
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sang waktu masih terus berjalan. Tiga hari menuju tiga malam telah Adinda lalui di rumah sakit besar milik suaminya. Dan waktu akan kelahiran penerus keluarga Georgino berikutnya pun akan segera hadir.
Malam ini sudah berlangsung semakin larut. Sudah semenjak tadi Adinda dengan suaminya telah terlelap mengarungi mimpi indah mereka. Al tidur dengan posisi tubuhnya yang masih memeluk tubuh sang istri. Hingga setelah sekian lama mereka terlelap, nampaknya Adinda sedikit menggerakkan tubuhnya.
Dengan perlahan Adinda mulai membuka sepasang kelopak matanya. Adinda merasa terusik dengan sesuatu yang terasa begitu aneh dan menyengat yang ada di bagian perutnya. Karena tak ingin sang suami menjadi terusik oleh gerakannya, dengan perlahan Adinda pun mulai menurunkan rengkuhan tangan kekar suaminya itu.
" Ssshhh... ". Rintihan kecil pun telah berhasil lolos dari mulut Adinda.
" Ya Allah, perutku terasa sakit ya, apa mungkin aku akan melahirkan sekarang?, iya, sepertinya aku akan melahirkan sekarang ".Gumam Adinda.
Dengan perlahan, Adinda menurunkan sepasang kaki jenjangnya itu dari atas kasurnya. Adinda ingin ke kamar kecil. Dirinya sudah merasa sangat yakin jika sekarang inilah baginya untuk melahirkan. Mungkin karena pengalaman melahirkan sebelumnya, membuat Adinda tak terlalu mengkhawatirkannya dan cukup menyikapinya dengan tenang.
Dengan perlahan wanita yang memiliki perut buncit itupun melangkah menuju kamar kecil. Mungkin setelah hampir sepuluh menit Adinda di kamar kecil itu, barulah dirinya benar - benar keluar.
" Huft... cukup lega, tapi perutku masih terasa sakit ". Serunya.
Lalu Adinda pun lebih memilih untuk duduk di kasur dengan berada di dekat kaki suaminya. Dielus nya perut buncit nya yang terasa cukup sakit itu.
" Sayang, kalian sudah tidak sabar ingin lahir ya nak?, yang sabar ya nak ". Seru Adinda di sela - sela elusan nya.
Setelah hampir sepuluh menit Adinda duduk, ia pun memilih berdiri. Adinda berinisiatif ingin berjalan di ruangan itu agar proses melahirkannya menjadi lebih cepat.
Dengan perlahan sepasang kaki jenjangnya itu melangkah mondar - mandir di tengah waktu yang masih terasa begitu larut malam. Sementara Al sendiri masih terlelap dengan tidurnya. Ia masih belum menyadari jika istrinya Adinda telah terbangun dan tak membaringkan tubuhnya kembali di sampingnya.
" Huft... perutku sudah semakin tak nyaman ". Lirih nya di sela - sela langkahnya.
Arah jarum jam masih terus berputar bergerak menunjuk waktu yang terus berjalan. Dan tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Mungkin karena sinyal dari alam, Al pun mulai terbangun juga dari tidur lelapnya.
Dalam keadaan kedua kelopak matanya yang masih belum terbuka secara sempurna, perlahan tangannya ia ulurkan untuk memeluk tubuh sang istri.
Namun disaat Al melakukannya, terasa ada yang aneh yang dirinya rasakan, mengapa terasa datar?, sehingga akhirnya Al pun benar - benar membuka kedua kelopak matanya.
" Sayang ". Lirih Al dengan perasaan bingungnya.
" Sayang ". Seru Al lagi dan ia pun mulai terjaga dari tidurnya.
" Mas ". Sahut suara lembut itu yang terdengar seperti berasal dari pojokan dinding yang berseberangan dengan kasur tempat tidur mereka. Sontak Al pun langsung menoleh.
" Sayang ". Seru Al khawatir lalu pria bertubuh tinggi itupun langsung turun dari kasur dan menuju ke arah istrinya.
