
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Di dalam mobil
Cukup lama sang tuan besar dan juga keluarga kecilnya menghabiskan waktu di kantor perusahan, kini keluarga kecil itu tengah dalam perjalanan menuju kediaman rumah mewah mereka.
Sepanjang perjalanan, nampak si kecil Aganta dan juga Damian hampir tak pernah henti bersuara, banyak hal yang mereka lakukan, mulai dari berceloteh hingga bernyanyi, seperti yang dilakukan oleh Damian saat sekarang ini.
" Lima dali tanan tu, lima dali tili tu, belbalish sedadal, beldili belhadapan, lalu belpelutan, cembuni di belatan, mali tita hitun belapatah dumlah na (lima jari kanan ku, lima jari kiri ku, berbaris sejajar, berdiri berhadapan, lalu berpelukan, sembunyi di belakang, mari kita hitung berapakah jumlah nya) ". Damian sang tuan muda kecil itu begitu nampak bersemangat menyanyikan lagu barunya.
" Catu dua tida, empat lima tudu, delapan... ". Nyanyian Damian terpotong.
" Enam na teumana Mian? ( enam nya kemana Damian?) ". Protes Aganta tiba - tiba sehingga membuat sang kembaran berhenti bernyanyi.
" Hahahaha... ". Sang daddy Al pun tertawa dengan begitu kencangnya.
" Tamu nani na dimana shih Mian, nani ladu hitun - hitun, tapi enam na dak ada? ( kamu nyanyi nya bagaimana sih Damian, nyanyi lagu hitung - hitung, tapi enamnya tidak ada?) ". Lanjut Aganta lagi yang sedang mengkritik kesalahan sang kembaran yang sedang asyik bernyanyi itu.
" Ya cuta - cuta atulah mau na dimana, enam na dah habish hilan di matan itan ( ya suka - suka akulah maunya bagaimana, enamnya sudah habis, hilang di makan ikan) ". Sahut Damian yang tak mau jika dirinya di anggap salah.
" Hihihihi... aduh boy - boy, sudah - sudah jangan bertengkar, nyanyinya lagu yang lain saja ya, nyanyinya bersama ya my twins boy nya daddy, ingat loh apa pesan daddy dan mommy, kalian harus hidup rukun, apa kalian paham? ". Sahut Al yang berusaha menghentikan pertikaian diantara kedua putra kembarnya.
" Iya daddy, tami paham ". Sahut kedua bocah kembar itu kompak.
Adinda sedari tadi hanya diam tersenyum melihat tingkah kedua putranya, bukan si kembar namanya jika tidak membuat ulah.
" Sayang ". Panggil Al pada sang istri.
" Iya mas ". Sahut Adinda dengan menoleh pada sang suami.
" Kenapa kamu senyum - senyum begitu, kamu tidak memikirkan yang aneh - aneh kan sayang? ". Tanya Al dengan menelisik.
" Memikirkan yang aneh apa sih mas, Adinda hanya merasa gemas saja dengan tingkah kedua putra kita, setiap hari ada saja tingkah mereka yang membuat Adinda merasa gemas ". Sahut nya jujur.
" Jangan katakan kalau tingkah mereka aneh ". Sahut Al yang mulai curiga.
" Iya, tingkah si baby twins sering aneh, sama seperti mas Al hihihihi... ". Sahutnya cekikikan.
" Sayang ".Geramnya.
*****
Jika Al dengan keluarga kecilnya sedang dalam perjalanan menuju pulang, maka tidak jauh berbeda dengan Diandra, setelah cukup lama bermain, wanita muda berparas cantik itu nampaknya sudah akan pergi dari kediaman om dan tantenya.
" Om, tante, Diandra mau pulang dulu, nanti kalau ada waktu luang lagi, Diandra pasti main ke sini lagi ". Ucapnya.
" Iya ". Sahut Indah.
" Di, kamu kenapa sih Di? ". Tanya Rania tiba - tiba.
" Apanya yang kenapa sih Ran? ". Sahut Diandra balik.
" Ya, kamu aneh Di, perasaan tadi pagi kamu masih ceria sekali, terus kenapa sekarang wajahmu seperti di tekuk begitu? ". Tanya Rania.
__ADS_1
Diandra tak langsung menyahut, hatinya resah, namun ia sendiri tak tahu bagaimana cara menghilangkan keresahan itu, dan lagi tidak mungkin kan dirinya mengatakan pada Rania jika sedang resah setelah melihat foto Adinda dan juga anak - anaknya.
