Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Melanjutkan


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


" Jadi memang benar, Sintia lah dibalik semua ini, kenapa kamu tidak mengatakannya padaku Adinda, apakah kamu tahu akibat dari ketidakjujuran mu ini, aku sudah seperti orang gila ". Sahut Al dan kali ini benar - benar marah.


Al sudah lupa akan janjinya jika ia tidak akan marah setelah istrinya Adinda mengatakan semuanya.


Bahkan kata sayang yang selalu ia sematkan pada sang istri pun, kini telah kembali seperti saat pertama kali Adinda masuk ke rumahnya.


" Ma, maafkan Adinda mas ". Sahut Adinda lirih dengan air matanya yang sidah kembali menetes.


Melihat sang istri yang menangis karena kemarahannya, seketika itu Al tersadar, Al sadar jika dirinya telah melakukan kesalahan dengan memarahi sang istri, bukankah tadi ia sudah berjanji untuk tidak akan marah setelah istrinya mengatakan semua kebenarannya.


" Ma, maafkan aku, maafkan aku sayang ". Seru Al penuh sesal.


Al memeluk tubuh istrinya Adinda. Diusapnya punggung sang istri yang terasa bergetar itu. Al benar - benar merutuki kebodohannya. Seharusnya ia lebih bisa mengontrol emosinya.


" Hiks... hik... hiks... " Isakan Adinda.


" Maafkan aku sayang, tolong jangan menangis lagi ya, percayalah aku tadi tidak bermaksud memarahi mu " Seru Al.


Dengan perlahan Adinda mulai menguraikan rengkuhan dari suaminya. Adinda mengusap lelehan air matanya yang sempat membasahi pipinya itu.


" Ada apa, kamu marah padaku sayang? ". Tanya Al yang sedikit khawatir.


Adinda menggeleng " Tidak, Adinda tidak marah ". Sahut Adinda lirih.


" Sayang, maafkan aku ya, kamu mau kan memaafkan ku? ". Tanya Al ingin memastikan.


" Iya mas, mas juga mau ya memaafkan kesalahan Adinda juga? ". Sahut Adinda.


Mendengar istrinya yang menantikan maaf darinya, membuat Al seperti ingin memaafkan situasi ini.


" Kamu ingin mendapat maaf dariku sayang? ". Tanya Al yang ingin memastikan.


" Iya mas, Adinda sangat berharap jika mas Al mau untuk memaafkan kesalahan Adinda ". Sahut Adinda dengan kedua bola matanya yang penuh harap.


" Baiklah, suamimu ini akan memaafkan mu, jika sayangku ini bersedia melakukan dua hal yang wajib dilakukan ". Perintah Al dengan topeng senyumnya.


" Dua hal wajib, apa itu mas ". Tanya Adinda yang penasaran.


" Pertama, istriku ini harus berjanji padaku untuk tidak menutupi masalah apapun dariku, bagaimana apakah sayang bersedia? ". Tanya Al.


Adinda pun mengangguk. " Iya mas Adinda janji, Adinda tidak akan menutupi sesuatu apapun dari mas ". Sahut Adinda berjanji.


" Sekarang yang kedua adalah jika istriku ini mau mendapat maaf dariku, maka istriku ini saat ini juga mau melayani ku dengan ini ". Seru Al dengan menunjuk bibir peach istrinya.

__ADS_1


Mendengar perintah wajib yang kedua dari suaminya ini membuat Adinda sedikit tersentak. Bisa - bisanya suaminya disaat ada hal yang membuat dirinya sendiri marah malah ingin dilayani dengan hal semacam itu, benar - benar tidak masuk akal.


" Kamu sudah mengerti kan maksud ku sayang, jadi bagaimana kamu mau melakukannya atau tidak? ". Tanya Al.


Adinda tidak langsung menjawab.


" Baiklah, jika kamu diam, itu artinya tidak, dan jika tidak maka suamimu ini juga tidak akan memaafkan mu ". Ancam Al, sebenarnya Al hanya berpura - pura saja melakukannya.


" Ti, tidak mas, bukan seperti itu, baiklah Adinda mau melakukannya ". Sahut Adinda pada akhirnya.


Adinda sudah pasrah, tidak mungkin kan jika ia menolak perintah wajib dari suaminya, bisa - bisa suaminya ini tidak akan pernah memaafkannya.


" Baiklah sayang tunggu apa lagi, ayo lakukan, lebih cepat lebih baik ". Desak Al.


Tidak ingin suaminya marah lagi, Adinda pun langsung melakukannya.


Cup.... satu kecupan dari Adinda.


" Sudah mas ". Seru Adinda.


" Apa?, sudah?, hanya satu kali? ". Sahut Al yang tak terima.


" Memangnya harus berapa kali mas? ". Tanya Adinda yang bingung.


" Sampai aku puas sayang ". Sahut Al.