" Sayang, kamu kenapa? ". Seru Al cemas.
" Sepertinya, tidak lama lagi, si kembar akan lahir mas ". Sahut Adinda yang dengan menahan rasa sakitnya.
" Ya Tuhan, sayang, kenapa kamu tidak membangunkan aku, ya sudah ayo duduk dulu, aku mau menghubungi dokter Nita dengan suster yang lainnya ". Sahut Al.
Dan dengan perlahan, Al pun menuntun istrinya itu untuk duduk sebelum akhirnya ia menyuruh dokter dan suster yang ada di rumah sakitnya untuk segera menangani sang istri yang akan segera melahirkan.
Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman pribadi Al sendiri. Nampak salah satu anaknya telah terjaga. Aganta terjaga dari tidurnya.
Entah mengapa, malam ini, tidur nyenyak dari bocah yang sudah hampir berusia lima tahun itu mendadak menjadi terusik. Hatinya terasa begitu gelisah. Bayang - bayang akan wajah sang mommy nampak begitu nyata dalam ingatannya.
" Perasaanku tak enak, aku ingin lihat mommy ". Gumam Aganta.
Dipandangnya opa dan oma nya serta adik dan juga saudara kembarnya yang masih terlelap. Karena rasa khawatirnya pada sang mommy, Aganta pun berinisiatif ingin menghubungi daddy nya saja. Pelan namun pasti, sepasang kaki mungilnya itu turun dari ranjang kasur.
Aganta mulai meraih handphone pintarnya itu. Ia mulai mencari kontak daddy nya.
" Tapi ini kan masih malam, pasti daddy dan mommy masih tidur ".
" Hemm, percuma saja aku menelfon, pasti ujung - ujungnya mengganggu mommy dan daddy ". Gumam Aganta.
Dan akhirnya Aganta pun memilih untuk meletakkan handphone nya kembali. Aganta berubah pikiran. Ia tak jadi menelfon orang tuanya lantaran tak ingin mengganggu kedua orang tuanya yang menurutnya sudah pasti masih terlelap di rumah sakit.
*****
Keadaan yang begitu mencekam, kini telah kembali terjadi. Kini, di ruangan bersalin ini, Adinda kembali berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk untuk melahirkan kedua buah hatinya.
Rintihan serta keringat yang bercucuran di tubuhnya seolah tak henti ikut menghiasi perjuangannya. Kedua tangan mungilnya berpegangan begitu sangat erat pada tangan sang suami dan juga ranjang kasurnya. Sakit, teramat sangat sakit, dan benar - benar tak bisa digambarkan bagaimana rasa sakitnya.
Namun, tak peduli bagaimanapun rasa sakitnya, Adinda akan tetap berjuang demi melahirkan kedua buah hatinya.
" Eergh... eergh... eergh... ". Ejanan terus Adinda lakukan agar kedua buah hatinya bisa segera lahir.
" Ayo nyonya, terus mengedan, ini kepala bayinya sudah mulai terlihat ". Seru dokter Nita.
" Eergh... eergh... ". Adinda pun terus mengedan.
" Iya nyonya benar, tarik nafas lalu keluarkan ".
" Eergh... eergh... eergh... ".
Entah sudah berapa kali tarikan nafas dan ejanan yang telah Adinda lakukan. Dan pada kenyataannya, sulit bagi anak - anaknya untuk bisa keluar.
Al yang menyaksikan bagaimana perjuangan istrinya untuk melahirkan anaknya benar - benar tak sanggup. Hatinya begitu sakit saat menyaksikan kesakitan istrinya namun dirinya tak bisa berbuat apa - apa. Andai jika dirinya bisa, ingin sekali Al menggantikan posisi istrinya yang saat ini harus berjuang antara hidup dan mati.
__ADS_1
" Ayo nyonya, tarik nafas lagi, tinggal sedikit lagi kepala bayi nya akan keluar ". Seru dokter Nita.
" Eergh... eergh... eergh... ".
" Iya nyonya terus ".
