Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Tentang Hari Ini


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Kebersamaan dan kebahagiaan kedua orang tua dengan diiringi celotehan - celotehan dari kedua putra kembarnya terdengar begitu membahagiakan. Menikmati waktu bersama dengan memperhatikan tumbuh kembang kedua putranya adalah hal yang begitu di nanti dan menjadi prioritas utama sepasang orang tua itu.


" Sayang ". Seru Al pada sang istri yang ia rangkul.


" Iya mas ". Sahutnya lembut dengan tetap memperhatikan kedua putranya yang sedang sibuk dengan mainannya.


" Apa sewaktu kamu hamil Aganta dan Damian ada sesuatu yang kamu inginkan sayang, tapi tidak terpenuhi? ". Al memandang istrinya.


Adinda menoleh pada sang suami. Wanita berhijab itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan suaminya.


" Apa?, katakan pada mas, apa yang kamu inginkan selama kamu hamil, tapi kamu tidak mendapatkannya sayang! ". Seru Al lagi dengan rasa khawatirnya.


" Mas, semua yang Adinda dan anak - anak butuhkan, semuanya sudah mas Al penuhi ". Sahutnya lagi dengan tersenyum.


Adinda tahu jika suaminya ini masih mengingat masa - masa dimana ia sedang mengandung putranya tanpa adanya seorang suami yang mendampingi nya.


" Sayang, jawablah pertanyaan mas, mas ingin mengganti semua yang belum mas berikan pada saat kamu mengandung anak kita sayang ". Seru Al lagi dengan sedikit menghiba pada istrinya.


Mau tidak mau Adinda pun harus menjawab permintaan dari suaminya.


" Mas, sebenarnya banyak hal yang Adinda inginkan sewaktu Adinda hamil anak - anak, tetapi Adinda tahu mas Adinda tidak boleh menggunakan uang dari hasil kerja Adinda untuk itu, karena uang dari hasil kerja Adinda harus Adinda gunakan untuk kebutuhan makan, membeli obat untuk ayah, dan juga ditabung untuk biaya melahirkan ". Sahut Adinda dengan rasa sedihnya yang mengingat bagaimana ia berjuang.


Deg..... Al begitu terhenyak mendengar jawaban sang istri, sebuah jawaban yang belum pernah ia tahu dan belum ia dengar sebelumnya.


Masih teringat dalam benak Al, bagaimana ia dulu dan juga kedua orang tuanya begitu memperdulikan dan menjaga Sintia dan juga bayinya. Dan di luar sana Adinda istrinya sedang berjuang untuk menlanjutkan hidup dan kebutuhan anak - anaknya.


Tanpa terasa ada tetesan air mata yang terjatuh dari kedua pelupuk matanya. Al semakin mengeratkan pelukannya pada Adinda.


" Maafkan mas sayang, mas sudah datang terlambat ". Serunya dengan hati yang sudah dipenuhi rasa bersalah.


Adinda sedikit menguraikan pelukannya dari sang suami. Diusapnya dengan lembut lelehan air mata yang sempat terjatuh menetesi wajah tampannya.


" Mas, sampai kapan mas akan terus meminta maaf, Adinda sudah memaafkan semuanya mas ". Sahutnya lembut.


" Adinda dan anak - anak sudah mendapatkan kebahagiaan yang selama ini menjadi impian kami, dan perlu mas Al ingat, hadirnya anak - anak dan juga mas Al dalam hidup Adinda adalah anugerah yang Allah berikan ". Imbuhnya lagi dengan memegang rahang tegas sang suami.


Cup..... Al mencium kening Adinda.


" Terima kasih sayang ". Sahutnya.


Sepasang orang tua yang saling menguraikan rasa kesedihannya itu tidak menyadari jika kedua putra mungilnya yang sedang bermain di depan mereka nampak saling memperebutkan mainan.


Mungkin karena memang ulah sang Damian yang merasa suka dengan mainan kembarannya Aganta, membuat Damian merebut mainan yang dipegang saudaranya, merasa tak terima mainannya di rebut, Aganta kembali mengambil mainannya dari Damian, namun sepertinya Damian ini masih ingin mengambil mainan saudaranya, hingga terjadilah aksi saling rebut merebut mainan, hingga akhirnya.....


" Oekk..... oekk..... oek..... ". Aganta menangis dengan begitu kencangnya karena mainannya telah berhasil direbut oleh Damian.


" Ya Allah, ada apa nak? ". Tanya Adinda yang sedikit terkejut karena tiba - tiba saja putranya menangis.


" Oekk..... oekk..... oekk..... ". Aganta tetap menangis dengan kencangnya.


