
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Bertemu kembali dengan sang saudara sepupu, membuat Diandra dan juga Rania ingin menghabiskan kebersamaan mereka di kamar besar Rania.
Diandra dan Rania nampak duduk santai, dua wanita muda itu nampaknya sedang begitu asyik berbincang - bincang.
" Jadi, selama kamu ada di Canada, kamu tidak liburan sama sekali, hanya kerja saja?, aduh sayang sekali ". Sahut Rania dengan menggeleng - gelengkan kepalanya.
" Iya liburan juga sih, tapi ya liburannya mungkin hanya dua minggu sekali atau sebulan sekali ". Sahut Diandra.
" Tapi kenapa, memangnya om David melarang mu liburan Di? ". Tanya Rania lagi.
" Tidak, papa sama sekali tidak melarang ku untuk liburan, hanya saja aku ingin lebih fokus kerja mengurus perusahaan papa di sana biar cepat selesai, aku tidak betah kalau lama - lama harus tinggal di negeri orang Ran ". Sahut Diandra.
Ya, Diandra memang lebih suka jika tinggal di negaranya sendiri, itulah sebabnya wanita muda itu begitu giat bekerja dan mengurus permasalahan perusahaan sang papa agar lebih cepat terselesaikan sehingga dirinya bisa cepat kembali ke tanah kelahirannya.
" Terus kenapa kamu membohongi ku, kemarin kamu cerita masih akan pulang satu tahun lagi, eh tidak tahunya sekarang sudah ada di rumah saja, heh tidak asyik kamu Di ". Sahut Rania, namun rautnya berubah sinis disaat mengucapkan kalimat terakhirnya.
" Hahahaha... ". Diandra tertawa dengan begitu kencangnya.
Wanita muda berparas cantik itu merasa sangat senang karena telah berhasil mengerjai sang saudara sepupu, sedangkan Rania, ia malah semakin memasang raut tak sukanya.
" Hahaha... hihihi... ups, sudah, jangan kesal seperti itu, tidak baik loh kalau kesal lama - lama, cepat tua tahu ". Lanjut Diandra lagi yang berusaha mendinginkan suasana hati sang saudara sepupu.
Dan sejurus dengan kalimatnya itu, Diandra kembali melihat - lihat isi kamar Rania, sepanjang pengamatan nya, nampaknya telah banyak perubahan pada isi kamarnya, senyuman kecil itu nampaknya tak henti - hentinya terpancar dari kedua sudut bibir Diandra.
" Aku heran deh sama kamu Di, perasaan dari semenjak kamu masuk ke kamarku kamu sepertinya senyum - senyum, ada apa, ada yang lucu dengan kamarku? ". Tanya Rania, karena ia merasa sedikit heran dengan Diandra.
" Iya, ternyata banyak perubahan ya dari kamar mu, kasur dan juga barang - barang di sini sudah berpindah posisi semua ". Sahut Diandra.
" Huum, ternyata hanya itu, aku kira ada hal yang lainnya yang lucu ". Sahut Rania.
Namun kali ini tatapan Diandra malah terfokus pada suatu benda, ada sebuah benda yang telah menjadi pusat perhatiannya, ya, sebuah vigura yang berukuran tidak terlalu besar yang terletak di meja samping kasur Rania.
" Ran, itu ada foto anak kecil, dan...tunggu dulu, di samping anak kecil itu kamu kan, itu kamu, kamu foto bersama dengan gadis kecil itu, siapa dia? ". Tanya Diandra tiba - tiba dengan tanpa mengalihkan pandangannya pada vigura kecil itu.
__ADS_1
Rania mengerti dengan foto yang Diandra maksud, tak ingin berlama - lama ia pun meraih foto itu dan menunjukan nya pada Diandra.
" Ini, gadis kecil yang ada di sampingku ini adalah saudara sepupuku, lebih tepatnya sih Adik sepupu, namanya Adinda ". Ujar Rania menjelaskan dengan memperlihatkan foto kebersamaannya bersama sang saudara sepupu Adinda.
" Manis sekali gadis kecil ini, wajahnya sangat imut, foto ini kapan di potret?, kenapa aku tidak tahu kalau kamu punya adik sepupu Ran ". Lanjut Diandra.
" Ceritanya panjang Di, terlalu rumit ". Sahut Rania dengan rautnya yang nampak lesu.
" Gadis kecil ini imut sekali, sangat menggemaskan, pasti sekarang sudah besar ". Ujar Diandra dengan rasa kagumnya.
" Sebentar ya Di, aku akan tunjukkan foto yang lainnya ". Sahut Rania, dan ia pun berlalu untuk mengambil foto - foto kebersamaannya yang lain dengan Adinda.