" Eergh... eergh... eergh... ".
" Iya nyonya tinggal sedikit lagi ".
" Eergh... eergh... eergh... ".
" Eergh... eergh... eergh... ".
" Oekk... oekk... oekk... ".
Suara tangisan bayi itupun akhirnya pecah hingga hampir memenuhi setiap sudut ruangan bersalin itu.
Untuk sesaat, rasa sakit yang dirasakan oleh Adinda seolah hilang karena suara tangisan anaknya.
Al, yang mendengar tangisan lantang dari salah satu anaknya yang telah lahir itu terasa begitu menghangat, Al merasa sangat terharu, apa yang dirasakannya saat ini benar - benar sulit untuk diartikan.
" Tuan, nyonya, selamat, putra tuan dan nyonya sudah lahir, ternyata yang lebih dulu lahir yang laki - laki tuan nyonya ". Seru dokter Nita yang memberikan kabar bahagia ini.
" Alhamdulillah ". Puji syukur Al.
Untuk sesaat Al merasa sangat bahagia karena ternyata putranya lebih dulu lah yang telah lahir. Sementara Adinda, setelah sempat bahagia karena kelahiran putranya, kini kebahagiaan itu malah kembali berubah menjadi rasa sakit. Ya, sepertinya saudari dari putranya yang baru saja lahir ini, tak lama lagi juga akan segera lahir juga.
" Aduh, sakit ". Rintih Adinda.
" Sayang ". Seru Al yang merasa khawatir.
" Sakit mas ". Serunya.
" Sepertinya si adik sudah tidak sabar ingin keluar juga, baiklah nyonya, saatnya siap - siap lagi ". Seru dokter Nita lagi.
Dengan mengikuti interupsi dari dokter Nita, Adinda pun mulai mulai kembali mengedan.
" Ayo nyonya tarik nafas, lalu keluarkan ".
" Eergh... ".
" Ayo nyonya, tarik nafas lagi, lalu keluarkan ".
" Eergh... eergh... ".
" Eergh... eergh... eergh...
" Oekk... oekk... oekk... ".
Dan kini, suara tangisan bayi itupun kembali menggema hampir memenuhi sudut ruangan itu. Akhirnya, sepasang bayi kembar dari penerus keluarga Georgino pada kali ini, telah lahir dengan selamat.
Cup... cup... cup... Al menghadiahi ciuman yang bertubi - tubi pada hampir semua bagian wajah istrinya.
" Terima kasih istriku ". Seru Al lirih dengan memandang begitu lekat wajah sang istri tercintanya yang masih dipenuhi dengan keringat itu.
Dan setelah proses persalinan itu selesai, dua orang suster yang ada di ruangan itupun memandikan sepasang bayi kembar tuan dan nyonya mereka sebelum akhirnya di adzani oleh tuan Al mereka, sedangkan satu orang suster lagi ikut membantu dokter Nita dalam menangani nyonya Adinda nya paska melahirkan.
*****
Sang mentari telah nampak tinggi dari kemunculannya, lebih tepatnya waktu sudah hampir menunjukkan siang hari.
Setelah mendapat kabar dari sang putra jika sepasang cucu kembarnya telah lahir, Devina, Enriko serta ketiga cucunya, langsung bergegas menuju rumah sakit.
Dalam hal ini, Devina merasa kesal pada putranya Al, lantaran disaat menantunya sudah akan melahirkan, namun Al malah tak memberinya kabar. Padahal dirinya begitu sangat ingin membantu sang menantu di detik - detik saat akan menjelang proses persalinan.
" Ma, mama hati - hati jalannya ma, ingat, mama sedang menggendong Alexa ". Peringat Enriko di sela - sela langkahnya, namun istrinya Devina malah terus melangkah dengan cepat seolah tak ingin ketertinggalan.
Hingga akhirnya, mereka pun mulai sampai di tempat yang mereka tuju.
Ceklek.... pintu ruang rawat khusus VVIP itupun telah berhasil Devina buka.
" Al ". Seru Devina.
