
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Namun nampaknya tak membuat seorang pria berbola mata biru keabu - abuan yang terkenal gila kerja itu masih nampak santai tak menunjukkan pergerakan untuk memulai aktivitas kerjanya di perusahaan. Ia saat ini seperti masih nampak terlihat santai di kamarnya.
" Mas, mas tidak jadi ke kantor hari ini? ". Seru Adinda pada sang suami setelah dirinya baru selesai memasak di dapur.
Al menoleh, dan ia pun langsung memeluk erat tubuh mungil sangat istri.
" Ya Allah, mas membuat Adinda kaget ". Serunya.
" Aduh kamu ini sayang, selalu saja kaget kalau mas memelukmu, memangnya mas ini hantu apa? ". Sahut Al dengan masih memeluk manja istrinya.
" Ya bagaimana Adinda tidak kaget mas, mas nya selalu mendadak seperti itu kalau memeluk, membuat Adinda jantungan tahu ". Sahutnya.
" Sayang mas bahagia sekali hari ini ". Seru Al.
" Bahagia kenapa mas? ". Balas Adinda.
" Ya bahagia sayang karena mas tidak perlu menunggu anak - anak berusia tiga tahun untuk membuatmu hamil lagi ". Sahut Al bahkan dengan rautnya yang begitu sumringah.
Apa?, Adinda tidak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran suaminya, ternyata suaminya sangat bahagia seperti ini karena ingin dirinya hamil lagi?.
Tak ingin terlalu memikirkan hal yang dipikirkan oleh sang suami, kini Adinda mencoba untuk melakukan obrolan lainnya yang juga tak kalah penting.
" Mas duduk dulu ya, kan tidak enak kalau berdiri seperti ini ". Serunya.
" Mas, Vita dan Andrew kan baru kemarin melangsungkan akad pernikahannya, mas masih ingin Andrew bekerja mas, tidak di suruh cuti dulu begitu ". Lanjut Adinda.
" Untuk itu tenanglah sayang, mas sudah memikirkan nya, tentu mas memberikan dia cuti, Andrew kan juga ingin sayang meluangkan waktunya untuk berbulan madu ". Sahut Al.
Adinda sangat senang mendengar jawaban suaminya, ia kira suaminya akan terus menyuruh Andrew untuk bekerja sesuai keinginannya, tapi ternyata tidak.
" Mas, jadi mas hari tidak jadi berangkat ke kantor? ". Ulang Adinda lagi.
" Mas akan tetap ke kantor sayang, tapi mas ingin berangkat nanti siang saja ". Sahut nya.
" Ya sudah kalau itu memang keinginan mas ". Sahut nya.
" Anak - anak masih bersama mama dan papa? ". Tanya Al.
" Iya mas, mereka bersama oma dan opanya, mama sedang menyuapi mereka sarapan ". Sahut Adinda.
Al kembali merengkuh tubuh mungil sang istri agar dapat merasakan kehangatan dari balik tubuh kekarnya. Tak ada lagi pembicaraan dari mereka hingga akhirnya...
" Mas, besok Adinda mau main ke rumah ayah ya? ". Serunya meminta izin.
__ADS_1
" Kenapa kamu tidak mengatakan nya dari tadi sayangku?, tentu mas akan mengizinkan jika kamu ingin main ke sana ". Sahut Al.
" Terima kasih mas ". Ucapnya berterima kasih.
" Huum, denganku ke sana sayang ". Putus Al.
*****
Di lain tempat namun masih berada dalam waktu yang sama nampak seorang wanita yang sudah menyandang status sebagai seorang istri itu, nampaknya tengah disibukkan dengan aktivitas paginya.
Ya, di pagi hari ini Vita nampak mondar - mandir tengah bertempur di dapur barunya untuk menyiapkan sarapan paginya bersama sang suami.
Dengan langkah perlahan dan sedikit tertatih - tatih, Vita melakukan aktivitas nya, meski masih terasa sakit di bagian sensitif nya, namun tak menyurutkan semangatnya untuk membuatkan sarapan untuk sang suami.
Sedangkan di ruangan lain atau lebih tepatnya di ruangan kerjanya, nampak sang suami Andrew masih memeriksa beberapa berkas penting, ia tak tahu jika sang istri yang ia suruh untuk menggunakan waktunya untuk beristirahat di kamar malah sibuk memasak.
" Aku rasa semuanya sudah selesai, dan berkas - berkas ini tinggal aku serahkan pada tuan Al ". Gumamnya.
" Ini sudah pukul enam lewat, kenapa makanan yang ku pesan masih belum datang? ". Imbuhnya. Dan Andrew pun mulai beranjak menuju kamar dimana sang istri beristirahat.
Dilangkahkan nya kaki jenjang nan kokoh itu hingga sampailah di tempat yang ia tuju.
Kriett... Andrew membuka pintu kamarnya. Andrew begitu tersentak kaget kala ia tak mendapati keberadaan sang istri.
" Vita, dimana istriku?, apa mungkin di kamar mandi? ". Ia menuju kamar mandi untuk melihatnya.
" Kenapa tidak ada?, dimana istriku? ". Serunya.
" Kamu dimana sayang? ". Ia terus melangkah dengan penuh rasa khawatir, hingga langkah lebarnya itu terhenti kala ia tak sengaja mencium adanya aroma masakan yang menyusup pada indra penciumannya.
