
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pagi hari yang cerah, menjadi pilihan keluarga kecil itu untuk berkunjung ke rumah orang tua mereka. Deru suara mobil itu terasa terdengar lebih jelas, kala mobil itu mulai mendekat. Mobil mewah hitam itupun telah berada di depan halaman rumah.
Nampak di teras rumah itu sudah ada dua orang paru baya yang telah menanti. Para penghuni mobil mewah itupun mulai berangsur turun.
Ya, di pagi hari yang masih cerah ini keluarga kecil Al, memutuskan untuk berkunjung ke rumah orang tua istrinya.
" Cammicum tatek nenek ". Seru kedua bocah kembar Aganta dan juga Damian, lalu mereka berdua berlari meraih kakek dan neneknya.
Si kecil Aganta memeluk erat tubuh kakek Budi nya, sedangkan sang kembarannya Damian, memeluk nenek Nadia. Kedua bocah kembar itu begitu senang bisa bertemu kakek dan juga neneknya.
" Assalamu'alaikum ayah, bibi ". Seru Adinda.
" Waalaikumsalam salam wr. wb. ". Sahut kedua paru baya itu dengan kedua wajah mereka yang berseri - seri.
" Ayah ". Seru Adinda, lalu ia pun mencium punggung tangan kanan sang ayah, lalu memeluk ayah yang sangat di cintainya itu dengan begitu erat.
" Ayah, Adinda rindu ". Lirih nya di tengah pelukannya.
" Iya, masih rindu saja kamu, padahal kan kamu sering video call ". Seru Budi dengan mengelus punggung putrinya.
" Sudah, lepaskan ayah, kasihan cucu ayah yang masih belum lahir ini, kasihan cucu ayah harus terjepit ". Godanya pada sang putri.
Adinda pun melepas pelukannya dari sang ayah, sebelum akhirnya beralih pada bibi kandungnya bu Nadia.
" Ayah ". Seru Al ramah, lalu pria bertubuh tinggi itupun mencium punggung tangan ayah mertuanya, sebelum akhirnya ia pun juga mencium punggung tangan bibinya.
Kemudian Al pun menyerahkan beberapa oleh - oleh makanan, pada bu Nadia.
" Kita kemari bawa kue, roti, dan juga buah - buahan, dan ini ada sebotol ramuan herbal yang di buat sama bi Ima dan juga bi Tarsih, kata mereka sih untuk ayah bi, agar daya tahan tubuh ayah menjadi lebih meningkat ". Ucap Al.
" Aduh, terima kasih nak Al Adinda, dan ini minuman herbalnya terima kasih juga, benar - benar bu Ima sama bu Tarsih teman - teman terbaik bibi ". Serunya senang setelah menerima oleh - oleh itu.
" Ayo, sebaiknya kalian masuk dulu ". Seru Budi, lalu keluarga itupun masuk ke dalam rumahnya, tak lupa kedua cucunya sudah berada di sisi kanan dan kiri pria yang sudah berkepala lima itu.
Keluarga itupun duduk bersama di sofa, apalagi si kecil Damian dan juga Aganta, kedua bocah itu selalu siap siaga berada di dekat kakeknya, mengingat kakek mereka yang bertubuh lemah tidak seperti opa Enriko nya yang terlihat masih prima meski usia mereka masih seumuran.
" Sebentar ya nak, bibi mau meletakkan kue dan juga buah - buahannya dulu, Adinda sama Al mau minum apa, biar bibi buatkan ". Serunya.
" Terserah bibi saja, minuman apapun boleh ". Sahut Al.
" Bi, di rumah ada jeruk lemon?, kalau ada, Adinda mau buat sendiri saja, Adinda mau buat es lemon ". Serunya pada sang bibi.
" Sayang, pagi - pagi begini ingin makan es lemon? ". Sahut Al.
__ADS_1
" Iya mas, Adinda ingin sekali ". Sahutnya dengan sedikit merajuk.
" Ya sudah tidak apa - apa, biar bibi yang buatkan, di dapur lemon ada, jeruk juga ada, sudah kamu tidak perlu ke dapur nak, Aganta Damian, kalian akan nenek buatkan jus alpukat saja ya ". Sahut bu Nadia.
" Ote nek, tita mau dush putat - putat ( jus alpukat) ". Namun Damian lah yang menyahut, tak adanya bantahan dari Aganta, itu menandakan jika dirinya juga setuju.
Tak ingin berlama - lama, bu Nadia pun langsung menuju dapur meletakkan oleh - oleh dari keponakannya itu serta mulai membuat minumannya.
" Ayah, Adinda perhatikan, kondisi ayah akhir - akhir ini sepertinya terlihat semakin bagus, tidak seperti beberapa bulan yang lalu ". Seru Adinda, karena itulah faktanya.
" Iya nak, alhamdulillah, berkat pengobatan dari dokter yang suamimu kirimkan, dan juga obat khusus dari Singapore, membuat kesehatan tubuh ayah semakin hari semakin membaik, bahkan ayah sudah sekitar dua bulan ini sudah tidak merasakan sesak nafas lagi ". Ujar pak Budi mengenai pengobtannya.
