Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Baju Baby Girl


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sang waktu masih terus berjalan dengan mengiringi hari - hari, satu bulan telah berlalu yang menandakan jika kini usia kehamilan Adinda sudah berusia tujuh bulan.


Acara tujuh bulanan masa kehamilan pun telah usai, meski hanya di hadiri oleh keluarga inti, namun masih berjalan dengan penuh hikmat, mungkin disebabkan karena doa - doa tulus dari para orang tua lah yang membuat semuanya berjalan dengan lancar.


Di dalam kamarnya, Adinda banyak menerima hadiah dari keluarganya, mulai dari baju wanita hamil hingga perlengkapan bayi yang begitu lengkap, kecuali pakaian bayi.


Hampir separuh dari kelurga inti itu sudah kembali ke kediamannya, termasuk Vita dan juga Andrew, dan kini di ruangan kamarnya hanya ada Al, Adinda, dan juga pamannya Herdi.


" Adinda ". Panggil Herdi.


" Iya paman, ada apa? ". Sahut Adinda.


" Ini, paman ada sesuatu untukmu nak ". Serunya dengan memberikan sebuah benda kotak, ya apalagi isinya jika bukan perhiasan.


Adinda pun menerima hadiah yang diberikan oleh pamannya, sebelum akhirnya Adinda membuka kotak perhiasan itu.


Dan benar, di dalamnya terdapat sebuah kalung indah dengan sebuah intan yang bergantung sebagai mainannya.


" Paman, ini indah sekali ". Serunya dengan masih menatap kagum pada kalung indah itu.


" Kalung ini, paman buat khusus untukmu nak, kalung dengan model seperti ini hanya ada satu, jadi paman harap, kamu tidak lagi menghilangkan nya ". Sahut Herdi dengan mengelus pucuk kepala Adinda.


Deg...dada Al terasa terhenyak, Al yang mendengar penuturan dari paman Herdi nya itu pun begitu tersinggung, bagaimana tidak, apa yang dikatakan oleh paman Herdi nya itu mengingatkan Al akan kesalahan fatal yang telah diperbuat nya dulu, dan bahkan kalung Adinda yang dulu itupun masih belum Al kembalikan.


" Sini, biar paman yang memakaikan ". Pintanya pada sang keponakan.


Adinda pun tak menolak permintaan pamannya, ia membiarkan saja jika pamannya ingin memasangkan kalung itu sama seperti pada saat pamannya dulu memasangkan kalung juga di ulang tahunnya yang masih berusia lima tahun.


" Selesai, kamu sangat cantik nak dengan kalung ini ". Seru Herdi lagi.


" Terima kasih paman kalungnya indah ". Sahut Adinda dengan tersenyum.


" Huum, baiklah nak, paman tidak bisa berlama-lama lagi, onti mu dan juga Rania pasti sudah menunggu di luar sana ". Seru Herdi lagi.


" Al ". Panggil Herdi.


" Iya paman ". Sahut Al.


" Jaga Adinda dengan baik nak, paman tidak ingin Adinda terluka lagi, cukup satu kali saja kesalahan fatal yang dulu sudah kamu perbuat, dan paman tidak ingin ada kesalahan dari kamu lagi, paman minta padamu Al, bahagiakan lah selalu Adinda ". Peringat Herdi pada menantunya ini.


" Pasti paman, Al akan terus berusaha untuk membahagiakan istri Al yang baik hati dan tulus ini ". Sahut Al.


" Baiklah, paman rasa tidak ada lagi yang perlu paman sampaikan, ya sudah, kalau begitu paman mau pulang dulu Adinda ". Seru Herdi lagi pada sang keponakan.


" Iya paman ". Sahut Adinda.


Cup... satu kecupan hangat dari Herdi telah berhasil mendarat di pucuk kepala Adinda sebelum akhirnya pria paru baya itu benar - benar keluar dari kamar keponakannya.

__ADS_1


Dan kini di kamar mewah itu hanya ada Adinda dan juga Al, memang tidak begitu ramai karena si kecil Aganta dan juga Damian masih bermain dengan onti Rania mereka.


Al berpindah posisi dengan duduk di dekat sang istri yang tengah mengandung itu, lebih tepatnya Al duduk di bibir ranjang kasur.


Di elusnya perut buncit istrinya itu dengan lembut. Al menatap wajah cantik nan imut istrinya itu.


Dan cup... Al mencium kening istrinya dengan lembut.


