
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sore hari yang begitu hangat seolah memberi semangat yang hangat pula untuk menikmati hangatnya mentari yang bersinar indah sebelum menuju ke tempat peraduan nya.
Sore yang telah menjadi akhir bagi sebagian umat yang menjalani aktivitas paginya hingga saat ini telah menjadi titik tumpu akan terselesaikan nya waktu bagi setiap insan yang berjuang dalam meraup pundi - pundi rupiah.
Tanpa terasa waktu kini sudah menunjukkan pukul empat sore, yang menandakan semua karyawan yang telah bekerja dari pagi hari sudah akan kembali ke tempat peraduannya masing - masing.
Hal itupun juga tak luput dari sosok pria paru baya yang mendirikan perusahaan G. Group ini untuk pulang ke rumahnya, oh tidak lebih tepatnya lagi pulang ke rumah pribadi putranya.
Merasa tidak ada lagi hal yang perlu untuk dikerjakan kini Enriko memutuskan untuk pulang.
Enriko melangkah keluar dari ruangannya, perjalanan menuju keluar atau lebih tepat di lorong ruangan perusahaan tiba - tiba saja Andrew datang dan ikut melangkah bersamanya.
" Sore tuan ". Sapa Andrew.
" Sore Andrew ". Sahut Enriko.
" Tuan, kenapa tuan masih masuk kerja? ". Tanya Andrew yang sedikit khawatir.
" Ya tidak apa - apa, hari ini aku masuk ke kantor hanya sebagai formalitas saja, kalau perusahan ini masih memiliki pemimpin, ya kan kamu tahu sendiri Andrew, Al sedang menikmati bulan madunya bersama istrinya, ya jadi aku hanya turut menggantikan kehadirannya saja di perusahaan ini ". Sahut Enriko menjelaskan.
Andrew pun mengangguk paham, namun di dalam hatinya ia berkata lain.
" Enak sekali tuan Al bisa berbulan madu sampai dua minggu, dan aku harus mengurus perusahaan seorang diri, memang hebat tuan Al ". Batin Andrew yang merasa miris.
Akhirnya kedua pria beda generasi itupun berpisah dan menuju mobilnya masing - masing.
Dengan penuh rasa bahagia Enriko mengendarai mobil mewahnya. Pria paru baya itu begitu tak sabar ingin segera bertemu dengan kedua cucu kembarnya yang saat ini sudah begitu aktif dan merespon keadaan di sekitarnya.
Mobil mewah silver milik tuan Enriko itu terus melaju melewati jalanan ibu kota yang begitu terlihat ramai lancar.
Mobil itu terus dikendarai nya dengan kecepatan sedang hingga sekitar dua puluh menit lamanya sampailah mobil mewah itu di pelataran rumah mewah milik putranya.
" Selamat sore tuan ". Sambut para bodyguard setelah tuannya Enriko keluar dari mobilnya.
" Selamat sore ". Sahut Enriko.
Dan Enriko pun kembali melangkahkan kaki jenjang nanti kokohnya memasuki ruangan rumahnya.
Pria paru baya itu terus melangkah, namun sepertinya tidak ada istri dan juga cucu - cucunya yang hadir untuk menyambut kedatangannya.
" Istri dan cucu - cucuku tidak ada, mungkin mereka sedang di kamar ". Gumam Enriko.
Dan Enriko pun kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai atas dimana istri dan juga kedua cucu kembarnya berada.
Tok... tok... tok...
Ceklek..... pintu kamar pun dibuka.
Devina yang baru saja selesai menidurkan kedua cucunya itupun menoleh. Dan ternyata benar, sosok yang datang adalah suaminya.
__ADS_1
" Sore ma ". Seru Enriko.
" Sore pa, maaf pa, mama tidak menyambut papa pulang, tadi cucu kita sempat rewel ingin segera ditidurkan ". Sahut Devina menjelaskan dan mendekat kearah suaminya.
Cup..... satu kecupan dari Enriko mendarat di kening istrinya.
" Sudah berapa lama Aganta dan Damian tidur? ". Tanya Enriko.
" Baru sekitar sepuluh menit yang lalu pa ". Sahut Devina.
Aganta Gerald Georgino
Damian Gerald Georgino
Kemudian Enriko pun mencoba mendekati Damian yang sedang tidur terlelap. Entah mengapa Enriko begitu ingin menyentuh cucunya yang lebih banyak berceloteh disaat sadar itu.
" Pa, papa ingin apa pa?, jangan ganggu Damian, nanti dia bisa bangun pa ". Peringat Devina pada sang suami.
" Sebentar saja ma, papa hanya ingin mencium pipi gembul nya itu, habisnya kalau Damian sadar, dia selalu saja iseng sama papa, jadi mumpung anak ini masih tidur papa mau menciumnya ". Sahut Enriko yang masih tetap pada keinginan nya.
" Pa, jangan pa, nanti kalau Damian bangun dan rewel papa sendiri yang menenangkan mama tidak ikut ". Peringat Devina untuk yang terakhir kalinya.
Namun Enriko masih tetap pada keinginannya. Dan kini Enriko sudah mendekatkan wajahnya pada cucu nya.
Enriko mencoba menciumnya, dan ternyata ia berhasil melakukannya, namun naas pada saat Enriko berhasil mencium pipi gembul Damian, pada saat itu pula Damian merasa sangat terkejut dan.....
secara spontan tangan mungilnya langsung menegang dan menampar pipi kanan Enriko.
" Akh..... astagfirullah ". Pekik Enriko, yang merasa sangat terkejut karena tiba - tiba saja cucunya mengamuk.
" Ada apa pa? ". Tanya Devina khawatir.