" Diandra, kamu ada apa nak, apa kamu ada masalah? ". Tanya Herdi pada akhirnya.
Bukan tanpa sebab Herdi menanyakan nya, pasalnya ia juga melihat perubahan raut wajah dari keponakan ini.
" Tidak ada om, tidak ada masalah ". Elak Diandra.
" Kalau ada masalah, dan kamu mampu menyelesaikannya cepatlah selesaikan nak, tapi kalau masih belum menemukan jalan keluar, cerita sama om, siapa tahu om bisa memberimu solusi ". Nasihat Herdi.
" Masalah ini akan selesai kalau aku yang memastikannya sendiri om ". Batin Diandra.
" Ya sudah kalau begitu, Diandra pulang dulu ". Pamitnya sebelum akhirnya Diandra pun memasuki mobil dan meninggalkan area kediaman tantenya.
" Ada apa dengan anak itu? ". Batin Indah.
*****
Di dalam mobil.
Rasa resah itu masih menggelayuti hatinya. Takut jika apa yang dikhawatirkan nya adalah benar, itulah yang terus di rasakan dalam hati Diandra.
Diandra masih terus mengendarai mobilnya menuju jalan pulang, meski pandangan dan tubuhnya ia pergunakan untuk melajukan mobil mewahnya, namun tidak dengan hati dan pikirannya, hanya ada satu nama yang ada dalam benaknya saat ini yaitu Al.
" Tidak peduli apapun dan bagaimanapun tanggapan Al nanti, aku harus datang menemuinya, iya harus ". Batin Diandra bertekad.
*****
Indahnya malam memberikan susana yang begitu sejuk dan menyenangkan. Kegiatan makan malam pun telah usai membuat para penghuni rumah mulai menuju ruangan peristirahatan nya masing - masing.
Di dalam kamarnya sepasang orang tua dan juga kedua anak kembarnya itu ternyata masih terjaga dengan menonton film kartun kesukaan si baby twins.
" Iya mas ". Sahutnya lembut.
" Ini sayang, aku mau memperlihatkan sesuatu sama kamu ". Sahutnya dan memberikan sebuah buku yang memiliki bentuk hampir mirip seperti majalah.
" Ini apa mas? ". Sahut Adinda bingung.
" Bukalah dulu sayang, nanti kamu akan tahu sendiri ". Sahut Al.
" Daddy Anta boleh liat ". Pinta bocah kecil itu tiba - tiba.
" Oh, tentu boy, lihatlah, kalau Damian mau lihat seperti Aganta juga boleh ". Sahut Al.
Dan keluarga kecil itupun melihat benda yang terdiri dari susunan lembaran kertas itu.
" Mommy my, ini badu na badush, Mian mau my ". Tunjuk Damian pada sebuah rancangan busana pria yang ada di buku itu.
" Iya, sebentar ya anaknya mommy ".
" Mas, ini rancangan baju pengantin? ". Tanya Adinda.
" Iya sayang, di sini ada lima desain baju pengantin yang akan kita pakai di acara resepsi nanti, dan desain ini dibuat khusus oleh desainer ternama sayang, bagaimana apa kamu suka? ". Sahut Al.
" Rancangan bajunya bagus semua mas, tapi, kenapa harus lima, sepertinya itu terlalu banyak mas ". Sahutnya.
__ADS_1
" Jadi menurut mu ini terlalu banyak? ". Sahut Al.
" Iya mas, ini terlalu banyak, dan belum lagi pasti ini harganya sangat mahal ". Sahut Adinda lirih.
Al mengulum senyumnya, ia mengulurkan tangannya dan mengelus pipi kiri istrinya itu dengan lembut.
" Mahal apanya sih sayang, tidak ada kata mahal untukmu dan juga pesta pernikahan kita ". Sahut Al dengan senyumannya.
" Dadi, hana mommy yan di tasik balan - balan mahal, Mian dak? , huuuh... daddy dak asyik, cayan na hana cama mommy ( Jadi, hanya mommy yang di kasih barang - barang mahal, Damian tidak?, huuuh...daddy tidak asyik, sayang nya hanya sama mommy) ". Protes Damian tiba - tiba.
Rupanya bocah kecil itu salah paham dengan kalimat daddy nya, bahkan bocah kecil itu sampai melipatkan kedua tangannya di dada sebagai bentuk rasa protesnya.
" Bu-bukan seperti itu boy ". Sahut Al dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia bingung harus menjelaskan bagaimana pada putranya.