" Sayang ". Seru Al dengan tanpa mengalihkan pandangannya pada sang istri.


" Iya mas ". Sahut Adinda lembut.


" Kamu masih terlihat sangat muda istriku, wajahmu tidak pernah berubah dari dulu, masih sama seperti Adinda yang masih berumur delapan belas tahun, bahkan jika kamu bersama si kembar, pasti orang lain akan mengira jika mereka adalah adik - adikmu ". Seru Al dengan nadanya yang terdengar datar, nampaknya Al sedang mengkhawatirkan sesuatu.


" Lalu, kenapa mas?, sepertinya mas sedang mengkhawatirkan sesuatu? ". Sahutnya yang sedikit bingung.


" Iya khawatir, bagaimana aku tidak khawatir sayang, usiaku sekarang tiga puluh dua tahun jalan tiga puluh tiga tahun, dan aku sudah terlihat tua, dan kalau aku sudah berumur lima puluh tahun dan aku jalan - jalan sama kamu, pasti orang lain akan mengira jika aku sedang jalan - jalan dengan putriku yang masih seorang mahasiswa ". Sahut Al dengan segala kejujurannya.


Adinda cukup tersentak dengan apa yang diucapkan oleh suaminya Al, bagaimana bisa sang suami yang ia kenal sebagai sosok yang tidak suka mempedulikan tanggapan orang lain bisa memiliki pemikiran seperti itu, bukankah suaminya tidak pernah khawatir jika orang lain menilai salah.


" Mas, kenapa mas Al bicara seperti itu, mas sama sekali belum tua... emm malah mas semakin bertambahnya usia malah terlihat semakin tampan ". Sahut Adinda, namun dengan sedikit malu - malu.


Untuk sejenak Al tersenyum mendengar sahutan istrinya, namun tetap saja tak dapat menghilangkan kekhawatiran nya.


" Meski yang kamu katakan itu benar, tapi kan tetap saja sayang aku khawatir, aku khawatir jika suatu saat kamu berpaling dariku karena aku sudah tua, ya meski aku tampan, tapi tetap saja kan, karena ketampanan itu tidak bisa mencegah penuaan, bukan karena aku tidak percaya pada cintamu sayang, tapi karena aku tahu di luaran sana masih banyak laki - laki yang menginginkan mu ". Sahut Al panjang lebar.


Adinda terdiam mendengar ungkapan rasa khawatir suaminya, jadi inikah alasan mengapa suaminya melarangnya pergi ke luar sendiri meski itu dampingi oleh supir, kecuali memang karena ada hal penting, jadi suaminya Al merasa takut jika dirinya akan di ambil oleh laki - laki lain.


Cup... Adinda mencium kening suaminya itu dengan lembut.


" Mas, mas tidak perlu khawatir jika Adinda akan berpaling pada laki - laki lain, dan perlu mas Al tahu, tidak peduli meski mas Al sudah tua, dan mungkin sudah tidak tampan lagi, Adinda tidak akan pernah meninggalkanmu mas.... mas... Adinda mencintai mas Al bukan karena ketampanan mas, tetapi karena kebaikan yang ada pada diri mas Al, dan jika mas Al masih merasa khawatir jika Adinda akan di ganggu atau di ambil oleh laki - laki lain, maka yang bisa mencegah agar hal itu tidak terjadi adalah mas Al, iya, hanya mas lah yang bisa melakukannya, dan Adinda yakin, mereka yang menginginkan Adinda tidak akan berani melakukan apapun pada Adinda, karena apa, karena suami ku yang keren inilah yang akan mencegah itu semua ". Sahut Adinda tersenyum dengan segala keyakinannya.


Al pun tersenyum mendengar penuturan sang istri tercintanya, iya, benar apa yang dikatakan oleh istrinya, mengapa dirinya merasa khawatir jika ia sendiri mampu mencegah hal itu, entahlah mungkin karena rasa cintanya dan juga rasa tak ingin menyakiti sang istri lagi karena tindakan yang mungkin saja bisa salah, membuat Al memiliki rasa khawatir yang berlebihan.


Al masih tersenyum memandang istrinya.


" Ada apa mas, kenapa sudah tersenyum, sudah hilang rasa khawatirnya, dasar hihihihi... ". Seru Adinda.


" Aku tidak menyangka sayang, jika aku sampai sebegitu mencintaimu ". Sahut Al.


