
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Rasa bahagia itu telah menyelimuti dua keluarga yang saat ini saling berkumpul bersama.
Senyum bahagia dengan iringan rasa syukur tak luput dalam menyambut sebuah kabar gembira yang membuat hati semua orang menjadi berbunga - bunga. Bagaimana tidak, berita bahagia atas kehamilan Adinda kali ini telah menjadi harapan bagi semua orang tua.
Kini semua orang di ruang utama kediaman pribadi Al sudah mulai membahas obrolan - obrolan ringan. Tak lupa kehadiran dua bocah kecil yang begitu menggemaskan itu benar - benar telah menambah suasana menjadi terasa lebih ceria.
Setelah mengetahui sang mommy telah mengandung adik bayi, kini kedua bocah itu tak henti - hentinya memeluk sang mommy bahkan mereka berdua mengelus perut sang mommy yang masih rata itu dengan tangan mungilnya.
Aganta dan juga Damian, bak seorang kakak yang siap siaga dalam menjaga adik kesayangannya, padahal adik bayinya itu masilah belum lahir.
" Damian, Aganta, apa kalian tidak ingin bermain nak, itu mainan kalian sudah menunggu ". Seru sang oma Devina pada kedua cucunya yang sedari tadi hanya menempel pada Adinda.
" Dak uma, tita mau cama mommy mau cama adik bayi ladi uma ( tidak oma, kita mau sama mommy mau sama adik bayi lagi oma) ". Sahut Damian dengan masih memeluk erat tubuh sang mommy.
" Iya tan Anta? ( iya kan Aganta?) ". Imbuh bocah itu lagi.
" Huum ". Sahut Aganta singkat dengan tetap memeluk perut sang mommy.
" Aduh, cucu - cucu nenek ini kompak sekali ya, bagus, itu menunjukkan kalau Aganta dengan Damian sayang pada mommy dan juga adik bayi ". Seru bu Nadia yang memberikan pujian atas rasa perhatian si kembar pada mommy mereka.
" Iya dung, ci tembal dituloh ( iya dong, si kembar gituloh) ". Seloroh Damian dengan rasa bangga.
" Ha ha ha ha ha ha ". Semua orang tertawa mendengar rasa percaya diri Damian.
Setelah cukup lama semua orang bercanda ria di ruang keluarga nan megah itu, akhirnya kondisi kembali tenang.
" Ayah, ayah istirahat dulu ya di kamar, ayah tidak boleh terlalu lama terjaga ". Seru Adinda pada sang ayah.
" Tidak apa - apa nak, ayah masih betah untuk duduk ". Sahut pak Budi.
" Yang dikatakan oleh istriku benar ayah, sebaiknya ayah istirahat, sudah hampir dua jam ayah duduk dan itu bisa berdampak tidak baik pada kesehatan ayah ". Timpal Al.
" Ayo ayah, sebaiknya ayah istirahat di kamar ". Imbuh Al lagi dan ia pun mengajak sang ayah mertua untuk masuk ke kamar.
" Saya permisi ke kamar dulu ". Pamit pak Budi pada semua orang yang ada di ruangan keluarga mewah itu.
Dan semua orang di ruangan itupun mempersilahkan nya untuk beristirahat. Dengan langkah sedang Al mendampingi sang ayah mertua hingga ke salah satu kamar di rumahnya.
" Ayah, ayah beristirahatlah disini, Al ingin menemani yang lainnya dulu ". Seru nya pada sang ayah mertua setelah dirinya berhasil membaringkan tubuh ayah mertuanya.
" Iya, terima kasih nak ". Sahutnya.
Dan Al pun kembali melangkahkan sepasang kaki jenjang nan kokohnya itu menuju ruang keluarga, hingga sesaat sebelum dirinya sampai di tempat yang di tuju tiba - tiba saja...
__ADS_1
Drtt... drtt... terdengar adanya dua getaran dari benda pipih yang ia sisipkan pada saku celananya yang menandakan jika ada sebuh pesan whatsapp yang masuk. Dan mau tidak mau Al pun harus menghentikan langkahnya itu.
" Pesan dari siapa ini?, kenapa aku tidak mengenali nomer ini ". Gumam Al setelah dirinya menatap layar ponsel nya itu.
" Dia mengirim rekaman? ". Imbuhnya heran.
Karena merasa penasaran dengan pengiriman rekaman dari sebuah nomer yang tidak Al kenal, akhirnya Al pun mencoba untuk mendengar kiriman rekaman itu.
Al memutar rekaman itu dan mulai mendengarnya, hingga.....
Deg... terkejut, itulah yang Al rasakan. Ia begitu tertegun dengan kalimat pertama yang muncul dari rekaman itu namun dirinya tetap melanjutkan mendengarkan isi dari rekaman itu.
Deg... deg... bagai terhantam hebat di dadanya, lanjutan kalimat bodyguard gadungan itu benar - benar telah membuat aliran darahnya terasa mendidih. Hatinya begitu bergemuruh kala ia tahu jika Viko sang mantan teman bisnisnya itu telah berani bermain api dan sudah merencanakan balas dendam padanya.
" Dasar brengs*k, berani sekali kamu bermain api denganku Viko, rupanya setelah perusahaan mu hancur kamu tidak kapok juga, baiklah, kali ini tidak akan aku beri ampun kamu Viko, dasar manusia pengecut ". Geram Al dengan menahan emosinya yang sudah meletup - letup.
*****
Sementara di ruangan keluarga Al semua orang yang ada di sana masih tetap nampak bahagia dengan obrolan ringan dan juga nasehat - nasehat yang diberikan dua wanita paru baya untuk sang putri yang saat ini tengah mengandung.
Tak lupa pastinya celotehan kedua bocah kembar Aganta dan juga Damian yang setia mengiringi suasana keluarga yang membahagiakan itu.
