
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Dokter cantik dan muda itu masih melanjutkan pemeriksaan nya. Dokter ahli kandungan yang menjadi salah satu dokter terbaik di rumah sakit keluarga Georgino itu masih begitu ingin memastikan sesuatu yang ada pada tubuh nyonya besarnya.
" Tuan, nyonya, saya masih akan melanjutkan pemeriksaaan, ini hanya dugaan saya, karena sewaktu pemeriksaan awal tadi samar - samar saya seperti mendengar adanya dua detak jantung janin, jadi saya hanya ingin memastikan apakah nyonya Adinda mengandung anak kembar atau tidak ". Seru dokter Nita.
" Apa, kembar, maksudmu istriku hamil anak kembar lagi? ". Sahut Al yang merasa bingung.
" Itu masih baru dugaan saya tuan, saya masih akan melakukan usg apakah nyonya Adinda benar - benar mengandung anak kembar atau tidak ". Sahut dokter Nita yang berusaha memberikan pengertian.
" Daddy - daddy, di pelut mommy ada dua adik ya daddy, kalau ada dua, belalti selu dong, belalti adiknya milip Damian sama Aganta, kembal ". Sahut Damian yang ikut menimpali ucapan sang dokter.
" Masih baru kemungkinan boy ". Sahut sang daddy Al dengan mengelus rambut putranya.
Sementara Devina, oma yang saat ini masih memiliki tiga orang cucu, diam - diam ia merasa sangat begitu senang. Bagaimana tidak, memang sudah menjadi keinginannya sejak dari dulu ingin memiliki banyak cucu dari putra satu - satunya. Entah yang ia dengar hanya sebuah dugaan dari dokter, namun Devina sangat berharap jika menantu kesayangannya Adinda, benar - benar mengandung anak kembar lagi.
Devina begitu sangat ingin jika di masa tuanya bersama sang suami nanti, cucu - cucunya bisa terus mengerumuni menemani hari - harinya bersama sang suami. Tidak bisa dipungkiri memang, jika cucu - cucunya ini memanglah sangat menyayangi dirinya dan juga sang suami.
Sementara dokter Nita, saat ini masih melanjutkan pemeriksaan pada nyonya besarnya. Tak lupa tangannya pun telah menggerakkan alat pemeriksaan itu di perut nyonya besarnya, agar posisi kedua janin yang telah ia duga keberadaan nya di lihat.
" Coba ini perhatikan tuan nyonya ". Seru dokter Nita.
Semua orang di sana pun menatap ke arah layar monitor itu.
" Ternyata benar tuan, nyonya, jika nyonya Adinda saat ini sedang mengandung anak kembar, lihatlah ini... dan setelah saya periksa, sepertinya usia janin sudah memasuki usia sekitar tiga mingguan ". Jelas dokter Nita dengan memperlihatkan kondisi dua janin itu yang nampak pada layar monitor itu.
Si kecil Aganta dengan Damian masih tak mengerti dengan apa yang tergambar pada layar monitor itu. Namun, kedua anak kecil itu mengerti jika mommy mereka saat ini sedang mengandung anak kembar. Lalu Aganta dengan Damian pun saling menatap satu sama lain, hingga...
" Yeay, asyik asyik asyik... mommy punya adik kembal ". Seru kedua bocah itu senang kegirangan.
" Hihihihi...aduuh, cucuku - cucuku, kalian senang sekali bisa segera punya adik lagi ". Seru Enriko cekikikan yang merasa gemas dengan tingkah kedua cucu kembarnya.
__ADS_1
" Iya dong opa, kita senang, kan nanti adik kita tambah banyak, iya kan Aganta?". Sahut Damian masih dengan senyuman lebarnya.
" Iya betul, adik kita jadi banyak ". Sahut si kecil Aganta.
Jika kedua kakak kembarnya begitu sangat senang karena akan segera memiliki adik lagi, beda halnya dengan Alexa. Gadis kecil yang masih berusia satu setengah tahun itu masih tak paham tentang apa itu memiliki adik, karena memang semenjak bayi gembul itu lahir, ialah yang menjadi seorang adik. Namun meski begitu, Alexa begitu sangat senang karena melihat orang - orang di sekitarnya yang juga merasa senang.
Sementara daddy Al, masih nampak terdiam memandang sesuatu yang tergambar pada layar pemeriksaan itu. Hatinya begitu sangat menghangat, saat ia memperhatikan benih miliknya yang saat ini tengah tumbuh di rahim istri tercintanya itu. Bahkan, kedua bola mata biru keabu-abuan nya itu hampir saja menitikkan air mata, kala masih melihat dua makhluk mungil yang masih nampak tenang yang terlihat dari layar monitor itu.
" Upa ". Seru si kecil yang masih berada dalam gendongan oma nya.
" Iya sayang ". Sahut Devina.
