
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Waktu yang masih pagi seperti ini nampak si kecil Aganta dan juga Damian sudah berpenampilan begitu rapi dan wangi yang menandakan kedua bocah kembar itu sudah selesai mandi, ditambah lagi dengan adanya taburan bedak bayi yang begitu wangi sudah menempel di hampir memenuhi seluruh bagian wajahnya benar - benar membuat kedua bocah itu semakin terlihat menggemaskan.
Di pagi hari ini Adinda tidak melakukan aktivitas berat apapun. Setelah dirinya dinyatakan hamil oleh dokter membuat sang suami dan juga kedua mertuanya melarang keras dirinya untuk melakukan banyak aktivitas, padahal meski dirinya tidak hamil sekalipun tidak ada satupun aktivitas di rumah suaminya yang membuatnya lelah, namun harus bagaimana lagi demi menuruti perintah sang suami dan juga orang tua mertuanya, Adinda harus lebih banyak beristirahat, dan mungkin hanya selalu bersantai dengan kedua putranya, dan beruntungnya lagi kedua putra kembarnya itu adalah tipe anak - anak yang cukup penurut. Sehingga tidak membuat Adinda memiliki kerumitan yang begitu berarti dalam mengurus kedua anak kembarnya.
Di pagi hari yang masih terasa sejuk ini, si kembar Aganta dan juga Damian sedang menonton film kartun kesukaan mereka.
Jika biasanya kedua bocah kembar itu menonton kartun sambil lalu bermain, namun kali ini mereka menonton kartun sambil lalu memakan cemilannya masing - masing. Dengan di temani oleh sang mommy, kedua bocah menggemaskan itu benar - benar nampak tenang di kamar kedua orang tuannya.
" Kriukk... kriukk... kriukk... ". Itulah bunyi yang keluar dari cemilan yang sudah Aganta kunyah di dalam mulut mungilnya.
Damian pun yang mendengar suara itupun menoleh ke arah sang kembaran. Ia memperhatikan Aganta yang ternyata begitu sangat menikmati memakan cemilan kesukaannya.
Gleg... Damian menelan salivanya sendiri. Entah mengapa ia rasanya juga ingin mencicipi cemilan milik Aganta padahal dirinya sudah memiliki cemilannya sendiri.
Merasa Aganta masih fokus menatap layar tv yang menayangkan film kartun kesuksesan nya, akhirnya Damian pun mencoba menyelinap kan salah satu tangan mungilnya untuk mendapatkan cemilan milik kembarannya itu.
" Ih ". Cegah Aganta tiba - tiba dengan menahan tangan mungil Damian dengan tangan mungil miliknya.
" Mian, mau apa tamu, tamu mau mamam tu? ( Damian, mau apa kamu, kamu mau makanan ku?) ". Protes Aganta tak suka dengan masih menahan sebelah tangan kembarannya, Aganta merasa tak suka jika Damian mengambil cemilan miliknya sementara kembarannya itu memiliki cemilannya sendiri.
" Hi hi hi hi hi hi ". Cekikikan Damian yang merasa malu karena sang kembaran telah mengetahui aksinya.
" Aganta, Damian, ada apa nak, kenapa sepertinya anak - anak mommy ini ada ribut - ribut? ". Seru Adinda bertanya sebelum akhirnya ia duduk lebih dekat dengan kedua putranya.
" Ini myh, Mian abil mamam na Anta, tan Mian puna mamam na ceudilli ( Ini my, Damian mengambil makanan nya Aganta, kan Damian punya makanan nya sendiri) ". Adu Aganta pada sang mommy tentang kelancangan saudara kembarnya itu.
Adinda hanya bisa menghela nafasnya, memang tidak diragukan lagi jika putranya si Damian memang hampir selalu membuat ulah.
" Anak mommy Damian, benar yang dikatakan Aganta tadi nak, kalau memang benar kenapa Damian melakukan itu sayang?, kalau Damian memang ingin cemilan yang sama seperti Aganta, Damian harus meminta izin dulu sama Aganta ya ". Tuturnya lembut memperingati putranya.
" Hi hi hi hi, iya mommy ". Sahut Damian dengan senyuman menahan rasa malunya.
" Terus bagaimana Damian masih ingin memakan cemilan Aganta? ". Lanjutnya yang ingin memastikan.
" Mian inin dua sada myh, dak banak - banak, Mian inin tau lasshana sada myh ( Damian ingin dua saja my, tidak banyak - banyak, Damian ingin tahu rasanya saja my) ". Sahut Damian dengan menatap penuh harap pada sang mommy.
Aganta yang melihat jika saudara kembarnya begitu ingin memakan cemilan seperti miliknya merasa kasihan, hanya saja yang membuatnya kesal adalah mengapa saudara kembarnya itu langsung mengambil, padahal jika saudara nya meminta secara baik - baik sudah pasti dirinya akan memberikan cemilannya.