" Mian, daddy bilan beditu butan talna daddy dak mau beli balan balan mahal untuk tita, tapi talna badu ini meman untuk mommy ( Damian, daddy bilang begitu bukan karena daddy tidak mau beli barang - barang mahal untuk tita, tapi karena baju ini memang untuk mommy) ". Sahut Aganta yang berusaha memberikan penjelasan pada kembarannya.
" Iya, belalti tan daddy cayan na hana cama mommy, butan tita huuuh ( iya, berarti kan daddy sayangnya hanya sama mommy bukan kita huuuh) ". Sahut Damian yang ternyata masih tak terima dengan sikap daddy nya.
" Sayang, Damian, kok Damian bicaranya seperti itu sih sayang, daddy itu sayang sama Damian nak, sayang sama Aganta juga, dan daddy juga sayang sama mommy, ayo sini, merapat sama mommy ". Ajak Adinda pada kedua putranya.
Dan benar, si kecil Aganta dan juga Damian pun menggeser tubuh mungil mereka lalu memeluk erat tubuh sang mommy.
" Dengarkan mommy nak, daddy itu sangat sayang pada kita, bahkan daddy itu rela memberikan apapun untuk kebahagiaan kita, dan perlu Damian dan Aganta ingat, kasih sayang seseorang itu bukan di nilai dari apakah orang itu bisa memberikan barang - barang mahal atau tidak, karena kasih sayang seseorang itu bukan ditentukan oleh barang - barang mahal nak, termasuk kasih sayangnya daddy pada kalian, tidak memberikan barang - barang yang berharga mahal bukan itu berarti tidak sayang, dan orang yang sayang itu adalah orang yang akan selalu berusaha menjaga dan membahagiakan orang disayanginya, itulah yang dinamakan sayang, termasuk sayang nya daddy pada kalian, daddy akan berusaha menjaga dan membuat kalian tetap bisa tersenyum bahagia sayang ". Sahut Adinda lembut dengan mengelus kepala mungil kedua putranya.
Al begitu tersentuh melihat bagaimana sang istri memberikan pemahaman pada kedua putranya. Dalam benaknya Al selalu bertanya - tanya, kebaikan apakah yang pernah ia lakukan di masa lalu sehingga Tuhan menganugerahi seorang istri seperti Adinda.
" Sayang, jika malam kelam itu tidak pernah terjadi, apakah aku bisa memilikimu seperti saat ini?, terima kasih ya Tuhan, karena sudah memberikan wanita sebaik istriku". Batin Al bersyukur.
" Ayo, sekarang Aganta dengan Damian peluk daddy, dan Damian, minta maaf ya nak sama daddy ". Suruhnya pada anaknya.
" Iya myh ". Sahut keduanya.
Dan benar, kedua bocah kembar itupun memeluk sang daddy tercinta mereka.
" Daddy, Mian minta maap ya daddy ". Pintanya dengan memeluk tubuh sang daddy.
" Iya my twins boy, tentu daddy akan memaafkan kalian, daddy sayang kalian nak cup... cup... ". Sahut Al dengan ciuman serta rengkuhan hangatnya.
" Tami, duda cayan daddy ". Sahut Aganta dan Damian kompak.
" Daddy ". Panggil Damian tiba - tiba, bocah kecil itu nampak mendongakkan wajah mungilnya, entah apa yang diinginkannya.
" Iya, ada apa boy? ". Sahutnya.
" Daddy cama mommy tan mau patai badu mantin, Mian mau duda ya daddy, Mian mau badu yan cama ceupelti puna na daddy, pleace...( daddy sama mommy kan mau pakai baju pengantin, Damian mau juga ya daddy, Damian mau baju yang sama seperti punya daddy, please...) ". Mohon bocah kecil itu, bahkan kedua kelopak matanya pun sampai berkedip - kedip bak sebuah lampu yang mulai kehabisan daya listriknya.
Al tersenyum melihat tingkah putranya yang begitu menggemaskan, benar - benar sangat lucu hanya karena demi merayu dirinya.
" Baiklah boy, nanti, di acara pesta pernikahan daddy dan juga mommy, kalian akan menggunakan baju yang sama seperti daddy ". Sahut Al yang mengabulkan keinginan putranya.
" Asyik asyik asyik asyik... ". Syukur Damian dengan begitu bahagianya.
Bersambung..........
Tetap semangat membaca, jangan lupa beri like nya ya, tetap semangat membaca.
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