Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Melindungi Diandra


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Pagi hari yang indah terasa begitu sejuk menyapa hamparan ibu kota serta para insan yang menikmati sejuknya alam sekitar, disertai dengan semburat mentari pagi yang muncul, nampaknya telah membuat banyak orang di taman kota itu merasa senang dengan suasana alam yang begitu bersahabat.


Dan hal itupun juga tak luput dari seorang wanita cantik yang saat ini nampaknya sedang menyibukkan diri untuk berolahraga santai atau lebih tepatnya berlari - lari kecil untuk membuat badan sedikit berkeringat, ya, pagi hari yang begitu sejuk ini Diandra si wanita cantik itu sedang menikmati olahraga paginya di taman kota.


" Huh... huh... huh... rupanya badanku sudah lengket begini, kenapa cepat sekali berkeringat ya, padahal kan aku baru mulai dua puluh menit yang lalu, huh... ya sudah lah ". Gumam Diandra di sela - sela nafasnya yang terengah - engah, mungkin karena efek dari berlarinya.


Diandra terus melanjutkan olahraga santainya, meski begitu, ada sesuatu yang membuat hatinya sedari tadi merasa tak nyaman, ya apalagi penyebabnya jika bukan karena orang - orang di sekitar.


Sepanjang Diandra melakukan olahraga paginya di taman itu, banyak pasang mata yang melirik bahkan menatapnya, padahal dirinya tidaklah menggunakan pakaian terbuka, celana olahraga panjang dan juga kaos hitam polos dengan model lengan panjang juga, itu pakaian yang masih sopan kan?.


" Sudahlah Diandra, tidak usah kamu pedulikan mereka ". Batin Diandra.


Merasa sudah cukup lelah dengan olahraga paginya, Diandra pun memilih untuk menepi dan kembali ke tempat duduknya yang tadi di mana tas yang berisi bekalnya ada di sana.


" Huh... akhirnya sampai juga ". Serunya setelah dirinya berhasil duduk.


Diandra tak langsung meminum air minumnya, ia masih berdiam setelah hampir lima menit, merasa sudah cukup waktu untuk menghilangkan penatnya, barulah Diandra meminum air minumnya yang di kemas dalam botol air minum.


Glug... glug... glug... Diandra meminum air minumnya itu, nampaknya wanita cantik itu begitu sangat kehausan, hal itu terlihat dari bagaimana ia meminum air minumnya.


" Lama tidak berolahraga, ternyata lelah juga ya kalau berolahraga lagi, padahal kan masih belum satu jam ". Gumamnya.


Tak ada lagi gumaman pada wanita cantik itu, tatapannya kini hanya tertuju pada beberapa pasang keluarga kecil yang menikmati liburan paginya.


Dan ternyata, tanpa Diandra sadari rupanya sudah ada sepasang mata yang tengah menatapnya dari jarak jauh.


Dan tidak lama dari itu, orang yang memandang Diandra itupun mulai melangkah mendekatinya, entah apa yang diinginkannya.


Hingga selangkah... dua langkah... tiga langkah dan....


" Hayooo... ". Sentak orang itu tiba - tiba.


" akh... ". Pekik Diandra tiba - tiba, ia merasa sangat terkejut karena tiba - tiba dirinya mendapat gertakan dari belakang.


" Hahahaha... ". Tawa orang itu yang merasa senang karena sudah berhasil membuat Diandra begitu terkejut.


" Ya Tuhan Rendi ". Ucap Diandra yang masih begitu sangat terkejut, dan ternyata setelah ia lihat, Rendi lah pelakunya.

__ADS_1


" Ya Tuhan Ren, kamu ini, membuat kaget tahu, bagaimana kalau aku terkena serangan jantung? ". Lanjut Diandra kesal dengan mengelus dadanya.


