Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Masih Penasaran


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Ibu muda dari kedua anak kembar dengan paras cantik nan manisnya itu terlihat nampak repot dengan aktivitas pagi harinya.


Mengurus sang suami dan juga sepasang anak kembarnya yang saat ini sudah sangat aktif bahkan sering bergerak ke sana kemari membuat ibu muda itu menjadi ibu yang siap siaga.


Seperti di pagi hari ini, Adinda menyiapkan keperluan yang dibutuhkan oleh suaminya sekaligus mengurus Aganta dan juga Damian, bahkan kedua bocah itu sudah mandi dan terlihat segar.


" Sayang, sudah biarkan mas yang memasang dasi ini sendiri, kamu duduklah sayang ". Seru Al dengan mencoba mengambil alih dasinya dari tangan Adinda.


" Tidak apa - apa mas, biar Adinda yang memasangnya, hanya tinggal dasi ini saja kok ". Sahut nya.


Ya, semenjak dirinya menjadi seorang istri, Adinda memang selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk suaminya. Meski sang suami selalu melarangnya namun Adinda tetap melakukannya.


" Anta, Anta, mian nuk nini ( Aganta, Aganta, Damian duduk di sini) ". Seru Damian yang memberi tahu pada sang kembaran dengan menepuk - nepuk tempat duduk mini miliknya.


" He eh, nuk nuk Anta nuk nini ( Iya, duduk duduk Aganta duduk disini) ". Sahut Aganta yang juga memberi tahu pada Damian jika dirinya sudah siap duduk di kursi mininya juga.


Setelah duduk di kursi mini miliknya masing - masing, bocah kecil tetaplah bocah kecil, seolah tak pernah selesai dengan aktivitas mainnya kedua bocah kembar itu malah bangkit lagi dari posisinya dan meraih mainan yang banyak tergeletak di depannya.


" Sudah selesai mas, sekarang suamiku sudah sangat tampan ". Seru Adinda tersenyum.


" Iyalah sayang, aku memang sangat tampan, Alexander Gerald Georgino gituloh ". Sahut Al berseru dengan bangganya.


Adinda hanya mencebikkan bibirnya. Suaminya itu memang selalu bangga pada dirinya sendiri.


Pria bertubuh kekar yang sudah mengenakan jas mewah itu sudah mulai akan meraih laptop nya yang sudah disiapkan oleh sang istri tadi. Namun sungguh tak disangka tiba - tiba saja sesosok bocah mungil datang menghampiri dengan kedua tangan mungilnya yang sudah memeluk erat kaki kiri nya.


" Dy dy, dy dy, mian ninin ik uk ( daddy, daddy, Damian ingin ikut) ". Seru Damian berceloteh pada sang daddy dengan mendongakkan kepala nya.


" Aduh anak daddy mau ikut daddy?, aduh bagaimana ya nak daddy hari ini ingin berangkat kerja, Damian di rumah saja ya sayang dengan Aganta dan juga mommy ". Sahut Al setelah dirinya mensejajarkan tubuh tingginya itu dengan putra mungilnya.


Namun Damian menggelengkan kepalanya.


" Mian au ik uk ( Damian mau ikut) ". Sahut Damian lagi malah bocah berumur satu tahun itu mulai melingkarkan kedua lengan mungilnya di leher kokoh sang daddy.


" Haahh... ". Al menghela nafasnya cukup berat. Ia tahu kalau keinginan Damian sudah seperti ini pasti harus di kabulkan, namun hal ini tak mungkin dilakukan dan akibatnya pasti putra mungilnya itu tetap merengek bahkan menangis.


" Sayangnya mommy, daddy akan bekerja nak, ayo Damian sama mommy dan juga Aganta ya, kita kasih makan ikan - ikan di kolam ". Bujuk Adinda pada sang putra agar mau menerima ajakannya.


Namun tetap saja Damian putranya menolak ajakan sang mommy dan tetap mengeratkan rengkuhan lengan mungilnya di leher sang daddy.


Al pun mulai berdiri dengan menggendong tubuh mungil Damian.


" Dy dy, mian ik uk dy dy ( daddy, Damian ikut daddy) ". Seru Damian lagi dengan memegangi rahang tegas sang daddy.


" Benarkah Damian ingin ikut daddy bekerja? ". Sahut Al yang ingin memastikan, entah apa yang ini ia lakukan.


Damian pun mengangguk mengiyakan.


" Daddy akan ke kantor untuk bekerja, tapi ada pekerjaan lain yang harus daddy lakukan di sana, daddy akan memakan monster di sana, monster menakutkan yang suka memakan anak kecil ". Ujar Al menjelaskan bahkan dengan mimik yang dibuat menegangkan.


