
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Setelah hampir satu jam lamanya, sang nyonya muda itu menyibukkan diri di dapur bersama kedua ART nya, kini dengan membawa kue ringan hasil olahannya, ia mulai melangkahkan sepasang kaki jenjangnya menuju kamar.
Adinda sudah tak sabar ingin memberikan puding hasil buatannya pada sang suami dan juga keluarganya.
Ceklek.... pintu kamarnya pun telah berhasil ia buka.
" Mas, kita temui anak - anak ya, ini Adinda sudah selesai buat puding mangganya ". Seru wanita cantik itu pada suaminya.
Adinda mengedarkan pandangannya ke hampir setiap sudut ruangan di kamarnya, namun tak ada sosok suaminya. Dimanakah suaminya?.
" Mas Al kok tidak ada ya, tidak mungkin mas Al mandi, karena tadi sudah mandi, mungkin menemui anak - anak ". Gumam Adinda, lalu wanita cantik dengan perut buncit nya itupun memutar arah dan keluar dari kamarnya.
Sedangkan di halaman belakang rumahnya, si kecil Aganta dengan Damian, masih menikmati kesenangan mereka dalam bermain sepeda. Kedua bocah kembar itu seolah lupa dengan hal - hal lainnya, mereka terlalu senang dengan bermain sepeda.
" Anak - anak daddy, apa kalian tidak lelah nak bersepeda nya? , sudah satu jam lebih loh kalian main terus, dilanjutkan nanti saja ya bersepeda nya ". Seru sang daddy Al agar kedua putranya berhenti bermain meski hanya sejenak.
" Dak daddy, Mian mau main, Mian mau telush naik peda na ". Sahut Damian dengan masih mengayunkan sepedanya.
Aganta yang mendengar anjuran sang daddy untuk istirahat sejenak awalnya terdiam, namun setelah itu, ia malah melanjutkan mengayun sepedanya.
" Daddy, talo daddy dah lelah, daddy ishtillahat ja, bial Anta cama Mian, main ceudili ". Seru Aganta setelah mendekati daddy nya.
" Mana mungkin boy, kalian masih kecil, daddy tidak mungkin membiarkan kalian belajar naik sepeda sendiri, itu sangat berbahaya nak ". Sahut Al karena memang itulah yang dirinya khawatirkan.
" Dak pa pa daddy, tita bica hati - hati ". Sahut Aganta, lalu bocah kecil itu kembali melanjutkan mengayunkan sepedanya.
" Al ". Seru Enriko tiba - tiba, Al hanya sedikit menoleh saja.
" Sudah, biarkan saja anak - anakmu bermain, ayo duduk saja, kita awasi mereka dari kursi saja nak ". Ajak Enriko.
" Tidak pa, Al mau berdiri di sini, Al mau mengawasi anak - anak dari jarak dekat ". Sahutnya.
" Tenanglah putraku, anak - anakmu itu, anak - anak yang pintar, mereka tahu cara bermain yang baik, kalaupun mereka terjatuh, mereka tidak akan terluka nak, tempat ini sangat aman, semuanya ditumbuhi dengan rumput yang bagus sangat empuk ". Jelas Enriko, ia tahu jika putranya sangat khawatir jika mulai terjadi sesuatu.
Benar juga apa yang diucapkan papanya, seharusnya dirinya tak perlu khawatir jika akan terjadi sesuatu yang buruk pada kedua putranya, karena halaman di kediamannya ini sangatlah aman untuk semua orang, apalagi untuk kedua putra kecilnya, pastilah akan tetap aman.
" Lihatlah mama mu nak, dia sudah duduk di sana, pasti mama mu itu lelah karena terus berdiri, ayo kita duduk saja ". Ajak Enriko lagi, sebelum akhirnya ia berlalu mendekati istrinya.
Al pun akhirnya juga ikut melangkah membuntuti sang papa, mengawasi kedua putranya sambil lalu duduk tak ada salahnya juga kan.
" Kenapa kalian kembali?, lelah?, hihihihi... baguslah kalau kalian lelah ". Goda Devina pada suami dan juga putranya.
" Mas, mas Al ada di sini ternyata ". Seru suara lembut seorang wanita, yang tiba - tiba terdengar dari arah belakang tubuhnya.
" Sayang ".
" Maaf, kamu pasti mencariku sayang? ". Sahut Al.
Dengan langkah pelan, Adinda mendekati suami, serta mama dan papa mertua nya.
" Mas, pa ma, ini, Adinda buat puding mangga, ini rasanya enak, coba mas Al, papa sama mama, ambil satu mangkok saja ". Seru Adinda dengan meletakkan beberapa mangkok kecil yang memang sudah berisi potongan puding mangga.
" Aduh, terima kasih sayang, pasti ini rasanya enak, mama mau coba satu dulu deh ". Seru sang mama mertua Devina, nampaknya ia sudah tak sabar ingin segera mencicipi puding buatan menantu kesayangannya.