" Hihihihi... sorry Di, habisnya kamu itu sedang memikirkan apa sih, sampai se serius itu lihat mereka ". Sahut Rendi, dan ia pun segera duduk di samping Diandra.


Diandra tak menyahut, ia kembali fokus melihat orang - orang yang sedang asik bermain itu.


" Di, kamu kenapa?, kamu marah ya sama aku karena sudah membuatmu terkejut tadi? ". Tanya Rendi yang merasa bersalah.


Diandra pun menatap Rendi dengan tersenyum, sepertinya temannya ini merasa bersalah.


" Tidak Ren, aku tidak marah ". Sahutnya tersenyum.


" Lalu, kenapa kamu tidak merespon ku lagi setelah aku jahil sama kamu? ". Tanya Rendi lagi yang ingin memastikan.


Untuk sejenak Diandra menatap Rendi, haruskah dirinya menanyakannya sekarang?, tapi itu kan sudah lama, lalu mengapa sekarang masih ingin di pertanyakan, bukankah buktinya sudah ada, lalu perlu apa lagi?.


" Di, kok malah diam sih? ". Tanya Rendi lagi.


" Eh, tidak Ren, tidak ada apa - apa ". Sahutnya dengan tersenyum hambar.


" Meski kamu bilang tidak apa - apa, tapi tetap saja aku masih sangat penasaran, ayolah Di tidak perlu kamu menutupi sesuatu, aku orangnya bisa menjaga rahasia kok ". Sahut Rendi.


Mendapat tanggapan positif dari Rendi, sepertinya tidak ada salahnya jika bertanya.


" Hum, iya ada? ". Sahut Rendi.


" Sebenarnya aku sudah lama ingin menanyakan ini sama kamu Ren, tapi setelah di pikir lagi sepertinya tidak ada gunanya, karena semuanya pun sudah terjadi, tapi karena kamu ingin tahu, ya sudah, akan aku katakan ". Sahut Diandra.


" Ayo cepat katakan, aku sedang menunggu ini ". Seru Rendi lagi yang ternyata sudah benar - benar tak sabar ingin segera Diandra mengatakan nya.


" Ren, kenapa kamu tidak mengatakan padaku, jika Al sudah memiliki seorang istri dan juga anak? ". Tanya Diandra pada akhirnya.


Deg... Rendi pun sangat tertegun mendengarnya, bahkan tubuhnya pun terasa membeku.


" Kamu tidak bisa menjawabnya ya Ren, ya sudah tidak apa - apa, lagi pula aku sudah tahu semuanya.... kamu tahu, apa yang membuatku kecewa pada mu Ren, karena kamu tidak jujur dari awal kalau ternyata Al sudah menikah dan memiliki anak, heeeh... coba saja kalau kamu mengatakan nya dari awal, tidak mungkin kan aku sampai datang ke rumah Al, benar - benar kamu ini Ren ". Ujar Diandra pada akhirnya, namun masih tersenyum.


Ya, Diandra memang sudah lama ingin mengatakan hal ini pada Rendi namun tak kunjung memiliki waktu yang pas untuk menanyakan nya.


Rendi merasa bingung ingin menjawab dengan alasan apa, haruskah dirinya jujur jika yang menjadi alasan mengapa dirinya tidak mengatakan kabar tentang Al karena tidak ingin Diandra merasa terluka, apalagi saat itu Diandra masih baru datang dari luar negeri.


" Ya sudahlah Ren, tidak perlu di jawab, heh kamu ini, giliran tidak di tanya malah aktif bicara, tapi kalau sudah di tanya malam diam ". Gumamnya lagi.

__ADS_1


" Di, sebenarnya aku tidak mengatakan tentang Al padamu karena aku tidak ingin membuat kamu terluka dalam waktu dekat Di, apalagi pada waktu itu kamu masih baru kembali dari Kanada, aku hanya berniat untuk melindungi mu Di, aku hanya ingin melindungi perasaan mu ". Sahut Rendi dengan kalimatnya yang penuh arti.