Sontak saja penjelasan dari Al telah berhasil membuat Damian terdiam dengan rautnya yang juga terlihat menegang.


" Monster nya itu sangat menakutkan, setiap kali melihat anak kecil pasti monster itu akan langsung memakannya haum haum, bagaimana Damian masih ingin ikut daddy ke kantor? ". Imbuh Al.

__ADS_1


Damian langsung menggeleng cepat. Ia merasa takut setelah mendengar cerita dari daddy nya.


" Myh myh myh ". Seru Damian pada sang mommy bahkan bocah mungil itu langsung mengangkat kedua tangan mungilnya agar bisa beralih pada gendongan sang mommy.


Plak... " Bercanda mu tidak lucu mas ". Sahut Adinda setelah menggendong tubuh putranya.


" Hihihihi ". Al hanya cekikikan kecil.


" Myh myh, mian atut myh ( mommy mommy, Damian takut mommy) ". Seru Damian dengan memeluk leher sang mommy.


Adinda pun mendekat pada putra yang satunya, siapa lagi jika bukan Aganta. Bocah kecil yang sudah berusia satu tahun itu masih nampak begitu asyik duduk di kursi mini miliknya dengan kesibukan memainkan mainannya.


Sedangkan Al setelah berhasil mengerjai putranya Damian, ia masih belum juga keluar menuju ruang sarapan.


" Mas, ayo mas gendong Aganta, sepertinya Adinda akan mengajak anak - anak sarapan di sana mas, berkumpul dengan kita ". Seru Adinda.


" Eh, iya sayang ". Sahut Al, dan ia pun mulai menggendong tubuh mungil Aganta di lengan kekar kiri nya sedangkan tangan kanan nya membawa tas berisi laptop miliknya.


Dan sepasang suami istri dengan kedua anak kembarnya itupun mulai akan melangkah keluar dari kamar nya. Namun belum sempat mereka sampai di pintu kamar tiba - tiba saja...


Drtt... drtt... drtt....terdengar getaran handphone Adinda yang di letakkan di atas nakas.


" Sebentar mas sepertinya ada yang menelfon ". Seru Adinda, dan ia pun berlalu untuk mengangkat handphone nya.


" Halo, assalamualaikum bi? ". Sahutnya.


" Waalaikumsalam, nak bisa kamu sampaikan pada suamimu? ". Tanya bu Nadia.


" Lebih baik bibi bicara dengan mas Al saja ya ". Sahut Adinda, dan ia pun berlalu menuju suaminya.


" Mas, bibiku ingin bicara dengan mas ". Ujar Adinda, dan memberikan handphone miliknya pada sang suami.


" Nak, sebelumnya bibi minta maaf, bibi belum minta izin pada kamu nak, bibi semenjak kemarin sudah menginap di tempat pengasingan Sintia, dan bibi mau minta izin sama kamu nak bibi ingin selama tiga hari ke depan ini bibi ingin menginap disini lagi nak menemani Sintia, tapi jika nak Al mengizinkan, kalau tidak ya bibi akan pulang hari ini ". Ujar bu Nadia, namun terdengar lirih di akhir kalimatnya.


Al tak langsung menyahut, ia diam sejenak untuk mempertimbangkan permintaan bibi mertuanya.


" Tidak boleh ya nak?, ya sudah tidak apa - apa, bibi akan pulang hari ini ". Sahut bu Nadia terdengar lirih.


" Bi bi tunggu dulu, iya Al izinkan ". Sahut Al pada akhirnya.


" Ya Allah terima kasih ya nak, bibi janji setelah tiga hari menginap disini, bibi akan segera kembali pulang ". Sahut bu Nadia.


" Ya sudah kalau begitu Al tutup telfon nya dulu ya bi, kami ingin sarapan, assalamu'alaikum ". Sahut Al, dan ia pun langsung mematikan handphone milik istrinya.


" Ayo sayang ". Ajak Al.


" Bibi tadi bicara apa sama mas Al? ". Tanya Adinda yang penasaran.


" Bibi tadi meminta izin padaku katanya ingin menginap di tempat pengasingan Sintia ". Sahut Al.


Adinda mendadak menghentikan langkahnya.


" Mas Al mengizinkan? ". Adinda bertanya dengan perasaan sedikit cemas, ia takut jika suaminya tersinggung dengan pertanyaannya.


" Mau bagaimana lagi sayang, sepertinya bibi begitu merindukan wanita ular itu ". Sahut Al dengan sedikit memberikan penekanan pada kalimatnya.