" Tetaplah seperti ini istriku, aku suka dengan kesederhanaan mu, aku suka dengan bagaimana kamu berpikir dan juga mencintaiku, mungkin kamu bukanlah wanita pertama yang aku cintai, dan kamu memang tidak akan bisa menggantikan wanita yang menjadi cinta pertamaku hingga sekarang, mama, iya, mama adalah cinta pertama ku hingga sekarang dan selamanya, tapi meski begitu, kamu memiliki tempat khusus di hatiku sayang, iya, sampai kapanpun aku akan mencintaimu istriku Adinda " . Sahut Al, sebelum akhirnya ia memeluk tubuh Adinda.


" Aku mencintaimu Adinda ". Lanjut Al lagi.


" Adinda juga mencintaimu mas ". Sahut nya.


" Tapi, apa mas Al tidak lupa dengan sesuatu? ". Lanjut Adinda lagi.


Al sedikit mengernyit bingung, lalu ia pun menguraikan pelukannya, apa tadi maksud istrinya, lupa sesuatu?.


" Lupa sesuatu apa sayang? ". Tanya Al.

__ADS_1


" Ih, mas Al lupa atau pura - pura lupa sih? ". Tanya Adinda dengan sedikit memanyunkan bibirnya.


" Ya aku memang tidak tahu sayang apa yang sudah aku lupa, ayolah sayang katakan saja, tidak perlu bertanya - tanya seperti ini ". Seru Al.


" Ya kalau mas Al ingat, tidak mungkin kan Adinda harus mancing - mancing agar mas Al ingat huuuh... ". Sahutnya yang semakin manyun.


" Iya, oke oke, aku minta maaf sayang, maafkan aku yang lupa, sekarang katakan apa yang belum mas mu ini belum berikan? ". Pasrah Al pada akhirnya.


Adinda nampak diam sejenak, sebelum akhirnya ia pun tersenyum.


" Hadiah, iya hadiah mas, semua orang memberi Adinda dan juga adik yang masih di dalam perut ini dengan hadiah, lalu kenapa mas tidak memberikan hadiah juga? ". Sahut Adinda dengan mengelus perut buncit nya.


" Ya Tuhan, iya sayang aku lupa ". Sahut Al dengan menepuk jidatnya sendiri.


" Tuh kan, mas Al memang benar lupa ". Timpal Adinda.


Tak ingin jika sang istri akan semakin kecewa, Al pun langsung bergegas dari ranjang kasurnya.


" Mau kemana mas? ". Tanya Adinda, namun Al tak menyahut.


Entah apa yang dilakukan oleh Al, nampaknya ia seperti akan mengeluarkan sesuatu dari lemarinya.


Dan benar, Al nampak mengeluarkan sebuah kantong baju yang terlipat dengan sangat rapi, mungkin itu hadiahnya.


" Sayang, ini coba lihatlah, bagus kan? ". Seru Al dengan memberikan hadiah itu pada istrinya.


" Ini baru satu sayang, yang lainnya masih ada di lemari ". Imbuhnya lagi.


Adinda memperhatikan hadiah yang diberikan oleh suaminya itu, terlihat jelas jika baju ini adalah baju bayi perempuan.


" Mas, mas Al memberikan baju bayi perempuan? ". Sahutnya.


" Iya sayang, ini baju baby girl untuk adiknya Aganta dan Damian ". Sahut Al.


" Tapi mas, kan si adik masih belum lahir, kita kan tidak tahu apakah adiknya laki - laki atau perempuan ". Sahut nya.


" Aduh sayang, kenapa harus bingung sih, sudah pasti si adik ini perempuan ". Sahut Al dengan penuh keyakinannya.


" Kenapa mas bisa seyakin itu, kan kalau Adinda cek kandungan Adinda selalu melarang dokter untuk mengetahuinya, hemm... mas Al ini ada - ada saja kalau bicara ". Sahut Adinda dengan menggeleng.


" Ya tentu aku yakin meski dokter tidak mengatakan nya sekalipun sayang, kan aku yang membuat si adik ". Sahut Al dengan tanpa menyaring ucapan nya, ia begitu sangat yakin dengan kemampuannya.


Adinda tak menyahut lagi ucapan suaminya, kalau sudah seperti ini percuma, toh meski diberi pengertian, suaminya akan tetap pada keyakinannya.


Bersambung..........


Sampai di sini dulu ya, semangat membaca.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2