" Daddy mommy ". Seru si kecil Alexa setelah melihat kedua orang tuanya.
" Sayang ". Sahut Adinda.
Adinda benar - benar merindukan ketiga anaknya yang berada di rumah, satu hari tak melihat anak - anaknya, rasanya membuat Adinda menjadi hampa. Dan kini, dirinya telah bertemu kembali dengan ketiga anaknya itu.
" Mommy ". Seru ketiga anaknya, dan tak lama dari itu, Alexa dan juga kedua kakak kembarnya pun memeluk mommy mereka.
Sementara Devina dan juga Enriko, masih terfokus pada sepasang bayi kembar yang ada di box bayi itu. Bisa mereka lihat sepasang cucu kembar mereka yang sedang tidur terlelap. Hati sepasang suami istri yang telah lanjut usia itu begitu sangat terharu dan bahagia.
" Ya Allah, cucuku ". Seru Devina dengan masih menatap sepasang cucu kembarnya.
Karena merasa tak sabar, Devina pun akhirnya menggendong salah satu dari cucunya.
" Al, siapa nama anak kembar mu yang sekarang ini Al? ". Tanya Devina.
__ADS_1
" Yang laki - laki namanya Aldixan Gerald Georgino, sedangkan yang ada di gendongan mama itu, Xandria Gerald Georgino ". Jelas Al.
" Nama yang indah, apa nama mereka diambil dari namamu dan juga Adinda nak? ". Tanya Devina.
" Iya ma benar ". Sahut Al.
Cup... dengan lembut Devina pun mencium wajah mungil cucunya yang masih merah itu.
" Adinda ". Seru Enriko tiba - tiba.
" Iya pa ". Sahut Adinda lirih.
" Papa tidak tahu bagaimana cara papa dan keluarga ini berterima kasih padamu nak, papa tidak bisa memberikan apa - apa padamu selain hanya ucapan terima kasih, semua kebahagiaan yang ada pada keluarga kami adalah karena kamu nak, terima kasih karena kamu sudah hadir dalam keluarga kami ". Ucap Enriko tulus berterima kasih pada menantu kebanggaannya.
" Iya Adinda, terima kasih sayang, karena kamu keluarga kami bisa merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa ini ". Timpal Devina.
Adinda pun tersenyum mendengar ucapan tulus terima kasih dari kedua orang tua mertuanya.
" Ma, pa, tidak perlu mama dengan papa berterima kasih seperti ini, Adinda sangat senang jika Adinda memang bisa memberikan kebahagiaan untuk kita semua, terima kasih juga, karena selama ini mama dan juga papa sudah sangat menyayangi Adinda bahkan lebih daripada sebagai seorang menantu ". Sahut Adinda dengan perasaan harunya.
" Tentu nak, mama dan papa sangat menyayangimu, karena kamu adalah kebahagiaan putra kami Al, karena kamu adalah menantu kebanggaan kami, karena kamu adalah ibu dari cucu - cucu kami, karena kamu adalah putri kami nak ". Sahut Devina, karena memang itulah fakta mengapa dirinya dan juga suaminya begitu sangat menyayangi Adinda.
Lagi - lagi Adinda pun tersenyum setelah mendengar ungkapan tulus dari kedua orang tua mertuanya. Adinda begitu sangat terharu dibuatnya. Begitu pun dengan Al yang juga begitu sangat bahagia dengan kebahagiaan keluarganya.
Tak pernah terbayangkan oleh Al, jika kehidupan keluarganya yang dulu begitu kaku dan sangat membosankan, bisa begitu seceria ini.
Sering timbul pertanyaan di dalam benak Al, bahkan mungkin hingga detik ini, jika dirinya tak pernah bertemu dengan Adinda dan menikah dengannya, mungkin kebahagiaan ini tidak akan pernah dirinya dan juga keluarganya rasakan.
" Terima kasih Adinda istriku, atas kehadiranmu dalam kehidupanku ".