" Papa juga mau satu ". Seru Enriko juga, lalu ia pun segera mengambil pudingnya juga.
" Mas, anak - anak kemana, kok Adinda tidak melihat mereka dari tadi? ". Karena memang itulah yang Adinda cari sepanjang pandangannya.
" Itu mereka sayang ". Tunjuk Al.
__ADS_1
Adinda pun langsung menoleh kemana arah tangan suaminya itu menunjuk.
Deg... dan betapa terkejutnya Adinda setelah dirinya mengetahui jika kedua anaknya sedang berjalan berputar - putar sangat asyik dengan sepedanya masing - masing. Adinda menatap tak percaya, jika kedua kedua putranya ternyata sudah naik sepeda ayun.
" Mommy, mommy, ayo cini mommy, liat, Mian cama Anta naik peda ". seru Damian senang dengan memanggil - manggil mommy nya.
Sontak Adinda pun langsung berdiri dan melangkah mendekati kedua putranya. Melihat sang mommy yang sedang berjalan mendekati mereka, tentu membuat kedua anak kembar itu tak tinggal diam.
" Sayang hati - hati jalannya ". Peringat Al.
Aganta dan Damian, memutar arah sepeda mereka untuk mendekati sang mommy, rupanya kedua anak kembar itu sudah cukup lihai dalam mengayunkan sepeda mereka.
" Mommy liat, Mian dah bica naik peda myh ". Serunya setelah ia berada di dekat mommy nya.
" Ya Allah nak, kalian sudah bisa memutar - mutar sepedanya, hati - hati sayang ". Sahutnya khawatir.
" Tenan ( tenang) myh, tita dah bica main peda na, dadi mommy danan tatut ya talo tita main peda ". Sahut Aganta menenangkan, ia tahu jika sang mommy sangat khawatir melihatnya.
" Berhenti dulu ya nak main sepedanya, dilanjutkan nanti sore lagi ya sayang, coba ini lihat, tubuh kalian sudah berkeringat nak, pasti kalian sudah dari tadi mainnya, dilanjut nanti lagi ya sayang ". Pinta Adinda.
" Dak bica myh, tita cuta main peda na dulu myh, tita cenan bica main peda myh ". Tolak Damian, rupanya ia tak mau berhenti bermain sepeda.
Adinda terdiam saat mendengar jawaban dari putranya. Jika sudah menyahut seperti itu, sudah pasti anaknya tak mau di suruh berhenti bermain. Jujur sebenarnya Adinda sedikit kecewa dengan penolakan putranya itu.
" Ya cudah, Anta mau ishtillahat myh, Anta mau nanti ja main na ". Sahut Aganta tiba - tiba.
Entahlah, nampaknya Aganta bisa merasakan jika sang mommy sangat berharap jika dirinya dan sang kembaran mau berhenti bermain, oleh karenanya, Aganta dengan secara sepihak ingin berhenti dari aktivitas bermainnya.
" Baiklah nak, kalau Aganta mau berhenti main, itu mommy sudah buatkan kalian puding mangga ". Sahutnya senang.
" Anta mau myh ". Sahutnya.
" Damian bagaimana nak, Damian masih mau lanjut main, atau di lanjut nanti sore aja? ". Rupanya Adinda masih memberikan tawaran pada putra yang satunya.
Damian tak langsung menyahut, bocah kecil itu nampak berpikir sejenak. Dirinya sangat senang bisa bermain sepeda, tapi, jika tak ada Aganta yang bersamanya, pasti juga terasa membosankan, dan pastinya tak akan seru.
Ibu muda dengan kedua anak kembarnya itu pun berjalan beriringan mendekati tiga sosok yang sedang duduk di kursi meja yang ada di halaman belakang itu.
Nampak Damian sedang memperhatikan beberapa mangkok kecil yang sudah tersedia di meja sana, mungkin itu puding mangga yang di maksud oleh mommy nya.
" Akhirnya kalian berhenti juga mainnya my twins boy ". Seru Al setelah kedua putranya datang mendekat.
Namun baik Aganta maupun Damian, sama sekali tak menyahut seruan daddy mereka. Karena kedua putranya akan segera makan puding, Adinda pun membimbing kedua anaknya itu untuk mencuci tangannya terlebih dahulu. Meski mereka akan makan menggunakan sendok, tetap saja, Adinda akan membersihkan kedua tangan anak - anaknya terlebih dahulu.
" Ayo nak, ini puding kalian ". Seru Adinda dengan menyodorkan masing - masing satu mangkok puding pada kedua putranya.
" Maacih mommy ". Sahut keduanya kompak.
Selesai berdoa sebelum makan, Aganta dengan Damian pun langsung menyantap puding itu. Mereka berdua memakannya dengan begitu lahap, seolah tak ingin jika seorang pun memintanya.
" Kalian lahap sekali makan puding nya boy, seperti tak ingin di minta orang saja ". Sindir Al.