" Upa upa, teunapa tatek suta ceutalli ishtillahat tapi upa dak peulnah ishtillahat? (opa opa, kenapa kakek suka sekali istirahat tapi opa tidak pernah istirahat? ". Celoteh Damian bertanya yang merasa heran karena melihat kakek Budi nya yang terlihat sering beristirahat.
" Iya upa ". Timpal Aganta yang membenarkan pertanyaan saudara kembarnya.
" Cucu - cucu opa kenapa kakek Budi itu sering beristirahat, karena kakek Budi kurang begitu sehat sayang, jadinya kakek Budi harus banyak beristirahat, karena kalau kakek Budi kurang beristirahat kakek Budi bisa sakit dan jadinya masuk rumah sakit ". Tutur Enriko yang mencoba memberikan penjelasan pada kedua cucunya.
" Memanna, tatek shatit apa upa? ( memangnya, kakek sakit apa opa?) ". Kali ini Aganta yang menyahut.
" Kakek itu punya riwayat sakit jantung dan juga mudah sesak nafas sayang, jadinya kakek harus banyak beristirahat ". Tutur Enriko lagi.
Aganta dan Damian pun mengangguk. Meski mereka masih belum tahu apa itu jantung, namun dari penjelasan opa nya membuat kedua bocah kembar itu paham jika sang kakek tidak dalam keadaan baik - baik saja.
Sedangkan semua orang yang ada di ruangan itu nampak terlihat tersenyum karena melihat Aganta dan juga Damian yang terlihat nampak begitu serius bertanya pada opa nya dan hal itu membuat kedua bocah kembar itu terlihat semakin menggemaskan.
Setelah mendengar penjelasan dari sang opa, kini si kecil Aganta malah melepas rengkuhannya dari sang mommy sebelum akhirnya sepasang kaki mungilnya itu turun dari sofa.
" Mau kemana nak? ". Tanya Adinda.
" Anta inin main myh ( Aganta ingin main my) ". Sahut bocah menggemaskan itu.
Dan benar saja tak lama dari itupun Damian juga ikut turun mengikuti sang kembaran.
" Damian juga ingin bermain sayang? ". Tanya Adinda lagi.
" Iya myh ". Sahutnya sebelum akhirnya melanjutkan kembali langkah sepasang kaki mungilnya itu.
__ADS_1
Kini kedua bocah kembar itupun kembali bermain dengan mainan yang sudah semenjak tadi pagi tidak mereka sentuh.
Waktu terus bergulir hingga sudah hampir tiga puluh menit lamanya waktu berlalu kini nampak lah sesosok pria tampan yang tak lain adalah orang kepercayaan Al.
" Selamat pagi menjelang siang tuan, nyonya ". Sapa Andrew setelah dirinya masuk ke ruangan.
" Loh Andrew, bukannya sekarang hari libur kerja, apa ada tugas dari Al sampai mengharuskan kamu datang kemari dan mengganggu waktu bersantai kamu dengan keluargamu? ". Tanya Devina yang merasa tak habis pikir dengan kedatangan Andrew.
" Iya nyonya ". Sahut Andrew dengan tersenyum kecut.
" Ya Allah, anak itu benar - benar ya, di hari libur saja masih tetap bekerja, bahkan dia mengganggu waktu mu ". Gerutu Devina yang merasa tak habis pikir dengan putranya.
" Mungkin ada sesuatu yang penting ma ". Bela Enriko.
" Penting atau tidak penting bukan saatnya menggunakan waktu libur untuk bekerja pa, memang dasar Al nya saja yang gila kerja ". Protes Devina yang mencoba membantah kalimat sang suami.
" Ya sudah kalau begitu saya pamit ke ruangan kerja tuan Al dulu tuan, nyonya ". Sahut Andrew, sebelum akhirnya berlalu pergi menuju ruangan tuannya.
*****
Di ruangan kerja Al.
" Tuan, ada hal penting apa?, sepertinya tuan terlihat sangat kesal? ". Tebak Andrew yang memang sudah sedari tadi melihat raut tak bersahabat dari tuannya.
" Dengarkan ini ". Perintah Al dengan menyodorkan ponsel miliknya yang sudah menampilkan track record rekaman itu.
Andrew pun melakukan apa yang disuruh oleh tuannya dengan memulai mendengar rekaman itu.
Deg... deg... Andrew membelalakkan kedua bola matanya. Ia begitu sangat terkejut setelah mendengar bukti rekaman dari ponsel milik tuannya.
" Maafkan saya tuan, ini semua keteledoran saya, saya sudah kecolongan telah memasukkan mata - mata dari Viko, saya akan membereskan masalah ini tuan ". Sahut Andrew dengan rasa bersalahnya.
" Sebenarnya aku masih kesal padamu Andrew, karena kekurang kehati - hatian mu, mata - mata dari Viko sampai berhasil masuk dan menjadi bagian dari rencanaku, tapi sekarang bukan saatnya aku membahas itu, yang aku mau sekarang adalah bereskan semuanya Andrew, jangan biarkan mata - mata Viko itu lolos ". Sahut Al dengan nada dinginnya dan juga tatapannya yang terlihat menghunus, yang menandakan jika ia tidak main - main dengan situasi ini.
" Baik tuan, akan saya lakukan ". Sahut Andrew mantap.
" Besok aku akan pergi ke tempat pengasingan Sintia, tapi sebelum itu kamu harus mencari tahu siapa orang yang sudah mengirim bukti rekaman ini, dan sebelum malam tiba, semua bukti itu sudah harus ada di depanku Andrew ". Perintah Al telak tanpa bantahan.
" Baik tuan ". Sahut Andrew mantap.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, tetap semangat membaca.
ππππππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1