" Ini ma, Damian ma, dia menampar papa ". Seru Enriko.
" Hah, menampar bagaimana pa, bagaimana bisa anak bayi menampar orang? ". Tanya Devina.
" Benar ma, papa benar - benar ditampar dengan Damian, papa tadi kan mencium pipi Damian ma, sewaktu papa menciumnya Damian menjadi terkejut dan hasilnya papa malah di tampar sama dia ". Sahut Enriko dengan wajah melasnya.
" Ha.. ha.. ha.. ha.. aduh papa ". Tawa Devina.
" Ma, kenapa mama malah tertawa, bukannya mengasihani papa, malah ditertawakan ". Sungut Enriko yang tak suka dengan sikap istrinya.
" Ha.. ha.. ha.. ha.., papa sih ada - ada saja, mama kan tadi sudah memperingatkan, jangan ganggu Damian, tapi papa malah mengganggunya ". Sahut Devina dengan menahan perutnya.
" Tahu lah mama ". Kesal Enriko.
Devina masih terus tertawa melihat nasib suaminya, selalu saja suaminya itu apes jika bersama Damian.
" Aduh, Damian - Damian, sebenarnya salah opa ini apa sih nak sama kamu?, selalu saja kamu iseng sama opa, untung saja opa sayang kamu ". Batin Enriko.
__ADS_1
*****
Senyum manis telah terbit pada wajah sesosok wanita cantik yang sudah selama tiga tahun lamanya telah menghabiskan waktunya untuk tinggal di Canada.
Wanita cantik itu begitu sangat bahagia karena tak lama lagi keinginannya untuk bisa merajuk cinta bersama sang kekasih yang sudah tiga tahun lamanya ia tinggalkan.
Ya, dialah Diandra Isabella Wijaya, seorang gadis berparas cantik yang telah mampu menaklukkan hati seorang Alexander Gerald Georgino yang begitu dingin bahkan tak mudah disentuh oleh wanita.
Diandra menatap pada hiruk pikuk jalanan kota. Pikirannya teringat akan saat - saat dimana ia pernah menghabiskan waktunya bersama Al. Senyum bahagia yang tadi sempat terbit dari wajah cantiknya, seketika itu menjadi memudar.
" Al, sudah tiga tahun kita tidak bertemu, bahkan, kamu sudah tidak menghubungiku lagi, sebegitu marahkah kamu hingga tidak ingin menghubungiku lagi, apakah kamu tahu?, perasaan ini masih sama seperti yang dulu Al, perasaan ku padamu masih sama dan tidak pernah berubah " .
" Maafkan aku, yang sudah meninggalkan mu, tapi percayalah, aku bukan untuk meninggalkanmu, tapi aku pergi untuk kembali, kembali padamu, aku masih mencintaimu Al ".
" Tinggal satu tahun lagi, satu tahun lagi aku akan kembali ke tanah air, aku akan menemui mu Al, aku akan datang padamu, dan kita akan mewujudkan mimpi kita yang sempat tertunda, yang menjadi impianmu selama ini, kita akan menikah Al ". Gumam Diandra dengan mengingat Al.
*****
Hubungan percintaan sepasang suami istri begitu menggelora dan seolah tak ingin dilepaskan dari penyatuan dua insan yang begitu mampu menenggelamkan keduanya pada kenikmatan surgawi.
Sepasang pengantin baru itu masih tetap melakukan hubungan percintaannya di atas sebuah kasur yang begitu empuk dan sangat memberikan kenyamanan itu.
Al terus memacu miliknya yang perkasa itu pada bagian inti milik istrinya Adinda. Seolah tak pernah puas dan selalu ingin menjadi pengendali di atas ranjangnya membuat Al tak henti - hentinya mengkungkung tubuh istrinya Adinda.
Bahkan ini sudah yang ketiga kalinya, ia melakukannya pada sang istri. Namun sepertinya Al masih belum mencapai pada titik kepuasan nya. Tubuh istrinya Adinda benar - benar telah menjadi candu baginya.
Des*han demi des*han, er*ngan demi er*ngan sudah sedari tadi terlontar dari dari kedua belah bibir istrinya Adinda. Namun hal itu tak membuat Al ingin melepas sang istri begitu saja.
Bahkan kini tubuh istrinya itu telah terkulai lemas tak berdaya, hingga pada akhirnya Al pun memacu miliknya dengan mode yang lebih cepat lagi hingga ia mencapai pada titik pelepasannya.
" Akh ". Al ambruk di atas tubuh istrinya Adinda.
Tubuh keduanya masih sama - sama lelah. Al mencium ceruk leher istrinya, sebelum dirinya benar - benar memindah posisi tubuhnya.
Diambilnya selimut tebal tadi yang sempat tergeletak mengenaskan di lantai. Dan kini Al menyelimuti tubuh istrinya yang polos itu.
Cup..... satu kecupan hangat telah berhasil mendarat di kening Adinda.
Al mengusap lelehan keringat yang bermunculan di wajah manis istrinya, bahkan tetesan air mata yang tadi juga sempat memenuhi kelopak mata indah sang istri karena perbuatannya sendiri juga ia usap.
Cup... cup... cup...cup...
Al mengecup kening, bibir, dan kedua kelopak mata indah istrinya itu yang sudah terpejam.
" Adinda, maafkan aku, sekarang kamu beristirahatlah, terima kasih karena kamu sudah mau melayani ku sayang ". Bisik Al.
Cup.....
Kini sepasang insan yang telah menghabiskan malamnya untuk bercinta itu telah merebahkan dirinya dengan sempurna, dengan Al memeluk tubuh istrinya Adinda.
Bersambung..........
Jangan lupa dukung terus karya Author ya
__ADS_1
ππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