" Iya sayang, sampai aku puas, kalau hanya satu kali itu bukan melayani, tetapi hanya mencicipi, aku kan tadi memintamu untuk melayani sayang bukan mencicipi ". Kilah Al, padahal memang dirinya yang ingin berlama - lama.


Mau tidak mau Adinda pun harus menuruti keinginan suaminya. Ia tidak ingin suaminya marah lagi seperti tadi.


Adinda yang segera ingin mendapat kata maaf dari sang suami, kini telah kembali melanjutkan aksinya.


Cup..... Adinda mencium bibir suaminya. Tapi anehnya dalam ciumannya ini tidak ada ******* atau sebagainya. Adinda hanya tetap diam dengan menempelkan bibirnya pada bibir sang suami.


Jujur saja Al sebenarnya merasa gemas dengan istrinya yang masih tidak tahu tentang cara berciuman.


" Aduh istriku, kamu sangat polos ya ". Batin Al tersenyum.


Tidak merasa puas dengan ciuman istrinya, kini Al lah yang mengambil kendali. Al mulai menahan tengkuk istrinya dan mencari*m bibir peach nan kenyal itu.


Tak cukup sampai disitu, Al malah justru beralih posisi dan menggiring tubuh Adinda hingga terlentang di atas kasur yang empuk itu.


Kegiatan yang awalnya hanya bermula dari ciuman kini malah menuju pada hal yang lebih dari itu.


Kini kedua tangan Al sudah mulai menelusuri bagian tubuh Adinda yang masih tertutup helaian benang itu, hingga kini tangannya itu mulai membuka satu persatu kancing di baju Adinda.


Tangan Al kini sudah mulai menelusup pada dua gundukan milik Adinda istrinya. Dua insan yang tengah saling mamagut kan kedua bibirnya itu kini seolah tenggelam dalam kenikmatan yang tercipta.

__ADS_1


Mereka terus melakukannya dan melupakan dua sosok mungil yang juga ada di ruangan yang sama dengan mereka, hingga.....


Drtt..... drtt..... drtt.....


Terdengar suara getaran handphone milik Adinda yang menandakan sedang ada seseorang yang menelfon.


Dua insan yang tadi sempat larut dalam ciumannya itu menjadi tersentak hingga melepas kegiatan saling bertukar salivanya.


" Se, sebentar mas, sepertinya ada yang menelfon Adinda ". Seru Adinda dengan harap - harap cemas.


" Heh, mengganggu saja, angkatlah biar tidak mengganggu ". Sahut Al dengan wajah kesalnya.


Adinda pun langsung bangkit dari kasurnya dan mengambil handphone. Dengan kancing baju yang masih belum terpasang namun masih Adinda tutup bagian dadanya, Adinda mencoba menjawab panggilannya handphonenya.


" Iya assalamu'alaikum, ada apa Vit? ". Tanya Adinda.


" Adinda, aku ingin meminta bantuanmu, tolong katakan pada suamimu, kalau aku ingin bekerja dan memiliki penghasilan sendiri bukan dibiayai oleh orang lain, tolong sampaikan ini pada suamimu ya, aku benar - benar ingin bekerja, soal aku akan bekerja apa, itu bisa dipikir nanti, yang penting aku mendapat ijin untuk diperbolehkan kerja dulu, bagaimana kamu bisa membantuku kan Adinda? ". Seru Vita dari balik telfon


" Emm bagaimana ya Vit, kalau untuk soal itu, aku tidak bisa janji, tapi aku akan mencoba mengatakannya pada mas Al ". Sahut Adinda.


" Oh terima kasih Adinda, semoga saja suamimu mengijinkan, ya sudah kalau begitu aku tutup telfonnya dulu ya, aku masih ada aktivitas lain ". Sahut Vita.


" Iya, jangan lupa untuk menjaga ayah ya Vit ". Pinta Adinda.


" Iya, kalau soal itu sudah pasti, ya sudah kalau begitu aku tutup telfonnya, assalamu'alaikum ". Ucap Vita dan mengakhiri panggilannya.


" Waalaikum salam ". Sahut Adinda.


Adinda pun meletakkan handphone nya kembali.


" Vita ingin bekerja? ". Tanya Al tiba - tiba yang sudah berdiri di bekang tubuh istrinya.


" Hah, astagfirullah, mas bikin kaget ". Seru Adinda yang terkejut.


Cup..... satu kecupan mendarat di kening Adinda.


Dengan tanpa aba - aba, Al langsung menggendong tubuh istrinya. Adinda yang mendapat perlakuan seperti itupun langsung tersentak kaget.


" Mas ". Serunya.


" Soal Vita tenanglah, aku akan menyuruh Andrew untuk memberikannya pekerjaan di kantor, sekarang yang harus kamu lakukan adalah melanjutkan kewajiban mu yang belum selesai tadi.


Bersambung..........


Maaf, Author hanya up sedikit πŸ™πŸ™πŸ™.


❀❀❀❀❀

__ADS_1


__ADS_2