" Tata na Eca mau puna adik, mana adik na uma? ". Tanya Alexa dengan raut seriusnya, karena bayi gembul itu begitu sangat penasaran dengan adik.
" Adiknya Alexa, masih ada di perut mommy nya Alexa sayang, adik masih belum lahir ". Sahut Devina lembut dengan mengelus kepala cucunya itu.
Sang daddy Al yang mendengar pertanyaan polos putri kecilnya itu, perlahan mulai melepas genggaman tangannya dari jemari sang istri. Lalu ia pun menoleh pada putri kecilnya itu.
" Ma, mana Alexa nya ma ". Pinta Al dengan mengulurkan kedua tangan kekarnya untuk meraih tubuh mungil sang putri.
" Alexa mau tahu adik bayi? ". Seru Al.
" Iya dy dyh ". Sahut Alexa dengan polosnya.
" Sabar ya sayangnya daddy, adiknya Alexa masih belum lahir sayang, adiknya Alexa masih ada di perut mommy, masih lama mau lahirnya ". Seru Al yang berusaha memberikan pengertian pada Putri kecilnya.
" Lama ya dy dyh? ". Timpalnya.
" Iya sayang, masih lama, masih harus menunggu sembilan bulan lagi ". Sahut Al.
Si mungil Alexa mengangguk saja meski sebenarnya ia tak paham apa itu sembilan bulan, namun yang pasti, Alexa begitu senang karena dirinya akan segera memiliki adik.
Pemeriksaan kandungan pun telah usai. Dan selang infus itu masih setia terhubung ke lengan mungilnya. Satu jam sudah waktu berlalu, kini perlahan tapi pasti, Adinda sudah mulai mengerjapkan kedua kelopak mata indahnya.
__ADS_1
" Sayang ". Seru Al lembut.
" Mommy, mommy sudah sadal? ". Tanya si kecil Aganta lalu bocah kecil itupun naik ke ranjang perawatan mommy nya, bahkan saudara kembarnya Damian juga ikut naik.
" Sayang, kamu sudah sadar? ". Seru Al lagi.
Adinda masih tak menyahut. Saat dirinya mulai membuka mata, pandangannya hanya terarah pada setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan nuansa putih. Dan sekarang Adinda sudah tahu jika dirinya saat ini tengah berada di rumah sakit.
" Sayang, kamu ada di rumah sakit sekarang ". Sahut Al lembut. Ia paham jika istrinya saat ini sedang berusaha mengenali ruangan rawat ini.
" Emmh... mas... A-dinda kenapa? ". Serunya dengan sedikit terbata.
" Mommy, kita mau punya adik lagi mommy, adiknya masih di pelut mommy ". Sahut si kecil Damian dengan begitu polosnya.
Adinda yang mendengar penuturan dari putranya Damian sedikit mengernyit bingung. Akan punya adik?, adiknya ada di perut mommy?. Adinda masih berusaha memahami kalimat putranya, bahkan putranya ini masih tak lepas dari senyumannya... hingga tak lama dari itu, Adinda pun baru memahami apa maksud dari kalimat Damian. Adinda pun menoleh pada suaminya.
" Iya sayang, anak - anak akan segera memiliki adik lagi, kamu hamil sayang, dan sekarang kamu hamil kembar lagi, terima kasih sayang cup... ". Sahut Al dengan begitu bahagianya.
Adinda menjadi terdiam. Dirinya masih begitu terkejut dengan kabar kehamilan nya ini. Namun tak lama dari itu, mommy muda itupun akhirnya tersenyum. Bahkan ia sampai menitikkan air mata bahagianya.
" Jadi Adinda benar - benar hamil mas? ". Sahut nya dengan masih tersenyum menangis.
" Iya sayang, kamu hamil, kita akan punya anak lagi sayang ". Sahut Al dengan menghapus air mata bahagia istrinya.
" Dan sepertinya aku harus lebih banyak meluangkan waktu untuk kamu dan anak - anak sayang, apalagi yang akan hadir dua hihihihi... ". Imbuh Al lagi.
" Ya itu risiko mu Al, salah siapa yang doyan buat anak, kan kamu yang doyan buat sampai mereka semua hadir ". Sindir Devina, padahal dirinya sangat senang karena akan memiliki banyak cucu.
" Ih, ma, ma, seperti mama tak suka saja memiliki cucu lagi, sebenarnya mama senang kan karena Al akan memberikan mama cucu lagi ". Sahut Al yang tak kalah menyindir, karena Al sangat tahu bagaimana mamanya.
Devina tak menyahut lagi ucapan putranya, karena apa yang diucapkan oleh Al memanglah benar adanya. Sementara Enriko yang ikut menyaksikan, hanya bisa menggeleng. Sudah hal biasa jika sang istri dan juga putranya ini saling menyindir.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