" Terima kasih ya Tuhan, karena Mu, keluargaku bisa merasakan kebahagiaan yang tak bisa dinilai oleh apapun ". Batin Al bersyukur.
" Alexa, Aganta, Damian, kalian kok malam diam sih sayang, ini adik Xandria dan juga Aldixan sudah lahir ". Seru Devina pada ketiga cucunya.
" Kami merindukan mommy oma ". Sahut Aganta.
" Eca mau tium adik uma ". Seru si kecil Alexa pada akhirnya.
" Damian juga, Damian mau cium dua - duanya ". Jelas Damian, lalu anak kecil itupun beranjak dari duduknya.
" Ayo, Aldixan biar opa yang gendong ya ". Seru Enriko, lalu pria yang sudah lanjut usia itupun menggendong cucu laki - lakinya yang baru lahir itu.
Cup... cup... cup... cup...
Ketiga anak Al pun membanjiri adik - adiknya dengan ciuman sayang mereka.
" Eca cayan adik ". Seru Alexa di sela - sela ciumannya.
" Al, apa kamu sudah mengabari keluarga dari istrimu? ". Seru Enriko.
" Sudah pa, mungkin mereka sudah dalam perjalanan menuju ke sini ". Sahut Al.
" Emm, baguslah kalau begitu nak ". Sahut Enriko.
Dan di ruangan perawatan khusus inilah keluarga Georgino menyambut kehadiran penerus keluarga mereka. Sungguh, kebahagiaan ini benar - benar tak bisa dinilai oleh apapun.
*****
Malam yang indah ini telah menjadi penghias bagi sepasang suami istri yang telah hampir sepuluh tahun menjalani bahtera rumah tangga mereka.
Kasih sayang dan cinta seolah tak pernah pudar dari keduanya. Dianugerahi lima orang anak dengan segala kesibukan yang dilalui, tak membuat rasa cinta dari sepasang suami istri ini menjadi luntur.
Kini, di malam yang indah ini, sepasang suami istri itu saling merengkuh menikmati indahnya langit malam yang dihiasi oleh taburan bintang - bintang yang bersinar indah. Dengan masih merengkuh tubuh sang istri, Al pun menatap dengan begitu lekat wajah wanita yang dicintainya itu.
" Sayang ". Seru Al lembut dengan masih merengkuh tubuh istrinya.
" Iya mas ". Sahut Adinda.
" Terima kasih karena kamu sudah hadir dalam hidupku, bagiku, kamu adalah kebahagiaan yang Tuhan berikan yang akan selalu menjadi kunci kebahagian ku ". Sahut Al.
" Begitupun dengan kamu mas, kamu adalah anugerah dari Allah yang tak akan pernah bisa aku nilai oleh apapun, terima kasih karena kamu mau menerimaku yang hanya seorang wanita biasa ". Sahut Adinda.
" Kamu bukan wanita biasa sayang, kamu adalah wanita yang berhati malaikat. Aku mencintaimu istriku Adinda, aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu ". Sahut Al.
" Adinda juga mencintaimu mas, lahir batin ini benar - benar mencintaimu, semoga Allah, akan tetap menjadikan kita sepasang suami istri dari dunia hingga akhirat ". Seru Adinda.
" Amin, itulah doa yang selalu aku sematkan dalam setiap ibadahku sayang, aku mencintaimu istriku ". Sahut Al dengan begitu tulus.
" Aku juga mencintaimu suamiku ". Sahut Adinda yang juga sama tulusnya.
Dan di malam yang indah ini, sepasang suami istri itu, Al dengan Adinda, masih saling merengkuh menikmati indahnya malam dengan diselimuti rasa dan perasaan saling mencintai.
Lika liku dalam rumah tangga mereka, telah membuat mereka sadar dan tahu bagaimana caranya menghargai suatu hubungan. Saling mencintai, saling menyayangi, saling mengerti dan menghargai, mungkin itulah kunci kebahagiaan serta kelanggengan bahtera rumah tangga Al bersama Adinda. Sungguh, mereka sangat bersyukur dengan semua anugerah itu.
Tamat...........
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1