Adinda langsung menatap pada suaminya. Ia tak percaya, jika suaminya Al, akan bertindak sampai sejauh itu demi kesembuhan dan kesehatan ayahnya. Bahkan suaminya tak pernah menceritakan apapun tentang pengobatan khusus untuk ayahnya, yang Adinda tahu, ayahnya hanya mengkonsumsi obat-obatan yang memang sudah sering di konsumsi, dan setiap dua minggu sekali, ayahnya rutin melakukan check up ke dokter.
Al yang di tatap oleh sang istri pun hanya bersikap biasa saja seolah merasa tak menyembunyikan apapun.
" Sudahlah sayang, jangan menatapku seperti itu, aku tahu jika suamimu ini sangatlah tampan ". Sahut Al, dengan tersenyum jahil pada istrinya.
" Ih mas ".
" Aw, sakit sayang ". Pekik Al, kala dirinya kesakitan karena sang istri telah mencubit pinggungnya.
" Hahahaha... ". Tawa Aganta dan Damian, kala kedua bocah kembar itu melihat tingkah lucu sang daddy.
Sedangkan pak Budi yang menyaksikan bagaimana tingkah menantu dan juga putrinya itu hanya bisa tersenyum.
" Habish na, daddy lutu, iya tan Mian? ". Sahut Aganta.
" Huum, daddy lutu cetali peulti itan - itan na Mian ". Sahutnya juga dengan mengangguk.
Namun tak lama dari itu, Adinda pun memeluk suaminya. Wanita dengan perut buncit nya itu memeluk tubuh sang suami dengan begitu erat.
" Terima kasih ya mas, karena sudah begitu peduli pada ayah dan juga keluarga Adinda ". Serunya dengan masih memeluk suaminya, bahkan kedua bola mata indahnya nampak berkaca - kaca.
Cup....
" Iya sayang, tentu aku peduli pada ayah dan juga bibi, karena mereka adalah orang - orang yang sangat istriku cintai ". Sahutnya dengan mengelus pucuk kepala sang istri yang tertutup hijab itu.
Dan benar, tak lama dari itupun, bu Nadia datang dengan membawa minuman mereka.
" Ada apa sih, kok sepertinya cucu - cucu nenek ini tertawa sangat nyaring, memangnya ada yang lucu ". Seru bu Nadia dengan meletakkan minuman itu di meja.
" Iya nenek, lutu, tadi daddy na Mian di tubit cama mommy, telush daddy delak - delak (gerak - gerak) peulti itan na Mian di tolam ( kolam) ". Sahut Damian dengan penjelasan lengkapnya.
" Waduh, pasti sakit itu daddy nya di cubi sama mommy ya? ". Goda bu Nadia pada kedua cucunya.
" Hihihihi... iya nek, daddy tatit tata na ( katanya) ". Sahut nya cekikikan.
__ADS_1
" Ayo, ini di minum dulu jus Alpukat nya Damian sama Aganta, dan ini es lemon mu nak ". Seru bu Nadia dengan menyodorkan beberapa minuman itu pada kedua cucu dan keponakannya.
" Untuk nak Al, bibi sudah buatkan teh jahe hangat untuk mu tak apa ya nak, tapi ini tidak terlalu manis kok, agar sedikit tawar ". Impuhnya lagi pada sang menantu.
" Iya bi tidak apa - apa, Al suka teh jahe ". Sahutnya.
Si kecil Aganta dengan Damian, turun dari sofa itu dan melangkah menuju meja, dan kedua tangan mungilnya pun mulai meraih jus alpukat nya masing - masing.
" Aganta, Damian, kalau mau minum jus nya, kalian harus duduk nak, ingatlah, cara minum yang baik adalah dengan duduk ". Seru mengingatkan pada kedua putranya.
" Iya mommy ".
" Oh iya, Damian sampai lupa ". Seru Damian.
Lalu kedua bocah kembar itupun kembali naik ke sofa nya, sementara jus mereka, masih di pegang oleh sang nenek.
" Ayo ini jus nya ". Seru bu Nadia dengan menyodorkan masing - masing jus itu pada kedua cucunya.
" Maacih nek ". Sahut keduanya.
" Iya, sayang - sayangnya nenek ". Sahutnya.
Keluarga kecil itupun menyeduh minuman mereka masing - masing, kecuali bu Nadia dan pak Budi yang memang sengaja tak ingin meminum apapun.
" Emmm, dush putat - putat na, enat cetali ". Seru Damian di sela - sela mulut mungilnya yang masih menyedot minumannya.
" Hihihihi... boy boy, kamu lucu sekali bicara seperti itu nak, menggemaskan ". Sahut Al, karena anaknya yang begitu lucu.
" Al ". Panggil pak Budi.
" Iya ayah ". Sahutnya.
" Sebentar lagi malam resepsi pernikahan kalian, ayah harap, saat malam resepsi nanti, semua sudah berjalan dengan baik nak ". Seru pak Budi.
" Iya ayah, kalau soal itu, ayah tenang saja, semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana Al ". Sahut Al mantap.
" Baguslah nak, ayah percaya itu ". Sahut pak Budi.
" Bukan hanya itu ayah, pernikahan ku dan juga putrimu sudah sah secara hukum, meski tinggal satu beberapa hari lagi usia istriku menginjak dua puluh satu tahun, tapi tak apalah, toh bulannya sama, untung kemarin aku langsung menyuruh Andrew yang mengurusnya, jadi hanya tinggal menunggu malam resepsinya saja ". Batin Al merasa menang.
Bersambung..........
Hai kakak - kakak, Author update lagi, semangat baca ya.
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1