
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Mobil mewah sang tuan telah berhasil memasuki pelataran rumah mewahnya. Tak ada lagi raut kecemasan padanya. Mungkin karena sang istri telah memaafkan kesalahan nya, sehingga rasa bersalah itupun mulai sedikit berkurang.
" Sayang, sudah sampai, ayo kita turun ". Seru Al.
" Iya mas ". Sahut Adinda, lalu wanita dengan perut buncit nya itupun ingin membawa beberapa pasang pakaian anak - anaknya yang sempat di belinya tadi.
" Loh sayang, kamu mau apa? ". Tahan Al.
" Hanya sedikit mas, Adinda hanya mau membawa baju barunya anak - anak yang di dalam saja ". Sahut Adinda.
" Tidak perlu sayang, biar aku saja yang membawanya, kamu masuk saja ke rumah sayang ". Sahut Al.
Mendengar sahutan sang suami, membuat Adinda tak keberatan untuk menurutinya. Lalu, setelah itupun Adinda memilih keluar dari dalam mobilnya dan menuju ke dalam rumahnya.
Wanita dengan perut buncitnya itu melangkah santai memasuki rumah, namun, tidak halnya dengan suaminya Al.
Pria matang yang memiliki postur tubuh tinggi itu, nampak kerepotan dengan banyaknya barang bawaannya. Lebih tepatnya, Al harus banyak membawa pakaian untuk anak - anaknya tanpa adanya seseorang yang membantunya. Bukan karena tak ada yang membantu, tapi, Al sendiri lah yang menolak bantuan dari para bodyguard nya.
" Mommy ". Seru si kecil Aganta setelah anak kecil itu keluar dari kamarnya.
" Sayang ". Sahut sang mommy Adinda dan mendekati putranya.
Disaat melihat mommy nya yang berjalan ke arahnya, disaat itu pula, Aganta sedang melihat sang daddy yang nampak kerepotan dengan banyaknya barang yang dibawanya. Aganta merasa kasihan dengan daddy nya, sehingga membuat bocah kecil itupun ingin segera membantu sang daddy.
" Sayang, Aganta mau ke mana nak? ". Seru Adinda setelah melihat putranya menuruni anak tangga dengan tergesa - gesa.
" Aganta mau bantu daddy mommy ". Sahut Aganta.
Lalu Adinda pun menoleh ke arah belakang tubuhnya.
Deg... dan betapa terkejutnya Adinda disaat dirinya mendapati kondisi suaminya yang banyak membawa pakaian anak - anaknya di tubuhnya.
" Ya Allah, mas, kenapa malah dibawa semua pakaian anak - anak, lebih baik dibawa sedikit - sedikit saja mas ". Seru Adinda, lalu ia pun mendekati suaminya.
" Daddy, biar Aganta bantu ". Pinta Aganta.
Dan Al pun akhirnya memberikan beberapa pakaian baru milik Damian, Alexa, serta milik Aganta sendiri pada putranya, sehingga hanya tersisa pakaian untuk si baby twins yang masih belum lahir.
" Sini mas, biar Adinda bantu ". Pintanya.
" Tidak perlu sayang ". Tolak Al.
Dan akhirnya sepasang suami istri dengan putranya itu pun menuju kamar mereka setelah sempat ada drama ingin bantu membantu membawakan pakaian baru.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
Ceklek... si kecil Aganta pun telah berhasil membuka pintu kamar itu dengan daddy dan mommy nya yang mengikuti dari arah belakang.
" Daddy, mommy ". Seru si kecil Alexa dari dalam kamar.
" Sayang ". Sahut Adinda.
" Huum, baju cucu - cucu mama kamu beli sekarang Al? ". Tanya sang mama Devina.
" Iya ma ". Sahut Al, lalu ia dan juga putranya Aganta meletakkan pakaian baru itu di atas kasur.
" Daddy, apa Damian juga dibelikan baju baru? ". Seru Damian.
" Sudah nak, semuanya sudah daddy belikan, coba itu lihat, yang baru saja dibawa oleh Aganta itu, adalah baju baru kalian ". Sahut Al.
Bukannya menanyakan apakah daddy nya lelah karena membawa banyak pakaian, tapi malah menanyakan yang lainnya, ada - ada saja Damian, maklum, mungkin karena bocah kecil itu tahu jika daddy nya akan membelikan baju baru untuk calon kedua adik kembarnya itu.
Dan seperti inilah akhirnya, keluarga Al, sedang disibukkan dengan berbagai baju baru. Dan pastinya Damian bersama sang adik Alexa lah yang paling sibuk dengan baju baru mereka, kecuali Aganta, karena ia sudah melihat baju barunya dan lebih memilih menyimpan baju barunya itu di dalam lemari miliknya.
*****
Malam pun telah berjalan. Seruan pengingat akan kewajiban nya sebagai hamba pun telah selesai keluarga itu tunaikan.
Al sudah berada di ruang tamu, entah apa yang dilakukan oleh pria itu. Sementara sang istri dan juga anak - anaknya masih berada di kamarnya, begitupun dengan kedua orang tuanya yang sudah beristirahat di kamar mereka.
Ting... ting... ting... ting....
" Bagus, ternyata mereka semua sudah datang ". Gumam Al.