Adinda meraih tangan sang suami lalu menggenggamnya.

__ADS_1


" Mas, mas Al masih belum memaafkan kesalahan kak Sintia? ". Tanya Adinda.


" Kejahatan wanita ular itu terlalu besar, masih sangat sulit bagiku untuk memaafkannya, tapi jika kamu memaafkannya mungkin mas akan berusaha untuk memaafkan nya juga sayang, biarkan saja dia menjalani masa hukumannya dulu biar dia menyadari jika perbuatannya itu sangatlah jahat ". Ujar Al dengan suara datar namun begitu menakutkan.


Karena langkah yang terhenti akibat pembicaraan yang mengundang cikal api kemarahan, kini mereka mulai melangkah kembali menuju ruangan sarapannya.


*****


Waktu kini sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sepasang suami istri dan juga anak gadis nya kini mulai bersiap pergi. Namun nampaknya sang gadis seperti tak bersahabat untuk pergi lebih tepat nya ia tak ingin ikut pergi.


" Pa Rania tidak ikut ya, Rania di rumah saja ". Seru Rania pada papanya.


" Tidak bisa kamu harus ikut dengan papa dan mama, ingat Rania hari pernikahan saudaramu Adinda kamu tidak dan sekarang kamu juga tidak mau bertemu dengan saudaramu, mau sampai kapan kamu akan seperti ini Rania?, papa tidak pernah mengajarimu untuk tidak suka pada saudara sendiri, jadi sekarang kamu harus tetap ikut papa dan mama untuk pergi ke rumah Adinda ". Ujar Herdi memberikan penekanan agar sang putri mau menurutinya.


" Yang dikatakan papa mu benar nak, mama tahu sebenarnya di dalam hatimu kamu sangat menyayangi saudaramu Adinda, tapi rasa cemburu membuatmu seperti ini, ayo nak lakukan apa yang menjadi keinginan papa dan mama mu, kali ini saja menjadi anak yang penurut ". Tutur Indah lembut pada sang putri.


Ya, hari ini keluarga kecil Hermawan Aditama Kanzu akan berkunjung ke rumah keponakan tercintanya. Sudah dua bulan lamanya ia tak jumpa, membuat pria yang berkepala lima itu sangat merindukan keponakannya Adinda.


Namun yang menjadi kendalanya adalah putrinya Rania begitu sulit untuk diajak dan bertemu dengan saudara sepupu nya sendiri Adinda.


" Ayo kita pergi sekarang ". Ajak Herdi pada istri dan juga putrinya.


*****


Di sebuah perusahaan mewah G. Group nampak seorang pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya begitu terlihat serius memperhatikan beberapa data penting mengenai keuntungan usaha perhotelan miliknya, ya siapa lagi pria yang dimaksud jika bukan tuan Alexander.


" Jadi bisnis hotel perusahaan kita dua bulan ini keuntungannya meningkat menjadi tiga kali lipat? ". Seru Al memastikan.


" Benar tuan, perhotelan milik perusahaan kita selama tiga bulan ini pendapatan nya mengalami peningkatan yang sangat tinggi " . Sahut Andrew.


" Bagus, aku mau kamu selalu mengawasi setiap usaha yang ada dalam perusahaan G. Group Andrew, jangan biarkan orang - orang licik di luar sana mendapatkan celah untuk menyerang perusahaan ku ! ". Perintah Al.


" Baik tuan, akan saya pastikan itu ". Sahut Andrew mantap.


Andrew masih menatap tuan Al nya, entah apa yang ingin dipastikan olehnya.


" Kenapa kamu tidak kembali ke ruangan mu Andrew, apa masih ada hal penting lagi yang ingin kamu katakan? " . Tanya Al dengan mengangkat sebelah alisnya.


Andrew diam sejenak.


" Iya tuan, boleh saya meminta rekaman cctv yang rusak di malam kejadian anda menodai nyonya Adinda tuan? ". Pinta Andrew langsung pada intinya.


Sontak Al langsung menatap nyalang pada Andrew.


" Maaf tuan, saya sudah lancang ". Lalu menunduk.


" Ada apa kamu meminta rekaman cctv yang rusak itu, apa kamu masih penasaran? ". Tanya Al.


" Iya tuan ". Sahut Andrew, dengan mengangkat kembali wajahnya.


" Aku masih penasaran dengan cctv yang rusak itu, pasti sudah banyak kejadian yang tak terekam, aku harus menyelidikinya ". Batin Andrew.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, Author tunggu like, komen, hadiah dan vote nya.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2