Merasa tak tega melihat putranya menangis, Adinda pun mulai meraih tubuh Aganta dan membawanya dalam rangkulan nya. Sedangkan Damian jangan ditanya lagi, ia hanya sesekali melihat ke arah sang saudara dan setelah itu kembali fokus pada mainannya, memang bukan Damian namanya jika tak berbuat ulah.


" Tup... tup... tup... tup... Aganta sayangnya mommy kita main mainan yang ini saja ya nak ". Seru Adinda yang berusaha menenangkan Aganta dengan memberikan mainan lain padanya, untunglah Aganta tipikal anak yang mudah ditenangkan hingga ia pun diam dari tangisannya.


" Pam, Pam, Pam, Pam, Pam, Pam, mam, mam ". Celoteh Damian dengan senyumannya pada sang kembaran.

__ADS_1


Al hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya, dan ia pun meraih tubuh Damian yang sedang asyik dengan mainannya itu.


" Emmuah, emmuah, anak daddy ini memang nakal ya, suka sekali mengganggu saudaranya ". Seru Al dengan terus menciumi pipi gembul Damian.


*****


Sore pun telah tiba, saatnya bagi para karyawan mulai melangkahkan kakinya dan berangsur meninggalkan tempat kerja mereka dan kembali ke rumahnya masing - masing.


Vita mulai melangkah menuju halaman luas di depan kantor perusahaan tuan nya. Nampak di depan sana sudah ada supirnya pak Mul, yang sedang menunggunya.


Namun sesaat kemudian sebelum Vita sampai di mobilnya tiba - tiba saja Andrew berjalan di sebelahnya, dan hal itu sontak saja membuat Vita menjadi terkejut.


" Tuan Andrew, membuat saya kaget saja ". Sahut Vita.


" Kamu dijemput pak Mul?, kenapa tidak menyetir sendiri saja? ". Tanya Andrew dengan tetap bejalan bersama Vita.


" Anu tuan, saya masih belum terlalu bisa untuk membawa mobil sendiri ". Sahut Vita.


" Ya sudah, sampai jumpa nanti malam ". Tutur Andrew, dan ia pun mempercepat langkahnya menuju mobilnya.


Vita terhenti dari jalannya, ia terheran dengan kalimat terakhir tuan Andrew nya.


" Tuan Andrew kenapa?, apa maksudnya tadi, sampai jumpa nanti malam, memangnya nanti malam aku ada janji apa dengan dia?, dasar pria aneh, kalau bicara suka seenaknya ". Batin Vita.


*****


Tanpa terasa waktu malam pun telah tiba dan terus berjalan mengarungi malam yang terasa lebih sunyi. Sepasang anak kembar kini telah terlelap dan mengarungi mimpi indahnya. Namun nampaknya tak membuat sang mommy juga bisa tidur terlelap sama seperti sepasang anak kembar yang sedang terlelap itu.


Adinda masih setia duduk di bibir ranjang empuknya. Pikirannya menerawang teringat akan sosok wanita yang sudah bagaikan ibu kandung baginya.


" Bi, bibi masih di kampung? , kenapa bibi tidak bisa di hubungi?, Adinda rindu bibi ". Batin Adinda sedih yang merindukan bi Nadia, dan tanpa terasa ia pun menjatuhkan air matanya.


Ceklek..... pintu kamar pun dibuka, dan nampak lah sesosok Al. Ia masuk ke kamarnya dan mendekat ke arah sang istri.


Buru - buru Adinda menghapus tetesan air matanya, berharap agar suaminya tak mengetahui kesedihannya.


" Iya mas ". Sahutnya.


" Tumben kamu belum tidur sayang, biasanya kalau anak - anak tidur kamu juga ikut tidur ". Sahut Al, dan ia pun duduk di samping istrinya.


" Belum mas, Adinda belum mengantuk, lagi pula ini masih pukul tujuh, masih terlalu dini untuk tidur mas ". Sahut Adinda.


" Sayang, kamu kenapa, kamu menangis? " Tanya Al.


Wajar saja jika Al bertanya seperti itu, pasalnya ia melihat mata istrinya yang terlihat sedikit memerah.


" Menangis apa sih mas, kenapa Adinda harus menangis? ". Sahutnya dengan berusaha tetap tersenyum.


" Sayang, kamu jangan menutupinya dari mas, coba katakan apa yang membuatmu sedih seperti ini? ". Tanya Al lagi.


" Adinda hanya sedih mas, Adinda teringat dengan bibi, Adinda rindu bi Nadia ". Sahutnya sedih.


Al menghela nafasnya cukup dalam, jadi ini yang membuat istrinya sedih.