Andrew menoleh dan langsung bergegas menuju dapur. Dan benar saja, ternyata sang istri yang ia khawatirkan keberadaannya kini tengah sibuk memasak di dapur.
Nampak Vita berjalan dengan langkahnya yang tertatih - tatih.
" Sayang, apa yang kamu lakukan?, hentikan aktivitas, aku tidak ingin kamu memasak ". Dengan tiba - tiba Andrew menginterupsi sang istri.
" Mas, mas disini?, jangan disuruh berhenti mas, sayang masakannya sudah hampir selesai, hanya tinggal kuah ini saja ". Sahut nya.
" Sayang, lukamu masih belum sembuh, aku tidak ingin kamu semakin sakit, sudah hentikan ini, kamu harus istirahat di kamar ". Perintah Andrew telak.
Andrew langsung mematikan kompor yang menyala itu, dan ia langsung menggendong tubuh istri mungilnya.
" Kamu tidak boleh memasak, besok akan ada asisten rumah tangga yang akan bekerja di rumah ini, kamu tidak perlu melakukan aktivitas apapun lagi sayang ". Serunya dalam melangkah menuju kamar.
Vita hanya pasrah, ia tak mau menyahut apalagi membantah perkataan suaminya, karena jika sampai hal itu ia lakukan hanya akan menjadi masalah nantinya.
Andrew menutup pintu kamarnya kembali, dengan perlahan ia menidurkan tubuh berharga istrinya.
__ADS_1
" Sayang, itumu masih sakit kan? ".Tanya Andrew lagi, entah apa yang ingin ia pastikan.
" Emm masih mas, dan terasa masih ada yang mengganjal ". Jujur Vita dengan malu - malu.
" Maafkan mas ya sayang, seharusnya mas tidak melakukannya dengan lama, apalagi itu pertama kalinya bagi kamu ". Seru Andrew dengan sesal.
Vita meraih tangan suaminya dan tersenyum padanya.
" Tidak apa - apa mas, yang Vita dengar dari cerita orang - orang, hal itu memang biasa terjadi pada seorang gadis yang melakukan malam pertamanya ". Sahut Vita dengan tersenyum.
" Puftt... puftt... puftt... ". Andrew menahan tawanya kala ia mendengar jawaban istrinya yang begitu polos.
" Mas kenapa?, ada yang lucu dengan Vita? ". Tanya Vita yang merasa heran dengan tingkah suaminya.
" Tidak sayang, hanya saja kamu ini sangat polos sekali, memangnya kamu tidak pernah melihat hal - hal yang seperti itu, selain hanya mendengar? ". Sahut Andrew dengan tatapan tak biasanya.
" Melihat hal - hal yang seperti itu apa?, sudahlah mas jangan yang aneh - aneh, tidak boleh melihat yang seperti itu dosa, mendengar cerita saja itu sudah cukup ". Sahut nya dengan raut yang mulai tak bersahabat.
Andrew tergelak mendengar jawaban dari istrinya, menurutnya istrinya sangatlah unik dan pintar, tidak pernah melihat tapi bisa paham dengan hanya mendengarkan cerita saja, pintar memang.
*****
Di sebuah rumah mewah nan Indah, namun sangat memiliki penjagaan yang ketat bak sebuah penjagaan di penjara, kini seorang wanita hanya duduk terdiam merenungi nasibnya.
Kesepian, merasa tak dianggap, sedih dan menyesal, itulah yang ia rasakan. Akibat dari perbuatan jahatnya ia harus mendekam di dalam rumah tanpa boleh melangkahkan kakinya untuk dapat melihat hamparan luas di luar sana.
Hanya dari sebuah jendela kecil lah ia dapat melihat halaman tempat pengasingannya, namun sepanjang ia bisa menatap semuanya tak lepas dari penjagaan para manusia bertubuh kekar dengan raut terlihat garang.
Ya, disinilah saat ini Sintia berada, di sebuah rumah mewah yang terletak di tengah hutan, dimana tak pernah terdengar adanya suara manusia sebagai tanda masih adanya kehidupan, sungguh hal ini terasa begitu menakutkan.
Di dalam kamarnya Sintia menatap ke arah luar Jendela. Baru satu minggu dirinya diasingkan di tempat ini, namun bak setahun rasanya.
Hidup namun tak bebas, hidup namun tak bebas, hidup namun tak ada teman, hidup namun terasa mati, itulah yang ia rasakan saat ini.
Memori akan masa - masa dimana dirinya masih menjalin kasih dengan Kelvin, satu - satunya pria yang telah mengambil kesuciannya dan juga pria yang sering mengisi hari - hari dengan kebahagiaan meski salah, kini kembali teringat dalam otak kecilnya.
Memorinya terus menerawang jauh dan mengingat akan bayi mungilnya yang pernah ia lahirkan sembilan bulan yang lalu.
Kini rasa penyesalan itu semakin menyeruak memenuhi relung hatinya. Sebuah penyesalan yang sia - sia yang tak dapat menghapus segala kesalahan nya.
Tanpa terasa, telah jatuh tetesan air mata dari sepasang manik matanya.
" Anakku maafkan mama nak, semoga kamu bisa tumbuh bahagia bersama papa mu, karena hanya dialah orang terbaik yang bisa merawat mu ". Lirih nya.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, karena dukungan kalian adalah semangat bagi Author untuk melanjutkan karya ini.
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