.


Ceklek..... Rita dan Rani pun menoleh ke arah sumber suara. Nampak sesosok wanita berhijab dengan paras cantiknya keluar, ya siapa lagi wanita berparas cantik itu jika bukan Adinda.


Adinda berjalan melewati lorong itu dan juga melewati dua sosok wanita yang sedang berdiri tidak jauh darinya melangkah.


Adinda tersenyum ramah disaat langkahnya hampir mendekati dua orang wanita itu, sebelum akhirnya Adinda benar - benar berlalu.


" Wah, siapa wanita itu?, dia cantik dan sangat manis, pakaiannya tertutup lagi ". Seru Rani terkagum - kagum.


" Apa?, kamu memuji wanita yang berhijab itu, tidak salah dengar aku Ran?, kenapa tidak sekalian kamu berhijab saja Ran ". Ujar Rita yang menyindir temannya.


" Heh, kamu mengejekku Rita? ". Sungut Rani.


Ceklek... salah satu pintu toilet pun terbuka dan nampak lah sosok Silvi yang keluar dari sana. Pandangan Silvi masih dapat melihat sesosok wanita berhijab tadi yang sudah cukup jauh melangkah, hingga langkah wanita berhijab itupun benar - benar telah hilang dari pandangannya.


" Silvi, kamu melihat apa sih? ". Tanya Rita setelah melihat temannya.


" Tidak, hanya saja aku seperti melihat seorang wanita berhijab yang aku kenal, dua kali lagi aku melihatnya, meski aku sendiri tidak melihat pasti sih bagaimana wajahnya ". Ujar Silvi.


" Maksudmu wanita yang berhijab itu, yang sudah pergi? ". Tanya Rita dengan menunjuk ke arah Adinda yang sudah berlalu.


" Iya ". Sahut Silvi.


" Tadi kita berdua melihat wajah perempuan tadi, iya kan Rita? ". Timpal Rani.


" Kalian lihat?, memangnya khas wajahnya seperti apa? ". Tanya Silvi yang sudah mulai sangat penasaran.


" Dia cantik, tapi masih dominan manis sih, terus bulu matanya lentik, alisnya bagus, hidungnya lumayan mancung, ya kalau dibandingkan dengan hidung kita sih hidung dia lebih mancung, wajah kulitnya putih, dan imut - imut begitu ". Sahut Rani menjelaskan.


Silvi sangat terkejut mendengar penjelasan dari Rani, khas wajah dari wanita yang dijelaskan oleh temannya ini benar - benar mirip Adinda, perempuan yang sering ia buli karena mengandung anak haram.


" Sil, kenapa wajahmu begitu?, seperti baru melihat hantu saja ". Ujar Rita yang merasa heran dengan ekspresi temannya.


" Kalian tahu tidak, wanita yang ciri - cirinya kalian sebutkan tadi itu seperti Adinda, iya Adinda, wanita berhijab yang terlihat alim tapi hamil di luar nikah alias mengandung anak haram ". Ujar Silvi yang merendahkan Adinda


" Apa? ". Pekik Rita dan Rani.


" Hamil anak haram?, wah wah wah, sungguh tidak disangka ya, wajahnya saja yang terlihat lugu eh tidak tahunya kelakuannya rendahan bahkan sampai hamil di luar nikah lagi ". Ujar Rita.


" Iya betul, masih lebih baik kita, meski kita tidak memakai hijab, tapi kita tidak pernah melakukan hal bejat seperti itu, apalagi lagi sampai hamil di luar nikah ". Cebik Rani yang ikut menimpali.


" Puftt... puftt... puftt... ". Rita menahan tawanya setelah mendengar penuturan Rani.


" Kenapa kamu sok sokan menahan tawa seperti itu Rita?, memangnya ada yang lucu dariku? ". Tanya Rani yang merasa tersindir.


" Iya, kamu lucu, kamu tadi bilang kelakuan kamu tidak bejat, terus niat kamu ingin menggoda tuan Al dengan tuan Andrew itu apa namanya?, bukannya sekarang sikap kamu sudah menuju ke arah sana ". Sindir Rita dengan tersenyum gelinya.


" Rita ". Geram Rani yang sudah mulai tersulut emosi.