" Aganta, bagaimana nak, saudaramu ini ingin mencicipi cemilan mu nak, apa boleh? ". Tanya Adinda lembut dengan mengelus pucuk kepala Aganta.
" Huum, abil sada puna na Anta yan di leummalli myh, bial Mian mamam na, Anta tan puna banak ( huum, ambil saja punya nya Aganta yang di lemari my, biar Damian yang memakan nya, Aganta kan punya banyak) ". Sahutnya pada sang mommy.
" Aduh baiknya anak mommy, ya sudah mommy ambil satu ya nak cemilan milik Aganta biar Damian bisa memakannya ". Sahut Adinda lembut sebelum akhirnya ia berlalu dan mengambil satu kemasan cemilan yang sama dengan milik Aganta.
" Ini Damian cemilan nya nak, ayo mengucapkan apa dulu pada Aganta, coba katakan terima kasih Aganta ". Serunya mengajari pada putranya Damian.
" Maacih Anta ( terima kasih Aganta) ". Seru Damian dengan senyuman menggemaskannya.
__ADS_1
Dan setelah sempat terjadi keributan kecil karena sebuah cemilan, kini dua bocah kembar itupun dengan di dampingi oleh sang mommy sudah sama - sama asyik memakan cemilannya dengan sambil lalu menonton tayangan film kartun kesukaan mereka.
*****
Sebuah ruangan yang hanya memiliki satu buah penerangan terasa begitu dingin dan sangat mencekam. Aura itu semakin terasa mencekam kala sang tuan besar telah memberikan tatapan menghunusnya bak seekor harimau yang tak dapat memberi ampun pada mangsanya.
Dengan kondisi yang sudah babak belur, di tambah lagi dengan tubuhnya yang sudah terikat kuat, kini penyusup yang sudah menyamar menjadi bodyguard itu nampak membuka kedua matanya.
Dalam keadaan tubuhnya yang sudah lemah tak berdaya, dia berusaha mengumpulkan serpihan - serpihan sisa nyawanya.
" Akhirnya kamu sadar juga ". Ujar Al dengan tatapan dinginnya.
" Tu-tuan ". Rintihnya.
" Berapa Viko membayar mu, sampai kamu begitu beraninya menyusup dan berpura - pura menjadi orang suruhan ku, apa kamu sudah bosan hidup? ". Ujar Al dengan masih memasang wajah dinginnya namun kedua sorot matanya sudah mulai memerah.
Namun bodyguard gadungan itu tidak menyahut.
" Cepat katakan, dimana Viko bersembunyi, dan apa rencana manusia brengs*k itu? ". Lanjut Al dengan masih menahan amarahnya.
Andrew dengan beberapa bodyguard yang berada di ruangan itu pun hanya diam membisu.
Brakk... " Kenapa kamu tidak menjawab hah, jawab pertanyaan ku ". Marah Al bahkan dengan menggebrak meja yang ada di depannya. Kali ini Al benar - benar sangat marah.
Namun sayangnya, bodyguard gadungan itu masih tetap bungkam tanpa ingin memberikan informasi apapun tentang Viko.
" Oh baiklah, rupanya kamu tidak sayang pada nyawamu, Ivan ". Ujar Al dan memanggil Ivan.
" Kamu boleh memainkan mainan mu itu, dan kamu boleh mengarahkannya pada bedeb*h ini ". Perintah Al telak.
Ivan pun langsung melakukan apa yang di perintahkan oleh tuannya. Ia mengeluarkan senjata api miliknya itu dan mengarahkannya tepat pada kepala mata - mata Viko.
" Tunggu apa lagi, lakukanlah sekarang Ivan ". Sentak Al.
" Tu-tunggu, ba-baik sa-saya a-kan me-ngata-kan nya s-sekarang ". Sahut bodyguard gadungan itu pada akhirnya dengan segala sisa tenaganya.
" Tu-tuan Viko, bersembunyi di sebuah pe-perumahan kumuh yang ada di sini tuan, di-dia berencana untuk, menghancurkan pe-rusahaan mu, dan di kantormu sudah ada o-rang suruhan nya ". Aku bodyguard itu pada akhirnya.
*****
Si kembar Aganta dan juga Damian sedang menghabiskan waktu kebersamaan mereka dengan memainkan mainannya masing - masing di dalam kamar daddy dan juga mommy nya.
Namun nampaknya ada yang berbeda dari kedua bocah kembar itu. Hari ini mereka terlihat begitu kurang semangat bermain, padahal di waktu pagi tadi kedua bocah kembar itu masih terlihat cukup gembira.
" Aganta, Damian, ada apa dengan kalian nak? ". Seru Adinda lembut dengan mengelus pucuk kepala kedua putranya.
Kedua bocah kembar itupun menatap sang mommy.
" Daddy dak didio, dak ceullu ( daddy tidak video call, tidak seru) ". Ujar Damian mengungkapkan apa yang menjadi kejenuhan suasana hatinya.
" Huum, dak ceullu ( huum, tidak seru) ". Timpal Aganta yang membenarkan kalimat sang kembaran.