" Sayang, jika kamu memang rindu dengan bibi mu, mas akan mengantar mu kesana ". Sahut Al.


Adinda menatap tak percaya pada suaminya, benarkah suaminya akan mengantarnya pada bibinya?.


" Mas, apa mas tidak bercanda? ". Sahutnya.

__ADS_1


" Kapan mas pernah bercanda sayang, jika memang kamu rindu dengan bi Nadia akan mas antar kesana ". Sahut Al lagi.


" Benarkah mas, kalau begitu Adinda mau kesana besok ". Sahut Adinda, dan ia pun langsung memeluk tubuh kekar suaminya.


" Tapi ada syaratnya sayang " Sahut Al dengan senyum nakalnya.


" Syarat?, syarat apa mas? ". Sahut Adinda dengan sedikit perasaan kecewa.


" Iya syarat, dan syaratnya adalah ". Al kini mendekatkan bibirnya di telinga Adinda.


" Aku mau malam ini kita melakukan nya sampai tiga ronde ". Imbuhnya lagi dengan senyum kemenangan.


Adinda membelalakkan kedua bola matanya tak percaya, bagaimana bisa suaminya menginginkan agar bisa dilayani sampai tiga ronde, sedangkan satu ronde saja benar - benar membuatnya sudah kewalahan.


" Bagaimana kamu setuju sayang? ". Tanya nya lagi.


Namun yang ditanya masih tak kunjung menjawab.


" Aku paham, kamu tidak menjawab itu artinya tidak, ya sudah kalau begitu itu artinya kita tidak jadi ke rumah bibi mu ". Putus Al pada akhirnya.


" Eh mas, tidak, tidak seperti itu ". Sahutnya gelagapan.


" Ya sudah itu artinya kamu setuju kan sayang dengan syarat dariku ". Seru Al lagi dengan senyuman nakalnya.


" Mas, dua ronde saja ya, kan besok kita harus berangkat ke rumah bibi, kalau Adinda mengantuk bagaimana?, bisa - bisa tidak jadi pergi ". Elak Adinda, sebenarnya ia berusaha untuk nego.


" Emm baiklah, benar ya dua ronde, satu ronde satu setengah jam, jadi jika dua ronde artinya tiga jam ". Sahut Al dengan segala kelicikannya.


" Apa? ". Adinda sangat terkejut, dua ronde tapi sampai tiga jam, lalu apa bedanya dengan tiga ronde.


*****


Paras cantik gadis berhijab nampak terpancar dari wajahnya. Cukup lama dirinya bercermin untuk melihat penampilan nya. Namun meski begitu ada satu hal yang membuatnya bertanya mengapa dirinya harus berpenampilan secantik ini, apakah malam ini ada acara yang sangat penting hingga harus berpenampilan sebagus ini.


" Vita kamu sudah siap nak? ". Seru pak Budi yang tiba - tiba saja datang menghampiri.


" Eh ayah, iya Vita sudah siap ". Sahutnya.


" Ya sudah kalau begitu ayo kamu ke ruang tamu, mereka sudah menunggu ". Sahut pak Budi.


Vita mengernyit bingung pada sang ayah.


" Ayah memang siapa yang menunggu sih, kan Vita tidak memiliki janji pada siapa pun ". Sahutnya.


" Oleh karena itu ayo kamu ke ruang tamu dulu sekarang, biar kamu tahu siapa yang menantimu ". Sahut pak Budi.


Akhirnya Vita pun pasrah, percuma saja ia bertanya pada ayahnya kalau jawaban nya akan ia ketahui di ruang tamu.


Akhirnya Vita pun melangkah dengan beriringan dengan sang ayah. Entah mengapa dalam setiap langkahnya menuju ruang tamu dadanya terasa begitu dag dig dug seolah seperti ada hal besar pada hari ini.


Dan kini langkah Vita telah terhenti di ruang tamu itu, pandangannya mulai menelisik ke setiap orang yang sudah duduk di sofa.


Terlihat di sana ada beberapa hadiah dan juga buket bunga indah yang sudah tertata rapi di atas meja, dan tak jauh dari itu ada sepasang pria dan wanita paru baya yang tersenyum ke arahnya, dan Vita pun juga tersenyum pada kedua orang tua itu, hingga tatapan nya kini tertuju pada orang terkahir yang sudah duduk di samping orang tua itu dan...


Deg..... Vita begitu sangat terkejut dengan sosok terakhir yang dilihatnya.


" Tuan Andrew?..... ada apa malam - malam datang kesini? ".


Bersambung..........

__ADS_1


Dukung terus karya Author ya πŸ™πŸ™β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2