" Sudah sudah sudah, kalian ini berisik sekali, ayo kita pergi dari sini, jangan jadi penunggu toilet ". Putus Silvi pada akhirnya.

__ADS_1


βž–


Adinda terus melangkah menuju suami dan anak - anaknya berada, hingga...


" Loh mas, anak - anak sudah berhenti mainnya? ". Tanya Adinda setelah sampai dan sudah mendapati kedua putra mungilnya sudah tak lagi bermain.


" Iya sayang, anak - anak sudah mau berhenti katanya sudah mau pulang ". Sahut Al.


" Aganta sama Damian benar sudah ingin pulang nak? ". Tanya Adinda, karena tak biasanya kedua putranya itu ingin cepat kembali pulang ketika sudah bermain di tempat bermain anak.


" Iya mommyh, tami inin pulan, iya tan anta? ( iya mommy, kami ingin pulang, iya kan Aganta? ". Ujar Damian.


" Huum ". Sahut Aganta hanya dengan berdeham.


" Tuh kan sayang, mereka sudah ingin pulang, ayo kita pulang ". Ujar Al menimpali sebelum akhirnya ia menggendong tubuh mungil Aganta, sedangkan Adinda menggendong tubuh Damian.


Keluarga kecil itupun akhirnya sudah berlalu pergi meninggalkan mall itu, dan masih sama, sepanjang kaki mereka melangkah menuju luar mall, banyak karyawan yang masih begitu sibuknya menyapa mereka.


*****


Waktu pun masih terus berlalu meninggalkan berbagai kenangan indah yang sudah terukir. Dan tanpa terasa sudah sembilan bulan lebih Vita menjalani masa kehamilannya, yang menandakan tidak lama lagi dirinya akan melahirkan, atau mungkin sekarang inilah yang sudah menjadi waktu siaga untuk menantikan kelahiran si manusia mini itu.


Malam pun telah menyelimuti setiap celah lintasan ibu kota dan sekitarnya. Banyak insan yang sudah terlelap dengan mimpi indahnya tanpa merasa terusik. Namun nampaknya beda halnya dengan seorang wanita yang saat ini sedang hamil besar dan sewaktu - waktu bisa saja melahirkan.


Vita terbangun dari tidurnya kala ia merasa ada yang kurang nyaman dengan perutnya, atau lebih tepatnya ia merasakan adanya kontraksi. Namun meski begitu Vita tak mau terburu - buru menganggap dirinya akan melahirkan karena bisa saja kontraksi yang ia rasakan saat ini adalah kontraksi palsu.


" Sssshhh... ya Allah perutku sakit... huft... tenang Vita, jangan panik ". Seru Vita dengan duduk menyandarkan kepala dan punggungnya di sandaran kasur.


Vita menoleh pada sang suami, ternyata suaminya masih terlelap dengan alam mimpinya.


" Huft... aku mau ke kamar mandi dulu ". Gumamnya.


Vita pun turun dari ranjang kasurnya dan melangkah secara perlahan menuju kamar mandi.


Sekitar sepuluh menit lamanya Vita berada di kamar mandi akhirnya ia sudah keluar. Vita masih memegangi perutnya yang terasa sakit itu. Vita terus melangkah menuju ranjang kasurnya, namun belum sempat dirinya sampai....


" Aw astagfirullah, ya Allah perut ku ". Seru Vita kesakitan dengan memgangi perutnya.


" Akh... astaghfirullah ". Pekik Vita cukup nyaring.


Andrew yang masih terlelap dengan alam tidurnya itu pun, mendadak langsung membuka kedua kelopak matanya. Andrew menoleh ke samping kasur nya untuk melihat keadaan sang istri.


Deg... dan betapa terkejutnya Andrew kala ia sudah melihat Vita yang sudah berdiri menunduk dengan memegangi perutnya.


" Sayang ". Pekik Andrew dengan terjingkrak dari kasurnya.


Andrew dengan sigap mendekati istrinya yang sudah kesakitan itu.


" Sayang, Vita ". Serunya khawatir dengan mencoba menahan tubuh istrinya.


" Maaasss.... perut ku sakit, aku ingin melahirkan ". Rintih Vita dengan nafasnya yang sudah tersengal - sengal.


" Ayo kita ke rumah sakit sayang ". Serunya dan langsung melangkah.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, semangat membaca.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2