
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Seperti biasa di pagi hari yang cerah ini Adinda masih rutin dengan kegiatan kesehariannya. Kedua anak kembarnya pun telah usai mandi, bahkan tubuh kedua bocah gembul itupun telah segar dan sangat wangi sehingga membuat orang yang ada di sekitarnya ingin mendekati dan mencium mereka.
" Aduh anak - anak daddy ini sudah sangat wangi ya, emmuah emmuah ". Seru Al dengan menciumi pipi gembul kedua putranya.
" Dy dy, dy dy uk a ( daddy, daddy sudah) ". Tolak Damian karena kedua pipi gembul nya terus diciumi oleh sang daddy sehingga membuat bocah mungil itu merasa geli.
" Iya iya boy, ih kamu ini selalu saja begitu kalau daddy menciummu boy ". Seru Al pada Damian, sedangkan Aganta ia tetap tenang dan tersenyum meski sang daddy sering mendusel - duselkan wajah daddy nya di pipi gembulnya itu.
" Pagi anak - anak mommy, sarapan dulu yuk nak, Aganta sama Damian berhenti dulu ya mainnya, nanti kalau sarapannya sudah selesai dilanjutkan lagi mainnya ya ". Seru Adinda pada kedua anaknya.
" Huum myh ". Sahut Aganta dan Damian dengan mengangguk.
" Sayang mau aku bantu? ". Tawar Al pada sang istri.
" Tidak perlu mas, mas Al perhatikan anak - anak saja ". Sahut nya lembut.
" Ayo anak mommy siap - siap, giliran Aganta dulu ya nak yang mommy suapi, Bismillahirrahmanirrahim Aganta buka mulutnya nak aaa... aem, alhamdulillah anak pintar ". Satu suapan pun telah masuk ke mulut mungil Aganta.
" Ayo sekarang giliran Damian nak, Bismillahirrahmanirrahim buka mulutnya nak aaa... aem, alhamdulillah pintarnya anak mommy ". Seru Adinda setelah satu suapan itu telah berhasil masuk ke mulut mungil Damian.
Dengan penuh ketelatenan Adinda menyuapi kedua anaknya. Baik Aganta maupun Damian nampak begitu lahap memakan sarapannya, hingga separuh dari sarapan kedua bocah gembul itu hampir tandas, tiba - tiba terdengar...
Drtt... drtt... drtt... terdengar adanya suara getaran handphone milik Adinda yang ada di atas nakas.
" Mas, mas gantikan Adinda menyuapi anak - anak ya, Adinda mau mengangkat handphone dulu ". Seru pada sang suami.
" Tidak perlu sayang, biar mas yang mengambilnya ". Ujar Al dan ia pun langsung beranjak dari posisinya untuk mengambil handphone milik istrinya.
" Siapa yang menelfon mas? ". Tanya Adinda setelah suaminya berhasil meraih handphone nya.
" Ini sayang Vita yang menelfon ". Sahut Al dan menyodorkan handphone itu pada sang istri.
" Gantian daddy yang menyuapi kalian ya nak ". Alih Al setelah sang istri menerima handphone nya.
" Iya Vita ada apa? ". Tanya Adinda.
" Adinda aku punya kabar bahagia untukmu ". Sahut Vita dari balik handphone yang terdengar sangat antusias.
" Kabar bahagia, kabar bahagia apa Vita, cepat katakan jangan membuatku penasaran ". Sahut Adinda yang tak sabar.
" Adinda aku hamil ". Sahut Vita dengan begitu riangnya.
" Apa?, kamu hamil?, alhamdulillah, Vita aku ikut bahagia, alhamdulillah ". Sahut Adinda dengan begitu girangnya.
__ADS_1
Sontak saja Al dan juga si kembar Aganta dan Damian langsung menoleh ke arahnya.
" Vita aku sangat bahagia, akhirnya sebentar lagi aku akan menjadi onti senangnya aku ". Seru Adinda dengan masih rasa bahagianya.
" Iya dan tidak lama lagi Aganta dan Damian akan punya adik ". Sahut Vita.
" Iya betul pasti anak - anakku akan sangat senang ". Sahut Adinda.
" Ya sudah Adinda aku tidak mau berlama - lama aku mau tutup telfonnya dulu ya, oh ya kalau kamu mau menemuiku datang saja ke rumah ayah, aku menginap di sini sekarang ". Ujar Vita.
" Iya ". Sahut Adinda.
Tut... tut... tu...panggilan pun telah berakhir.
" Sayang, apa tadi Vita hamil? ". Tanya Al.
" Iya mas Vita hamil, aku sangat bahagia mendengarnya ". Seru Adinda sumringah lalu ia pun kembali duduk bersama suami dan juga kedua putranya.
" Aganta, Damian, sebentar lagi kalian akan punya adik nak, onti Vita sedang hamil sayang ". Seru Adinda dengan membagikan kebahagiaan itu pada kedua putranya.
" Dek dek dek ". Seru Damian ikut bahagia, bahkan bocah gembul itu bertepuk tangan.
" Anta au dek dek myh ( Aganta mau adik mommy) ". Respon Aganta yang juga ikut bahagia.
" Iya sayang, yang sabar ya, adiknya Aganta sama Damian masih belum lahir, nanti kalau adiknya sudah lahir boleh di ajak main deh ". Sahut Adinda untuk memberikan pengertian pada kedua putranya.