" Pudin na enat cetali daddy, Mian cuta ". Serunya.
" Huum, enat cetali pudin na ". Timpal Aganta.
" Hihihihi... untung saja kalian berhenti main sepedanya, kalau tidak, sudah oma habiskan semua puding ini ". Godanya.
" Ih, dak boleh lah, yan buat pudin na tan mommy na Mian, dadi, Mian duda halush mamam pudin na ". Protesnya.
" Hihihihi..... ". Ternyata Devina masih cekikikan.
" Ma, sudahlah ma, jangan mulai lagi, nanti kalau cucu kita nangis, kan kita juga yang repot ". Peringat Enriko.
__ADS_1
Menurutnya ada - ada saja istrinya itu, di saat senang seperti ini, masih saja suka menggoda kedua cucunya.
Dan kini, keluarga Georgino itupun menikmati waktu kebersamaan mereka. Terlihat sederhana memang, namun begitu membahagiakan.
*****
Suasana di ruangannya terasa begitu tenang. Tak ada lagi aroma yang seperti obat - obatan yang dirinya rasakan beberapa hari yang lalu.
Ya, sudah semenjak tadi sore, Diandra telah diperbolehkan oleh pihak rumah sakit untuk pulang setelah kondisi dirinya dinyatakan telah membaik.
Di waktu yang sudah cukup malam seperti ini, wanita berparas cantik itu nampak beberapa kali menatap, memindahkan dan meletakkan kembali ponselnya, entah apa yang diinginkannya.
" Apa aku telfon Rendi sekarang, tapi... bagaimana?, aku malu yang mau mengatakan nya ".
" Apa Rendi masih mengharapkanku?, sepertinya masih, iya, kan dia pernah mengatakan akan setia menungguku ". Gumamnya bingung.
Kebingungan itu membuat Diandra tak tahu harus berbuat apa, namun, hatinya pun juga tak bisa di bohongi jika saat ini, ia mulai membuka hatinya untuk Rendi.
Tak ingin kebingungan ini terus berlanjut. Diandra pun memutuskan untuk menghubinginya saja, iya, memang harus begitu.
Tuuuut... tuuuut... tuuuut.... sambungan telfon nya masih berlanjut.
" Halo, iya Di, ada apa? ". Sahut Rendi.
Diandra tak langsung menyahut, entah mengapa tiba - tiba lidahnya terasa kelu.
" Diandra, halo Di ". Sahut Rendi lagi.
" Halo Dia, ini benar kamu yang menelfon ".
" Eh, i-iya, ini memang benar aku ". Sahutnya gugup.
" Di, kamu tidak apa - apa kan, kenapa suara kamu terdengar gugup begitu? ".
" Tidak Ren, tidak apa - apa ". Sahutnya.
" Lalu ada apa Di, kenapa kamu menelfon ku, kamu perlu sesuatu? ". Tanya Rendi.
Lagi - lagi Diandra merasa bingung. Haruskah dirinya mengatakan nya pada Rendi?, tapi, rasanya sangat malu jika menanyakan nya.
" Halo Dia, kok malah diam sih?, ayo katakan padaku, kamu sedang perlu apa, aku siap membantu ". Sahutnya.
" R-Ren, itu... emm... tentang waktu itu, apa... kamu masih akan setia menunggu? ". Tanya pada akhirnya, jujur ia merasa malu yang menanyakan nya.
" Menunggu, menunggu apa Di, ayolah Di, aku tak paham maksud ucapanmu? ". Sahut Rendi.
" Itu, tentang kalimat mu yang pernah kamu ucapkan, kamu pernah mengatakan padaku, jika kamu akan setia menungguku sampai hatiku mulai bisa menerima mu, apakah penantianmu itu masih berlaku untukku Ren? ". Seru Diandra pada akhirnya, karena itulah yang ingin dirinya ungkapkan.
" Di, apa aku tidak salah dengar?, kamu menanyakan nya?, tentu, tentu saja itu masih berlaku Di, sampai kapan ku aku akan menunggumu, jika tidak, tidak mungkin aku masih seorang diri sampai selama ini Di ". Sahut Rendi.
Seulas senyuman manis nampak nyata di kedua sudut bibir Diandra. Hatinya sangat senang karena ternyata perasaan Rendi, masih belum berubah padanya.
" Di, kamu masih ada Di, kenapa tak menyahut? ".
" Emm... Ren, aku, akan mengatakan semuanya tentang perasaan ku, aku mau besok kita bertemu, aku ingin mengatakan semuanya Ren, ini penting ". Jelas Diandra.
" Di, apapun itu, jika menyangkut tentangmu, semuanya penting bagiku Di ". Sahut Rendi.
Lagi - lagi Diandra tersenyum dibuatnya. Dirinya merasa senang dan juga terharu. Dan mungkin Rendi lah yang akan menjadi labuhan hatinya.
Bersambung..........
Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca.
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