Dan Al pun ingin segera menuju lantai atas untuk memberitahukan semua keluarganya jika malam ini adalah malam spesial.
Ceklek.... pintu kamarnya pun ternyata dibuka oleh istrinya.
" Sayang ". Seru Al.
" Mas, Adinda kok seperti mendengar suara ting - tingan gerobak bakso ya mas?, memangnya abang - abang penjual bakso bisa datang ke sini? ". Tanya Adinda.
" Ayo sayang, kita keluar sekarang, kita duduk di teras depan, kita ajak anak - anak juga ". Bukannya menjawab pertanyaan dari sang istri, Al malah mengajak keluar ke teras.
" Kita mau apa di teras mas?, lagi pula, anak - anak sedang asyik nonton kartun di dalam ". Sahut Adinda.
" Ya sudah tak apa sayang, setelah mereka berada di luar, aku yakin, pasti mereka akan jauh lebih senang daripada menonton kartun ". Sahut Al, lalu pria berusia matang itupun masuk ke kamar untuk mengajak anak - anaknya.
Sementara di beberapa sudut ruangan yang lain, nampak Devina dan juga suaminya Enriko keluar juga dari kamar mereka.
Ting... ting... ting... ting...
__ADS_1
" Tuh kan pa, suara ting - tingan baksonya ada lagi, sepertinya memang ada yang jualan bakso di halaman rumah deh pa? ". Seru Devina.
" Sepertinya iya ma, apalagi suaranya sangat jelas sampai ke sini, sepertinya ada gerobak bakso di teras depan ". Sahut Enriko dengan dugaannya.
Dan di sisi lain, Al dengan keluarga kecilnya pun keluar dari kamarnya. Nampak si kecil Alexa menjadi sedikit bingung dalam gendongan daddy nya, namun gadis kecil itu hanya diam dan menurut saja kemana daddy dan juga mommy nya mengajak keluar.
" Kalian keluar juga, apa kalian mau makan bakso? ". Tanya Devina setelah melihat keluarga kecil putranya.
" Tidak tahu ma, ini kita di suruh ke teras depan dengan mas Al ". Sahut Adinda apa adanya.
" Ya sudah ayo sama - sama kita keluar, kalau di luar memang benar ada yang jual bakso, mama mau beli yang banyak hihihi... ". Sahut Devina.
Dan akhirnya keluarga Georgino itupun melangkah bersama untuk menemukan jawaban dari rasa penasaran mereka. Tak lupa, mereka juga mengajak para asisten rumah tangga agar mau juga ke teras depan.
Ting... ting... ting... ting....
Suara ting - tingan itupun benar - benar terdengar sangat jelas, kala keluarga itu telah berada di luar.
" Wah... ternyata memang benar ada yang jualan bakso di sini, mommy daddy, Damian mau bakso ". Seru Damian dengan tatapan berbinar nya.
" Ya Allah, jadi memang benak ada gerobak bakso di depan rumah, apa mereka semua datang karena kamu yang menyuruhnya Al? ". Seru Devina.
" Iya ma benar sekali, aku sengaja mengundang mereka untuk berjualan di sini ". Sahut Al dengan menatap tersenyum kepada istrinya.
" Asyiiikk, aku mau makan bakso ". Seru Damian yang begitu sangat senang, lalu bocah kecil itupun langsung bergegas mendekati abang - abang bakso itu.
" Uma, Eca mau mamam baco ". Seru Alexa karena ia melihat oma nya sudah melangkah lebih dulu.
" Oh, baiklah cucu oma, ayo sini kalau mau makan bakso ". Seru Devina, dengan meraih tubuh mungil cucunya itu dari gendongan Al.
" Ayo bu, semuanya makan bakso ". Lanjut Devina lagi karena sedari tadi para asiaten rumah tangganya hanya diam.
" Baik nyonya ". Sahut mereka senang.
Adinda yang menyaksikan banyaknya gerobak jualan yang ada di depan matanya, benar - benar merasa sangat senang dan juga terharu. Semua pemilik gerobak dagangan itu adalah para pedagang yang berjualan di pinggir jalan yang sempat dirinya lihat tadi siang, dan kini, di malam seperti ini, mereka semua ada di sini. Jadi, demi untuk memenuhi keinginannya, suaminya Al sampai melakukan hal sejauh ini.
" Mas ". Seru Adinda.
" Iya sayang, mereka semua memang sengaja aku suruh ke sini, aku melakukan semua ini untuk kamu dan juga si baby twins ". Sahut Al dengan tersenyum.
" Ayo kita makan bakso sekarang, kasihan, bakso nya sedari tadi sudah menunggu kamu ". Lanjut Al lagi yang menggoda istrinya.
Adinda pun hanya bisa tersenyum dengan sikap suaminya itu. Suaminya Al memang laki - laki yang paling bisa membuat suasana menjadi lebih romantis, bahkan meski hanya dengan mendatangkan gerobak bakso saja.
Hingga kini, keluarga Georgino itupun, tak lupa dengan para asisten rumah tangga serta para bodyguard yang bekerja di sana, benar - benar menjadikan malam ini menjadi malam untuk makan bakso bersama yang di dapatkan secara langsung dari pemilik gerobak bakso. Senang... itulah yang mereka rasakan.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