" Iya mas Vita sudah hamil, memangnya kenapa kalau Vita hamil sekarang mas? ". Tanya Adinda balik yang merasa bingung dengan pertanyaan suaminya.
" Itu artinya Andrew kalah denganku sayang ". Sahut Al dengan senyuman bangganya.
Adinda mengernyit bingung. Apa maksud suaminya jika Andrew kalah, memangnya Andrew dan suaminya membuat pertandingan?.
" Mas, Adinda tidak mengerti maksud mas, memangnya mas Al dan Andrew membuat pertandingan?, dan mas memenangkannya begitu? ". Tanya Adinda.
" Iyalah sayang Andrew kalah denganku, bahkan sangat kalah jauh denganku, buktinya setelah beberapa bulan menikah dia baru bisa membuat istrinya hamil, tapi aku sekali tusuk saja sudah mampu membuatmu hamil bahkan dapat hasil dua lagi, hebat sekali kan aku sayang ". Ujar Al tanpa ada filter sedikitpun pada kalimatnya.
Adinda membelalakkan kedua bola matanya tak percaya. Adinda melongo dibuatnya. Bagaimana bisa suaminya bicara seperti itu?, apalagi di dekatnya saat ini sedang ada kedua putranya.
Plak... plak...
" Aw sakit sayang ". Pekik Al setelah istrinya berhasil memukul lengan kekarnya itu.
" Mas ini kalau bicara tidak bisa dijaga ya, astaghfirullah mas, bisa - bisanya mas bicara seperti itu, bahkan di depan anak - anak ". Sahut Adinda yang merasa kesal.
" Kan benar sayang, kenapa kalimat mas harus di filter?, sudahlah sayang, lagi pula Aganta dan Damian kan tidak mengerti juga maksud kalimat ku tadi, tenanglah sayangku ". Sahut Al dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
" Maaas, kenapa mas Al jadi mesum seperti ini sih, tidak seperti mas Al yang dulu ". Rengek Adinda yang tak suka dengan sikap suaminya.
__ADS_1
" Ya karena kamulah yang membuatku mesum seperti ini sayang hihihihi...... ". Sahut Al cekikikan.
" Tidak tahulah mas, mas Al menyebalkan ". Sahut Adinda lesu dan ia pun memulai kembali untuk melanjutkan menyuapi sarapan untuk kedua putranya.
" Meski menyebalkan tapi kamu suka kan sayang? ". Sahut Al dengan senyuman nakalnya, dan Adinda pun tak mau menggubris lagi kalimat suaminya itu.
" Ayo anak - anak mommy dilanjutkan lagi sarapannya ya nak, sudah mau habis ini ". Sahut nya, dan Adinda pun mulai menyuapi kedua putranya kembali.
*****
Hari sudah menjelang sore. Tidak banyak hal yang dilakukan oleh Sintia di tempat pengasingannya. Saat ini dirinya masih ditemani oleh sang ibu dengan tetap berdiam diri di dalam rumah saja.
Di kamar.....
" Vita nak, besok siang ibu sudah harus kembali pulang, kamu harus sendirian di sini nak ". Seru bu Nadia lirih dengan kedua manik matanya yang mulai berkaca - kaca.
" Ibu, ibu jangan khawatir, Sintia di sini baik - baik saja, mereka memang terlihat sangar tetapi para penjaga itu tidak ada jahat kok bu dengan Sintia ". Sahut Sintia dengan mengelus punggung tangan ibunya.
" Tapi tetap saja nak ibu tetap sangat khawatir ". Seru bu Nadia lagi.
" Tenanglah bu, aku di sini aman, tapi sebelum ibu kembali pulang besok aku mau meminta sesuatu pada ibu ". Seru Sintia dan kali ini mimiknya sudah nampak serius.
" Sesuatu apa nak, memangnya kamu mau apa dari ibu? ". Tanya bu Nadia yang sudah terlihat agak cemas.
" Bu Sintia boleh ya pinjam handphone ibu, handphone ibu kan sudah bagus bukan handphone jadul lagi ". Pinta Sintia pada akhirnya.
" Ya Allah nak, kamu ini membuat ibu khawatir saja, ibu kira kamu ingin meminta apa, ya sudah kalau hanya handphone yang kamu mau baiklah ibu akan memberikan nya ". Sahut bu Nadia.
" Aduh bu terima kasih bu ". Sahut Sintia dengan tersenyum sumringah.
" Tapi ingat kamu jangan berbuat jahat lagi " . Ujar bu Nadia memperingati.
" Iya ibu, ibu tenang saja, Sintia tidak akan berbuat jahat lagi kok, Sintia ingin segera bebas dari tempat ini bu ". Sahutnya.
" Ya sudah bagus, ini handphone nya ambillah, pergunakan handphone ini dengan baik ". Imbuh bu Nadia.
" Iya bu pasti, terima kasih bu ". Seru Sintia dengan memeluk sang ibu.
" Aku harus tahu pergerakan para bodyguard itu, sepertinya ada mata - mata yang menyamar di tempat ini ". Batin Sintia.
Bersambung..........
Jangan lupa dukung terus karya Author ya, semangat membaca.
ππππππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1