Nampak Rania mengeluarkan sebuah album foto dari dalam lemarinya, lalu ia memberikan nya pada Diandra, Diandra yang begitu di landa dengan rasa penasaran itupun mulai membuka album foto itu.
Dalam setiap lembarnya Diandra memperhatikannya dengan sangat teliti, ia melihat banyak foto Adinda dari semenjak bayi hingga menjadi seorang gadis kecil yang begitu menggemaskan.
" pasti mereka orang tua dan kakak Adinda ya, kakaknya sangat tampan dan ibunya juga sangat cantik ".
" Gadis kecil yang bernama Adinda ini lucu sekali ya, bahkan masih balita saja dia sudah terlihat sangat cantik ". Pujinya dalam setiap gumamannya.
" Iya, Adinda memang cantik orangnya, dia mewarisi kecantikan dari almarhumah ibunya ". Sahut Rania.
" Apa maksud kamu Ran, ibu gadis kecil ini sudah meninggal? ". Tanya Diandra yang begitu sangat terkejut.
" Hemm, ceritanya panjang Di, ada kisah yang begitu memilukan di balik hidup Adinda ". Sahut Rania, bahkan kini raut wajahnya nampak terlihat sedih.
Diandra yang tak ingin Rania sang saudara sepupu berlanjut merasakan kesedihannya, lebih memilih untuk tidak bertanya lagi, meski jujur, di dalam lubuk hatinya ia masih begitu penasaran pada kisah Adinda si gadis kecil yang begitu cantik dan menggemaskan itu.
Diandra kembali melanjutkan melihat foto - foto Adinda, hingga kini ia sampai pada lembar berikutnya, namun pada lembar ini ia merasakan bingung, bukankah tadi foto - fotonya masih Adinda kecil, lantas mengapa malah berganti dengan foto gadis cantik yang mengenakan hijab, lalu kemana foto Adinda yang lain.
" Ran, ini kok foto Adinda kecilnya tidak ada lagi, malah berganti jadi foto gadis remaja yang sangat cantik ini, sudah tidak ada lagi ya foto Adinda kecilnya?, terus siapa gadis berhijab ini Ran, dia cantik sekali ". Tanya Diandra.
" Ya gadis cantik ini adalah Adinda Di ". Sahut Rania.
" Loh, fotonya memang langsung berganti menjadi anak remaja seperti ini?, sepertinya ada yang hilang deh? ". Bingung Diandra, bukan tanpa sebab Diandra memiliki pemikiran seperti itu, pasalnya foto Adinda dari semenjak bayi hingga menjadi gadis kecil begitu tersusun lengkap, lalu mengapa langsung berubah menjadi anak yang sudah besar, kemana foto - fotonya yang lain?.
Rasa penasaran itu semakin kuat di hati Diandra, ia yang awalnya tidak ingin tahu terlalu banyak tentang Adinda, sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
__ADS_1
" Ran, sebenarnya ada apa sih, memangnya apa sih yang terjadi pada Adinda, aku penasaran deh, coba kamu cerita sama aku tentang kehidupan Adinda ini, aku janji, aku tidak akan memberitahukan nya pada siapapun ". Pinta Diandra pada akhirnya.
Rania yang merasa tidak keberatan dan percaya pada saudara sepupunya itupun bersedia untuk menceritakannya.
" Jadi begini Di, tapi kisah ini papa sih yang menceritakan nya, papa ku itu punya seorang adik perempuan, namanya Anggrina, aku sendiri manggilnya tante Anggi, tante Anggi itu dulunya mencintai seorang laki - laki sederhana namanya Budi, aku manggilnya om Budi, om Budi sendiri teman papa, jadi tante Anggi mengenal om Budi itu dari papa, hingga pada suatu hari, om Budi menyatakan perasaannya pada tante Anggi kalau dia mencintainya, ya karena sedari awal tante Anggi memang audah memiliki perasaan terpendam pada om Budi, akhirnya tante Anggi pun menerima lamarannya ".
Diandra begitu sangat memperhatikan kisah hidup yang diceritakan oleh Rania, ia begitu tertarik dengan awalan kisahnya, nampaknya kisah percintaan ini cukup sulit untuk dijalani.
" Dan karena om Budi ingin menghalalkan tante Anggi sebagai pendamping hidupnya, akhirnya om Budi datang ke rumah kakek dan nenekku untuk melamar tante Anggi secara resmi, tapi sayang, karena om Budi berasal dari keluarga yang sederhana, kakek dan nenekku menolak lamaran dari om Budi ".
Diandra merasa kasihan dan sedih mendengar kisah cinta mereka yang terhalang oleh restu kedua orang tua, apalagi yang menjadi penyebabnya adalah perbedaan kasta.