Diandra menatap Rendi dengan tatapan yang tak biasa, setelah mendengar jawaban Rendi, entah mengapa Diandra merasa ada yang tak biasa pada kalimat Rendi, menurutnya kalimat Rendi itu memiliki arti, seolah dari kalimat itu menggambarkan jika dirinya begitu berharga di mata Rendi.


Namun Diandra berusaha menepis pikiran itu, mungkin itu hanya pemikirannya saja, wajar saja kan jika Rendi ingin melindungi perasaannya, sebagai seorang teman sudah pasti juga tidak ingin melihat perasaan temannya juga terluka.


" Sudah, jangan berpikir yang aneh - aneh ". Batin Diandra.


" Bahkan kamu tidak curiga sama sekali kenapa aku bisa se khawatir itu sama kamu Di, tapi tidak apa, akan aku jadikan ini sebagai permulaan ".Batin Rendi.


*****


Riuhan suara bocah - bocah kecil, nampak terdengar menghiasi taman belakang rumah kediaman pribadi Al, ya siapa lagi yang berhasil melancarkan riuhan - riuhan itu jika bukan si kecil Aganta dan juga Damian.


Ya, di pagi hari ini, dua balita laki - laki itu, terlihat asyik sedang memberikan makan untuk ikan - ikan peliharaan sangat daddy yang ada di kolam, dengan di bantu oleh sang daddy dan juga opa mereka, kedua anak kembar itu nampak bersemangat memberi makan ikan - ikannya.


" Ayo itan - itan, mamam yan banak, bial tamu na cepat becal ( ayo ikan - ikan, makan yang banyak, biar kamu nya cepat besar) ". Seru si kecil Damian di sela - sela saat tangan mungilnya melempar makanan ikan - ikannya yang ada di kolam.


" Daddy, daddy, mana ladi?, mamam na itan na dah habish ( daddy, daddy, mana lagi?, makanan ikannya sudah habis) ". Seru Aganta yang meminta makanan ikannya lagi.


" Ini boy ". Sahut Al dengan memberikan makanan ikan itu pada Aganta.


Jika ke empat pria beda generasi itu sedang sibuk dengan memberi makan ikan - ikannya, maka beda halnya dengan Adinda dan juga mama mertuanya, dua wanita itu sedang duduk tenang bersama.


" Adinda, kamu sudah menyiapkan nama untuk anak mu ini nak? ".Tanya Devina.


" Emm... kalau Adinda sih pasrah dengan mas Al ma, dan katanya mas sudah menyiapkan sepasang nama untuk anak ketiga kami ini ". Sahutnya dengan mengelus perutnya.


" Cucu oma yang belum lahir, nanti kalau kamu sudah lahir harus tumbuh menjadi anak yang baik ya nak, jangan seperti kakakmu si Damian, yang suka jahil sama orang hihihihi... ". Seru Devina.


Adinda hanya tersenyum datar mendengar kalimat sangat mommy mertuanya, rupanya bukan hanya suaminya Al yang tak ingin jika anak ketiganya ini memiliki sifat yang sama dengan Damian, tetapi ibu mertuanya pun juga.


" Cudah - cudah ya upa, Mian dah lelah, Mian ini ishtillahat ( sudah - sudah ya opa, Damian sudah lelah, Damian ingin istirahat) ". Serunya pada sangat opa dengan memberikan sisa makanan ikan - ikannya.


" Loh anak itu, main langsung pergi, heh, Damian - Damian, untung kamu cucu kesayangan opa, iya benar, kamu cucu kesayanganku, sekaligus cucu yang menyebalkan ". Gumam Enriko.


Ternyata cucu kecilnya itu masih harus mendapat didikan lebih dari kembarannya, agar sedikit lebih bertanggung jawab, iya, benar begitu.


Bersambung..........


Sampai di sini dulu ya, semangat membaca.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2