Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Mandikan Adik Alexa


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Setelah hampir sepuluh menit sang kakak Sintia melakukan panggilan video pada adik sepupunya Adinda, akhirnya telah usai sudah percakapan mereka.


Devina sang mama mertua masih fokus memperhatikan majalah yang dibacanya. Adinda sang menantu yang melihat mama mertuanya hanya diam tanpa menatapnya, merasa sangat bersalah.


Adinda merasa bersalah karena telah mengabaikan mama mertuanya karena dirinya yang sedang sibuk mengobrol dengan kakak sepupunya.


" Ma ". Serunya lirih.


Sontak Devina pun langsung menoleh pada menantunya.


" Maafkan Adinda ya ma, Adinda tadi sibuk mengobrol dengan kak Sintia... dan membuat mama menjadi terabaikan ". Seru Adinda lagi dengan rasa bersalahnya.


Devina meletakkan majalah yang sempat dibacanya, dengan perlahan wanita paru baya itu mendekati menantunya.


" Tak apa sayang, kamu tidak bersalah, namanya juga saudara yang menelfon, sudah pasti memang harus dijawab ". Sahut Devina lembut dengan mengelus kepala menantunya.


" Tapi, jujur saja, mama masih belum bisa melupakan semua kelicikan yang Sintia lakukan nak, mama memang sudah memaafkan Sintia atas permintaan mu dan juga Al, tapi bukan berarti rasa sakit hati mama padanya sudah sembuh, karena perbuatan liciknya, kamu dan cucu - cucu mama harus terlantar,... hahh... masih berat rasanya bagi mama untuk menerima waktu yang sudah hilang dengan membiarkan kamu dan cucu - cucu mama di luar sana, jika waktu memang bisa diulang, tidak akan mama merestui Al menikah dengan perempuan itu ". Seru Devina dengan nadanya yang terdengar datar namun menyiratkan kekesalan dan penyesalan.


Adinda bisa memahami mengapa mamanya masih seperti ini, tidak mudah memang untuk melupakan kesalahan seseorang, apalagi kesalahan itu ada hal yang disengaja untuk memecah belah keluarga.


Jika di dalam kamar Al, mamanya masih sedang berkeluh kesah tentang perbuatan licik mantan menantunya dulu. Maka putranya kini dengan ketiga cucunya nampaknya sudah akan menyudahi aktivitas mereka di halaman belakang rumahnya.


" Anak - anak daddy, kita masuk yuk, ini waktunya adik Alexa dimandikan ". Seru Al agar kedua putranya berhenti bermain sepeda.


" Iya daddy ". Sahut mereka, lalu kedua bocah kembar itupun mulai turun dari sepeda mereka dan mengikuti langkah sang daddy menuju ke dalam rumah.


Dengan perlahan Al melangkahkan sepasang kaki jenjang nan kokohnya itu agar kedua putra kembarnya bisa menjangkau langkahnya.


Dengan perlahan mereka mulai menaiki satu persatu susunan anak tangga. Al semakin memperlambat langkahnya disaat melewati tangga, karena Aganta dengan Damian pun langkahnya masih kecil.

__ADS_1


" Aduuuh... teunapa tati tu tok dak becal - becal cih, dak peulti tati na daddy yan becal, tan bica cepat campai atash ". Gerutu Damian.


" Hahahaha... ". Al langsung tergelak setelah mendengar keluhan dari putranya Damian.


Damian menggerutu di saat langkahnya sudah melewati separuh panjang tangga rumahnya. Bocah itu merasa kesal karena langkahnya tak kunjung sampai ke lantai atas. Bocah kecil itu berharap jika kakinya cepat besar sama seperti kaki daddy nya.


" Hihihihi... sabar anak daddy, ada saatnya nanti kalian akan tumbuh besar sama seperti daddy, syaratnya ya harus jadi anak yang baik dan rajin makan makanan yang bergizi, dengan begitu kalian akan cepat tumbuh besar seperti daddy dan tidak akan susah untuk naik tangga lagi ". Sahut memberikan pengertian.


Sang daddy Al dengan anak - anaknya itupun terus melangkah hingga mereka benar - benar berada di lantai atas.


" Sayang... ". Panggil Al setelah memasuki ruangan kamarnya.


" Al, Alexa sudah di jemur nya? ". Tanya sang mama Devina.


" Sudah ma, sekarang waktunya putriku dimandikan ". Sahut Al, lalu daddy itupun mulai meletakkan tubuh mungil Alexa untuk ia lucuti pakaiannya sebelum di mandikan.


" Sudah berhenti, biar mama yang melanjutkan ". Ucap Devina lalu ia segera mengambil alih yang dilakukan putranya.