" Papaku pada waktu itu sudah berusaha membantu agar hubungan mereka bisa direstui oleh kakek dan nenek, papa sudah berusaha meyakinkan kakek dan nenek kalau om Budi itu bisa membahagiakan tante Anggi kalau sudah menikah nanti, tapi sayang, kakek dan nenekku tetap tidak merestui hubungan mereka ".
Diandra yang mendengarnya pun menjadi semakin sedih, ternyata hubungan percintaan mereka sangat tidak mudah dijalani.
" Karena om Budi tidak ingin membuat hubungan seorang anak dengan kedua orang tuanya menjadi rusak, akhirnya om Budi memilih untuk mundur meski om Budi tahu jika yang di pilihnya itu sangat melukai dirinya dan juga tante Anggi, namun harus bagaimana lagi, kakek dan nenekku hanya mau memiliki menantu yang berasal dari kasta yang sama, sungguh pilu kisah mereka ".
" Kakek dan nenekku melarang tante Anggi menghubungi apalagi sampai menemui om Budi lagi, bahkan yang aku dengar tante Anggi sampai di kunci di kamar agar tidak bisa keluar, hingga pada suatu hari tante Anggi jatuh sakit, bahkan kondisinya sempat drop, dan sepanjang tante Anggi sakit, dia terus memanggil - manggil nama om Budi, dan pada waktu itu dokter pun menyarankan untuk mempertemukan om Budi dengan tante Anggi, karena hanya dengan cara itulah sakitnya tanteku bisa sembuh, ya karena kakek dan nenek tidak ingin kehilangan tante Anggi, akhirnya mereka boleh bertemu, bahkan kakek dan nenek merestui hubungan mereka tapi dengan syarat, om Budi harus bisa membuktikan jika om Budi bisa menjadi orang sukses dan sepadan dengan keluarga Kanzu, karena om Budi tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya akhirnya om Budi pun menyanggupi permintaan kakek dan nenek ".
" Hingga hubungan yang diimpikan itupun terjadi, om Budi dan tante Anggi menikah, tapi kata papa acara pernikahannya sederhana karena om Budi pada waktu itu masih belum memiliki cukup banyak uang untuk sebuah acara pernikahan yang mewah ".
" Hingga setelah menikah, om Budi ingin menepati janjinya pada kakek dan nenek jika dia bisa menjadi orang sukses, dan benar, semua usaha sudah om Budi lakukan untuk mewujudkan janjinya itu, tapi sayang, usahanya tidak pernah memberikan hasil yang membanggakan, selalu saja berbuah kegagalan, karena om Budi tidak bisa menepati janjinya, akhirnya kakek dan nenek menyuruh mereka untuk bercerai ".
Deg... Diandra begitu tersentak mendengar nya, sebegitu tidak sukanya kah orang tua tante Anggi pada om Budi?, entah mengapa Diandra merasa sepertinya kegagalan yang dialami oleh om Budi itu adalah perbuatan dari orang tua tante Anggi sendiri yang memang sengaja dilakukan agar om Budi itu tidak pernah berhasil dalam usahanya.
" Om Budi dan tante Anggi tetap bersikukuh untuk tidak berpisah, tapi kakek dan nenek masih tetap pada keputusan mereka yang ingin agar anaknya bercerai, tentu pada waktu itu papa menentang keputusan kakek dan nenek, dan kata papa keluarga Kanzu pada saat itu sempat bertengkar sangat hebat, hingga dari pertengkaran itulah tanteku Anggi sampai jatuh pingsan ".
" Semua orang khawatir dengan kondisi tante Anggi, mereka takut jika tante Anggi kondisinya akan drop lagi seperti dulu, hingga akhirnya tanteku dilarikan ke rumah sakit, dan kamu tahu fakta apa yang dikatakan oleh dokter, dokter mengatakan kalau tante Anggi sedang hamil, tentu semua orang bahagia mendengarnya, kecuali kakek dan nenek, ya bagaimana tidak, dengan hamilnya tante Anggi, kakek dan nenek tidak bisa memisahkan mereka ".
Diandra pun ikut tersenyum mendengar kisahnya, ternyata kisah percintaan kedua orang tua Adinda ini begitu sangat butuh perjuangan, tapi tunggu dulu, Diandra masih begitu penasaran dengan kata almarhumah ibu, apakah tante Anggi itu meninggal?, sungguh Diandra benar - benar penasaran dibuatnya.
Bersambung..........
Bagi kakak - kakak yang menunggu kapan Al dan Diandra bisa bertemu, harap sabar dulu ya, tetap semangat membaca.
πππππβ€β€β€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