__ADS_1
Adinda terdiam, seharusnya dirinya paham jika kedua putranya ini sangatlah dekat dengan daddy nya. Namun kali ini Adinda merasa heran, mengapa suaminya itu tidak melakukan panggilan video bahkan hingga sesiang ini, apakah karena banyaknya pekerjaan sehingga suaminya itu tidak menghubungi dirinya dan juga anak - anaknya?.
Padahal sesibuk apapun suaminya dalam menangani pekerjaannya di kantor, pastilah suaminya itu akan tetap menghubungi nya, namun kali ini tidak seperti biasanya.
" Mas, tidak seperti biasanya kamu sampai tidak menghubungiku dan juga anak - anak, kalau karena kesibukan pekerjaan, sangat tidak mungkin jika kamu tidak memberi kabar,... huft... semoga kamu tetap baik - baik saja mas, amin ". Batin Adinda.
*****
Al dengan Andrew, kini sudah berada di tempat pengasingan Sintia. Ya, setelah Andrew mencari tahu siapa orang yang telah mengirim bukti rekaman itu, ternyata Sintia lah yang mengirimnya.
Dengan wajah datar dan juga tatapan mengintimidasi nya, Al menatap Sintia yang kini hanya bisa duduk dengan sedikit menunduk di hadapannya.
Sintia sebenarnya merasa sedikit merinding, karena ditatap oleh dua orang pria yang menurutnya terlihat garang.
" Kamu pasti sudah tahu kenapa aku datang kemari? ". Ujar Al setelah cukup lama diam.
Sintia tak langsung menyahut. Sebenarnya iya tahu mengapa Al datang menemui nya saat ini, namun ia sendiri masih merasa tak yakin benarkah jika Al datang kemari karena bukti rekaman suara itu?.
" Aku tidak ingin berbasa-basi Sintia, sebenarnya apa tujuan mu mengirim bukti rekaman itu, apa kamu ingin berulah lagi dan mengganggu ketenangan keluargaku? ". Ucap Al langsung dari uneg - unegnya.
Dengan cepat Sintia langsung menggeleng.
" Tidak, aku sama sekali tidak memiliki niatan buruk apapun padamu dan juga keluargamu Al ". Tolaknya yang merasa jika tuduhan Al tidaklah benar.
" Lalu mengapa kamu mengirim bukti rekaman itu, dan darimana kamu bisa memiliki ponsel, bukankah ponselmu sudah aku sita? ". Lanjut Al lagi.
" Itu karena sudah sejak lama aku merasa ada yang mencurigakan dari salah satu orang suruhan mu Al, aku tidak jarang melihat orang itu selalu menelfon secara sembunyi - sembunyi di dekat pintu belakang, dan itu benar - benar sangat mencurigakan. Dan mengenai ponsel itu aku memintanya pada ibuku, aku meminjam ponsel yang baru saja ibuku membelinya, karena ponsel itu sangatlah penting, dan dengan adanya ponsel itu membuatkan bisa lebih leluasa untuk mengetahui apapun yang aku ingin tahu di tempat ini ". Sahut Sintia menjelaskan, namun entah mengapa sepertinya ia merutuki kalimat terakhirnya.
Al sedikit menyunggingkan bibirnya.
" Ternyata memang benar ya, manusia yang memiliki otak licik layaknya ular, akan selamanya tetap seperti itu... tapi kali ini aku tidak mengutuk otak licik mu itu Sintia, karena otak licik mu itu ternyata cukup berguna juga untuk saat ini ". Puji Al namun dalam bentuk sindiran.
" Lalu apa mau mu sekarang? ". Nampaknya Al mulai memberikan kesempatan pada Sintia.
" Maksudnya bagaimana, aku tidak paham? ". Sahut Sintia yang memang tidak mengerti.
" Karena bukti rekaman itu, seorang mata - mata sudah berhasil dibuang, dan sebagai imbalannya kamu boleh meminta satu hal padaku kecuali keluar dan terbebas dari tempat pengasingan ini, jangan harap, karena itu terlalu baik untuk diberikan padamu untuk saat ini ". Ujar Al telak dengan memberikan kesempatan yang begitu terbatas pada Sintia.
Sintia nampak diam. Apakah sekarang saatnya lah dirinya menggunakan kesempatan ini untuk bertemu dengan putranya?.
" Dalam waktu lima menit kamu tidak mengatakannya, maka kesempatan ini sudah hilang ". Lanjut Al lagi. Rupanya Al masih begitu berat untuk memberikan imbalan atas perbuatan Sintia.
" Anakku, aku ingin bertemu dengan anakku dan juga papa dari anakku, sampai detik ini aku tidak tahu mereka berdua berada. Tidak apa - apa jika aku tidak bisa hidup bersama mereka, tetapi setidaknya aku tahu jika anakku dirawat dengan baik oleh papanya ". Ucap Sintia dengan begitu saja.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, tetap semangat membaca.
ππππππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1