" Ayo cucu oma, saatnya mandi ". Seru Devina, lalu wanita paru baya itupun mulai ia gendong dan di bawa ke kamar mandi yang telah tersedia dengan air hangat yang otomatis.


" Uma, Anta boleh itut mandi tan adik Eca ya uma ". Pinta Aganta tiba - tiba.


" Baiklah sayang, ayo ikut, Damian juga boleh ikut, kalian bantu oma mandikan adik ". Sahutnya.


Aganta dengan Damian pun merasa senang, akhirnya kedua anak kembar itu mendapat kesempatan lagi untuk memandijan adik Alexa nya. Dengan perasaan riang gembira kedua bocah kembar itu mengikuti sang oma menuju kamar mandi.


" Sayang ". Seru Al.


" Iya mas ". Sahut Adinda lembut.


" Kamu lihat Aganta dengan Damian, mereka masih kecil, belum genap berusia tiga tahun, tapi mereka sudah tahu bagaimana caranya menjadi kakak yang siap siaga, aku bangga pada mereka sayang ". Sahut Al tersenyum dengan menatap punggung mungil kedua putranya yang telah hilang di balik tembok.


" Iya mas, Adinda juga merasa seperti itu, rasanya baru kemarin Adinda melahirkan mereka, tetapi mereka sekarang sudah berusia dua setengah tahun lebih dan sudah menjadi seorang kakak ". Sahut Adinda lembut, dan dari kedua manik mata indahnya sedang menyiratkan kebahagiaan.

__ADS_1


Al lalu menatap istrinya. Tatapan nya begitu dalam. Entah mengapa tiba - tiba saja perasaannya merasa bersalah. Apakah dirinya terlalu berambisi untuk untuk memiliki keturunan lagi.


Merasakan jika sang suami menatapnya, Adinda pun juga balik menatap suaminya. Adinda merasa bingung, mengapa suaminya menatapnya seperti itu?


" Mas, ada apa?, kenapa tatapan mas Al jadi aneh begini? ". Tanya Adinda sedikit merasa bingung.


" Tidak sayang, hanya saja, tiba - tiba hatiku merasa bersalah ". Sahut Al.


" Bersalah?, bersalah kenapa mas, memangnya mas Al melakukan kesalahan apa? ". Tanya Adinda, bahkan ia mulai nampak khawatir.


" Aku merasa bersalah karena memaksamu hamil lagi, padahal Aganta dengan Damian masih kecil... entah kenapa aku baru menyadarinya sekarang jika ternyata secara tidak langsung aku sudah membuat Aganta dengan Damian harus menjadi kakak sebelum waktunya ". Sahut Al pada akhirnya.


Adinda pun cukup tersentak kaget setelah mendengar penuturan dari suaminya. Bagaimana suaminya bisacara berpikiran seperti itu?.


" Mas, kenapa mas Al bicara seperti itu, apakah karena jarak kelahiran mereka yang terlalu dekat? ". Sahut Adinda.


" Emm... mungkin seperti itu sayang ". Sahut nya.


Jadi memang itu alasan yang mendadak suaminya jadi merasa bersalah, karena waktu kelahiran anak - anaknya yang terlalu dekat.


Adinda lalu meraih rahang tegas suaminya itu. Wanita cantik yang memiliki sepasang bola mata indah itu rupanya sedang ingin menghilangkan rasa bersalah suaminya.


" Mas, kenapa mas bicara seperti itu, jangan bicara seperti itu lagi ya, kan kita sudah punya komitmen dari awal, jika kita akan merawat anak - anak kita dengan baik, sehingga anak - anak kita tak merasa kekurangan kasih sayang, jadi, mas Al jangan merasa khawatir jika baik Aganta maupun Damian akan seperti anak - anak yang harus terpaksa menjadi seorang kakak sebelum waktunya, Aganta dengan Damian adalah anak - anak yang cerdas dan penyayang, mereka sudah bisa menjadi seorang kakak, bahkan menjadi yang baik ". Sahut Adinda lembut dengan segala usahanya agar sang suami tak merasa bersalah.


Al tersenyum melihat istrinya. Al merasa jika dirinya kalah dewasa dari istri nya. Bagaimana tidak, istrinya Adinda di saat berada dalam hal membingungkan sekalipun, tetap bisa berpikir dan bersikap dengan bijak. Sungguh Al merasa sangat beruntung bisa memiliki istri seperti Adinda istrinya.


" Terima kasih sayang, kamu memang selalu bisa menjadi penyejuk hatiku ". Sahut Al terharu, lalu ia memeluk tubuh sang istri yang dicintainya itu.


Bersambung..........


Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca.


πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


__ADS_2